
'Kak Panji,' batin Anisa karena mulutnya hanya membeku tak dapat berucap.
Anisa semakin terpinggir, tersisih dari kerumunan orang yang penasaran dengan mayat maupun bangkai mobil.
Anisa belum beranjak dari duduk di pinggir jalanan. Sampai ada sepasang mata yang menemukannya setelah mencari tiap celah bahkan menggeser orang-orang yang dengan antuasias tinggi mendekat ke mayat dan bangkai mobil.
Lelaki yang dipanggil Bowo itu mengempaskan napasnya, merasa lega karena sosok yang dia cari dia temukan.
"Non, Non Anisa," panggil Bowo tapi Anisa masih terdiam. Sekali lagi, mulutnya kaku tak dapat sepatah katapun keluar dari mulutnya. Bayangan korban tabrak dengan identitas Panji suaminya, masih melekat di mata Anisa.
"Kita ke tepi Non, duduk di kursi resto," ajak Bowo menggandeng nonanya yang tak berdaya.
Anisa melangkah berjalan atas komando Bowo.
Setelah nonanya duduk, Bowo membeli air mineral.
"Minumlah Non," pinta Bowo tapi Anisa tetap diam tidak merespon.
Bowo semakin gusar. Dia berdiri matanya mencari-cari sesosok Ali, teman sejawatnya.
Bowo merogoh ponselnya, niatnya akan menghubungi Ali. Namun, dia dikejutkan dengan 10 panggilan tidak terjawab dari bosnya, Panji Alam Darmawan.
"Bos Panji," gumam Bowo melihat ponselnya berdering kembali dengan pemanggil yang sama.
Bowo segera mengusap panggilan hingga suara di sana dapat Bowo dengar dengan jelas.
"Be-benar i-ini Bos Panji?" tanya Bowo tanpa membalas salam dari si penelepon.
"Kamu dari mana saja? Aku telepon kamu dan Ali berkali-kali tapi tidak ada yang mengangkat? Kalian baik-baik saja kan? Istri aku juga aman kan?" tanya si penelepon bertubi-tubi.
"Ini benar bos Panji?" ulang Bowo merasa tidak percaya.
"Jelas aku! Jemput aku sekarang! Kurang lebihnya ada 2 km dari lokasi resto! Mobilku dicuri orang!" titah Panji.
Ali melangkah ke arah Bowo dan Anisa.
"Wo, katanya si sopir tronton itu yang jadi korban. Mobilnya yang melaju terlalu kencang," lapor Ali.
"Kamu tidak usah pedulikan itu, sekarang jemput bos Panji di pom bensin terdekat, kurang lebih 2 km dari sini!" titah Bowo.
"Bos Panji?"
"Yang mati itu bukan bos kita tapi orang yang mencuri mobil bos kita," terang Bowo.
"Sudah cepetan, aku jaga Non Anisa, sepertinya dia sangat shock," lanjut Bowo.
"Ok!" Gegas Ali dengan motornya.
Lima menit Panji dan Ali sudah sampai di tempat resto.
Panji berlari mendekat ke arah Anisa.
"Nis, Anisa," panggil Panji namun wanitanya tetap diam tanpa respon.
"Aku sudah kasih minum tapi tidak bisa dia telan," ujar Bowo.
Panji meraih air mineral yang dipegang Bowo, meminumkan ke mulut Anisa tapi sama apa yang dikatakan Bowo, Anisa tidak menelannya.
__ADS_1
"Sayang, jangan buat aku khawatir," lirih Panji menuang air itu ke telapak tangannya.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Panji lalu meraupkan air itu ke wajah Anisa.
Anisa baru dapat berkedip dan air matanya meleleh tapi tanpa suara.
"Hei, ini aku Kak Panji, suami kamu," lirih Panji memangku dagu Anisa dengan tangannya.
"Kak Panji," lirih Anisa dan tubuh yang duduk di kursi itu ambruk.
Panji segera membawa Anisa ke rumah sakit.
Segera setelah masuk UGD ditangani dokter dan perawat. Kini, Anisa terbaring di ranjang. Panji duduk di tepi ranjang, menatap lekat wanita yang terbaring dengan lelapnya.
Tangan Panji bergerak menyentuh pipi Anisa, 'Semoga kamu baik-baik saja,' batin Panji.
Kronologis kejadian kecelakaan dan hal yang menimpa pada Anisa sudah diceritakan secara detail oleh Bowo dan Ali.
"Panji menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, "sudah jam satu, aku salat dulu," gumam Panji.
Panji pergi salat di masjid rumah sakit, Bowo dan Ali tetap menjaga di dalam dan luar ruangan.
Langkah Panji dipercepat, setelah salat dia masuk kembali ke ruang rawat Anisa. Bowo pun keluar ruangan.
