
Tiwi tersenyum menyapa, melangkah ke meja kerja atasannya. Namun, tiba-tiba tubuhnya terasa ringan bagai kapas, kakinya seperti tidak menapak ke bumi, dan tubuhnya...
Brugh.
"Tiwi!" teriak Panji, kakinya segera lari ke arah Tiwi yang sudah tersungkur di lantai. Arlan juga terlihat tidak kalah panik.
"Tiwi! Tiwi!" seru Panji dengan menepuk pipi wanita itu. Namun dia tetap diam membisu.
"Siap kan mobil Arlan!" titah Panji.
Arlan segera keluar ruangan menuju mobil, Panji mengekor di belakangnya.
Lima belas menit mereka sampai di rumah sakit terdekat. Tiwi langsung di bawah ke ruang IGD. Panji terus mendampinginya ketika dokter memeriksa hingga selesai pemeriksaan.
Lamat-lamat matanya terbuka pelan kemudian mengedar ke langit-langit, menatap dengan wajah bingung. Namun, selang infus yang sudah terpasang di tangannya kini dapat dia simpulkan kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku di rumah sakit?" retoris Tiwi pada Panji.
Panji mengangguk, "Kalau sakit, jangan memaksakan diri untuk berangkat kerja," jawab Panji.
Tiwi terdiam. Tadi pagi memang dia merasa kepalanya begitu pusing dan biasanya kalau sudah minum pereda nyeri sakit itu akan segera reda.
"Permisi ya Mbak. Mohon tahan, mungkin nanti agak pegal, saya akan mengambil sampel darah," pamit seorang perawat mengikat lengan Tiwi dengan pengikat lengan utnuk memperlambat aliran darah hingga pembuluh Vena terlihat jelas karena akan diambil darahnya.
"Sudah Mbak, terima kasih."
Tiwi mengangguk.
"Maaf Wi, aku minta rumah sakit untuk memeriksa kamu lebih dalam tadi kamu sangat pucat dan kamu juga lama bangun dari pingsan. Satu hal lagi! Apa kamu tidak merasa kalau tubuh kamu juga ikut mengurus?"
Tiwi melihat pergelangan tangan karena Panji mengatakan badannya kurusan dan Tiwi merasa apa yang dikatakan Panji benar.
"Selamat siang Bu," sapa seorang dokter.
"Permisi ya, saya akan memeriksa Bu Tiwi terlebih dahulu."
Dokter menempelkan stetoskop ke dada Tiwi.
"Sering begadang?"
Tiwi tersenyum tipis.
"Kurangi begadangnya, jaga pola tidur, pola makan, dan satu hal yang paling penting. Jangan sampai kepala terlalu banyak diberi beban pikir alias jangan terlalu stres.," terang dokter.
Sekali lagi Tiwi tersenyum tipis.
"Saya beri obat vitamin ya tolong diminum secara teratur. Setelah infus habis dan kalau kepala Ibu Tiwi sudah terasa tidak berat, boleh istirakhat di rumah."
"Tidak rawat inap Dok?" sela Panji.
"Saya rasa tidak perlu," ucap dokter.
__ADS_1
"Ok! Terima kasih Dok," lanjut Panji.
Dokter itu pun keluar ruangan.
"Lagian kenapa harus di bawa ke rumah sakit Pak, aku hanya pingsan karena kelelahan. Pakai dipasang infus segala?" gerutu Tiwi.
"Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu!" sahut Panji.
"Sok peduli!" lirih Tiwi tapi masih terdengar oleh telinga Panji dan dia hanya menanggapi dengan diam.
...****************...
"Selamat ulang tahun," ucap Anisa dengan membawa kue kecil dengan satu lilin di atas kue itu.
Panji tersenyum kecil mendapat surprise itu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Anisa akan memberinya surprise setelah pulang kerja.
"Kakak lupa ya?" keluh Anisa dengan memanyunkan bibirnya.
"Ulang tahun sendiri saja lupa! Apa lagi ulang tahun ku!" gerutu Anisa.
"Memangnya ulang tahun kamu kapan?" tanya Panji setelah meniup lilin itu.
"Aku tebak Kak Panji bukan lupa dengan ulang tahunku tapi pasti tidak tahu!" cemberut Anisa.
Panji tersenyum menyaksikan wajah cemberut Anisa karena wajah itu semakin menggemaskan kalau seperti itu.
