
Anisa terlihat sibuk dengan pesanan klien yang minggu ini harus sudah selesai. Salah satu pesohor negeri mengadakan pernikahan, mereka pesan baju pengantin sekaligus baju untuk bridesmaids. Tentunya hal itu sebuah perkembangan yang sangat bagus. Dilirik pesohor negeri, otomatis hasil karya Anisa akan terekspos secara gratis tanpa harus memakai ambasador yang memakan biaya tidak sedikit.
Anisa menatap makanan yang dikirim oleh kurir. Perutnya memang terasa lapar. Setelah salat Zuhur dia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya. Mata Anisa menatap jam dinding, waktu menunjukkan pukul 14.00.
Anisa meraih paper bag berisi 2 wadah makanan, "jangan terlalu baik padaku Kak," lirih Anisa. Pantatnya beranjak ke wastafel untuk cuci tangan setelah itu berpindah tempat ke sofa ruang kerja.
Tangannya kemudian bergerak membuka satu persatu wadah itu lalu memakannya.
"Kamu yang sakit tapi kenapa kamu yang memberi aku makan Kak? Harusnya_" gumam Anisa tapi gumaman itu langsung ditepis sendiri oleh hati Anisa.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," jawab Anisa bangkit dari duduk.
"Tika...!" teriak Anisa langsung memeluk sahabatnya itu.
"Kamu nggak kerja?" tanya Anisa dengan antusias.
"Kerjalah, mana ada hari Senin libur kerja," elak Tika mencibirkan bibirnya. Tika melangkah untuk duduk di sofa.
"Baru makan Nis?" tanya Tika melihat isi wadah makan yang baru berkurang sedikit
Anisa mengangguk, "kamu juga belum makan?" tanya balik Anisa.
"Sudahlah, bisa-bisa aku mati! Kerja di bawah kekangan apalagi sampai melewati makan siang. Issst... Tidak akan!" jawab Tika dengan nada emosi.
"Aku lihat, kamu punya masalah dengan atasanmu?" selidik Anisa.
"Dia bukan atasanku tapi asisten atasanku yang lagaknya melebihi atasannya!"
"Emmm...jadi penasaran sama si asisten, sepertinya kamu benci tapi_"
"Tidak ada kata tapi! Cukup sampai kata benci selangit!"
"Isss! Hati-hati loh antara benci dan cinta bedanya tipis. Malah banyak persamaannya, sama-sama selalu nemplok di hati, bisa saja hari ini nemploknya benci besok bisa berubah tuh jadi cinta," ledek Anisa.
"Tidak akan dan tidak mungkin! Orang seperti dia apanya yang dicinta!" kekeh Tika.
"Semakin penasaran laki-laki siapa yang berani membuat hati sahabatku uring-uringan seperti ini," ucap Anisa.
"Issst! Kamu juga kenal dia kok! Ngapain juga penasaran!" seloroh Tika dan tangannya langsung membekap mulutnya sendiri merasa ucapannya tanpa kontrol.
Anisa membulatkan matanya, menelisik mimik Tika yang keceplosan bicara, "Aku kenal dia?" retoris Anisa.
Tika menelan salivanya dengan susah lalu terdiam tidak langsung menyahuti ucapan Anisa, padahal Anisa masih menitikkan rasa penasaran yang tinggi.
Tika menundukkan pandangan ketika netranya beradu tatap dengan Anisa.
'Mungkin sudah waktunya aku terus terang denganmu,' batin Tika kemudian mengempaskan napasnya perlahan.
"A-aku bekerja di departemen store milik suami kamu," lirih Tika dengan suara melemah dan terbata.
Jawaban Tika seperti sebuah tamparan tepat di pipi Anisa.
__ADS_1
Anisa terdiam, ingin marah dengan sahabatnya yang menyembunyikan itu tapi apa dia punya hak untuk memarahi sahabatnya karena bekerja di perusahaan Panji.
"Maafkan aku. Kalau waktu itu aku jujur sama kamu takutnya kamu marah dan tidak mau berteman denganku," lirih Tika sambil menangkupkan dua tangan disejajarkan dengan dada.
Anisa masih diam.
"Aku memang rencananya mau katakan semua ke kamu tapi nunggu waktu yang tepat," terang Tika menarik napasnya kemudian empaskan perlahan, "mungkin ini waktu yang tepat," sambung Tika.
Anisa menggelengkan kepala, "jujur aku kecewa kamu tidak bilang padaku sejak dulu, malah terkesan menyembunyikan ini semua. Aku berbicara tentang kak Panji pekerjaannya, kesibukannya, bagaimana kabar dia setelah 4 tahun berpisah denganku, bagaimana kabar Nevan kamu tidak pernah menyahuti secara jelas dan kamu seolah-olah tidak tahu semua," terang Anisa.
"Aku takut, kalau aku bicara tentang Kak Panji malah salah," lirih Tika.
Anisa menetap Tika yang masih menundukkan pandangannya, kedua jari-jari tangannya dia tautkan satu dengan yang lain.
"Kamu tidak ada salah dalam hal ini Tik," ujar Anisa kemudian.
"Jadi, aku boleh lanjut kerja di Pak Panji?"
"Bolehlah. Siapa tahu juga nanti temu jodoh di sana," ledek Anisa.
