
"Tuan akan tetap seperti ini! Tidak mengambil sikap tegas! Aku memang bawahan Tuan, tapi apa yang pernah aku katakan bukankah itu benar! Lepaskan salah satu dari mereka! Karena mereka berhak bahagia!" Geram Arlan pada lelaki yang duduk di kursi kerjanya.
Panji terdiam.
"Tuan cinta dengan non Anisa?" desak Arlan.
Panji masih terdiam.
"Juga cinta dengan non Tiwi?" lanjut Arlan.
Arlan mendengus kesal tidak mendapat respon dari tuannya. Ingin rasanya memukul kembali wajah lelaki di depannya tapi dia urungkan. Kali ini dia menahan diri agar bisa bicara dari hati ke hati.
"Apa keduanya sama-sama berarti buat Tuan?! Kalau begitu, jadikan non Tiwi sebagai istri kedua dan perlakukan mereka secara adil."
"Itu tidak mungkin!" sahut Panji.
Arlan tersenyum mendengus, "Kalau tidak mungkin! Ceraikan non Anisa dan nikahi non Tiwi! Atau kalau itu juga tidak mungkin! Tinggalkan non Tiwi jangan lagi urusi kehidupannya dan hiduplah bahagia dengan non Anisa!"
Panji masih terdiam. Mulutnya seakan membeku mendengar apa yang diucapkan Arlan tidak tahu harus menjawab apa.
Arlan lebih memilih melangkah pergi keluar ruangan.
...****************...
Anisa mematung menatap sang anak yang sedang terlelap tidur.
'Mampukah aku berpisah dengan mu?' batin Anisa. Air matanya kini mengalir.
Anisa tidak dapat melupakan pembicaraan tadi malam dengan Panji. Pembicaraan yang begitu menyesakkan hatinya. Namun, harusnya itu menjadi hal yang biasa karena dia tahu bahwa hati Panji memang ada Tiwi. Lalu kenapa hatinya begitu sakit ketika Panji mengatakan yang seharusnya Panji katakan sejak dulu.
Flashback on.
Panji semakin mendekat ke arah Anisa. Dia begitu gemas ketika Anisa menunjukkan foto dia sedang tidur tapi tidak boleh Panji pegang foto cetak itu.
"Ayo ambil Kak," goda Anisa masih memegang foto itu.
"Kakak ingin melihatnya Kan?" lanjut Anisa.
Panji terus melangkahkan kakinya, Anisa mulai panik melihat tatapan Panji yang semakin tajam. Kaki Anisa melangkah mundur hingga tubuh Anisa terhimpit di antara Panji dan dinding. Anisa masih mengangkat foto yang dia pegang, wajah Panji semakin mendekat bahkan mengukung tubuh Anisa.
"Apa kamu sengaja agar aku melakukan ini?" bisik Panji membuat tubuh Anisa menggerayang bak tersengat listrik.
Anisa memalingkan wajahnya dari wajah Panji yang semakin mendekat. Debaran jantungnya semakin tidak terkontrol.
Panji menarik dagu Anisa, hingga dua pasang mata itu saling bersitatap.
Tap.
__ADS_1
Foto yang dipegang Anisa berpindah tempat. Anisa masih terdiam terbius belum menyadari itu. Mata Anisa masih belum berkedip menatap mata lelaki di depannya.
Pletak.
"Auw! Sakit Kak!" kesal Anisa, mengusap-sap dahinya yang terkena sentilan Panji.
Panji terkekeh. "Kita ke ruang makan, tadi kamu sudah mengajak makan, apa kamu lupa?!" celetuk Panji yang terlebih dahulu melangkah keluar kamar.
Anisa mengekor di belakangnya.
"Makanlah Kak," ujar Anisa setelah mengambilkan satu porsi nasi ke piring milik Panji.
Panji mengambil piring itu kemudian mengambil lauk yang dia suka.
"Sayur sup bakso ini juga enak loh Kak," seru Anisa sambil menuang satu sendok sup ke piring Panji.
"Sudah Nis, kamu tidak tahu aku tidak suka sup bakso," protes Panji.
"Oh, maaf Kak, biar aku ambil sup nya." sesal Anisa.
"Tidak usah, ini aku makan, tidak ada salahnya kan mencoba kembali siapa tahu nanti suka dengan sup."
Anisa tersenyum kecil mendengar ucapan Panji. Namun, hati kecil Anisa sebenarnya amat sakit. Entah kenapa hatinya begitu sensitif.
"Aku..., aku selalu payah. Padahal sudah 8 bulan ini bersama Kakak tapi makanan mana yang Kak Panji suka dan tidak suka sampai tidak tahu," keluh Anisa dengan suara lirih dan terbata.
