Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 119


__ADS_3

"Aku akan senang, kalau Anisa menderita!" lirih Sella dan giginya gemeretak melontar kalimat itu dan tatapan matanya tajam ke arah Panji.


"Jangan paksa Van, biarlah Sella introspeksi diri, mengenai semua kejadian yang telah menimpa kamu. Benar apa kata kamu, semuanya takdir bukan salah Anisa. Maaf bukan aku membela Anisa. Dari awal bukannya Anisa sudah menjatuhkan pilihan dan hatinya tidak dapat dipaksakan," sela Panji.


"Maaf, aku sudah ganggu kalian. Semoga cepat pulih Van. Aku yakin kamu lelaki yang kuat. Aku yakin pula kamu akan mendapatkan wanita yang kuat dan jauh lebih menyayangi kamu," lanjut Panji setelah itu berpamitan untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang, otak Panji terus saja berpikir sang pelaku hingga dia menyimpulkan sesuatu dan saat di lobby hotel dia meminta pada resepsionis menghubungkan dirinya pada manager hotel.


Panji masuk ke ruang kerja sang manager dan ternyata sang manager mengenal dirinya. Dia menceritakan kejadian yang menimpa sang istri hingga Panji mengutarakan maksud dirinya menemui sang manager.


"Aku sudah menghubungi resepsionis untuk segera memberikan data yang kamu perlukan," ucap sang menager.


"Thanks Jib," sahut Panji.


Dia langsung merogoh ponsel dan menghubungi Bowo dan anak buahnya yang ada di Malaysia.


Panji menitahkan agar anak buah Bowo dan Bowo yang ada di Indonesia bergerak cepat setelah data yang dia dapat sudah ada di tangan mereka.


Semoga kali ini tebakanku benar. Peneror itu pasti berkeliaran dan bahkan mungkin beberapa hari ini ikut menginap di hotel.


Sementara itu, di kamar hotel.


Terlihat Anisa sedang ngobrol dengan Tika dan Nevan bermain dengan Arlan.


"Kamu lihat Tik, Arlan itu kebapak-bapakan kalau sedang bersama Nevan seperti itu," ucap Anisa dagunya menunjuk ke arah Arlan dan Nevan.


"Masa iya keibu-ibuan," celetuk Tika.


Anisa tersenyum mendengar jawaban sahabatnya. "Ya Allah Tika, tidak ada gitu tertarik-tariknya sama Mas Arlan?" tanya Anisa.


"Kenapa tanya seperti itu?".


"Ya lah, aku juga ingin lihat sahabatku yang cantik ini segera nikah," sahut Anisa.


"Nanti juga bakal nikah," ujar Tika.


"Dengan?" tanya Anisa berharap Tika melanjutkan ucapannya.


"Dengan seorang lelaki lah masak perempuan!" kesal Tika membuat Anisa terkekeh.


Arlan melirik ke arah Anisa dan Tika yang sedang asik mengobrol.


"Mas Arlan, Tika katanya mau dilamar seorang lelaki," ujar Anisa.


"Memang ada lelaki yang mau sama dia?" sahut Arlan.


"Issst! Nyebelin! Ngaca dong! Emangnya ada gitu yang naksir sama kamu?" balas Tika dengan wajah yang kesal.


"Ya sudah, kalau sama-sama tidak ada yang lamar kalian bareng saja," celetuk Anisa.


"Tidak!" jawab keduanya serentak.


Tring


tring


tring.


Arlan menatap layar ponsel. Tertera nama ibunya yang sedang memanggil.


"Assalamualaikum," suara dari seberang sana.


"Waalaikum salam Bu," jawab Arlan.

__ADS_1


"Kamu sekarang dimana?"


"Aku... aku sedang kerja, ada dinas di luar Jakarta," jawab Arlan.


"Dengan wanita?"


Deg.


'Pasti kutu kupret si Nesya yang memberitahu ibu!' geram batin Arlan.


"Ya Bu," jawab Arlan.


"Dimana wanita itu?!"


"Di... dia? Mungkin di kamarnya, aku kan sedang di kamar," jawab Arlan dengan terbata.


"Kamu jangan membohongi Ibu! Ingat! Kamu jangan macam-macam! Ingat pula kamu itu sudah ibu jodohkan dengan anaknya Pak Subroto!" ucap Ibu Arlan dengan banyak penekanan.


"Paman...," panggil Nevan dan suara itu terdengar oleh penelepon.


"Suara anak kecil? Anaknya siapa itu Lan?! Jangan bilang itu anak wanita yang sedang dinas di luar dengan kamu! Ibu ha_"


Tut


Tut


Tut.


Arlan langsung memutus sepihak sambungan telepon itu. Lalu ponselnya dibuat mode diam dan dimasukkan saku celana.


"Apa Nev?" tanya Arlan dan pandangannya berganti ke arah bocah lucu itu.


"Ayo main lagi," pinta Nevan dan diiyakan Arlan.


Tika menatap Arlan yang menampakkan perubahan wajah.


'isssst! Apa urusannya denganku?! Kalau dia mau dijodohkan, bukannya itu bagus? Artinya aku tidak lagi diganggu oleh Nesya yang memintaku menjalin hubungan dengan Arlan,' lanjut batin Tika tapi entah kenapa hatinya elu mengatakan itu semua.


