Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 80


__ADS_3

Anisa duduk di depan laptop dengan secangkir kopi hitam. Beberapa pesanan baju dari klien yang ada di KL terpaksa di-cancel karena waktu yang tidak memungkinkan untuk mengerjakan semuanya. Ada juga sebagian yang rela menunggu walaupun lama.


Anisa mulai menata semua dari awal. Karir yang dibangun dari negeri Jiran itu dia pindah ke Jakarta. Walaupun dengan cap nama besarnya di dunia fashion tapi Anisa harus mulai itu semua dari nol. Mencari tempat tinggal, mencari tempat untuk meneruskan dunia fashionnya dan segala persiapan yang lain. Semuanya dia lakukan demi satu tujuan, ya tekad untuk merebut anak satu-satunya dari tangan Panji.


"Sibuk nyari apa?" tanya Tika ketika keluar dari kamar mandi melihat Anisa sibuk di depan laptop.


"Mencari tempat tinggal," jawab Anisa tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.


"Sudah mantap mau tinggal di Jakarta?" Tika memastikan.


Anisa mengangguk, jarinya tetap menekan keyboard dan matanya fokus di layar laptop.


"Untuk sementara tinggal di kos aku saja," tawar Tika.


"Aku sudah bayar hotel selama 1 bulan," ujar Anisa


"Wah wah wah...hoyang kaya," canda Tika dengan senyum di bibirnya.


Anisa menolehkan kepalanya ke Tika, "Hotel menawarkan diskon yang cukup lumayan besar kalau booking selama 1 bulan, ya sudah aku terima. Sekalian nunggu dapat tempat tinggal yang pas," terang Anisa.


Tika mengangguk.


"Siapa yang datang?" tanya Tika mendengar bel kamar hotel."


"Tadi aku pesan sarapan," jawab Anisa, kakinya melangkah ke pintu kamar.


Dua pelayan hotel masuk masuk membawa pesanan Anisa.


"Terima kasih Mbak," ucap Anisa.


"Sama-sama, selamat menikmati hidangan dari hotel kami. Selamat pagi," ujar salah satu pelayan, lalu mereka melangkah pergi.


"Makan Tik," pinta Anisa.


"Aku cuci tangan dulu," seru Anisa.


"Oya Nis, selesai sarapan aku langsung pulang kos," ucap Tika melihat Anisa duduk di sampingnya.


"Ada perlu apa ke kos?"


"Pekerjaan rumah banyak sekali," jawab Tika.


"Cuci baju? kenapa tidak di laundry saja?"


"Emmm...aku pekerja baru, harus irit duit. Satu bulan harus nyukup untuk kebutuhan dan juga untuk kusisihkan sebagai tabungan. Tidak mungkin kan aku kos terus, pengen juga punya hunian sendiri," terang Tika.


Anisa diam.


"Pemikiran orang yang sudah berumur," canda Anisa diikuti tawa keduanya.


"Eh, jangan-jangan alasannya bukan hanya itu. Ini kan weekend, kamu mau kencan ya?"


"Kencan apaan sih Nis! Pacar aja nggak punya."


"Bohong, ayo...cerita dong tentang asmara kamu," bujuk Anisa.


"Sumpah Nis, aku belum punya pacar!" Tika mengangkat jari telunjuk dan tengah.


Anisa menatap tajam ke arah Tika, "Kenapa belum punya pacar? Cantik iya, pintar iya, kece iya, kurang apa kamu?" Anisa menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Tika langsung nyentil dahi Anisa.


"Ngaca! Kamu juga belum punya gebetan," ucap Tika diikuti tawa renyah.


Anisa mencibirkan bibirnya.


"Alhamdulillah, kenyang nih perut. Terima kasih sudah ngasi sarapan gratis."


Tika berjalan ke arah wastafel mencuci tangan kemudian memutar kakinya ke arah nakas yang ada di samping ranjang.


"Beneran mau pulang?" keluh Anisa melihat Tika mengambil tas.

__ADS_1


Tika mengangguk.


"Beneranlah, kalau semua sudah beres nanti malam insyaallah aku ke sini lagi," Tika mendekat Anisa dan memeluk sahabatnya.


"Aku tunggu loh."


"Ya!" seru Tika, "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Anisa berjalan masuk setelah mengantar Tika sampai pintu kamar. Dia berjalan menuju ke sofa mendengar ponselnya berdering.


Mata Anisa menatap tajam ke arah layar ponsel bahkan netra itu mengulang membaca kembali nomor ponsel yang telah menghubunginya. Memang tidak ada nama kontak yang tertera tapi Anisa hafal pemilik nomor tersebut.


"Wa.. waalaikum salam," jawab Anisa. Tiba-tiba ada getar yang tidak dapat Anisa artikan. Sudah lama dia tidak berbicara langsung dengan lelaki yang ada di sebrang sana. Walaupun 2 hari yang lalu sempat bertemu tapi pertemuan kala itu Anisa hanya fokus pada Nevan.


Siang ini ada waktu?


"Ada," jawab singkat Anisa.


Nevan akan menemui kamu.


Rona wajah Anisa langsung berubah, senyum kebahagian jelas terlihat dari sudut wajahnya. "Dimana? Aku pasti akan datang!" semangat Anisa.


Di taman bermain yang ada di mall X jam 10 siang ini.


"Ok!" seru Anisa masih dengan antusias tinggi.


Assalamualaikum.


"Waalaikum salam."


