
"Terlalu lambat Tuan! Enak sekali sang pelaku hanya dimasukkan dalam rumah sakit jiwa!" gerutu Arlan.
Panji hanya diam mendengarkan ucapan sang asisten.
Sudah 4 bulan kasus itu bergulir di kepolisian hingga masuk ke pengadilan tapi hasil tetap saja sama. Pelaku dinyatakan ada gangguan kejiwaan sehingga proses di pengadilan harus dihentikan. Si pelaku hanya masuk dalam rumah sakit jiwa.
Namun, seadil-adilnya pembalasan hanya pembalasan dari Yang Maha Adil. Di mata manusia mungkin itu tidak adil tapi di mata Allah, itulah hukuman teradil.
"Kita harus nekat ambil sikap Tuan," saran Arlan.
"Aku rasa sudah semestinya seperti itu yang terpenting sekarang kami baik-baik saja," jawab Panji.
"Tapi Tuan, apa Tuan percaya kalau pelaku utama itu dia? Tidak ada dalang otak besarnya?" sanggah Arlan.
"Kepolisian sudah menjelaskan secara detail dengan kita. Aku rasa memang dia dalang utamanya. Bukankah dia punya modal untuk melakukan itu semua? Dia anak satu-satunya dari seorang yang ekonominya di atas cukup. Kedua orang tuanya setengah tahun sebelumnya meninggal dunia. Psikisnya mulai terguncang dari itu. Kejiwaannya terganggu karena terlalu fanatik sebagai fans Alyra," terang Panji.
"Tetap saja itu tidak adil untuk Tuan dan nyonya," ucap Arlan masih belum terima apa yang menjadi keputusan dari pengadilan.
Panji memandang ke arah Arlan, tersenyum menggelengkan kepala pelan lalu menepuk bahu Arlan.
"Allah tahu yang paling adil untuk mahluk ciptaannya," ujar Panji lalu keluar dari kantor departemen store untuk ke butik karena dia sudah janji akan menemui sang istri di jam makan siang.
Arlan hanya pasrah dan mengiyakan apa yang Tuannya ucapkan, ada rona senyum di balik kepergian Panji.
'Kamu semakin dewasa Ji. Aku semakin kagum dengan sikap yang kamu miliki,' batin Arlan.
'Semoga Allah selalu melindungi kamu dan keluargamu," lanjut batin Arlan.
Tok
tok
tok.
Arlan tergugah dari lamunannya, "masuk!" serunya.
Mata Arlan semakin dia lekatkan mana kala yang datang adalah sosok wanita yang sekarang sah menjadi kekasihnya.
"Laporan untuk minggu ini," ucap Tika sambil menyodorkan satu berkas.
Arlan belum juga bergeming menatap tanpa kedip pada wanitanya. Ada raut tanpa senyum dari wanita itu.
"Duduklah!" titah Arlan.
"Tidak perlu!" jawab ketus Tika.
"Kita perlu bicara," ujar Arlan.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!" sahut Tika memasang wajah yang berubah bertambah kesal.
"Laporan ini apakah tidak perlu kita bicarakan?" Arlan mengangkat berkas yang telah dibukanya.
Tika terdiam, tangannya bergerak menarik kursi di depan meja kerja Arlan lalu mendudukinya.
'Pintar sekali berdalih! Aku tahu padahal tadinya kamu akan membahas hubungan kita kan? Aku masih malas untuk membahas semua! Kamu kurang tegas mengambil sikap!' batin Tika.
__ADS_1
"Antara aku dengan bocah tengil itu akan segera kuselesaikan," ucap Arlan membuka pembicaraan yang sebenarnya ingin dia bahas dengan Tika tapi belakangan ini Tika malah menghindari darinya.
Arlan menatap Tika yang tetap diam tanpa menyahuti ucapannya.
"Aku tetap akan mempertahankan hubungan kita karena aku hanya cinta kamu," lanjut Arlan.
"Kalau Bapak selesai membaca berkas itu, aku permisi keluar," pamit Tika tanpa menunggu jawaban dari Arlan kakinya beranjak keluar ruangan.
Arlan hanya pasrah menatap wanitanya keluar ruangan.
"Harus melibatkan Nesya agar kelar masalah perjodohanku dengan bocah tengil itu!" gumam Arlan, tangannya mengepal mengingat kejadian kemarin malam yang menimpanya.
...****************...
"Glad to see you back (senang kamu sudah kembali)," ucap Sella sambil merentangkan dua tangannya. Sang adik langsung menghambur memeluk. Sella tersenyum haru menyambut kedatangan kembali sang adik ke Indonesia.
Vano melepas pelukannya, menatap wajah sang Kakak. Tangannya bergerak menyapu air mata yang menetes di dua pipi Sella.
"Aku kembali ke Indonesia bukan untuk pergi dari sini, kenapa masih disambut tangisan," ledek Vano.
"Mbak terlalu bahagia akhirnya kamu menetap kembali ke Indonesia," ucap Sella.