"Itu kenyataanya Kak! Aku tidak bisa seperti mbak Tiwi yang tahu segalanya tentang Kak Panji, yang bisa mengerti Kak Panji dan tentunya yang bisa membuat Kakak bahagia!" sahut Anisa memotong ucapan Panji.
"Kehadiranku hanya sebagai penghalang cinta kalian!" lanjut Anisa, matanya mulai berkaca.
Panji terdiam, menaruh sendoknya kembali.
Pandangannya menerawang ke depan, "Terus mau kamu sekarang apa?" tanya Panji tanpa menoleh ke arah Anisa.
"Ceraikan aku!" Raihlah kebahagiaan Kakak," lirih Anisa.
"Aku tidak mungkin ceraikan kamu."
"Kalau Kakak tidak ingin menceraikan aku, mau Kakak apa!" suara Anisa meninggi.
"Apa kata bunda dan ibu kalau mereka tahu aku menceraikan kamu?!" ucap Panji tidak kalah meninggi suaranya.
"Aku tidak akan beri tahu mereka!" jawab Anisa dengan cepat.
"Kecuali kalau kamu mau pergi dari sini sejauh mungkin," ucap Panji lalu menatap ke sembarang arah.
"Kakak ingin aku pergi?!" mata Anisa menatap tajam ke arah Panji. Lelehan air mata mengalir di pipi Anisa. Namun, dengan cepat tangannya menyeka air mata itu.
__ADS_1
"Pergilah ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah. Nevan tetap di sini untuk alasan kalau kamu belum berpisah denganku."
Anisa terdiam sejenak kemudian berkata tanpa ragu, "Baiklah. Aku akan segera pergi. Kakak urus semua. Aku akan terima kemanapun Kak Panji mengirim ku pergi. Asal..., asal Kakak bisa bahagia."
Anisa mengempaskan napasnya, mengangkat pantatnya dari kursi makan menuju ke lantai 2 dimana anaknya berada.
Flashback of.
...****************...
"Semuanya sudah diurus. Sesuai permintaan kamu, aku daftarkan kamu di universitas Malaysia," ucap Panji, menyerahkan segala berkas yang perlu dibawa Anisa.
Anisa tersenyum mengangguk.
"Aku_, aku antar kamu ke bandara," sambung Panji.
"Tidak usah repot-repot Kak, Aku bisa pakai taksi on line," ucap Anisa dengan tenang. Dia mencoba berdamai dengan diri dan keadaan.
"Anggaplah sebagai ucapan terima kasih ku." jawab Panji.
Anisa mengangguk pelan.
"Aku akan berpamitan dengan Nevan," pamit Anisa tanpa mendengar jawaban Panji Anisa langsung keluar menuju kamar Nevan.
Anisa mendekat ke arah Nevan yang sedang terlelap dalam ranjang tidur. Tangannya mengangkat anak itu untuk digendong.
"Maafkan Bunda sayang. Bunda mengorbankan kamu demi keegoisan Bunda. Semoga kamu tumbuh jadi anak yang soleh," Anisa sesenggukan memeluk erat Nevan.
Anisa sudah pertimbangkan dengan matang. Kepergiannya adalah hal yang terbaik untuk semuanya. Anisa yakin Panji akan menjaga anaknya dengan baik. Bagaimana pun juga dia adalah paman dari Nevan, masih ada hubungan darah, tidak mungkin Nevan terlantar tak terurus.
"Bunda memang wanita yang penuh dosa. Mengandung kandung tanpa ikatan sah. Setelah kamu lahir, Bunda tinggalkan kamu! Kelak kalau kamu besar, Bunda harap kamu tidak pernah tahu kalau bunda adalah ibu kandung kamu. Bunda wanita brengsek yang tidak pantas kamu kenal," Anisa menyeka air matanya, mencium kening Nevan lalu menyerahkan kembali pada suster Tia.
"Jaga Nevan Sus, aku pergi."
Suster Tia mengalirkan air mata, terharu melihat semuanya kemudian memeluk Anisa.
"Mengapa Non Anisa pergi?" retoris suster Tia dengan suara parau.
Anisa menepuk punggung suster Tia.
"Memang seharusnya aku pergi, jaga Nevan," ulang Anisa.
Suster Tia mengangguk.
"Assalamualaikum," pamit Anisa, melepas pelukannya kemudian melangkah keluar kamar itu.
Ada tisu nggak?😭😭😭
__ADS_1
tetap tinggalkan like, komen, vote, hadiah. Apapun komen kalian aku sangat berterima kasih sudah dukung novel ini🙏 the best lah kalian. lope lope buat kalian❤️❤️❤️❤️.