
Sinar matahari masih belum terasa hangat di kulit. Kabut masih menyelimuti bukit-bukit yang nampak dari tempat Panji berlari pagi.
Panji menambah kecepatan untuk segera sampai di rumah ibu Maesaroh. Pagi sekali dia sudah olah raga lari pagi, Anisa yang sudah salat subuh lebih memilih tidur kembali sedangkan Nevan masih belum nampak batang hidungnya.
"Ayah!" panggil Nevan melihat Panji muncul dari luar gerbang.
"Hai Nevan, rajin sekali, jangan kebanyakan air nanti mati tanamannya."
"Ok Ayah!" jawab Nevan, meneruskan menyirami tanaman yang ada di halaman depan rumah ditemani Arlan.
Panji masuk ke dalam, dilihat sang istri sedang menata makanan untuk sarapan pagi.
"Pagi Nis," sapa Panji.
"Hmmmm," jawab Anisa.
"Kamu yang masak?"
"Kakak sana cuci tangan dulu," Anisa menabok tangan Panji yang akan mengambil gorengan tempe di piring.
Panji tersenyum, "Galak bener istriku," gumam Panji kemudian melangkah masuk ke dalam.
"Issst! Kenapa empet banget kalau Kak Panji singgung kata istri!" gerutu Anisa.
"Sudah semua Nis, kamu panggil yang lain suruh sarapan," ucap Maesaroh dari arah dapur.
"Ya Bu," jawab Anisa.
"Oya, Panji belum nyampai rumah Nis?" tanya Maesaroh yang memang tidak tahu kedatangan Panji.
"Belum Bu, semoga dia nyasar!" jawab asal Anisa.
"Issst! Doa buat suami kok gitu!"
Anisa nyengir mendapat nasehat ibunya.
"Bercanda Bu," lirih Anisa.
"Tidak apa-apa Bu, maksud Anisa nyasar ke hatinya," sela Panji dari balik kamarnya kemudian tangannya dengan santai mencubit gemas pipi kanan Anisa.
"Kakak!" jerit Anisa.
Panji hanya tersenyum dan ibu Maesaroh juga tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya.
'Ya Allah, semoga Allah selalu memberkahi kalian. Menjadikan keluarga kalian selalu rukun,' batin Maesaroh masih tampak senyum di wajahnya.
"Nevan dan Arlan biar aku yang panggil," ujar Panji lalu keluar.
__ADS_1
Mereka sarapan dengan khidmat, walaupun terkadang ada hal-hal aneh yang dilakukan Nevan ketika ikut makan, ada minta tepung tempenya di kupaslah, ada minta kuah sayurnya saja, dan terakhir minta disuapin ayah.
Setelah sarapan Nevan lebih memilih bermain kembali.
"Arlan tolong temani Nevan, aku mau ke belakang sebentar," pinta Panji.
"Ya Tuan, lama juga tidak apa-apa. Pengantin baru barangkali mau ajak_" Arlan memotong kalimatnya melihat mata tuannya menatap tajam.
Arlan nyeringis dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengah.
"Boleh ngomong macem-macem kalau kamu sudah merasakan yang namanya menikah!" protes Panji kemudian melangkah pergi.
"Belagu! Label nikah tapi masih perjaka!" gumam Arlan.
Panji membuka pintu kamar, mengedarkan pandangan. Dilihatlah Anisa masih duduk di sofa kamar sambil memegang ponsel.
"Tidak keluar? Itu Nevan sedang main dengan Arlan.
"Hmmmm," jawab Anisa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Panji masuk ke toilet kamar untuk buang air kecil. Setelah selesai Panji keluar dan masih melihat Anisa berkutat pada ponsel.
"Aku mau bicara 4 mata dengan Kakak!" seru Anisa menghentikan langkah Panji.
Panji membalikkan tubuhnya kemudian melangkah duduk di sofa.
"Mengenai surat yang dulu ku tanda tangani, itu bukan surat cerai?!" tanya Anisa tanpa basa-basi.
Panji terkejut dengan pertanyaan Anisa tapi dia bersikap setenang mungkin, "Dulu pernah aku minta kamu baca dulu surat itu tapi langsung kamu tanda tangani," jawab Panji.
"Dulu aku kira itu surat persetujuan cerai! Jadi langsung kutandatangani!" kesal Anisa.
"Itu surat persetujuan kamu bersedia kalau aku menikah lagi," lirih Panji.
Anisa menggeretakkan giginya karena kesal. "Kenapa tidak langsung ceraikan aku! Malah buat surat itu!" geram Anisa.
"Saat itu, kondisi Tiwi semakin memburuk dan kalau aku urus perceraian kita itu paling cepat 3 bulanan, padahal kamu... kamu juga harus memulai study."
