
Wajah itu masih menampakkan senyum, senyum yang semakin menggariskan wajah yang terlihat nyaris sempurna tingkat ketampannya. Anisa tertegun, sedikit terperangah karena itu.
"Kenapa dia ikut?" tanya Anisa pada Tika sambil menunjuk ke arah Vano.
Vano tersenyum mendengar lontaran tanya dari Anisa.
"Kamu tahu sendiri, dia itu selalu menguntitku kalau soal kamu," jawab Tika.
Anisa mencibirkan bibirnya menatap Vano.
"Jangan jutek seperti itu, toh biasanya kita juga bersama," ucap Vano.
"Itu dulu, lain sekarang," ketus Anisa kemudian berjalan menggandeng Tika masuk ke mall.
Vano mengekor 2 gadis yang ada di depannya. Banyak sepasang mata yang menatap mereka tapi tepatnya menatap lelaki yang menampilkan pesona lain dari lain, wajah blaster Indo dan Belanda nampak jelas terlihat beda dari yang lain. Hidung mancung, mata hitam pekat, alis yang nampak tebal namun tertata rapi, rahang yang kuat, rambut yang agak ikal, tinggi yang menjulang tapi proporsional dengan berat badannya, tubuh terlihat atletis. Sungguh bentuk fisik yang nyaris sempurna.
Ada yang mengekspresikan wajahnya melongo, mata tak berkedip, ada juga yang menunduk memberi hormat.
Anisa menoleh kebelakang tanpa menghentikan langkah, nampak Vano tetap berjalan dengan santai.
"Tidak usah menoleh nanti kamu tertab...,"
Belum selesai Vano berbicara Vano sudah mendapati Anisa yang nyengir kesakitan sambil mengelus dahinya.
"Maaf Nis, aku tadi juga ikut menoleh jadi tidak lihat ada tiang di depan kamu," ucap Tika ikut mengelus dahi Anisa.
"Aku yang di depan, jadi kalian tidak usah menoleh ku ke belakang," seru Vano langsung jalan tanpa tanya keadaan Anisa, hal itu sudah menjadi biasa buat Vano, ya kecerobohan seorang Anisa.
Anisa berjalan dengan memanyunkan bibirnya tangan kanannya tetap memegang dahi. Mulutnya komat-kamit mengumpat lelaki yang berjalan angkuh di depannya.
"Kita makan dulu," titah Vano berhenti di salah satu booth tenant aneka seafood.
Vano duduk di barisan kursi yang ada di depan boot tenant disusul Anisa dan Tika.
Seorang pelayan mendekat mengantarkan lembar menu.
"Aku minta kerang hijau pedas asam manis, sama lemon hangat," pesan Anisa.
"Aku sama Mbak," ucap Tika.
"Samakan juga Mbak," ujar Vano.
Tidak butuh lama, 10 menit menu itu sudah di meja mereka.
"Biar aku yang bayar," seru Anisa sambil meraih bill yang akan diserahkan ke Vano.
"Aku saja," rebut Vano.
"Aku, lagian aku juga masih banyak uang!" seru Anisa.
"Ogah banget aku makan uang dari lelaki itu!" sungut Vano.
"Issst! Kamu tahu aja kalau ini uang dari Kak Panji," jawab Anisa enteng.
"Aku bayar sendiri Mbak," ucap Vano dengan mengeluarkan uang satu lembar berwarna merah. "Kembaliannya buat Mbak," lanjutnya.
"Nih Mbak, aku bayar yang dua pesanan. Kembaliannya juga buat Mbak," ucap Anisa.
Pelayan itu tersenyum melihat Anisa dan Vano lalu mengucapkan terima kasih dan segera pergi dari mereka.
__ADS_1
Vano menatap tangan Anisa yang refleks mengelus perutnya.
"Perut kamu sudah mulai kelihatan berisi Nis," seloroh Vano
Anisa tersenyum mengangguk. Pertemuan pertama dengan Vano memang dia belum tahu kalau dirinya hamil tapi Tika lah yang memberi tahu hal yang sebenarnya pada Vano. Bahkan kejadian saat pesta ulang tahun Vano tentang Panji dan Tiwi juga akhirnya Tika ceritakan ke Vano. Maka Anisa tidak heran Vano sudah tahu semuanya tentang kehamilan bahkan pernikahannya.
"Dia sudah mulai bergerak kalau aku sentuh. Kata ibu, usia 4 bulan itu cabang bayi sudah ditiupkan rohnya," terang Anisa.
"Kamu kelihatan happy tidak ada beban?"
Anisa terdiam.
"Auw!" pekik Vano, kaki kanannya diinjak Tika sebagai protes karena dia sudah menyinggung perasaan Anisa.
Vano menatap geram ke arah Tika.
"Sudah kalian jangan menampakkan wajah seperti itu," lerai Anisa melihat Vano dan Tika berwajah seperti tikus dan kucing.
"Jangan dengerin Vano Nis. Mulut dia terlalu lemes!" geram Tika.
"Lemes apanya? Apa aku salah menanyakan itu pada Anisa?" protes Vano.
"Salah besar!" ketus Tika.
Anisa terkekeh melihat kedua sahabatnya yang beradu debat. Inilah persahabatannya, terkadang saling ejek, saling debat, perhatian satu sama lain, tidak ada jaimnya, terkadang marah satu sama lain tapi cepet baikkannya.
"Orang-orang di luar itu salah besar, bilangannya si Vano itu manusia es. Eh gimana dibilang es sama kita mencair mulu, malah bisa dibilang bocor,"
"Terusin Tik!" kesal Vano.
