Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 46


__ADS_3

"Kalau tidak peduli kenapa kirim orang untuk memata-matai mereka," lirih Arlan.


"Arlan!" kesal Panji dengan menatap tajam mendengar samar ucapan sang asisten.


"Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan dia! Kalau terjadi apa-apa akunya yang repot!" terang Panji.


Arlan mengangkat kedua bahunya dan alisnya mengisyaratkan terserah apa kata tuannya.


"Oya Tuan, tadi Tiwi membalas pesan aku, bapaknya dalam keadaan baik. Dia sudah pulang dari siang tadi."


Panji mengangguk. Tadi pagi memang dia sempat kirim pesan ke Tiwi menyuruhnya untuk tidak berangkat ke kantor dan segera mengantar bapak ke dokter.


Jam 11 siang Panji menitahkan Arlan untuk menanyakan kabar bapak Rozak. Namun, Tiwi tidak langsung membalas pesan itu baru jam 5 tadi Tiwi membalasnya.


Panji berjalan ke parkir mobil sambil menjinjing tasnya.


"Kita langsung pulang Tuan?" tanya Arlan.


"Kalau tidak langsung pulang, kita akan kemana?"


"Beneran tidak mau nyusul Non Anisa?" goda Arlan.


"Arlan!" geram Panji.


"Ya Tuan, maaf," ucap Arlan dengan cepat.


Mobil berjalan, menerobos sore yang terlihat mendung. Arlan menambah kecepatan karena langit semakin tidak bersahabat dengan menampakkan warna gelap pekat. Hingga jarak tempuh yang biasa membutuhkan waktu 30 menit kini berkurang.


Panji segera turun dari mobil. Namun matanya kini menatap tajam ke arah pintu gerbang. Ada sesosok wanita yang sangat dia kenal. Dia keluar dari mobil setelah mobil itu dibukakan oleh lelaki yang juga dia kenal. Panji mengepalkan tangannya, ada rasa yang menusuk jantungnya, hingga jantungnya bergemuruh dengan ritme yang tidak teratur.


"Tuan," panggil Arlan karena tuannya berdiri mematung tanpa kedip menatap interaksi lelaki lain dengan istrinya.


Sementara yang ada di dalam mobil sedang tersenyum kecil menatap seseorang yang sepertinya terbakar api cemburu.


"Nis!" panggil Tika.


Anisa mengurungkan untuk melangkahkan kakinya, dia menoleh ke arah Tika. Tangan Tika melambai mengisyaratkan agar Anisa mendekat ke Tika.


"Apaan sih Tik," keluh Anisa tapi dia tetap mendekatkan telinganya ke mulut Tika.


"Sepertinya ada yang lagi cemburu," bisik Tika.


"Maksudnya kamu cemburu sama aku? Aku kan sudah jelasin ke kamu Tika, kalau...,"


"Hussst!" potong Tika sambil menempelkan telunjuknya ke bibir isyarat agar Anisa diam tidak melanjutkan bicaranya.


"Yah...dia masuk deh," keluh Tika.

__ADS_1


"Ya, Vano memang sudah masuk mobil!" seru Anisa.


"Bukan dia tapi yang di sana!" ledek Tika sambil menunjuk ke arah lelaki yang berjalan masuk ke rumah.


Anisa menatap lelaki itu, dia hanya mencibirkan bibirnya karena baginya apa yang dikatakan Tika itu hal yang sangat mustahil.


"Sudah ah kita pulang, yuk Vano!" ajak Tika.


"Siapa juga yang nyuruh tetap di sini! Hust hust...pergi sana...!" titah Anisa sambil menirukan gaya sedang mengusir ayam yang masuk ke teras rumah.


"Emang kita ayam apa! Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," jawab Anisa.


Bip.


Mobil melaju.


Anisa tersenyum sambil melambaikan tangannya mengiringi kepergian mobil itu.


"Assalamualaikum Mas Arlan," sapa Anisa.


"Waalaikum salam Non," jawab Arlan sambil menganggukkan kepala sebagai tanda hormat.


"Tidak masuk dulu?" tawar Anisa.


"Oh...aku masuk dulu," pamit Anisa.


Anisa berjalan masuk kemudian menaiki anak tangga hingga dia sampai di pintu kamar. Dia membuka pintu perlahan sambil mengucap salam. Namun, tidak ada sahutan. Anisa mengedarkan pandangannya tapi sesosok orang yang dia cari tidak ada.


"Apa dia di toilet kamar?" tebak Anisa.


"Kak...Kak...," panggil Anisa sambil mengetok pintu toilet kamar tapi tidak ada sahutan.


Anisa membuka pintu itu dengan tetap memanggil nama Panji. Namun, tetap sama tidak ada sahutan.


"Ada apa mencariku!"


"Astaghfirullah haladhim!" kaget Anisa dengan mengelus dadanya karena secara tiba-tiba ada sesosok laki-laki yang sedari tadi dia cari muncul di belakangnya.