"Alasan! Itu karena Kakak sudah tidak sabar ingin menikahi mbak Tiwi kan!" Membiarkan aku pergi tapi dengan status masih sah secara hukum sebagai istri Kakak! Maksudnya apa?!" cecar Anisa dan nampak cairan bening sudah menumpuk di pelupuk mata Anisa.
"Jangan sentuh aku!" suara Anisa meninggi dan tubuhnya dia mundurkan kala tangan Panji akan menyeka air mata yang menumpuk di pelupuknya.
"Apa aku boleh jujur padamu?" tanya Panji, netranya lekat menatap Anisa.
"Terlalu banyak kebohongan yang Kakak simpan jadi kalaupun nanti Kakak akan menyampaikan kejujuran itu akan jadi sia-sia!" ujar Anisa balas menatap ke arah Panji.
"Seandainya dulu Tiwi tidak sakit parah, pasti aku akan memantapkan hatiku agar memilihmu. Namun, maaf dulu aku lebih memilih Tiwi karena dia lebih membutuhkan aku. Jujur, aku tidak tahu hati kamu sebenarnya seperti apa ke aku? Aku hanya bisa menerka kalau kamu juga mulai ada rasa padaku tapi aku tidak mungkin menyandingkan kamu dengan Tiwi untuk hidup bersama karena aku tahu, aku pasti tidak akan bisa adil untuk membagi cinta. Maka itu aku lepas kamu, aku cerai kamu. Tapi sekali lagi, aku tidak bisa menceraikan secara hukum karena itu menyita waktu. Niatku, kalau kamu sudah menemukan pasangan dan meminta surat secara cerai secara resmi pasti akan aku beri," terang Panji.
__ADS_1
"Aku tidak minta sekarang tapi pasti nanti aku minta setelah kudapatkan Nevan!" tukas Anisa.
"Kalau sekarang sudah berbeda keadaannya, aku harus berusaha agar kamu mengubah niat kamu. Maaf Nisa, aku jatuh cinta padamu," ucap Panji dengan memperjelas kalimat 'aku jatuh cinta padamu' kemudian dengan santai mengelus pucuk kepala Anisa. Sedangkan Anisa masih terdiam tidak percaya apa yang baru dia dengar.
Panji mengangkat pantatnya lalu melangkah keluar.
"Akan aku pastikan aku tidak akan jatuhkan kembali hatiku padamu Kak!" gumam Anisa setelah punggung Panji tidak terlihat dan tangan Anisa dengan cepat menyeka air mata yang sudah jatuh di dua pipi.
Sore telah tiba. Semua sudah masuk mobil untuk pulang ke Jakarta.
"Nevan mendongakkan wajahnya keluar jendela mobil tangannya melambai dan mengucap salam pada eyang, oma, dan opanya
"Waalaikum salam, hati-hati sayang," seru eyang, oma, maupun opa.
Bip.
Mobil itu melaju.
"Bunda, nanti malam bobok dengan Nevan kan?" tanya Nevan dengan polos.
"Ya sayang, nanti malam Bunda bobok dengan Nevan," jawab Anisa dengan senyum dan memeluk tubuh Nevan.
"Mulai sekarang, Bunda janji akan selalu ada untuk Nevan," ujar Anisa kemudian melepas pelukannya.
Nevan menyodorkan jari kelingkingnya. Anisa menatap penuh tanya maksud Nevan.
"Bunda, keluarkan jari Bunda," ucap Nevan.
Anisa langsung menautkan kelingkingnya.
"Ayah juga," pinta Nevan melepas tautan kelingking Anisa dan mengacungkan jari kelingking ke Panji.
"Bukan dengan Nevan tapi dengan Bunda," terang Nevan.
Panji menyodorkan kelingkingnya, Anisa menurut kemauan Nevan untuk menautkan walau ragu Anisa lakukan.
"Aku berjanji, akan selalu ada untuk kamu. Kalau aku sedikit lupa dengan janjiku, ingatkanlah," ucap Panji dengan tegas dan tatapan mata yang tajam ke arah Anisa.
Anisa langsung melepas tautan itu terlihat gugup dengan sikap Panji.
Arlan yang melihat semua itu tersenyum haru, 'Semoga cinta tuan pada non Anisa selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Banyak sekali pengorbanan yang dilakukan tuan untuk non Anisa, hanya non Anisa belum tahu semuanya,' batin Arlan.
malam sekali menyapa 🥱🥱🥱 bacanya besok saja. yuk mari tidur😴
sambil mimpiin si ganteng Panji, kata salah satu reader si duda rasa perjaka🤣🤣🤣
...****************...
__ADS_1