Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 72


__ADS_3

'Kabar kak Panji? Menanyakannya? Mana mungkin? Bahkan nama itu ingin aku kubur dalam-dalam dalam memoriku. Namun, mengapa hanya mendengar namanya jantungku terasa berhenti berdetak?' monolog batin Anisa.


Vano tersenyum kecut melihat ekspresi Anisa.


"Begitu besarkah cinta kamu padanya?" tanya Vano ingin kejujuran dari Anisa.


"Siapa juga yang cinta dia!" sanggah Anisa, mulutnya mengunyah pelan makanan yang baru masuk.


Lagi Vano tersenyum kecut, "Mulut kamu boleh berkata lain tapi wajah dan hati kamu tidak dapat dibohongi," sambung Vano, entah kenapa dia tidak berhenti mengintimidasi Anisa.


"Kalau dia cinta aku, dia tidak mungkin menceraikan ku," sahut Anisa, bibirnya gemetar mengeluarkan kalimat itu.


"Seandainya dia punya alasan yang kuat sehingga melakukan semua itu pada kamu, apa kamu akan memaafkan dan_"


"Dan kita akhiri pembicaraan ini!" potong Anisa kemudian mengangkat pantatnya melangkah pergi.


"Hai...tunggu! Belum bayar!" seru Vano sengaja agar Anisa berhenti tapi kaki Anisa tetap melenggang pergi.


...****************...


"Bajunya kece banget Nis," puji Nadia setelah mencoba baju kebaya untuk acara wisuda.


Anisa tersenyum, tangannya masih bergerak memasang manik-manik baju yang lain.


"Pantesan temen-temen pada ngiler pengen dibuatin juga," sambung Nadia.


"Mama papa juga suka sekali jahitan kamu. Kemarin langsung dicoba sih."


"Alhamdulillah kalau suka. Kamu jadi bantu aku tidak? Kalau ya itu tolong lanjutin pasang manik-manik.


Nadia meraih baju yang dimaksud Anisa.


Hampir setengah tahun Anisa membuka orderan jahitan baju. Kebanyakan dari mereka adalah orang Indonesia yang berada di Malaysia. Dari mahasiswa hingga pejabat dubes. Selain mematok harga murah, hasil jahitan Anisa terkenal halus, sesuai selera si customer dan perpaduan modifikasi yang epik dari kepiawaian tangan Anisa. Orderan itu juga tidak pernah sepi semenjak pertama kali buka.


"Gyrda dan Zendi, jadi pesan ke kamu?"


Anisa mengangguk.


"Setelah lihat postingan Amalia dia langsung pesan ke aku. Makanya cepat bantu kerjaanku," ujar Anisa.


"Ya bawel!" sahut Nadia.


"Tenang saja nanti ada diskon harga karena sudah bantu-bantu aku."


"Enak saja diskon harga. Pantasnya aku itu jadi asisten kamu dengan gaji tetap tiap bulannya," sanggah Nadia.

__ADS_1


"Amin ya Allah, semoga langganan makin banyak dan bisa nambah pegawai selain Haliza.


Haliza tersenyum ketika namanya disebut Anisa. Dia adalah mahasiswa yunior Anisa. Keterampilannya dalam jahit menjahit membuat Anisa merasa sangat terbantu.


"Oya Kak, kemarin adik Saleh mau juga tuh bantu-bantu akak jahit baju."


"Saleh yang teman satu kelas kamu? yang lemah gemulai itu?"


"Iya Kak, macam ada Saleh lain," canda Haliza.


"Bilang sama dia, besok langsung ke kontrakan aku," sahut Anisa karena dia memang butuh orang untuk membantu pekerjaannya.


"Sip Kak," jawab Haliza mengacungkan jempolnya.


"Assalamualaikum...,"


"Waalaikum salam," jawab serentak yang ada di dalam ruang depan. Ruang itu memang dibuat khusus oleh Anisa menjadi ruang kerjanya.


"Vano," sapa Nadia.


"Aku bawakan yang seger-seger. Bakso Bang Kadir. Asli wong solo." ucap Vano, menyodorkan satu bungkus plastik hitam.


"Terima kasih Van," ucap Anisa, menerima bungkusan plastik itu.


Anisa keluar dengan setumpuk mangkok dan sendok. Entah kenapa setelah melahirkan, bakso menjadi makanan favorit Anisa hingga sekarang, makanya Vano sering sengaja membelikannya.


"Nikmati saja baksonya, aku buru-buru mau cabut dulu," ujar Vano.


"Loh tidak ikut makan Van?" heran Nadia.


Vano menggeleng.


