Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 16


__ADS_3

Panji terdiam, matanya menatap Anisa, Oma Sartika, dan terakhir menatap kekasih yang kini hancur remuk hatinya karena dirinya.


"Ya, dia anakku," jawab Panji lirih dan pandangan matanya tertunduk.


Tiwi mengempaskan napasnya kasar. Air mata yang sudah mengalir membasahi pipi dia seka.


"Tiwi, aku... ."


"Cukup Mas," potong Tiwi.


"Aku tidak ingin dengar hal yang lain," sambung Tiwi kemudian melangkah pergi meninggalkan Panji yang berdiri mematung.


"Kak," panggil Anisa.


Panji menoleh, Anisa menunjuk dengan dagu agar Panji keluar.


Panji segera berlari keluar.


"Dengarkan aku Wi," pinta Panji dan tangannya meraih tangan Tiwi.


"Lepaskan Mas!" bentak Tiwi tangan satunya mencoba melepas genggaman Panji.


"Aku antar pulang," paksa Panji dengan menarik Tiwi untuk masuk ke garasi mobil.


"Aku bisa pulang sendiri," cekat Tiwi telah melepas genggaman Panji dan melangkah ke luar rumah mewah itu.


Tadi malam Tiwi ke rumah Panji diajak Oma dan terpaksa dia tidak membawa mobil karena oma yang memintanya untuk naik ke mobil oma Sartika agar pulangnya diantar Panji. Namun, kenyataan berbanding terbalik dengan rencana. Faktanya, semua di luar dugaan dan kehendaknya.


Tiwi berjalan ke jalanan besar sambil menyeka air mata yang tiada tahu malunya terus saja mengalir membasahi pipi.


Panji segera lari ke garasi mobil dan mengemudikan mobilnya tapi sebelum mobil itu jalan dia sempatkan menghubungi Arlan sang asisten.


"Arlan, segera ke rumah Tiwi. Sekitar 30 menit dari sekarang apakah dia sampai di rumah atau belum," titah Panji dan segera memutus sambungan teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Arlan.


"Kebiasaa buruk! Selalu seperti ini! Memutus telepon tanpa mendengar jawaban ku," umpat Arlan di sebrang sana.


"Sial!"


Panji memukul kemudi karena kehilangan jejak Tiwi. Namun, Panji tetap berjalan mengemudikan mobilnya, dengan mata melirik kanan, kiri, dan depan jalanan. Taksi ke arah rumahnya juga tidak ada. Dia sudah membuntuti 3 taksi tapi hasilnya keluar jalur dari arah rumah Tiwi.


Panji menepikan mobilnya, mengambil ponselnya kemudian menghubungi nomor Tiwi. Beberapa panggilan tidak juga mendapat jawaban.


Kalau sampai rumah kabari aku


Satu pesan berhasil terkirim ke nomor Tiwi.


Panji melanjutkan perjalanannya ke rumah Tiwi. Sepuluh, 20, 30, 45 menit dia lalui hingga sampai di rumah Tiwi.


Di halaman rumah sudah terparkir mobil Arlan. Panji tidak memilih menghentikan mobilnya karena halaman rumah itu hanya muat 2 mobil, satu mobil Arlan dan satunya mobil Tiwi yang malam ini tidak dia pakai menuju rumahnya. Panji lebih memilih meninggalkan rumah itu melanjutkan jalan dan dirasa sudah tepat untuk parkir, Panji menulis pesan.


Tiwi sudah pulang?


Satu balasan Arlan kirim ke Panji.

__ADS_1


Sudah, tidak lama ini sekitar 10 menit yang lalu. Posisi Tuan dimana?


Kita bertemu di kafe Satu hati, 15 menit dari rumah Tiwi.


Arlan membaca pesan dari Panji kemudian membalas pesan itu dengan jawaban 'ok'. Arlan segera pamit pada bapak Rozak, orang tua Tiwi.


Setelah memarkirkan mobilnya, Arlan segera berjalan menuju meja 15 dimana ada sesosok lelaki tampan rupawan bak selebritas sedang menyesap satu orange jus.


"Tuan," sapa Arlan kemudian duduk di depannya.


"Mas... kopi latte 1," pinta Arlan pada salah satu pelayan kafe.


"Non Tiwi sudah tahu semua, dan dia tahu bukan dari Tuan? Benarkah tebakan aku?" tanya Arlan sekaligus memecah rasa penasarannya yang memuncak.


"Ini Mas, 1 kopi latte," ucap pelayan kafe dengan menaruh kopi itu di atas meja.


"Terima kasih Mas," ujar Arlan.


Pelayan itu mengangguk.


"Oma yang membawanya ke rumah, saat itu aku dan Anisa sedang makan malam," terang Panji.


"Kalian sedang makan malam romantis sampai Tiwi menjadi seperti itu?!" tanya sekaligus intimidasi dari Arlan.


"Tidak, kami makan malam biasa dan... ."


"Dan apa? dan Tuan sudah mulai mencintai gadis itu?" potong Arlan.


