
Tika menampakkan wajah cemberut ketika masuk ke ruang kerja Arlan karena di sana ada sesosok gadis yang belakangan ini sungguh membuat hatinya dongkol.
"Hai Mbak," sapa Gea menyodorkan tangan.
"Hai," balas Tika dengan malas tapi tangannya tetap membalas uluran dari Gea.
'Dengan santainya dia bersikap, seolah-olah tidak terjadi apa-apa,' gerutu batin Tika.
Arlan terlihat keluar dari toilet ruangan kemudian duduk di kursi tepat menghadap di antara dua wanita.
"Sengaja aku pinta kamu ke sini untuk meluruskan semua kesalahpahaman di antara kita," ucap Arlan menatap Tika dengan tajam.
"Apa yang akan kamu luruskan? Bukankah sudah jelas, kamu akan menikahi dia!" sahut Tika dagunya menunjuk ke arah Gea.
"Kalau dia tidak mau dengan Om, kenapa Om paksa? Mending sama aku! Yuk kita nikah," sahut Gea sengaja membuat Tika semakin panas.
"Gea, kamu aku undang ke sini untuk meluruskan semuanya bukan malah memperkeruh keadaan," sanggah Arlan.
Gea mengerucutkan bibirnya merasa tidak suka mendengar apa yang diucapkan Arlan.
"Intinya gini Mbak, kalau Mbak emang cinta dengan Om Arlan ya sudah perjuangkan cinta Mbak. Jangan nyerah begitu saja atau marah tanpa mendengar penjelasan dari Om Arlan. Kalau seperti itu, mana kepercayaan Mbak pada Om? Ingat, sebuah hubungan itu harus didasari saling percaya!" terang Gea, pantatnya dia angkat dari kursi lalu melangkah keluar ruangan.
Kini hanya ada Tika dan Arlan dalam ruangan. Tika terlihat diam menunduk. Arlan membiarkan Tika merenungi semuanya.
'Apa yang dikatakan bocah itu ada benarnya juga. Aku cinta dengan Arlan, maka aku harus percaya dengannya, dia juga sudah menjelaskan kesalahpahaman semuanya tapi aku yang tidak mau mempertimbangkan penjelasan Arlan dan memberi maaf padanya,' batin Tika.
'Lalu apa pantas semua disebut cinta kalau memaafkan saja aku tidak bisa?' lanjut batin Tika, matanya kini mengarah pada Arlan hingga dua pasang mata kini saling bersitatap tapi itu seperkian detik karena setelahnya Tika langsung mengalihkan pandangan.
"Aku sudah meminta orang tua Gea untuk membatalkan perjodohan ini, setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya beliau menyetujuinya," ujar Arlan.
Tika menengadahkan dagunya, mendengar seksama apa yang dikatakan Arlan. Ada kelegaan di hati Tika mendengar apa yang disampaikan Arlan.
"Kata pak Suherman, Gea sudah lumayan jinak dibandingkan sebelumnya yang terkesan liar tidak dapat diatur," lanjut Arlan.
"Gea juga sudah menyetujui untuk membatalkan perjodohan. Dia berjanji akan bersikap lebih baik," sambung Arlan sontak membuat mata pandangan Tika terarah pada Arlan.
"Gea setuju membatalkan perjodohannya?" tanya Tika memastikan apa yang didengarnya tidak salah.
Arlan mengangguk. Ada semburat senyum di wajah Tika.
"Kamu jangan ambil hati apa yang dilakukan Gea. Anggap saja kedatangannya sebagai ujian cinta kita."
"Bagaimana dengan ibu kamu?" tanya Tika.
Arlan diam.
"Aku... boleh aku bertemu dengannya untuk minta restu?" tanya Tika dengan lirih.
Arlan mengangguk sambil menahan senyum.
__ADS_1
"Ada yang salah dengan permintaanku? Kenapa kamu malah tersenyum?" penasaran Tika.
Arlan menggelengkan kepala dengan cepat.
Tika menatap Arlan curiga, "ada yang kamu sembunyikan!" sergah Tika.
Lagi, Arlan menggeleng.
"Bohong! Pasti kamu menyembunyikan sesuatu!" cecar Tika.
Arlan bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah tempat duduk Tika.
"Ibu sudah menyetujui hubungan kita," bisik Arlan.
"Serius?!" tanya Tika dengan rasa terkejut.
Arlan menganggukkan kepalanya.
"Sabtu malam aku jemput kamu untuk menemui ibu, dia ingin bertemu dengan kamu," ujar Arlan.
...****************...
Satu bulan setelah pertemuan dengan orang tua Arlan. Pernikahan antara Tika dan Arlan dilangsungkan.
Pernikahan yang digelar menggunakan adat Jawa itu digelar di salah satu gedung yang biasa digunakan untuk resepsi pernikahan. Sederhana tapi begitu khidmat.
Salah satu tamu istimewa mereka adalah sahabat Tika, Anisa dan suami. Namun, yang tidak kalah istimewa adalah Nadira dan Vano.