"Tadi tidak sengaja lewat terus ingat sama orang yang doyan banget sama bakso, akhirnya aku beli," canda Vano, melirik ke arah Anisa.


Anisa hanya tersenyum membalas candaan Vano.


"Tidak sengaja lewat atau sengaja membelikan?" ledek Nadia.


"Mungkin dua-duanya," sahut Vano diiringi tawa kemudian kaki Vano melangkah pergi.


"Waalaikum salam!" seru Nadia mengingatkan agar Vano mengucap salam.


"Sampai aku lupa, assalamualaikum semuanya," ucap Vano membalikkan tubuh dan mendongakkan kepalanya di ambang pintu.


"Waalaikum salam," jawab serentak.

__ADS_1


"Vano sudah nyoba bajunya Nis?" tanya Nadia teringat bahan batik couple yang Nadia berikan khusus untuk menghadiri acara wisudanya.


"Belum," jawab singkat Anisa kemudian memasukkan bakso ke mulutnya.


"Pasti kalian terlihat sangat serasi. Apalagi batik itu kamu yang jahitin," ujar Nadia greget melihat dua manusia yang belum juga ditakdirkan bersama. Padahal, Nadia sebagai teman tidak lelah menasehati Anisa agar mencari pasangan yang dapat membahagiakannya, tidak usaha jauh-jauh yang dekat dengannya, yang selama ini nyata memberikan dan rela berkorban apapun untuknya. Siapa lagi kalau bukan Vano.


Anisa hanya tersenyum kecil.


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Nadia terlihat cantik dengan dandanan flawless. Kebaya yang dikenakan semakin mempercantik tampilan Nadia.


Nadia keluar disambut Anisa dan Vano karena tamu undangan yang dapat masuk menyaksikan secara langsung prosesi wisuda hanya 2 orang.


Nadia disambut haru oleh Anisa, "Selamat Nad, akhirnya kamu resmi telah lulus menempuh study," ucap Anisa, memeluk Nadia.


"Thank's Anisa, aku doakan kamu juga segera menyusul hingga titik ini."


"Amin," jawab Anisa kemudian melepas pelukannya.


"Kamu juga Van, cepat nyusul ya," seloroh Nadia dengan memukul bahu Vano.


Vano nyeringis sambil memegang bahunya, "Itu tangan apa timpukan kasti sih, sakit bener?" canda Vano membuat semuanya terkekeh.


"Mam, cantik sekali, selamat ya...," ucap Anisa beralih ke mama Nadia sambil memeluk tubuh mama Nadia dan beralih ke papa Nadia hanya dengan salaman mencium punggung tangan. Merekalah orang yang sudah sangat baik pada Anisa selama Anisa di Malaysia.


"Kita foto-foto yuk," ajak Nadia.


Diiyakan semuanya. Banyak berbagai pose mereka lakukan hingga pose hanya antara Anisa dan Vano yang paling menarik dari sekian pose.


"Anisa agak mendekat dong," seru Nadia sambil mendorong Anisa agar lebih mendekat ke Vano. Anisa hanya menurut walau dia sendiri sebenarnya agak canggung dalam posisi seperti itu. Mereka biasa bersama tapi kan selalu ada Nadia dimanapun tempat.


"Nah seperti ini," ucap Nadia menggerakkan tubuh Anisa mepet ke Vano dan posisinya lebih mundur dari Vano jadi view yang didapat di foto Anisa seperti menempel dengan Vano.


Beberapa pose diambil, oleh fotografer.


"Smile," pinta fotografer lalu dituruti Anisa dan Vano.


Selain fotografer, Nadia juga mengabadikan momen itu di ponselnya dan dengan cepat Nadia membagikan foto-fotonya di sosmed, mulai dari aplikasi WA, FB, Twitter dan, IG.


Bahkan Nadia menyelipkan foto Anisa dan Vano secara sendiri di status sosmednya dengan caption semoga kalian berjodoh. Tak pelak status itu langsung dibanjiri komentar oleh para netizen dan teman-teman mereka.


Apalagi status sosmed IG dan FB yang Nadia buat juga di-tag (ditandai) pada sosmed Vano dan Anisa. Bertambah ramailah status itu. Banyak sekali komentar yang mengamini status tersebut, mengatakan serasi, cantik dan tampan, pasangan dunia akhirat, pasangan ter- the best, pasangan dari jaman SMA, pasangan favorit, dan berbagai komentar yang lain. Namun, diantara komentar yang banyak itu, ada seseorang yang terlihat tersenyum kecut menatap foto Anisa dan Vano.


malam menyapa 🤗 kasih like, komen, hadiah, dan vote ya...


Ada yang kangen Panji? 2 bab ini tanpa dia loh🤭

__ADS_1


__ADS_2