Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 70


__ADS_3

Anisa dan Panji saling diam. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing. Arlan yang mengemudikan mobil juga ikut terdiam. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka hanya bising kendaraan yang lalu lalang mengiringi kepergian Anisa. Suara rintik hujan hanya menambah kebisuan diantara mereka.


Anisa memandang keluar jendela. Tangannya tak berhenti menyeka air mata yang menumpuk di pelupuk mata.


Panji sesekali melirik wanita di sampingnya. "Ada yang perlu kamu tanda tangani Nis," ucap Panji sedikit ragu menyodorkan map yang berisi 2 lembar kertas.


Anisa menoleh, tanpa bertanya apa-apa tangan Anisa langsung bergerak menandatangani kertas itu.


"Kamu tidak baca dulu?" tanya Panji merasa Anisa gegabah langsung menandatangani kertas yang dia ajukan sebelum membacanya.


"Tidak perlu!" jawab Anisa singkat.


'Karena aku tahu Kak, itu surat pengajuan cerai,' batin Anisa dan hatinya entah kenapa begitu sesak.


Panji memasukkan map itu ke dalam tas. Matanya menatap kembali ke Anisa.


"Kenapa lebih memilih ke Malaysia bukan ke Paris?" tanya Panji mengurai kebisuan yang kembali menjalar.


Anisa terdiam kemudian membalas tatapan Panji.


Mulut Anisa bergerak tapi sulit mengeluarkan suara. Dia menelan salivanya, mengempaskan napas dengan pelan mencoba menetralkan emosi.


"Jangan khawatir Kak, kalaupun aku di Malaysia aku tidak akan menggangu kehidupan Kak Panji dengan mbak Tiwi! Aku akan hilang dari kehidupan kalian!" jawab ketus Anisa.


Panji mengangguk pelan, tidak menyangka Anisa akan menjawab dengan jawaban yang sangat menusuk hatinya.


'Aku tawarkan kamu sekolah ke Paris karena di sana banyak sekolah fashion yang dapat mengembangkan bakat kamu Nis. Bukan karena hal lain,' sanggah batin Panji yang tidak mampu dia utarakan ke Anisa.


"Sudah sampai Non, Tuan," ucap Arlan.


Anisa dan Panji segera turun, Arlan ikut membantu menurunkan 2 koper milik Anisa.


Panji dan Anisa masuk ke bandara menuju terminal pemberangkatan, setelah mengurus chek-in tiket dan bagasi, Panji mendekat ke Anisa.


"Baik-baik di sana. A_aku hanya bisa berdoa kamu bahagia."


Anisa mengangguk. Matanya berkedip cepat menahan cairan bening di pelupuk matanya agar tidak jatuh.


"Mulai hari ini, aku bebaskan kamu untuk menggapai kebahagian dengan caramu sendiri," Panji diam menjeda kalimatnya.


"Anisa Khumaira, aku Panji Alam Darmawan menceraikan mu. Carilah lelaki yang tepat yang dapat membahagiakanmu," kalimat itu akhirnya lolos dari mulut Panji.


Anisa sekali lagi mengangguk mengempaskan napasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Aku terima talak dari Kak Panji. Semoga Kakak juga bahagia dengan Mbak Tiwi," jawab Anisa, mata Anisa tetap berkedip cepat bagaimana pun caranya dia tidak boleh memperlihatkan kesedihan di depan Panji. Dia tidak ingin terlihat terpuruk di depan Panji. Anisa bersikap seolah-olah biasa saja.


"Tolong jaga Nevan," lanjut Anisa.


"Nevan sekarang menjadi tanggung jawabku tapi ambillah Nevan kalau nanti kamu sudah sukses."


Anisa membalikkan tubuhnya tanpa menyahuti ucapan Panji lalu mengenakan kaca mata hitamnya dan berjalan menuju pengecekan imigrasi. Air mata yang sedari tadi dia bendung akhirnya mengalir di kedua pipinya.


Panji terdiam menatap wanita itu pergi hilang dari pandangan matanya. Setelah tak terjangkau mata baru kaki Panji melangkah ke sudut ruang yang pemandangannya tepat ke landasan pesawat.


Lama Panji berdiri terdiam menatap landasan itu, lalu lalang pesawat take on maupun take off. Namun, matanya hanya tertuju pada pesawat besar dengan sayap bertuliskan M- airline.


"Tuan, 20 menit lagi ada rapat dengan semua manajer SPBU," ucap Arlan mengingatkan tuannya.


Panji hanya terdiam. Sedetikpun dia tidak ingin mengalihkan pandangannya.


