
Panji sangat kaget mendengar cerita dari wanita yang sekarang berada di ruangannya.
"Anisa tidak tahu ini?" tanya Panji kemudian.
Tika menggeleng.
Panji mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dia harus tahu, bagaimanapun Anisa adalah sahabatnya," lirih Panji.
"Vano yang meminta pada kami agar tidak memberitahukan pada Anisa," ujar Tika.
Panji terdiam. 'Jadi, selama ini Anisa benar-benar tidak kontak dengan Vano. Bahkan sekedar menanyakan kabar dia pada temannya pun dia tidak lakukan,' batin Panji.
"Kalau boleh tahu, kenapa Pak Panji menanyakan itu semua? Apa Bapak sedang marahan dengan Anisa karena hal Vano?" cecar Tika.
Panji menggeleng. "Kamu ingat beberapa teror yang dialamatkan ke Anisa?" tanyanya kemudian.
"Iya, aku ingat," jawab Tika.
"Aku juga sebenarnya tidak terlalu yakin dengan kecurigaanku tapi semuanya harus aku waspadai," ucap Panji.
"Jadi, maksudnya... Bapak mencurigai Vano?"
"Kurang lebihnya begitu," sahut Panji.
"Itu hal yang mustahil Pak, aku rasa Bapak terlalu meleset berprasangka."
"Apalagi, Bapak sekarang tahu fakta keadaan Vano sekarang seperti apa," sambung Tika.
Panji diam mencerna kalimat yang terlontar dari mulut Tika.
"Mungkin ada benarnya apa yang kamu sampaikan tapi aku tetap akan menjalankan misiku," jawab Panji.
"Terserah Bapak, maaf aku permisi dulu," pamit Tika dengan rasa kecewa yang menyelimuti hatinya.
Panji merogoh ponselnya, menyentuh kontak atas nama Bowo, memerintahkan dia agar mengirimkan anak buahnya terbang ke Malaysia.
Titah itu langsung dilaksanakan oleh Bowo.
'Kecurigaanku memang sekarang tidak tertuju pada kamu Vano. Namun, sekarang aku harus memastikan keadaan kamu agar Anisa tidak menyesali semuanya di kemudian hari.
...****************...
Panji masih diam bersandar pada kepala ranjang.
Anisa naik ke atas ranjang setelah bebersih diri dari toilet. Mata Anisa menatap lekat ke arah suaminya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu karena tanpa menoleh atau menyapa, pandangan Panji ke arah depan tanpa kedip.
"Kenapa Kak?" tanya Anisa.
"Kak," ulang Anisa karena belum mendapat sahutan dari sang suami.
Tetap saja Panji belum menyahutinya, hingga Anisa menjatuhkan tangannya di rahang sang suami dan membelai dengan lembut rahang tersebut.
Panji terkejut dan melemparkan senyum kecil menatap Anisa.
__ADS_1
"Suamiku sedang memikirkan apa sampai istrimu yang katanya cantik seperti bidadari ini tidak kamu sapa?" ujar Anisa.
"Maaf sayang," jawab Panji dengan senyum dan membalas belaian Anisa.
"Ada kabar yang kurang baik yang akan aku sampaikan," ucap Panji dengan lirih.
Anisa berhenti menggerakkan tangannya, menatap dengan serius ke arah Panji.
"Kabar apa Kak?" tanya Anisa dengan hati yang berdebar.
"Mengenai Vano_" Panji sengaja menjeda kalimatnya, melihat reaksi Anisa. Takutnya reaksi Anisa akan seperti hari sebelumnya, penuh dengan emosi.
"Ada apa dengan Vano Kak?" tanya Anisa dengan suara melemah.
"Vano... kecelakaan dan_"
"Vano kecelakaan?!" cekat Anisa merasa tidak percaya berita yang disampaikan Panji.
"Kecelakaan? Dimana?! Bagaimana keadaannya?! Kakak dapat kabar dari mana?!" cecar Anisa sederet pertanyaan itu terlontar dengan wajah dan perasaan yang terlihat cemas.
"Tepatnya 5 bulan yang lalu, setelah mengantar kamu dari airport," sahut Panji.
Anisa tertunduk lemas. Sendi tulangnya seakan terasa lemas seketika.
"Kaki kirinya diamputasi," lanjut Panji.
Tanpa terasa bulir air mata mengalir dari pipi Anisa.
"Kenapa dia menyembunyikan kabar ini padaku?" lirih Anisa penuh sesal.
"Aku sudah siapkan tiket untuk terbang ke Kuala Lumpur. Pagi nanti kita langsung ke airport."
"Bagaimana dengan Nevan?"
"Kita ajak dia," sahut Panji.