"Kakak hobi ya ngagetin orang!" kesal Anisa.


"Kamu yang hobinya ngagetin perasaan orang!" balas Panji.


"Apa maksud Kak Panji?" telisik Anisa.


"Masih tanya! Bilangnya dengan Tika tidak tahunya dengan kekasih kamu juga,"

__ADS_1


"Kekasih aku? Maksud Kakak? Vano?" bingung Anisa.


"Kamu mengaku! Ingat jangan bertindak di luar batas! Aku tidak suka kalau tindakanmu nanti berakibat ke aku!" seru Panji menegaskan peringatannya.


Anisa baru membuka mulutnya untuk menyangkal ucapan Panji tapi Panji sudah bergegas masuk ke toilet kamar.


"Kak! Kak! Apa yang Kak Panji ucapkan tadi fitnah!" elak Anisa sambil mengetok pintu toilet kamar.


"Issst! menyebalkan!" kesal Anisa, kakinya berjalan menuju ranjang tidur kemudian pantatnya dia dudukkan di tepi ranjang.


"Seenaknya kalau ngomong! Bilang Vano itu kekasih aku! Sudah begitu sok memperingatkan untuk bertindak tidak melampaui batas! Terus apa yang dilakukan dia dengan kekasihnya? Apa itu tidak melampaui batas?! Isssst! Bener-bener keterlaluan! Tidak bisa dibiarkan kalau seperti ini! gerutu Anisa dengan memukul-mukul tepi ranjang dengan bibir yang masih dia manyunkan.


Sepuluh menit Panji keluar dari toilet kamar. Aroma green tea menyeruak ke penjuru ruangan. Anisa memejamkan mata, menyesap aroma kuat itu tapi tidak seperti trimester awal kehamilannya, dia sudah bisa sedikit mengontrol diri untuk tidak mengejar aroma wangi yang melekat di tubuh Panji.


Anisa menundukkan mata terkadang mengalihkan pandangan dari lelaki yang hanya memakai handuk yang dililitkan pada pinggang. Jelas dada bidang berbentuk roti sobek telah menodai sekaligus menggugah iman seorang Anisa hingga Anisa ketika sekilas memandang dia menelan salivanya dengan susah.


"Apa kamu sengaja curi-curi pandang ke aku?! Tidak segera masuk ke toilet kamar?" ledek Panji dengan melangkah ke arah Anisa setelah memakai celana pendek. Dia sengaja belum memakai kaosnya.


"Issst! Apaan Kak! Aku nunggu Kak Panji menjauh dari lemari! Tadi aku lupa belum ambil baju ganti!" elak Anisa lari ngloyor ke lemari pakaian.


"Anisa! Sudah aku peringatkan! Jangan lari!" kesal Panji.


Anisa hanya tersenyum kecil mendengar ocehan lelaki yang terlihat sangat kesal kemudian dia masuk ke toilet kamar.


Anisa masih menampilkan senyum di wajahnya.


"Alhamdulillah... setidaknya aku mendengar ocehan kakak walaupun ocehan itu sangat tidak jelas, marahnya kakak, kesalnya kakak, semua yang terucap dari Kak Panji dari pada Kak Panji diam cuek, rasanya itu lebih sakit Kak," batin Anisa.


Anisa keluar dari toilet kamar setelah bebersih diri. Matanya mencari-cari sosok lelaki yang tadi ada di kamar.


"Dia tidak di kamar," lirih Anisa kemudian membuka jilbabnya, tangannya mengambil hair dryer yang ada di laci nakas. Menghidupkan tombol on setelah memasukkan steker hair dryer ke stop kontak.


Panji berdiri mematung di ambang pintu. Terperangah menatap Anisa yang tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Sesekali Anisa menggoyangkan kepalanya hingga rambut panjang itu ikut terkibas.


"Auw!" jerit Anisa karena ada rambut yang melilit di hair dryer .


Anisa menoleh ketika tangan kokoh meraih hair dryer yang dia pegang.


"Jangan sok cantik memainkan rambut kamu dengan hair dryer ini! Kena kan rambut kamu!" omel Panji


Anisa mencibirkan bibirnya mendengar omelan dari Panji dan dia tidak menolak apa yang dilakukan Panji setelahnya yaitu melanjutkan mengeringkan rambutnya hingga rambut itu kering.


"Terima kasih Kak," ucap Anisa.


Panji tidak menyahuti ucapan Anisa dia malah pergi dari kamar itu.


"Harusnya aku mendiamkanmu! Mengacuhkanmu! tapi apa yang kulakukan tadi dan selepas pulang kantor?! Dasar kamu Panji! Tidak punya pendirian!" gejolak batin Panji dengan mengumpat diri.

__ADS_1


malam menyapa 🤗 like, komen, komen, vote dan hadiah juga ya🙏, dukungan kalian sangat berarti. 🥰😍


__ADS_2