
"Tiwi," panggil Panji
"Sayang," ulang Panji dengan suara gemetar.
Panji melepas pelukan dan melihat Tiwi sudah tidak merespon suara Panji bahkan bahu Tiwi Panji gerakkan juga tidak diresponnya.
"Dokter! Dokter!" teriak Panji.
Dokter jaga dan perawat segera masuk ke ruang perawatan Tiwi.
"Maaf Pak, sebentar saya periksa," pamit dokter memegang denyut nadi Tiwi.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun. Maaf Pak, istri anda telah meninggal dunia," ucap dokter melemah.
Seketika tubuh Panji menjadi lemas dan air matanya membasahi pipi.
...****************...
Bunda Rosmawati duduk di samping Panji. Dia sangat murka mendengar kabar Panji telah menikah dengan kekasihnya dan menceraikan Anisa.
Panji masih terdiam begitu juga bunda Rosmawati diam ingin mendengar penjelasan dari anaknya.
"Kapan kamu menikahinya?!" tanya Rosmawati dengan suara menahan amarah.
"Setelah 10 hari menceraikan Anisa," jujur Panji.
Rosmawati menelan saliva dengan susah dan mengatur napasnya agar tidak tersengal-sengal.
"Lalu kenapa kamu tidak bilang Bunda, kalau kamu menceraikan Anisa?! Kamu hanya bilang dia study di Malaysia?!" Rosmawati menatap tajam ke arah anak lelakinya.
Panji diam.
"Kamu tahu! Kesalahan fatal yang kamu lakukan?! Kamu telah memisahkan Anisa, dengan Nevan! Dia ibu kandung Nevan!" suara Rosmawati meninggi dan gemeretak gigi terdengar darinya.
"Bunda...," bapak Syamsuddin menarik pelan tubuh istrinya agar duduk tenang dan menahan amarahnya.
"Istighfar," ujar Syamsuddin kemudian.
"Astagfirullah haladhim," lirih Rosmawati, menarik napas dalam dan mengeluarkan perlahan agar emosinya tidak semakin memuncak.
"Maaf Bun, aku hanya punya niat agar Anisa fokus study nya tanpa adanya Nevan dan..."
"Dan apa!" cekat Rosmawati.
"Dan Anisa bisa menjalani hidup dengan laki-laki yang dia cintai," lanjut Panji.
"Bukan seperti itu caranya Panji. Apalagi kamu hanya menceraikan Anisa secara agama! Kemudian menikahi wanita itu! Lalu kamu pisahkan Nevan dengan Anisa! Langkah kamu salah besar! Apa kamu pernah memastikan hati Anisa!? Kemana hatinya berlabuh?!" Rosmawati meninggikan ucapannya merasa amarahnya memuncak lagi mendengar ucapan Panji.
'Benar aku tidak pernah memastikan hati Anisa. Namun, aku lihat dari sikapnya selama ini. Dia hanya menghormati keputusan Bunda untuk menerima pernikahan ini,' monolog batin Panji.
'Dia juga langsung menerima ketika aku tawarkan untuk study ke luar negeri tanpa membawa serta Nevan. Aku yakin Anisa tidak mengapa dengan keputusanku,' lanjut batin Panji.
"Dimana kamu simpan wanita itu?" lanjut Rosmawati mengintrogasi anaknya karena Rosmawati dan Syamsuddin selalu rutin menengok Nevan, terkadang Maesaroh juga ikut tapi tidak pernah melihat sekalipun istri kedua Panji.
"Dia sudah meninggal," lirih Panji.
Rosmawati dan Syamsuddin sangat terkejut mendengar jawaban Panji.
"A...apa? Me... meninggal?" retoris Rosmawati dengan terbata.
Panji mengangguk.
"Kamu baru menikahinya sekitar 5 bulan lebih beberapa hari dan dia benar telah meninggal?"
