Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 118


__ADS_3

"Besok aku harus menemuinya langsung," gumam Panji.


"Menemui siapa Kak?" tanya Anisa.


Panji tersenyum, "besok kamu juga tahu, sekarang tidurlah," titah Panji menarik tubuh sang istri dalam pelukan. Mengecup dalam pucuk kepalanya dan tangannya semakin erat memeluk Anisa.


"Aku tidak bisa bernapas Kak," lirih Anisa.


Panji tersenyum kecil, "Aku gemas ingin peluk kamu seperti ini," sahut Panji.


'Aku takut kehilangan kamu sayang,' batin Panji.


"Kak," panggil Anisa menjeda.


"Hmmmm," dengung Panji sebagai jawaban.


"Maaf, belum bisa memberi Kakak anak," lirih Anisa.


Panji semakin mengeratkan pelukan.


"Anak itu amanah dari Allah sayang, kalau Allah belum memberikan pada kita itu artinya kita belum mampu dengan amanah tersebut," ujar Panji.


"Tapi tetap saja aku merasa sangat bersalah Kak," sambung Anisa.


"Husssst, kalau bilang merasa bersalah. Akulah yang paling bersalah sayang. Aku sebagai suami tidak bisa menjaga kamu dan calon bayi kita."


Anisa menelusupkan kepalanya dalam dada sang suami.


"Tidurlah," titah Panji dan mereka mulai memejamkan matanya setelah melantunkan doa sebelum tidur.


"Aku mau cium Nevan dulu Kak," pinta Anisa agar sang suami melepas pelukannya.


Anisa segera pindah ke ranjang satu lalu mencium Nevan, setelah itu kembali naik ke ranjang dan masuk dalam pelukan Panji.


...****************...


Pagi itu, setelah sarapan pagi, Panji pamit untuk keluar. Tika dan Arlan dititahkan untuk menjaga Anisa dan Nevan.


"Apa sebaiknya aku ikut Tuan?" tanya Arlan.


"Kamu tetap di sini jaga istri dan anakku. Satu lagi, jaga calon istri kamu," ucap Panji diakhiri sebuah canda.


Arlan mendengus mendengar canda dari atasannya.


"Tik, calon suamimu aku tinggal," ucap Panji tertuju pada Tika.


"Kenapa tidak sekalian dibawa dan buang saja di kebun sawit! sungut Tika.


"Isst isst issst! Kalian itu tiada hari tanpa bertengkar," sela Anisa diiringi sebuah senyum.


"Sayang, ingat dulu kita juga sering bertengkar. Tapi sekarang malah jadi sayang-sayangan," sahut Panji sengaja membuat temannya itu.


"Betul juga Kak," balas Anisa masih dengan sebuah senyum dan bergelayut manja.


"Terus saja kalian ledekin para jomblo ini dan membuat kita iri dengan tingkah kalian," sungut Tika membuat Panji dan Anisa terkekeh.


"Sayang, aku pergi dulu," pamit Panji pada Anisa tidak lupa meninggalkan jejak di pucuk kepala Anisa.

__ADS_1


"Jagoan Ayah, titip Bunda ya, jaga baik-baik," pamit Panji pada Nevan.


"Ok Yah," jawab Nevan lalu TOS dan salim pada sang ayah.


Panji pun melangkah pergi.


Tidak butuh waktu lama. Dua puluh menit, Panji sudah sampai di rumah yang satu hari kemarin dia datangi.


Panji disambut Vano yang kebetulan ada di teras rumah.


"Ada apa Kak?" tanya Vano.


"Sella masih di sini kan?"


Vano mengangguk pelan tapi penuh tanda tanya.


"Aku ingin bertemu dengannya," lanjut Panji.


"Sebentar aku panggil," sahut Vano lalu melangkah masuk ke dalam.


"Silahkan duduk dulu," titah Vano mengarahkan Panji agar masuk dan duduk di ruang tamu. Panji mengiyakan pinta itu.


Sella keluar dengan tenang, duduk menyilakan kaki dengan dagu terangkat.


"Ada perlu apa mencariku?"


Panji senyum sekilas. "Ada hal yang perlu aku tahu dari kamu," ujar Panji.


Sella tersenyum mendengus, "Hal aku apa yang membuat Anda begitu penasaran?"


Sella menarik senyum sinisnya begitu mendengar nama Anisa disebut.


"Ada apa dengan wanita itu?" ketus Sella.


Vano menatap ke arah saudaranya. Hal itu sebenarnya bukan pertama kali Sella menyebut atau mendengar nama Anisa dengan emosi.


"Kamu yang membuat celaka dia?"


Sella langsung tertawa mengejek mendengar tanya dari Panji. Kemarin sore Vano memang bercerita tentang kecelakaan yang menimpa Anisa hingga dia harus kehilangan calon bayinya.


"Aku hanya senang mendengar berita itu! Bahkan tanpa campur tangan aku dia bisa celaka dan kehilangan anak!" ucap Sella dengan geram menahan emosi.


Panji sangat shock mendengar jawaban Sella.


