
"Aku tahu Kak Panji, ini yang kamu maksud. Berakting selayaknya suami istri di depan oma kamu, karena aku juga tahu, oma kamu masih mengintai kita," ucap batin Anisa.
"Tunggu!" Cekat sebuah suara dan terpaksa menghentikan langkah Anisa yang hendak menaiki tangga.
Anisa menoleh dan benar tebakannya, suara itu milik oma Sartika. Anisa tersenyum kecil.
"Ada apa Oma?" tanya Anisa dibuat santai walau sebenarnya dia gugup luar biasa. Sudah lima menit Anisa duduk di ruang tengah hanya di pandang Oma Sartika dengan pandangan penuh selidik.
"Katakan! Siapa kamu sebenarnya?!"
"Aku?" retoris Anisa.
Oma melototkan matanya ke arah Anisa.
"Issst, semua penghuni rumah ini memang suka melotot apa ya?" gumam Anisa.
"Kamu tuli atau pura-pura tidak dengar?!" geram oma Sartika.
Anisa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Seperti yang Kak Panji katakan," Anisa menjeda kalimat.
"aku istrinya." sambungnya.
"Terus aku harus percaya begitu saja dengan yang kamu dan Panji ucapkan?!" Pertanyaan sekaligus intimidasi terarah ke Anisa.
Anisa menunjukkan galeri foto di ponsel bergambar buku nikah. Tadi pagi sewaktu menunggu Panji bangun dari tidur, dia sempatkan memoto buku nikah. Dia tahu oma Sartika akan mencecarnya dengan ribuan pertanyaan. Berjaga-jaga barangkali dibutuhkan dan tepat sekali kesigapannya kali ini.
"Dua hari yang lalu aku menikah dengan Kak Panji," terang Anisa dan ini yang dia nanti, menunggu reaksi dari sang oma setelah melihat buku nikah yang dia tunjukkan.
Oma Sartika hanya tersenyum mencibir menanggapi pengakuan dan bukti dari Anisa. "Aku tidak heran, banyak wanita jala*g seperti mu yang mendekati cucuku," ejek oma Sartika.
Anisa tidak menyangka akan mendapat tamparan ucapan yang begitu menyakitkan dari mulut oma Sartika. Bibir Anisa bergetar menahan amarah. Namun, dia harus mengendalikan emosi menghadapi wanita semacam oma Sartika.
"Terserah Oma mau mengataiku seperti apa, ini faktanya. Aku, Anisa Khumaira istri sah dari Panji Alam Darmawan," rangkum Anisa kemudian melanjutkan jalan menaiki tangga hingga hilang dari pandangan oma Sartika.
Anisa langsung mengelus dadanya ketika sudah bersandar pada pintu kamar yang telah ditutupnya kembali.
"Astaghfirullah haladhim...sesadis itukah oma?" Anisa mengeluarkan napas panjang menghilangkan rasa takut, gugup, cemas.
Anisa si gadis desa dengan setumpuk pengalaman berorganisasi sekolah dan kecerdasan yang dia miliki. Mulai hari ini, hari dimana dia menginjakkan kaki di rumah Darmawan, harus mempraktekan ilmu dan pengalaman yang dia punya.
"Sepertinya bau anyir perang akan dimulai," ucap Anisa penuh frustasi.
Sementara oma Sartika masih berdiri menatap penuh amarah pada Anisa yang telah hilang di telan jarak pandang. "Akan ku pastikan kamu tidak akan hidup lama di sini!" ancamnya.
__ADS_1
...****************...
"Langsung ke kantor pusat Ar," titah Panji.
"Baik tuan."
Niat hati Arlan akan menanyakan tentang gadis itu. Namun, dia urungkan karena wajah sang tuan terlihat serius.
"Laporan dari 5 SPBU sudah kamu check?
"Sudah Tuan."
"Apa ada kendala?"
"Seperti yang kemarin saya laporkan. Tidak ada kendala. Kita tidak mampir ke SPBU 2 dulu Tuan?" tawar Arlan karena sudah memasuki minggu awal bulan belum satupun chek SPBU.
"Seperti yang aku katakan, langsung ke SPBU pusat."
Kerja secara profesional, cerdas, akurat, tanpa kenal patah semangat menjadikan Panji Alam Darmawan sukses mengelola 7 SPBU. Bahkan terakhir kali membuka cabang di kabupaten tanah kelahiran dan SPBU itu dipegang oleh adiknya, almarhum Faisal.