__ADS_1
"Tiwi divonis kanker usus Bun. Setelah akad nikah, kita menjaga bapak Tiwi yang juga sedang sakit parah. Satu minggu di rawat, bapak Tiwi meninggal dunia. Tiwi kemudian drop harus dirawat di rumah sakit. Lima bulan dia dirawat intensif tapi Tuhan juga memanggil dia."
Rosmawati meraup wajahnya, terdengar lirih dia mengucap kalimat saat orang terkena musibah dan kalimat Istighfar.
"Apa, kamu melakukan semua ini karena wanita itu me...mengidap kanker?"
Panji terdiam.
"Aku sudah berjanji dengan Tiwi untuk menikahinya Bun," jawab Panji.
"Tetap saja cara kamu salah Panji. Namun, semuanya sudah terjadi. Kamu sudah memenuhi janji kamu pada Tiwi dan merawatnya dengan baik. Sekarang, pikirkan masa depanmu, Nevan, dan Anisa dengan matang!" titah Rosmawati kemudian menghela napas.
"Susul Anisa!" lanjut Rosmawati membuat mata Panji membelalak.
Panji tersenyum kecut. "Aku laki-laki macam apa Bun, menceraikan dia untuk menikah dengan orang lain kemudian setelah orang yang telah kunikahi meninggal dunia aku meminta Anisa untuk rujuk?"
"Hilangkan egomu! Dari pada nantinya yang kamu dapat hanya penyesalan!" sahut Rosmawati.
"Dia wanita yang cerdas, telaten, solekha, banyak sekali yang ngantri dia untuk dijadikan istri!" sambung Rosmawati.
"Asal Anisa bahagia," cekat Panji.
"Anisa akan menemukan pendamping hidup yang dapat membahagiakan dia kemudian mengambil Nevan dari tangan kamu!" Rosmawati mempertegas maksud ucapannya.
Panji mengangguk, "Itu yang aku harapkan Bun," jawab Panji.
"Panji!" geram Rosmawati.
"Tolong Bunda rahasiakan hal ini pada ibu Maesaroh," cekat Panji.
"Maaf Bun, aku mau mandi dulu," pamit Panji mengangkat pantatnya dari sofa kemudian melangkah menaiki anak tangga.
Namun, Panji merasakan dadanya sesak ketika bunda Rosmawati mengatakan kalimat terakhir itu. Pelan kaki melangkah satu demi satu anak tangga hingga sampailah di ambang pintu kamar. Tangan Panji meraih gagang pintu dan menapakkan kaki di kamar. Panji memutar netra menatap setiap sudut kamar.
****Flashback of****.
Panji merapikan sajadah yang dia pakai lalu berdiri melangkah keluar musola.
"Siang Pak," sapa seorang pegawai SPBU diikuti senyum.
"Siang," jawab Panji sambil membalas senyum. Sebuah hal yang dia jalani selama 3 tahun terakhir ini. Merubah image yang selama ini melekat pada dirinya. Atasan tanpa senyuman menjadi atasan yang murah senyum.
Arlan mengekor langkah Panji hingga masuk ke ruang kerja tuannya.
"Tuan jangan lupa, nanti malam ada kajian rutin di rumah ustadz Mirza," ucap Arlan memperingatkan schedule Panji.
"Huh, aku sampai lupa," sahut Panji.
"Sehabis salat asar, nanti langsung pulang. Aku mau bertemu Nevan, kalau sepulang dari kajian rutin pasti Nevan sudah terlelap!" titah Panji.
Arlan mengangguk.
Sore telah menyapa.
Panji langsung masuk ke kamar Nevan setelah dia bebersih diri.
"Assalamualaikum jagoan ayah," sapa Panji.
"Waalaikum salam Ayah," jawab Nevan, berlari memeluk tubuh Panji walau dirinya masih polos tanpa baju karena habis mandi.
"Pakai dulu bajunya," pinta Panji.
"Ayo Nevan, bajunya dipakai nanti baru ikut ayah," ajak suster Tia.
__ADS_1
Nevan tetap tidak bergeming, bergelayut manja di tubuh ayahnya.