"Sudah sudah, kita makan dulu, habis itu lanjutin tuh perdebatan kalian," ajak Anisa.
"Berdoa dulu Vano," cekat Anisa mendapati Vano langsung memasukkan kerang yang terkupas ke mulutnya.
"Ini yang aku rindukan dari kamu Nis, selalu mengingatkan ku dari hal yang paling sepele," batin Vano.
Mereka mengucap doa kemudian melahap satu persatu kerang istimewa itu.
"Mommy menanyakan kabar kamu," ujar Vano dengan menatap intens ke Anisa.
"Aku tidak?" sela Tika.
"Buat apa tanya kamu!" ketus Vano.
"Issst!" Tika mencibirkan bibirnya.
"Aku jadi kangen Mommy," ucap Anisa dengan senyum kecil.
"Mommy pasti sudah tahu tentang aku yang sekarang," lanjut Anisa dengan wajah yang berubah masam.
"Kenapa kamu malah menikah dengan lelaki itu Nis!" tanya Vano tanpa basa-basi dan sebenarnya inilah yang menyebabkan Vano terlihat kesal dari awal. Ingin menanyakan semua tentang pernikahan yang Anisa jalankan dengan lelaki yang bernama Panji.
Anisa tersenyum kecil mendengar lontaran tanya dari Vano.
"Kenapa harus dia? Tidak adakah lelaki lain?" cecar Vano.
"Maksudnya, lelaki lain itu kamu?" tebak Tika.
"Kenapa tidak?!" jawab Vano dengan mantap.
__ADS_1
"Mommy, daddy sangat suka dengan Anisa, aku salah satu pewaris perusahaan daddy dan sekarang aku kuliah sambil kerja di perusahaan daddy, jadi aku pasti bisa memberi nafkah kamu Anisa," lanjut Vano.
"Menikah itu bukan perkara bisa memberi nafkah secara material tapi menikah itu memiliki makna yang lebih luas dari itu," ujar Anisa.
"Apa kamu berbicara tentang cinta? Kasih sayang? Apa selama ini yang kutunjukkan ke kamu belum terlihat olehmu!" hardik Vano.
Anisa terlihat risih karena Vano menyatakan secara gamblang di depan Tika. Dia tahu perasaan Vano padanya dan Tika juga tahu itu. Namun, Anisa lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu bahkan menolak cinta Vano untuk menjaga perasaan sahabatnya, dan selain itu, setelah Anisa berusaha mengubur rasa kagum yang mendekati rasa cinta pada Vano dia menemukan tambatan hati pada lelaki yang dia idolakan yaitu Faisal.
"Kalau kamu bicara nglantur terus, lebih baik kamu pergi. Lagian siapa juga yang mengundang kamu sih," ucap Anisa.
Vano mengempaskan napasnya, mengatur ritme jantung yang sedari tadi tidak normal karena sebuah amarah yang terpendam dari bulan-bulan lalu.
"Ok! Aku minta maaf," lirih Vano.
Tika menatap wajah kedua sahabatnya. "Kalau kalian sudah tenang, kita lanjutkan jalan, atau sudah pulang saja?"
"Lanjut!" seru Anisa dan Vano bersamaan.
"Kita belum masuk arena game," ucap Anisa.
"Belum lagi shopping," lanjut Anisa.
"Ok! please kalian nanti jangan ribut mulu," pinta Tika.
"Ya cerewet," jawab Anisa kemudian ikut berdiri dan berjalan di samping Tika.
Seharian ini mereka habiskan waktu untuk bermain dan ngobrol sana-sini. Hingga tidak terasa waktu sudah sore.
Anisa merapikan mukena yang telah dipakainya. Setelah Anisa dan Tika keluar tempat salat terlihat Vano yang sudah menunggunya. Hal yang biasa bagi Vano mereka yang perempuan-perempuan pasti lebih lama kalau salat bukan karena bacaan salatnya yang dipanjangkan tapi dandan setelah salatnya yang menjadikan mereka lebih lama.
"Jam 5 sore, pulang yuk...," ajak Anisa.
"Jadi kita tidak lanjut ke tempat lain?" tanya Tika.
"Nggak lah ...capek tahu," jawab Anisa.
"Kita pulang, lagian Anisa kan sedang hamil, dia mudah lelah dan juga butuh istirahat," ucap Vano.
"Aku naik taksi on line saja, Vano antar Tika pulang," titah Anisa.
"Kalian satu arah kenapa kamu malah naik taksi?" tolak Vano.
"Kamu tahu jalan kita satu arah?" selidik Anisa.
"Apa yang aku tidak tahu tentang kamu Anisa?" jawab Vano.
Anisa memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Vano.
"Sebelumnya aku sempat merelakanmu dan berusaha melupakanmu Nis karena kamu jatuh pada lelaki yang tepat. Namun kali ini, aku takkan biarkan lelaki brengsek itu menyakiti mu!" batin Vano.
Sementara di kantor SPBU pusat, Panji nampak uring-uringan sedari pagi. Dia menumpahkan kekesalannya pada asisten maupun pegawainya.
"Kata orang kita, Non Anisa masih di mall Tuan, apa perlu kita susul ke sana?" tawar Arlan.
"Buat apa ke sana! Siapa juga yang peduli dia mau pergi dengan siapa!" gumam Panji.
"Kalau tidak peduli kenapa kirim orang untuk memata-matai mereka," lirih Arlan.
"Arlan!" kesal Panji dengan menatap tajam mendengar samar ucapan sang asisten.
__ADS_1
malam menyapa 🤗 like, komen, komen, vote, hadiah juga ya🙏dukungan kalian sangat berarti bagiku.
Kenapa tuh dengan Panji 🤔🤭