
"Lupakanlah! Hati-hati dijalan! Assalamualaikum!" ketus Anisa langsung membalikkan tubuh dan berjalan masuk ke rumah tanpa menghiraukan Panji yang belum pergi dengan mobilnya ataupun belum membalas salam dan ucapannya.
Anisa masuk dengan perasaan kesal.
"Dasar! Orang nggak jelas! Apa karena martabak dia jadi begitu?!" gerutu Anisa kakinya tidak berhenti mondar-mandir di kamarnya.
"Ah! Bodoh amat! Memang Kak Panji orangnya seperti itu kan! Dia sebenarnya memang dingin! Cuek! Ingat Anisa... apapun yang dilakukan manusia robot itu bukan urusan kamu! Mau dia bersikap seperti apapun ter...se...rah! Ok!" monolog Anisa.
"Sekarang tarik napas, tahan, keluarkan perlahan...tarik napas, tahan, keluarkan perlahan..., Anisa kamu pasti bisa melalui semua ini! Kamu wanita kuat!" seru Anisa.
"Sekarang..., sekarang mau ngapain ya?" linglung Anisa.
"Hubungi Tika, keluar rumah jalan-jalan mengurangi penat," gumam Anisa dan kakinya melangkah ke ranjang tidur, mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
Ada waktu? Jalan-jalan yuk...booring nih.
Satu pesan terkirim ke kontak atas nama 'Tika cantik'
Yuk! Kebetulan nih dosen nggak masuk.
Anisa tersenyum membaca balasan dari Tika.
Kita temu di mall ABC ya
Nisa membalas pesan Tika dengan antusias dan dijawab Tika dengan kata 'OK'
Anisa turun dari lantai 2 sambil bersenandung ria. Ketika kakinya sudah sampai akhir anak tangga, Anisa putar kakinya ke dapur terlebih dahulu, tenggorokannya terasa kering.
Satu gelas langsung tandas. Anisa bangkit dari duduk dan meletakkan gelas itu di wastafel cucian bekakas kotor.
"Non, mau kemana?" tanya mbak Asih melihat tampilan Anisa rapi dengan membawa tas.
"Keluar Mbak, dari pada suntuk."
"Sudah izin Tuan Panji?"
Anisa terdiam.
"Issst! Benar apa yang dikatakan mbak Asih. Izin dengan Kak Panji, bagaimanapun dia kan suamiku, walaupun... statusku istri...mungkin istri yang tidak diakui atau istri di atas kertas atau istri terpaksa atau istri titipan atau istri apalah dia menyebutku! Aku tetap harus izin dengan manusia robot itu!" gumam batin Anisa.
"Nona...sudah izin Tuan Panji?" tanya mbak Asih ulang.
Anisa menggeleng. "Nanti aku izin," ucap Anisa dengan memanyunkan bibirnya.
"Kok, buburnya masih utuh Mbak?" tanya Anisa melihat bubur yang di pegang mbak Asih.
"Nyonya besar tidak mau makan," jawab mbak Asih dengan wajah frustasi.
__ADS_1
"Issst! Itu Oma, tinggal buka mulut saja kenapa nggak mau! Sini Mbak biar aku yang nyoba suapin," pinta Anisa.
"Nggak apa-apa Non?" ragu mbak Asih karena tahu antara Oma Sartika dan Nonanya tidak ada kecocokan.
Anisa mengangguk dan meraih bubur yang ada di tangan mbak Asih. Dia melangkah ke kamar oma Sartika. Mengetuk pintu kamar tiga kali kemudian masuk ke kamar itu, kalau menunggu sahutan sampai kiamat sugro pun tidak bakal ada sahutan dari yang empunya kamar.
Mata Anisa mengedar ke segala penjuru ruangan.
"Kamar yang begitu besar, elegan, rapi, wangi, mewah," batin Anisa dan kini matanya tertuju pada sosok wanita tua yang membaringkan diri di ranjang tidur.
Kaki Anisa berhenti dan mendudukkan diri di tepi ranjang, dia melihat oma tidak memejamkan mata, pandangan matanya menerawang ke langit-langit kamar.
"Ada apa kamu ke sini!" ketus oma Sartika.
Anisa menelan salivanya dengan susah, "Belum apa-apa sudah di sambut dengan pertanyaan yang ketus," batin Anisa.
"Emmm...mau nyuapin Oma," jawab Anisa dengan santai.
"Heh! Kamu jangan pura-pura sok baik! Kamu senengkan melihat Oma sakit seperti ini! Bahkan berharap secepatnya mati!"
"Issst! Oma, bicara apa sih, aku kangen cerewetnya Oma, ketusnya, Oma makanya aku datang ke sini."