Panji melihat Anisa masih terlelap. Panji duduk kembali di tepi ranjang. Menatap kembali wanitanya, dipegang tangan Anisa lalu dikecup berkali-kali tangan itu.
"Bangun Nis, jangan buat aku khawatir," lirih Panji.
Ada pergerakkan pada tangan yang dipegang Panji. Terlihat Anisa membuka matanya dengan pelan.
"Anisa," panggil Panji dengan senyum merekah.
"Ini bukan mimpi kan?" lirih Anisa matanya menatap tajam ke arah Panji.
Panji menggeleng pelan, "ya, ini aku Panji. Orang yang kamu lihat dalam kecelakaan itu orang yang mencuri mobilku," terang Panji tangan kanannya bergerak menyeka air mata Anisa.
"Aku panggilkan dokter untuk memeriksa kamu," Panji bangkit dan menekan tombol warning dalam kamar. Dokter segera masuk ke ruangan dan memeriksa Anisa.
"Alhamdulillah, kondisi ibu Anisa baik, keseluruhannya dinyatakan sehat. Dia bisa langsung pulang tapi kalau masih lemas boleh istirakhat dulu," ucap dokter.
"Terima kasih Dok," ucap Panji.
"Sama-sama," jawab dokter lalu pergi dari ruang rawat tersebut.
"Kamu mau minum?" tawar Panji dan diangguki Anisa.
"Ranjangnya aku naikkan ya," ujar Panji mengatur ranjang tidur hingga posisi Anisa terduduk menyandar.
Panji mengambil air botol mineral yang ada sedotannya.
"Pelan-pelan saja," ucap Panji ketika Anisa tersedak.
"Sudah Kak," pinta Anisa.
Panji menaruh botol itu ke nakas.
"Kamu mau salat dulu? Waktu Zuhur sudah berlalu 1 setengah jam yang lalu," ujar Panji.
__ADS_1
Anisa mengangguk.
"Tayamum atau wudu?"
"Wudu Kak," jawab Anisa.
Panji membantu Anisa berjalan hingga toilet.
"Kakak keluar saja, aku mau pip*s," pinta Anisa.
Panji menurut dan berdiri di pintu toilet.
Anisa keluar dari toilet berjalan ke tepi ranjang.
"Ini mukenanya, tadi Bowo pinjam ke perawat."
Anisa menerima mukena itu dan memakainya.
Panji terdiam, menatap wanitanya membuka jilbab menggantinya dengan mukena. Entah, dari dulu hingga detik sekarang dia selalu menikmati pemandangan itu, dimana rambut Anisa yang terlihat dikuncir asal dan anakan rambut terlihat di tengkuknya.
Anisa duduk di ranjang dan mengerjakan salat. Dua salam mengakhiri salatnya. Panji bergerak membantu melipat mukena yang telah dipakai Anisa kemudian menaruh mukena itu di nakas.
"Aku mau pulang Kak," pinta Anisa.
"Kita makan dulu. Aku sangat lapar," jawab Panji mengambil bungkusan makanan yang ada di atas nakas.
Anisa mau tidak mau mengiyakan permintaan Panji.
Panji melafalkan doa mau makan dan Anisa mengikutinya dalam hati.
Satu suap Panji masukkan ke mulutnya.
"Makanlah," titah Panji menyendokkan satu suap ke mulut Anisa. Walau tampak ragu Anisa akhirnya membuka mulut.
"Berarti kamu benar-benar sudah sadar dan ini kamu sesungguhnya," ucap Panji setelah satu bungkus makanan itu dihabiskan olehnya dan Anisa.
"Maksud Kakak?" bingung Anisa mengartikan ucapan Panji.
"Lupakan, perkataanku. Kamu sudah mau pulangkan? Aku panggil perawatnya."
Tombol warning dipencet Panji, perawat masuk ke ruangan.
"Pasien minta pulang Sus, tolong lepas infusnya," ujar Panji.
"Ya Pak," jawab perawat, tangannya bergerak melepas infus yang melekat di tangan Anisa.
'Ini kamu yang sesungguhnya Anisa, sikapnya masih saja sama walaupun sebelumnya menangis tersedu-sedu melihat kematian orang yang dikira aku,' batin Panji dengan mengulas senyum.
"Sudah Pak."
"Terima kasih Sus," ucap Panji.
Suster itu mengangguk kemudian pergi.
Tubuh Anisa masih duduk di tepi ranjang.
"Aku bantu jalan," tawar Panji.
__ADS_1
Mata Anisa menengadah menatap wajah lelaki yang berdiri di depannya. Tangannya bergerak melingkar di perut Panji dan kepalanya dia dibenamkan di perut itu. Anisa menangis sejadi-jadinya.
pagi menyapa 🤗 like hadiah vote komen komen komen komen komen komen, salam cinta dari Anisa dan Panji yang sepertinya...