"Kita pergi," sahut Panji setelah pesawat dengan nomor penerbangan M.A B 707 itu mengudara.


'Selamat jalan Anisa, Aku harap keputusanku ini terbaik untuk kita,' batin Panji, melangkahkan kaki dan masuk ke mobil yang sudah siap di pintu keluar bandara.


Mobil itu bergulir membelah jalanan kota.


Hening.


Tangis itu tak terbendung, mengalir begitu saja dengan derai air mata yang membanjiri pipi. Sesekali suara sesenggukan terdengar pula.


"Mengapa sakit sekali," lirih Panji dengan menepuk-nepuk dadanya.


Arlan melihat dari kaca dalam mobil, sesosok yang biasanya tegar, tegap, lantang dengan segala permasalahannya yang menimpanya kini tersungkur tak berdaya.


'Ini pertama kali aku melihatmu menangis Panji, sedalam itukah perasaan kamu? Lalu, harus sebesar itukah pengorbanan yang kamu lakukan? Aku harap kamu tidak akan menyesal dengan keputusan kamu,' batin Arlan.


"Apa kita pulang saja Tuan?" tawar Arlan setelah melihat kondisi tuannya sedikit membaik.


"Kita lanjutkan ke kantor," jawab Panji.


Malam menyapa.


Kaki Panji terhenti di tepi ranjang, menatap tepi ranjang itu. Diraba ranjang itu dengan pelan, kemudian tangannya bergerak mengelus bantal yang tertata rapi di ranjang itu.


"Malam ini, pertama kali tanpa kamu," gumam Panji.


"Mengapa sepi sekali?" Panji menerawang ke langit-langit. Kakinya bergerak mendekat ke arah nakas di samping ranjang, memegang ponsel dan mengusap aplikasi hijau, mencari kontak atas nama cabe-cabean.

__ADS_1


Ponsel Panji letakkan kembali di atas nakas. Niatnya akan menghubungi nomor kontak itu. Namun, segera dia urungkan.


"Bukankah aku harus mengikhlaskan kamu! Aku sudah memutuskan semua! Jadi, aku harus ikhlaskan kamu!" umpat Panji dengan menenggelamkan kepalanya di bantal.


Panji tegakkan tubuhnya, mulutnya tersenyum menatap Anisa melangkah mendekat ke arahnya dan mendengus mencium jas yang Panji kenakan. Senyum bahagia itu berganti senyum kecut ketika bayang itu hilang seketika.


"Jaga Nevan Kak," samar bayang Anisa mengucapkan kalimat itu sebelum hilang tanpa jejak.


"Nevan!" seru Panji, bangkit keluar kamar menuju kamar Nevan. Seharian ini dia tidak menemuinya dan seketika Panji baru mengingat keberadaan bocah itu.


"Kenapa Nevan Sus?" tanya Panji melihat Nevan nangis tergugu.


"Tidak tahu Tuan, dari tadi nangis tidak mau berhenti."


"Biar ku gendong. Tolong buatkan susu untuk Nevan," titah Panji.


"Ya Tuan," jawab suster Tia langsung membuatkan susu.


Panji menimang Nevan agar tidak menangis lagi. Bayi itu nemplok lengket di dada bidang Panji. Tidak lagi terdengar tangisan Nevan dan Lamat-lamat mata bocah itu terpejam.


Nevan ditidurkan di ranjang bayi. Dikecup kening bayi itu. Senyum tercetak di wajah Panji ketika menatap bocah tanpa dosa itu.


"Tumbuhlah jadi anak yang cerdas dan sehat," lirih Panji lalu menarik gemas hidung Nevan.


...****************...


Panji membuka tasnya, mengambil map dan membukanya lalu membaca isi tulisan 2 lembar kertas yang diselipkan di map.


"Kamu urus ini Arlan," ucap Panji, menyodorkan map tersebut.


Arlan membaca dengan seksama tulisan itu, "Jadi, kemarin bukan_"


"Kamu urus saja itu!" potong Panji.


"Apa Non Tiwi akan menyetujuinya?"


"Aku tidak yakin dia setuju, tapi aku akan berusaha agar dia mau menyetujuinya," sahut Panji, matanya kini beralih ke game card yang dia pegang.


'Perlahan aku harus merelakan semuanya,' batin Panji, tangannya menarik laci meja dan menaruh game card itu.


malam menyapa 🤗 like, komen, hadiah, vote juga mau 😍🙏


Apakah malam ini masih ada air mata?🥺

__ADS_1


__ADS_2