'Tapi kenapa di sini kok nyeri ya?' batin Tika sambil tangannya bergerak memegang dada tepat di elu hati.


"Kenapa Tik?" tanya Anisa melihat temannya hanya terdiam.


Tika membalas dengan sebuah senyum dan gelengan.


Pintu kamar terbuka dan ada suara yang mengucap salam.


Nevan dengan girang menyambut kedatangan sang ayah.


"Ayah lama sekali," ucap Nevan yang sudah dalam gendongan sang ayah.


"Ayah ada perlu Nev," jawab Panji sambil mengusap rambut Nevan.


Panji mendekat ke arah Anisa lalu mendaratkan ciuman di pucuk kepala sang istri.


"Urusannya sudah selesai?" tanya Anisa setelah mencium punggung tangan sang suami.


Panji mengangguk.


"Kenapa wajah Kakak terlihat kusut seperti itu?" celetuk Anisa melihat rona wajah sang suami terlihat tidak sumringah.


Panji menarik dua sudutnya membentuk sebuah senyum.


"Aku ambilkan minum," ucap Anisa akan turun dari ranjang.

__ADS_1


"Tidak perlu sayang, biar aku sendiri yang ambil," cegah Panji lalu melangkah ke arah lemari pendingin.


Setelah meneguk air putih, Panji mendekat ke arah Anisa, duduk di sampingnya.


"Tadi, aku ke rumah Vano," ucap Panjiengawali pembicaraan serius.


Anisa langsung mengarahkan pandangan ke Panji begitu kalimat itu terlontar dari mulutnya.


Panji pun menceritakan dari awal hingga akhir kunjungannya ke rumah Vano.


Anisa masih tercengang tidak menyangka apa yang telah dilakukan Sella.


"Aku juga kurang silaturahmi pada keluarga Vano Kak, Tika saat itu mengajakku mengunjungi mommy tapi aku tidak sempatkan diri untuk ke sana karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri," ucap Anisa.


"Walaupun apa yang dilakukan Mbak Sella itu tidak dibenarkan. Besok kita harus berkunjung ke sana Kak, aku akan minta maaf ke Mbak Sella dan keluarga dan mencoba meluruskan semuanya. Mommy juga ikut ke Malaysia kan?"


"Ya besok aku antar ke sana tapi aku tidak lihat ada orang tua Vano," jawab Panji.


"Maaf Tuan, kita pamit pergi dulu," pamit Arlan.


"Ayo Tik," ajak Arlan.


"Aku... aku masih ingin menemani Anisa," tolak Tika.


"Ayo...!" Arlan menarik paksa tangan Tika agar ikut berjalan mengekornya.


Anisa dan Panji tersenyum menyaksikan dua insan yang sudah keluar dari kamar.


"Issst! Lepasin!" titah Tika lalu membalikkan tubuh akan kembali ke kamar Anisa.


"Hei! Mau ngapain?"


"Menemui Anisa lah," jawab Tika.


"Mereka suami istri ingin berdua, kita para jomblo dari pada iri melihat kemesraan mereka lebih baik keluar," sahut Arlan.


Tika mencibirkan bibirnya, "ya sudah!" sungut Tika lalu melangkah pergi.


Sekepergian Tika dan Arlan.


Panji langsung memeluk tubuh Anisa dan mencium sekilas bibir ranum sang istri.


"Kak, nanti Nevan lihat," lirih Anisa.


"Dia sedang bermain mobil-mobilan, jadi tidak lihat," sahut Panji lalu mengulang mengecup bib*r sang istri tapi kali ini lebih diperdalam hingga suara anaknya Nevan membaut keduanya menjadi salah tingkah.


"Bunda, Ayah," panggil Nevan, sontak Anisa dan Panji melepas pagutan.


"Ada apa sayang?" tanya Anisa turun dari ranjang dan mendekat ke Nevan.


"Buat Bunda," ujar Nevan menyerahkan satu mainan ke Anisa.


"Terima kasih Nev," ucap Anisa, menerima mainan itu. Nevan kembali berlari ke arah mobil-mobilan yang masih berserakan di lantai.


"Gara-gara Kak Panji," lirih Anisa sambil mencubit pinggang Panji.


Panji tersenyum nyengir, "Aku tidak tahan ingin cepat mengecup bib*r kamu menggoda sayang," balas Panji tepat di telinga Anisa.


Anisa hanya mencibirkan bibirnya sambil tersenyum.


'Terima kasih sayang, atas cintamu yang ternyata luar biasa padahal ada lelaki yang juga sangat mencintaimu. Aku janji akan lebih mencintaimu dan menjagamu juga anak kita, Nevan,' batin Panji.


Alhamdulillah... akhirnya bisa lanjut nulis maaf ya...banyak hal yg aku kerjakan di RL๐Ÿ™

__ADS_1


tetap dukung dg like like komen hadiah vote rate komen komen loh ๐Ÿ˜


lope lope buat kalian๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜yang belum mampir ke Janda Daster Bolong, yuk mampir semakin seru loh ceritanya ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜


__ADS_2