"Kenapa malah tersenyum!" cibir Anisa.
"Apa harus aku ucapkan?"
Anisa mengangguk.
"Aku akan meminta sesuatu dalam hati saja," ucap Panji kemudian diam dan memejamkan matanya.
Anisa tersenyum, menatap lekat lelaki di depannya yang sedang memejamkan mata. Dia terlihat tampan, bahkan nyaris sempurna ketampannya.
'Kakak sangat tampan kalau seperti ini,' batin Anisa memuji pahatan Maha Pencipta yang terpahat pada lelaki yang ada di depannya.
Anisa juga ikut menyelipkan doa untuk Panji.
"Kado untuk Kakak," ucap Anisa sambil memberikan kotak kecil pada Panji.
Panji menerima kotak itu dan mengamati dengan seksama. "Boleh langsung kubuka?" tanyanya.
Anisa mengangguk.
Dengan antusias Panji membuka kado itu.
"Game Card?" bingung Panji.
"Sudah aku isikan saldo, aku berharap nanti bisa main game di mall dengan Kak Panji. Banyak permainan yang ingin ku mainkan dan tentunya aku akan mengalahkan Kak Panji," ucap Anisa.
__ADS_1
Panji tersenyum.
"Ok aku simpan dan aku akan pastikan kamu menepati janji kamu!"
"Aku tidak janji, aku hanya berharap," sanggah Anisa sambil mengekor Panji yang menaruh tas kerja dan melepas jas nya
"Sama saja," ucap Panji.
"Beda Kak! Kalau janji itu harus ditepati karena itu hutang tapi kalau harapan itu...,"
"Stop! Aku tidak terima alasan apapun,"
"Issst!" kesal Anisa dan masih mengekor langkah Panji.
"Kamu juga mau ikut masuk mandi denganku?" canda Panji dia berhenti di depan toilet kamar.
"Siapa juga yang mau ikut Kakak!" celetuk Anisa langsung putar langkah ke sofa.
Panji tersenyum menang, membuat Anisa terlihat kesal namun bagi Panji wajah Anisa terlihat menggemaskan dikala kesal seperti itu.
Anisa menatap Panji yang telah masuk ke toilet kamar.
'Kakak benar-benar tidak tahu, satu hari sebelum Kakak ulang tahun aku juga ulang tahun,' batin Anisa dan wajahnya nampak tersenyum kejut.
Anisa fokus menatap ponselnya sampai dia tidak menyadari kalau Panji keluar dari toilet bahkan sudah memakai baju tidurnya dan kini duduk di sampingnya.
"Happy birthday," ucap Panji.
Sontak Anisa mengalihkan tatapannya ke lelaki yang berhasil membuat tubuhnya terasa tersengat aliran listrik karena mendengar kalimat yang dia bisikan ke telinganya.
"Maaf telat satu hari," ucap Panji kemudian.
"Kak Panji tahu ulang tahun ku?" tanya Anisa dengan wajah tidak percaya.
Panji hanya tersenyum dan ...kini mematung karena ada tubuh gadis di depannya yang memeluk erat.
"Terima kasih Kak," lirih Anisa dengan suara parau.
Panji membalas pelukan itu walau agak ragu lalu mengelus pelan punggung Anisa.
"Maaf Kak," canggung Anisa melepas pelukannya merasa tindakannya tadi terlalu berlebihan.
Panji hanya tersenyum kecil.
'Aku tidak tahu Nis, apakah tahun depan masih bisa merayakan ulang tahun sederhana seperti ini, terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan,' batin Panji dan matanya kini lekat menatap Anisa.
"Aku, aku tidur dulu Kak," pamit Anisa merasa deg-degan ditatap Panji seperti sekarang tanpa mendengar jawaban Panji Anisa melangkah ke ranjang tidur.
Mata Panji kini menerawang mengingat kejadian satu minggu ini. Kejadian yang membuat pikirannya benar-benar buntu. Dia mengempaskan napasnya kasar lalu meraup wajahnya. Tangannya dia biarkan lama menutup wajah seakan ingin pula menutup segala masalah yang menggelayut di pikirannya.
malam menyapa 🤗 like, komen, vote, hadiah, terima kasih masih setia dengan cerita ini, lope lope buat kalian ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1