Anisa tersenyum bahagia karena akan bertemu Nevan. Dia segera bangkit menuju lemari pakaian dan mengambil salah satu pakaian yang menggantung di lemari.


Sudah jam setengah 9, aku harus datang lebih awal. Anisa masuk ke toilet kamar mandi kembali agar terlihat lebih fresh.


Anisa sudah duduk di kursi yang ada di sudut mall. Sesekali menatap jam yang melingkar di tangannya. Orang yang dia tunggu belum juga datang. Dia memang sengaja datang lebih awal, setengah jam dari waktu perjanjian.


"Assalamualaikum," sapa Panji.


"Wa... waalaikum salam," jawab Anisa sedikit gugup.


"Jagoan ayah, beri salam sama bunda," tutur Panji pada Nevan yang berdiri di sampingnya.


"Assalamualaikum Bun," sapa Nevan dengan suara yang semakin lemah karena ada sedikit rasa takut.


Anisa jongkok menyejajarkan tubuhnya dengan bocah 4 tahun yang kini berdiri di depannya. Dua sudut bibir Anisa ditarik membentuk sebuah senyuman.


"Salim sama Bunda Nevan," tutur Panji, ikut jongkok.


Nevan menyodorkan tangannya walau ragu. Anisa membalas, Nevan kemudian mencium punggung tangan wanita yang disebut sebagai bundanya.


Anisa tanpa sadar mengalirkan air mata. Antara terharu dan tidak percaya, bocah itu mau menurut apa yang dititahkan Panji. Namun, Anisa menahan diri untuk tidak memeluk Nevan walaupun dirinya sangat ingin memeluk tubuh bocah itu. Anisa takut kejadian 2 hari yang lalu terulang kembali saat Nevan ketakutan dengan tindakannya.


"Apa kabar Nevan?" ucap Anisa dengan suara parau karena ada deraian air mata.


"Baik," jawab Nevan dengan suara lirih.


Panji menatap lekat wanita yang ada di depannya. Tangannya ingin sekali menyeka air mata itu tapi dia sadar diri, dia orang lain bukan siapa-siapa.


Panji membuka tas Nevan menyodorkan tisu pada Nevan kemudian mengisyaratkan agar Nevan memberikan tisu itu ke bundanya.


"Terima kasih," ucap Anisa mengambil tisu dari Nevan dan langsung menyeka air matanya.


"Nevan, mau main apa?" tanya Anisa.


"Itu..." tunjuk Nevan ke salah satu permainan.


"Mandi bola?" jawab Anisa


Nevan mengangguk.

__ADS_1


"Let's go," seru Panji.


"Digandeng bunda ya, Ayah isi saldo card game dulu," ujar Panji mengarahkan tangan Nevan ke tangan Anisa.


Anisa tersenyum meraih tangan Nevan, "Kita tunggu di kursi itu yuk," ajak Anisa, Nevan mengangguk pelan.


Panji berjalan ke konter pengisian, sementara Anisa dan Nevan ke kursi depan tempat permainan.


"Nevan sudah sekolah?"


Nevan mengangguk pelan.


"PAUD?"


Nevan mengangguk kembali.


"Teman-temannya banyak?"


Nevan lagi-lagi mengangguk.


"Ayo masuk," ajak Panji sambil menunjukkan card game yang baru diisi ulangq.


Deg.


Anisa terdiam ketika menatap card game itu.


"Sudah mengantri lama ternyata ada saldonya," ucap Panji.


Deg.


Anisa hanya tersenyum menanggapi ucapan Panji. Dia semakin yakin card game itu pemberiannya dulu. Namun, Anisa mencoba bersikap biasa.


Lama mereka bermain di wahana permainan yang ada di dalam mall, setelah lelah dan waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, Panji meminta Nevan mengakhiri permainannya.


"Kita salat dulu yuk," ajak Panji.


"Ayo Ayah," semangat Nevan. Dia berjalan menggelayut di tangan Panji.


Anisa terkejut mendengar ajakan Panji.


'Benarkah ini Kak Panji? Lelaki yang dulu jauh dari yang namanya agama?' monolog batin Anisa.


Kemudian Anisa berjalan pelan mengekor 2 lelaki depannya. Mata Anisa menatap punggung mereka. Ada senyum kecut yang tergambar di wajah Anisa.


'Kalian begitu dekat, sedang aku?' batin Anisa.


Sampai di tempat ibadah yang ada di dalam mall, Anisa melihat Panji dan Nevan menunggunya datang.


"Mau salat berjamaah?" tawar Panji.


Anisa mengangguk pelan dan sedikit ragu.


"Insyaallah bisalah, ini kan jamaah tidak melafalkan surah dengan suara keras jadi aku sedikit pede kalau nanti ada bacaan yang kurang fasih," ucap Panji dengan senyum yang nampak di wajahnya.


Anisa membalas dengan senyum kecil.


Selesai mereka salat, Panji mengajak makan siang.


Di tengah-tengah makan siang.


Nevan polos meminta hal di luar dugaan Panji dan Anisa.


"Bunda pulang bersama Nevan kan?" pinta Nevan.


Sesudah bermain game dengan puas, bocah itu merasa dekat dengan Anisa dan sudah tidak ada ketakutan di wajah Nevan.


Anisa mengangguk.


"Nanti Bunda tidur dengan Nevan dan Ayah," lanjut Nevan dengan wajah polos.


Anisa terkejut karena pemikirannya hanya pulang naik mobil bersama.

__ADS_1


sore menyapa🤗 like, komen hadiah vote juga ya😍🥰


__ADS_2