"Dulu Tuan anggap bocah ingusan yang menyusahkan, sekarang anggap adik, besok anggap apa lagi?"


Panji membuang napas kasar tanpa menjawab intimidasi dari Arlan.


"Tiwi bagaimana?"


"Dia mencoba bersikap biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin dia menutupi semua masalahnya agar orang tuanya tidak banyak beban pikiran."


"Bapaknya penderita diabetes dan tekanan darah tinggi, itu membahayakan kesehatannya," sambung Panji.


"Tuan harus jelaskan sejelas-jelasnya ke non Tiwi tapi tidak sekarang, biarkan dia tenang terlebih dahulu."


Panji terdiam.


"Kita cabut pulang," ajak Panji.


"Nanti Tuan, kopinya belum aku habisin," pinta Arlan yang langsung meminum kopi pesanannya.


"Kebiasaan, belum juga aku makan atau minum sudah main cabut," gerutu Arlan sambil berjalan mengekor di belakang tuannya.


"Hati-hati Tuan," ucap Arlan.


"Hmmmm," dengung Panji mengiyakan ucapan Arlan.


"Terima kasih kek, isssst biasa manusia tanpa ucap 'tolong dan terima kasih'," umpat Arlan kemudian melambaikan tangan ke tuannya yang sudah mulai melesat jauh dengan mobil yang dikendarainya.

__ADS_1


Sementara di rumah bapak Rozak,


"Nak...," panggil bapak Rozak di depan pintu kamar Tiwi.


Tiwi langsung menghapus air matanya, menghirup oksigen dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan, setelah dirasa tenang dia langsung membuka pintu kamar.


"Ada apa Pak?"


"Kamu sudah mau tidur?"


Tiwi mengangguk.


"Ya sudah lanjutkan tidurnya, istirakhatlah besok kamu kan harus kerja."


Tiwi lagi mengangguk. "Bapak juga segera istirakhat ya," ucap Tiwi dengan merekahkan senyum yang dibuat semanis mungkin.


"Ya, bapak istirakhat," jawab bapak Rozak walaupun sebenarnya dia melihat gelagat yang tidak biasa pada Tiwi.


Tiwi menutup pintunya dan kembali merebahkan diri di kasur.


Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Air matanya kembali mengalir ke pipi.


"Mas...kenapa kamu tega melakukan ini padaku?" gumam Tiwi, meremat bantal dengan kuat.


"Aku sama sekali tidak punya pemikiran kalau kamu bisa mengkhianati ku dengan cara yang semenyakitkan ini." Tiwi menekan dadanya, elu hatinya begitu sakit.


Dua pesan masuk ke ponsel Tiwi. Dia meraih ponsel itu.


Kalau sampai rumah kabari aku. Satu pesan itu dikirim sekitar satu jam yang lalu.


Kamu tenangkan diri, yang perlu kamu ingat aku akan selalu mencintaimu. Kalau kamu sudah tenang mari kita bicara.


"Mengapa harus mengirim pesan seperti ini Mas? Apa kamu mau memberi harapan setelah menikahi wanita lain!" geram Tiwi tangannya kembali menyapu air mata yang terus saja mengalir.


"Kamu harus kuat Tiwi! Stop jangan nangis! Ingat kesehatan bapak. Dia tidak boleh melihatmu pagi hari dalam keadaan mata yang menjadi bengkak, ayo Tiwi semangat!" Tiwi mencoba menguatkan diri.


Sekali lagi menghirup oksigen dalam-dalam kemudian mengeluarkan perlahan, berulang-ulang Tiwi lakukan hingga dirinya menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Setelah merasa cukup, Tiwi menurunkan kakinya dari ranjang menuju toilet kamar. Membasuh mukanya dengan air wudu dan menunaikan 4 rakaat di waktu isya.


Di kediaman rumah oma Sartika.


Oma Sartika nampak tersenyum menang, kedua tangan dia tepukkan sebagai ekspresi kebahagiaannya.


"Wau wau...kenapa dari dulu oma tidak melakukan trik ini. Kamu satu kali muncul tanpa waktu lama langsung membuat goyah hubungan Panji dengan wanita rendahan itu," ujar oma dengan raut senyum kemenangan.


"Oma terlalu kecewa pada Panji. Susah payah kupilihkan dengan wanita yang bermartabat dan status yang jelas malah dia tolak. Dia lebih memilih wanita rendahan itu. Kali ini oma takkan menyia-nyiakan waktu lagi. Yang satu sudah beres tinggal yang satu lagi," ucap oma dengan mata langsung menatap ke arah Anisa.


"Sebelumnya oma ucapkan terima kasih pada kamu karena sudah menyingkirkan batu besarnya, tinggal menyingkir batu kerikil, tidaklah sulit untuk oma," sindir oma sekaligus ancaman yang diikuti tawa menggelar, dia berjalan ke arah kamarnya.


"Dasar nenek lampir, kamu pikir aku mudah ditindas," umpat Anisa.


like, komen, komen, komen, komen ya....πŸ™


hadiah juga mau, vote yang masih sisa mau dong kasih ke mari😘πŸ₯°πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2