"Kamu!" geram oma sampai dia bangkit dari tidur dan akan menimpuk kepala Anisa.
Anisa hanya nyengir dan menutup kepala dengan tangannya sendiri sebagai bentuk kewaspadaan. Namun tangan sang oma tidak jatuh ke kepala Anisa.
"Huh!" Oma Sartika membuang napasnya dengan kasar.
"Oma mau, hanya terbaring lemah di ranjang tidur?"
"Kamu mengutuk aku!" hardik oma dan matanya lekat menatap Anisa.
Anisa langsung menggeleng," Tidak Oma, Anisa berbicara realitanya, kalau Oma tidak makan, tenaga lemas, Oma nanti hanya bisa terbaring di ranjang,"
Mangkok berisi bubur yang dipegang Anisa segera diraih oma Sartika.
Anisa tersenyum, "Berdoa dulu Oma," cekat Anisa menghentikan satu sendok bubur yang akan masuk ke mulut oma Sartika.
Mata Oma Sartika menatap tajam ke arah Anisa karena beraninya dia mengguruinya.
"Tapi bener kan yang Anisa ucapkan? Tadi oma pasti lupa berdoa dulu. Padahal penting itu loh Oma, apa yang akan masuk ke dalam mulut kita harus diucapkan doa terlebih dahulu biar berkah."
Oma Sartika seakan tidak menggubris ucapan Anisa dia tetap memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya, bahkan dengan lahap hingga tandas semuanya masuk ke perut.
"Alhamdulillah...akhirnya habis," ucap Anisa.
Anisa mengambil minum yang ada di atas nakas, Oma langsung meminum itu.
__ADS_1
"Obatnya juga diminum Oma," ujar Anisa dengan menyodorkan beberapa pil ke oma Sartika dan oma Sartika menerima pil itu kemudian langsung menelannya.
"Kamu tidak takut? Sembuhnya Oma itu ancaman buat kamu!" gertak Oma Sartika.
"Oma lucu, kalau Oma sembuh ya Alhamdulillah... bagaimana disebut ancaman," ucap Anisa dengan tawa kecil.
"Jujur Anisa itu kagum dengan Oma, walaupun usia sudah lanjut tapi Oma tetap segar, kuat, tidak linglung, bicaranya masih bisa lantang, dan tentunya masih terlihat cantik," puji Anisa.
"Jangan coba-coba memikat hati saya!" ketus oma.
Anisa menggelengkan kepalanya, "Anisa berbicara realita loh Oma," ucap Anisa kemudian.
"Baik-baik ya Oma, Anisa pamit keluar," lanjut Anisa dan kakinya melangkah keluar tanpa mendengar jawaban dari sang Oma yang mengiyakan ucapannya atau sekedar mengucapkan terima kasih sudah membawakan bubur karena sekali lagi itu hal mustahil.
Anisa melangkah ke dapur menaruh gelas dan mangkok yang dia bawa dari kamar oma Sartika.
"Oma makan Non?" heran mbak Asih.
Anisa mengangguk.
"Astagfirullah haladhim, aku sampai lupa." seru Anisa. Dia kemudian berjalan keluar merogoh ponselnya dan membuka pesan yang masuk.
Sudah otw? Kalau sudah aku juga mau otw.
Sebentar Tik, nanti aku kabari kalau mau otw.
Balas Anisa.
Aku mau keluar bertemu Tika di mall.
Satu pesan Anisa kirim ke kontak dengan nama 'Ayang Beb'
Anisa menunggu balasan karena hanya dua centang biru yang dia dapat. Tetap memantau kontak dengan nama 'Ayang Beb', on line tapi tidak ada tanda-tanda balasan karena tidak ada tulisan mengetik di bawah nama kontak.
"Yang penting sudah izin," seru Anisa tangannya bergerak mengusap layar dan menyentuh aplikasi ojek on line.
Tidak butuh lama ojek on line yang dia pesan datang. Anisa mengirim pesan ke Tika 'posisi otw'.
Dua puluh menit kemudian Anisa sampai, disambut senyum oleh Tika dan ada lelaki yang tidak asing di samping Tika, dia juga membalas dengan senyum.
"Apa kabar Nis?" sapanya dengan mengulurkan tangan.
Anisa membalas uluran tangan itu.
Wajah itu masih menampakkan senyum, senyum yang semakin menggariskan wajah yang terlihat nyaris sempurna tingkat ketampannya. Anisa tertegun, sedikit terperangah karena itu.
Assalamualaikum readers yang selalu kucinta. Kalian pasti sudah bisa nebak siapa yang bersama Tika🤭 apa yang akan terjadi selanjutnya ya🤔tetap pantengin.
__ADS_1
like, komen, hadiah, vote juga ya.
lope lope buat kalain❤️❤️❤️❤️