"Apaan sih Nis! Aku masih ingin mengejar karir dulu. Biar sukses tuh kaya kamu," sahut Tika.
"Maafkan aku Nis," lanjut Tika.
"Ya, aku maafkan, aku juga minta maaf sama kamu," ujar Anisa dan keduanya saling berpelukan.
"Oya, Kak Panji bener tidak masuk karena sakit?" tanya Tika setelah melepas pelukannya.
"Issst! Suami sakit malah ditinggal kerja! Kejam banget sih!"
"Kamu sedang menguji aku? Sudah tahu fokusku itu hanya mengambil Nevan!" cetus Anisa.
"Aku lihatnya sih, kamu takut baper kalau lama-lama dengan si ganteng pak Panji," ledek Tika.
"Siapa juga yang takut," cibir Anisa.
Tika tersenyum mendengar ucapan Anisa yang berlainan dg mimik mukanya.
"Eh tadi di departemen store, Alyra si selebgram itu datang ke kantor loh."
Anisa diam, tidak menyahuti ucapan Tika. Walaupun sebenarnya rasa penasarannya begitu tinggi.
"Pasti penasaran ceritanya bagaimana," tebak Tika dengan mengacungkan jari telunjuknya menoel hidung Anisa.
"Apa yang dipenasarin!" elak Anisa.
"Ya deh, orang yang super gensi buat ngaku. Aku ceritakan. Jadi, si Alyra itu ada perpanjangan kontrak dengan departemen store, rumornya sih, dia dapat kontrak karena ayahnya dekat dengan pak Panji."
"Kak Panji, tadi berangkat?" tanya Anisa memastikan apakah dia hanya pura-pura tidak berangkat agar dapat simpati dari dirinya atau memang benar-benar karena masih merasa sakit. Dulu sewaktu bersama, sesakit apapun Kak Panji paling anti tidak berangkat kerja dengan alasan sakit.
Tika menatap wajah Anisa dengan pandangan penuh telisik.
"Kamu tidak tahu Kak Panji sakit atau pura-pura tidak tahu?" tanya Tika.
__ADS_1
"A-aku tanya kamu, kenapa kamu balik tanya ke aku!" seru Anisa dengan nada sedikit terbata.
"Galak bener sih! Apa sedang PMS! Ya, tadi Arlan bilang kalau pak Panji sedang sakit!" gerutu Tika.
Anisa sedikit mengembangkan senyum.
"Malah tersenyum."
Anisa menggelengkan kepala menepis pernyataan Tika.
"Kamu pasti tersenyum karena Kak Panji tidak menemui gadis ulet itu ya?" ledek Tika dan kali ini kedua tangannya menggelitik pinggang Anisa hingga dia tertawa geli.
Dua wanita itu tertawa renyah bahkan saling kejar-mengejar seperti bocah. Tumpukan benang juga tidak luput dari perang lempar dua wanita itu.
"Stop Nis! Aku sampai lupa mau balik ke kantor!" Segera Tika membersihkan pakaiannya dari potongan benang-benang jahitan.
"Assalamualaikum," pamit Tika
"Wassalamu'alaikum salam," jawab Anisa sambil mengantar Tika keluar.
"Aku sampai lupa. Minggu ini aku mau menjenguk mommy Vano, dia sedang sakit, ikut tidak?" tawar Tika dengan mengenakan helm.
"Mommy sakit? Sakit apa?"
"Tensi darahnya sering naik. Pokoknya mommy akhir-akhir ini sering sakit. Bahkan ini sudah ketiga kalinya keluar masuk rumah sakit," terang Tika.
"Astaghfirullah haladhim aku kok baru tahu," sesal Anisa.
"Aku lupa kasih tahu kamu Nis, otak sudah terlalu forsir di kantor jadi pikun nih!" ujar Tika dan sekarang pantatnya sudah duduk di kursi motor.
"Kita bicarakan nanti, aku pergi, assalamualaikum," pamit Tika dan motor yang dikendarainya kini melesat pergi.
Anisa bergegas masuk melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 14.30. Setelah semuanya beres, Anisa pamit pada pegawainya dan segera pulang.
Di tengah perjalanan, Anisa merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Kakinya bergerak mengurangi injakan pedal gas hingga kecepatan lajunya berkurang, Anisa memilih menepikan mobilnya. Setelah dirasa aman, dia keluar dari mobil. Matanya tertuju pada ban mobil.
"Pantesan! Bocor!" gerutu Anisa.
"Ban serepnya mana?" gumam Anisa melihat ke kolong mobil dan bagasi belakang tidak ada ban serep.
"Mana jauh dari bengkel!" kesal Anisa.
Anisa masuk ke mobil, mengambil ponsel lalu mengusap layarnya dan menghubungi salah satu kontak ponsel.
"Waalaikum salam, ban mobilku bocor nih! Kamu bisa ke sini tidak? Tidak sibukkan? Ya sudah, cepet ke sini. Aku share located ya." Anisa kemudian memutus sambungan telepon itu.
Anisa keluar dari mobil menatap sekitar tempatnya dia memarkir mobil.
"Kenapa sepi begini?" gumam Anisa.
malam menyapa 🤗 siapa yang datang ya?atau...malah akan ada bahaya mengintai Anisa.
like komen hadiah vote rate, syukur Alhamdulillah kalau ada yg mau kasih koin🤣🤤🥰😍
__ADS_1