"Ya sudah Ayah tinggal ya," pancing Panji.
"Ikut Ayah," rengek Nevan.
"Ke suster Tia dulu, pakai bajunya," Panji mendudukkan Nevan dekat suster Tia.
Tapi anak kecil, kalaupun menurut duduk, baru dipakaikan ****** ***** main lari-lari, pakaikan kaos dalam, lari kembali. Hingga harus menghabiskan waktu lama hanya untuk memakai baju lengkap.
"Nevan, jangan lari terus kasihan suster Tia," ujar Panji melihat suster Tia mengejar Nevan untuk menyisir rambutnya.
"Hemmm baunya harum sekali jagoan ayah," puji Panji setelah Nevan rapi dengan baju dan rambut yang telah disisir terakhir disemprot minyak wangi anak.
Nevan tersenyum mendengar pujian dari ayahnya.
"Ayo jalan-jalan Ayah!" ajak Nevan menarik celana Panji untuk berjalan keluar dari kamar.
"Kita ke taman rumah saja, kamu berdiri di sini dulu dengan suster Tia, Ayah akan ambilkan sesuatu buat kamu," ucap Panji kemudian melangkah ke arah dapur.
"Apa itu Yah?" penasaran Nevan dengan plastik yang dibawa Panji dari arah dapur.
"Ada deh. Di taman nanti Ayah kasihkan ke kamu," ajak Panji meraih tangan Nevan untuk jalan bersamanya.
Panji duduk di dekat Nevan.
"Tarara...," Panji mengeluarkan dua es krim coklat satu untuk Nevan dan satu untuk dirinya.
"Hore...es krim!" Nevan bersorak penuh semangat menerima es krim itu.
"Ayah kupaskan," Panji mengambil es krim di tangan Nevan lalu membukanya.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Nevan sebelum memasukkan es krim itu ke mulutnya.
Panji tersenyum mendengar dan melihat Nevan. Perkembangannya sungguh luar biasa. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas. Satu hal lagi yang paling membanggakan bagi Panji, Nevan sudah hafal beberapa ayat pendek dan doa-doa harian.
"Nevan masih ingat dengan wanita yang memberi kado mobil-mobilan?" ucap Panji mulai ke inti pembicaraan.
Nevan mengangguk, "Dia menakutkan Yah, memeluk Nevan erat sekali," jawab Nevan dengan polos.
"Wajah dia sama dengan bunda tidak?" Panji memperlihatkan galeri foto di ponselnya.
Nevan menggeleng, "Bunda cantik, dia... menakutkan," sahut Nevan melihat foto yang ditunjukkan ayahnya.
Panji menghela napas. Memang Panji sengaja tidak langsung memberitahu ke Nevan kalau wanita yang memberi kado dan memeluknya erat itu bundanya karena saat itu Nevan begitu ketakutan pada Anisa. Panji menunggu Nevan tenang dan sekaranglah waktu yang tepat untuk membicarakan itu.
"Dia juga cantik," ujar Panji.
"Tidak! Cantik bunda!" elak Nevan.
Foto yang selama ini Panji perlihatkan pada Nevan memang jauh berbeda dengan Anisa yang sekarang bahkan berbeda jauh karena wajah Anisa yang sekarang tentu lebih dewasa dan tentunya lebih cantik dengan flawless make-up dan juga fashion yang lebih trendi.
"Nevan_"
"Cantik bunda Yah!" cekat Nevan.
"Yang memberi kado dan memeluk Nevan, itu bunda Nevan."
Siang menyapa 🤗 ramaikan yuk dengan komen kalian. Maaf aku mau bales komen kalian bingung harus dibalas apa.🤭🙏yang jelas aku membaca komen itu dan terima kasih untuk partisipasi kalian🙏
lope lope deh buat kalian semua. semoga authornya sukses mengombang-ambing perasaan kalian🙏
Jangan lupa like, komen, komen, komen loh...vote juga hadiah pasti mau🥰😍
__ADS_1