"Rumahku di sini jadi suatu saat aku pasti kembali," sahut Vano.
Vano mendorong kopernya, berjalan kembali ke arah parkir mobil.
Sella berjalan sejajar dengan Vano.
"Kemarin sore aku bertemu Nadira," ucap Sella setelah sampai di mobilnya.
"Kamu bisa?" tanya Sella sambil memandang ke arah kaki Vano.
"Mbak jangan meremehkan kaki palsu aku. Dia sangat kuat dan mampu bergerak sesuai perintah!" jawab Vano dan tangannya masih menengadah meminta kunci.
"Ok! Aku percaya kamu!" seru Sella menyerahkan kunci mobilnya.
"Kamu segera temui Nadira," ucap atau tepatnya pinta Sella di tengah perjalanan.
Vano terdiam.
"Jangan hanya diam. Seorang lelaki itu harus tegas!" seloroh Sella memandang kearah Vano yang tak juga membuka mulutnya untuk menjawab ucapannya.
"Hei!" Sella memastikan Vano sambil memukul lemah bahunya.
"Ya, nanti aku temui dia," sahut Vano membuat Sella melebarkan senyum.
...****************...
Panji masuk ke ruang kerja sang istri. Dua bodyguard yang berada di dalam ruangan langsung keluar.
Anisa menengadahkan wajahnya menatap kepergian 2 wanita yang selama 4 bulan ini mengikuti kemanapun dia pergi. Pandangannya kini beralih pada lelakinya yang berjalan tersenyum mendekat ke arahnya.
Anisa membalas senyum Panji.
Satu kecupan mendarat di dahi Anisa.
__ADS_1
"Aku bawa makan siang Sayang," ucap Panji berjalan ke arah sofa lalu meletakkan bungkusan plastik hitam di meja.
"Terima kasih Yah," jawab Anisa.
Yah, ayah. Satu panggilan yang satu bulan ini disematkan pada lelaki yang kini duduk di sofa panjang.
Anisa mengangkat pantatnya lalu melangkah dan duduk di samping sang suami.
"Hai Sayang Ayah, pasti kamu sudah laparkan?" sapa Panji sambil mengelus perut datar milik Anisa.
"Lapar sekali Yah dan Ayah harus tanggung jawab kalau adek minta makannya melebihi porsi biasa," jawab Anisa menirukan suara anak kecil.
Mereka tersenyum bersama, Panji kini beralih mengelus pucuk kepala sang istri.
"Terima kasih Sayang, kamu sudah menghadirkan kebahagiaan. Semoga kamu dan calon anak kita sehat selalu."
"Amin ya Allah," jawab Anisa lalu mengecup kilas bibir sang suami.
Entah kenapa bibir itu menjadi candu untuk Anisa.
Panji mengerutkan keningnya, sudah dua minggu ini dia tidak berani berbuka puasa karena merasa khawatir itu akan berpengaruh pada janin yang baru masuk 6 minggu. Padahal dokter membolehkan untuk melakukannya tapi Panji merasa khawatir saja.
"Kenapa Yah?" tanya Anisa melihat raut masam suaminya.
"Kamu tahu Sayang, tubuh aku tuh seperti tersengat listrik kalau bibir kamu sekilas menempel di sini," sungut Panji menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
Anisa tertawa menang, "salah siapa ditahan-tahan," sahut Anisa.
"Aku_"
Satu kecupan berhasil membungkam mulut Panji hingga kalimatnya tercekat.
"Sayang," keluh Panji merasa sang istri hanya menggodanya.
Anisa tersenyum, tangannya bergerak meraba dada bidang sang suami, tubuhnya semakin dia dekatkan hingga tanpa batas penghalang, "kalau bayi kita yang minta, boleh?" tanya Anisa atau tepatnya ajakan agar sang suami tidak terlihat frustasi.
"Tidak apa-apa Sayang?" sahut Panji melempar tanya dengan antusias.
Anisa mengangguk pelan sambil melayangkan sebuah sebuah senyuman.
Satu, dua, tiga mereka menyelami surga duniawi dengan diiringi doa berbuka puasa dan penutup puasa.
"Nanti malam kita ulang Yah," bisik Anisa setelah keluar bebersih dari toilet ruang kerja.
Panji membelalakkan matanya merasa tidak percaya apa yang diucapkan Anisa.
"Tidak mau?" Anisa merasa bingung melihat mimik Panji.
Panji langsung menganggukkan kepalanya lalu seketika menggeleng, "mau!" jawab cepat Panji.
Anisa tersenyum mengecup sekilas bibir sang suami, "makin cinta kamu," lirih Anisa.
#TAMAT#
Terima kasih sudah dukung cerita ini, kalian the best sekali mengikuti tiap bab dengan memberi like, komen vote. lope lope buat kalian.🥰😍🙏
__ADS_1
Sementara belum aku tekan tombol end di aplikasi, aku mau minta pendapat kalian. Cerita Tika, Arlan, Vano, dan Nadira mau lanjut di sini kah atau sudah diakhiri saja? beri komentarnya ya🙏