"Aku ingin makan sate ayam Yah," pinta Anisa.
"Jangan dulu, lebih baik makanan yang lain," tolak Panji.
"Nanti kalau adeknya ngiler bagaimana?" rayu Anisa.
"Sepulang dari acara ini, pak Amir aku minta untuk menyiapkan sate ayam yang terjamin kebersihannya."
"Yah, sate ayam di sini juga steril kok," sanggah Anisa.
"Tidak ya tidak!" cekat Panji.
Anisa hanya pasrah dengan salah satu bentuk keposesifan sang suami.
"Nadira," teriak Anisa memanggil sahabatnya ketika melewati stand makanan.
Nadira menghentikan langkahnya dan Anisa berjalan cepat ke arah Nadira.
"Jangan cepat-cepat Sayang," protes Panji tangannya segera meraih tangan Anisa untuk dia gendeng.
"Cie... pengantin baru yang semakin lengket aja," ledek Anisa tertuju pada Nadira dan lelaki di sampingnya.
__ADS_1
"Cie... pengantin lama juga makin lengket," balas Nadira menatap tangan Anisa yang digandeng Panji.
"Sini aku gandeng Sayang biar tidak kalah romantis dengan pengantin lama," ujar Vano diikuti tawa oleh Nadira, Anisa, dan Panji.
Nadira dan Vano telah melangsungkan pernikahannya setengah bulan yang lalu. Perjalanan cinta Nadira yang berawal dari rasa iba pada keadaan Vano dan rasa cinta Vano yang tumbuh seiring berjalannya waktu karena terbiasa dengan Nadira. Vano yang juga hadir ketika Nadira sedih dan kecewa karena diselingkuhi sang kekasih. Namun, saat itu Vano sebatas mengartikan kalau rasa pedulinya hanya balasan karena Nadira sudah merawatnya selama ini.
Vano baru menyadari kalau rasa peduli itu adalah cinta setelah Nadira memutuskan pindah ke Indonesia. Saat itu Vano pun menyusul Nadira ke Indonesia. Vano ingin lebih memastikan perasaannya, setelah beberapa bulan di Indonesia untuk menemui Nadira akhirnya Vano dapat memastikan hatinya. Dirinya tidak dapat jauh dari Nadira karena hatinya telah terpaut padanya. Nadira juga merasakan hal yang sama, telah jatuh cinta pada sahabat karibnya, Vano. Tanpa waktu lama, Vano melangsungkan pernikahan dengan Nadira.
"Bukan lengket lagi, dia pengennya nempel terus sama aku," gerutu Anisa menyindir tingkah suaminya yang over protektif.
"Demi keselamatan kamu Yang," ujar Panji tanpa risih memanggil Anisa dengan sebutan sayang di hadapan Nadira dan Vano.
Memang sejak kehamilan Anisa, Panji sangat protektif sekaligus sangat posesif. Satu hal, Panji juga bersikap seperti bocah yang terkadang manja dan satu sisi bersikap dewasa. Sifat manjanya tiba-tiba saja muncul semenjak kehamilan Anisa menginjak usia 5 minggu.
"Ambil makan yuk," ajak Vano pada semuanya.
"Yuk," jawab Anisa dengan antusias dan langsung ke stand sate ayam.
Anisa menampakkan wajah memelas, "satu tusuk saja," pintanya.
Wajah Panji terlihat gusar. Kalau sang istri sudah menampakkan ekspresi seperti itu dia tidak mungkin tega menolaknya.
"Beneran satu ya," Panji memastikan.
Anisa mengangguk.
"Ya sudah ambil," pasrah Panji.
Raut Anisa terlihat girang seperti mendapat hadiah lebaran, bukan satu tusuk yang dia ambil melainkan satu porsi dan langsung lahap di tempat.
Setelah puas makan, Anisa mengajak Nadira dan Vano untuk foto bersama sang pengantin.
"Kamu cantik sekali Tik!" seru Anisa.
"Terima kasih Nis," sahut Tika.
"Kita foto bertiga dulu," pinta Nadira.
"Aku tidak diajak?" protes Vano.
"Tidak!" jawab mereka bertiga dengan kompak.
"Tega sekali kalian melupakan sahabat," ujar Vano dengan wajah yang cemberut membuat ketiganya terkekeh.
"Khusus ladies," balas Nadira.
Beberapa jepretan diambil sang fotografer tapi diantara jepretan itu yang paling terkesan foto ketika mereka berjejer dengan pasangan masing-masing.
terima kasih yang masih setia dengan tulisan recehku. maaf Extra bab terakhir ya ... tolong jangan unfavorit Insyaallah nanti Kak Mel datang dengan cerita terbaru tapi belum tahu kapan karena kak Mel akan lama untuk muncul kepermukaan menyapa kalian.🙏
__ADS_1
lope lope buat kalian 😍🥰😘😍🥰😘