"Mbak Sella!" sentak Vano agar saudaranya tidak berbicara keterlaluan.


"Kenapa?! Bukan kah itu pantas Anisa dapat!" ujar Sella dengan nada penuh emosi.


Panji mengempaskan napas perlahan, "Setahuku, kamu begitu baik dengan Anisa."


"Dulu! Sebelum semua hal buruk menimpa keluarga kami!" sahut Sella.


"Lalu apa hubungannya dengan Anisa?"


"Kamu bilang apa hubungannya dengan Anisa? Hah! Dia yang menyebabkan Vano cacat!" teriak Sella.


"Mbak! Aku kan sudah katakan sama kamu! Kecelakaan yang menimpaku tidak ada hubungannya dengan Anisa!" sela Vano.

__ADS_1


"Aku membela kamu Van," lirih Sella dan air mata yang sedari tadi menumpuk di pelupuk mata kini mengalir ke pipi.


"Kamu tadinya lelaki yang sempurna fisiknya. Lihat kaki kamu sekarang, diamputasi karena kecelakaan. Coba saja saat itu Anisa lebih memilih bersama kamu. Pasti kamu tidak penuh beban pikir dan bisa mengendarai mobil dengan baik," ujar Sella dengan suara parau dicampur air mata.


"Aku sering katakan sama Mbak. Kecelakaan yang menimpaku itu takdir. Bukan kesalahan siapapun."


"Dan kesehatan yang memburuk mommy juga takdir?! Dia setiap hari memikirkan keadaan kamu. Terlebih kamu tidak mau pulang ke Indonesia!" sanggah Sella.


"Itu keegoisan aku, bukan kesalahan Anisa," jawab Vano.


"Kamu tidak mau pulang ke Indonesia, bukankah karena kamu takut Anisa melihat kondisi kamu yang memprihatinkan ini?! Benar itu?!"


Vano terdiam, nyatanya benar apa yang dikatakan saudaranya. Tapi itu dulu, sewaktu awal emosi dirinya masih labil karena keadaan fisik yang tidak normal dan benar-benar membuatnya down.


"Bukankah jelas itu karena keegoisanku Mbak," sahut Vano dengan melemah.


"Aku sudah mulai bersahabat dengan keadaanku yang sekarang Mbak. Seharusnya Mbak mendukungku bukan malah memperkeruh keadaan."


"Bagus! Selain menyalahkan diri sendiri kamu juga menyalahkan Mbak?!" pekik Sella.


"Kamu cacat, mommy jadi sakit-sakitan. Biang semuanya Anisa! Aku hendak membalas semuanya pada Anisa tapi kamu selalu melarangku!" lanjut Sella masih dengan emosinya.


"Apakah teror boneka berdarah itu yang mengirim kamu?"


"Ya! Aku yang mengirim!" jawab Sella dengan lantang.


"Kenapa? Kumu marah? Silahkan lampiaskan kemarahan kamu!" lanjut Sella membara.


"Lalu, kaca butik pecah karena lemparan batu juga perbuatan kamu?" cecar Panji.


Deg.


Vano menengadahkan memandang ke arah Panji. Dia tahu tentang teror boneka berdarah yang melakukan memang saudaranya karena sebelumnya Sella sempat mengirim foto boneka berdarah disertai kata-kata ancaman ke padanya.


Namun, teror selanjutnya, Vano yakin bukan Sella yang melakukan karena saat itu Vano sempat mengancam bunuh diri kalau Sella melakukan hal nekat yang menyebabkan Anisa celaka dan Sella berjanji tidak akan melakukannya lagi. Vano tahu bagaimana sosok Sella memegang teguh janjinya.


Sella tersenyum menyeringai, "terserah kalau kamu beranggapan seperti itu," ucapnya kemudian.


"Bukan! Aku yakin bukan Mbak Sella," sela Vano dengan tegas.


"Bagaimana kamu bisa yakin itu bukan Sella, sedangkan Sella sendiri tidak menampik hal itu," ujar Panji.


"Karena Mbak Sella sudah janji denganku, tidak akan membuat Anisa celaka dan aku percaya janji Mbak Sella," jawab Vano.


"Kesimpulannya, Mbak Sella memang melakukan teror tapi hanya sekali itu. Jadi, teror atau pun serangan yang menimpa Anisa setelah boneka berdarah bukan Mbak Sella pelakunya," sambung Vano.


'Bukan Sella berarti ada peneror lain. Tapi siapa?' monolog batin Panji.


"Mbak Sella, besok kita mengunjungi Anisa sekalian Mbak minta maaf pada Anisa," ajak Vano.


"Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan sudi meminta maaf pada dia! Korbannya kita Van! Bukan wanita itu!" tekan Sella.


Vano mendengus kesal.


"Aku akan senang, kalau Anisa menderita!" lirih Sella dan giginya gemeretak melontar kalimat itu.


malam menyapa 🤗 like komen komen vote hadiah rate. Benarkah Panji percaya dengan yang disampaikan Vano? apa tindakan selanjutnya untuk mengungkap tabir kejadian.

__ADS_1


__ADS_2