Walaupun hubungannya dengan keluarga sempat memburuk semenjak kepindahannya ke metropolitan. Namun, kedewasaan Panji menjadikan hubungannya dengan bunda Rosmawati, kyai Syamsuddin, dan Faisal membaik. Tekad menjalin hubungan yang lebih baik dibuktikan dengan mendirikan SPBU cabang di tanah kelahiran dan Faisal yang diberi tanggung jawab untuk mengelola SPBU tersebut.
Panji langsung masuk ke gedung kantor. Melewati beberapa pegawai yang ada di SPBU pusat. Mereka menunduk memberi hormat bak seorang pangeran lewat. Pandangan Panji kini tertuju pada wanita yang tengah sibuk di depan laptop.
Panji tersenyum menatap wanitanya. Dia sangat gemas ketika menatap Tiwi sedang serius bekerja. Kecerdasan, semangat tinggi, profesional yang dia miliki menambah nilai plus di hati sang big boss. Dia menjabat sebagai manajer di salah satu SPBU yang dimiliki Panji.
Gadis yang kini telah berusia 26 tahun. Sudah 2,5 tahun dia menjalin asmara dengan Panji Alam Darmawan. Selama 2,5 tahun itu pula restu dari sang oma Sartika tak kunjung mereka dapat. Kalau tidak karena cinta tulus yang ditunjukkan Panji, sudah pasti Tiwi tidak mau mempertahankan hubungannya dengan Panji karena perlakukan oma Sartika yang terlalu merendahkannya.
"Selamat siang sayang," sapa Panji dengan mendekatkan wajahnya di samping laptop yang Tiwi buka.
Tiwi tersenyum mendapati Panji. "Siang Mas," jawab Tiwi.
"Serius sekali?" tanyanya dengan memposisikan diri duduk di depan meja kerja Tiwi.
"Ada beberapa laporan harian yang perlu aku kroscek mas,"
"Laporan minggu awal bulan ini?"
Tiwi mengangguk. "Dari kemarin aku kan juga cuti kerja."
"Ya ampun aku sampai lupa. Bagaimana kabar bapak kamu?"
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. berkat doa Mas juga."
"Maaf belum bisa jenguk Bapak," ucap Panji.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf karena tidak bisa ikut takziah ke rumah bunda. Semoga almarhum Faisal mendapat surgaNya Allah."
"Amin."
"Selama 5 hari di sana kamu ngapain saja?"
deg
"Pertanyaan macam apa yang dilontarkan Tiwi? Apa dia tahu fakta yang sebenarnya menimpaku? Atau...ini hanya perasaanku saja. Takut Tiwi tahu semua fakta itu," monolog batin Panji.
"Hei...," Tiwi melambaikan tangan di depan wajah Panji.
Panji tersadar dari lamunan dan membalas senyum kecil atas tindakan Tiwi.
"Apa?" Panji linglung karena pikirannya benar-benar terpecah.
"Apanya apa?" lempar tanya Tiwi.
"Minum air mineral tuh biar otaknya nggak oleng," canda Tiwi yang diikuti senyum kecil dari Panji.
Senyum yang jarang dia tampakkan kepada bawahan atau orang lain. Hanya orang terdekat saja yang melihat bahwa Panji akan terlihat tampan mempesona kala gigi rapi dan dua sudut bibirnya ditarik membentuk sebuah senyuman.
"Di sana tidak tebar pesona dengan para gadis kan?"
Ada senyum kecut mendengar lontaran canda yang diartikan pertanyaan serius oleh Panji.
"Kamu tidak lupa menyampaikan salamku untuk bunda dan bapak kan?"
"Ya dan aku juga sampaikan alasan kamu tidak bisa ikut takziah," jujur Panji karena memang dia menyampaikan salam dari Tiwi untuk kedua orang tuanya. Setelah itu baru bunda Rosmawati menyampaikan maksud hatinya yang akan menikahkan Anisa dengan Panji.
"Sebelum operasi bapak menanyakan kamu."
"Oh...ada apa?"
"Nanti tanya langsung ke bapak," jawab Tiwi.
"Kalau begitu besok sore setelah pulang kerja aku mampir ke rumahmu."
Anisa mengangguk.
"Mungkin bapak meminta kamu untuk segera melamarku," celetuk Tiwi diiringi satu senyum yang terpancar dari wajah cantiknya.
Sedangkan Panji, dia terlihat gugup. Mulutnya beku seketika. Hanya ada senyum kecil yang dia perlihatkan untuk mengubur rasa gugup.
Like, komen, komen, komen, vote ok, hadiah juga mau lah...🥰🙏
__ADS_1