"Kakak tidak apa-apa? Kita ke sana?"
"Dia sahabat kamu, itu artinya dia juga sahabatku," jawab Panji.
"Apa Tika juga tahu tentang ini?"
Panji mengangguk pelan.
"Dia yang memberitahu Kakak?"
"Aku yang menanyakan pada Tika. Vano meminta agar merahasiakan semuanya pada kamu," terang Panji.
Anisa terdiam. Masih tidak percaya. Menyalahkan orang lain juga salah karena memang dirinya lah yang sengaja memutus komunikasi dengan Vano. Sekali lagi, Anisa tidak ingin memberi harapan pada lelaki yang sangat mencintainya tersebut karena pada kenyataannya Anisa tidak dapat membalas rasa cinta itu.
"Tidurlah, sudah malam. Besok pagi setelah salat subuh kita berkemas," titah Panji menarik tubuh Anisa masuk dalam pelukannya.
Mata Anisa terpejam. Namun pikirannya masih menerawang jauh. Sesekali tangannya menyeka air matanya yang terus mengalir. Napas teratur, sedikit dengkuran terdengar dari sang suami. Anisa melepas pelukan Panji yang mulai melemah. Dia turun dari ranjang menuju toilet. Mengambil air wudu agar hatinya tenang.
"Nis, please. Tenanglah," gumam Anisa.
__ADS_1
Memorinya tiba-tiba memutar pada saat Vano dan Nadira mengantarnya ke airport.
Flashback on.
Saat itu Vano terlihat lebih diam tidak seperti biasanya. Anisa memaklumi, hati siapa yang bisa tersenyum lepas atau berpura-pura bersikap biasa saja kalau dia ditolak cintanya oleh wanita yang dicintainya dan sekarang dia harus mengantar sang wanita untuk kembali ke Indonesia dan tentunya di sana akan bertemu dengan sang mantan suami karena misi untuk mengambil anaknya yang selama hampir 4 tahun berada di bawah asuhan sang mantan suami.
"Kamu tidak ingin memelukku Nis," ucap Vano saat itu.
Anisa hanya tersenyum sebagai balasan atas ucapan Vano.
"Mungkin lain waktu kita sudah tidak dapat bersendau gurau seperti ini lagi," ucap Vano dan langsung menarik tubuh Anisa dalam pelukannya.
Anisa terlihat canggung tidak menolak maupun tidak membalas pelukan itu.
Vano kemudian melepas pelukannya. Dia sendiri juga merasa tidak pantas asal peluk wanita yang hanya berstatus sebagai sahabat tidak lebih.
"Semoga kamu dapat menemukan kebahagiaan," ucap Vano.
"Aku juga berharap kamu dapat bahagia," ujar Anisa.
"Bagaimana aku bisa bahagia kalau wanita yang kucintai lebih memilih lelaki lain," sahut Vano.
"Van, please jangan_"
"Ya, aku tahu," potong Vano karena dia tahu kalimat yang akan diucapkan Anisa pasti intinya agar melupakannya dan melanjutkan hidup dengan bahagia.
"Cepatlah masuk ke gate keberangkatan!" titah Vano.
Anisa mengangguk lalu menatap Nadira.
"Terima kasih Nad atas semua kebaikan kamu," ucap Anisa dengan menyeka air mata.
Nadira mengangguk.
"Jaga diri Nis, semoga kamu bahagia pulang ke Indonesia," ucap Nadira.
"Assalamualaikum," pamit Anisa.
Flashback of.
"Kenapa Van? Kenapa... kenapa tidak memberi kabar, kalau kamu mengalami kecelakaan?" gumam Anisa dengan menyeka air matanya.
Anisa menarik dalam napas lalu mengeluarkan perlahan. Dia lakukan beberapa kali, setelah merasa hatinya sedikit tenang, Anisa keluar toilet dan naik ke atas ranjang untuk tidur.
Namun sebelum matanya dia pejamkan, dia menatap wajah sang suami terlebih dahulu. Mengecup sekilas bib*r yang sedikit terbuka karena lelapnya dia tidur.
"Aku mencintaimu," lirih Anisa lalu kembali masuk dalam pelukan sang suami.
'Aku juga cinta kamu Nis,' batin Panji karena sebenarnya dia ikut terbangun ketika Anisa turun dari ranjang.
Pagi itu pun datang.
Anisa, Panji, dan Nevan sudah duduk di kursi pesawat. Tidak lama setelah itu pesawat mengudara menuju bandara di Kuala Lumpur.
malam menyapa 🤗 Jangan lupa like komen komen vote hadiah 🙏 apa yang akan terjadi di KL nanti ya?
__ADS_1