Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 109


__ADS_3

Anisa mendengus pasrah.


"Oya Kak, apa Kakak percaya apa yang diucapkan Alyra, dia tidak ada motif lain?"


"Sejauh ini penyelidikan dari Bowo dan anak buahnya tidak ada yang mencurigakan dari Alyra. Hanya sebuah obsesi ingin dekat denganku," jawab Panji.


Anisa menatap tajam ketika Panji mengucapkan kalimat 'dekat denganku', "terlalu percaya diri!" sungut Anisa membuat Panji terkekeh.


"Kalau begitu Kakak tidak perlu memutuskan kontrak dengan manajemen Alyra," saran Anisa.


"Aku tidak akan membiarkan kamu dan Nevan dalam bahaya, apapun akan kulakukan untuk keselamatan kalian. Alyra sudah terbukti secara jelas menyuruh seseorang menumpahkan minuman ke baju kamu jadi dia harus menerima konsekuensi karena sudah kurang ajar," terang Panji.


"Kita pulang saja, Nevan pasti sudah menunggu," ajak Panji.


Anisa mengangguk lalu mengambil tasnya.


Setelah setengah jam menempuh perjalanan, mereka sampai di rumah. Panji dan Anisa segera bebersih dan menunaikan salat asar, Nevan mengikuti setiap langkah kedua orang tuanya.


"Nevan belum makan kan?"


"Makan di taman saja," pinta Nevan.


"Tapi harus ditemani Ayah dan Bunda," lanjut Nevan.


"Ya," jawab Anisa lalu menaruh mukena di dalam nakas.


Tangan Panji menyelipkan anakan rambut Anisa ke belakang telinga. Entah kenapa tangan itu merasa gemas melihat helaian rambut Anisa yang terlepas dari ikatan tali rambut.


"Kamu cantik sekali," bisik Panji membuat wajah Anisa memerah.


"Apaan sih Kak," lirih anisa diikuti sebuah senyum.


"Nevan turun ke bawah dulu Bun," ujar Nevan berlari keluar kamar.


"Hati-hati jangan lari!" seru Anisa.


"Tidak heran, dulu bundanya sewaktu hamil suka lari," sahut Panji.


Anisa tersenyum, "memangnya seperti itu," elak Anisa.


"Bahkan hamil besar kamu masih suka lari sayang." Panji mencubit pipi kanan Anisa dengan gemas.


"Sakit Kak!" protes Anisa, bibirnya mengerucut, tangannya mengelus pipi yang menjadi korban kegemasan dari Panji.


"Turun yuk," ajak Panji merangkul bahu Anisa agar jalan beriringan.


Mereka turun bersama menuju taman rumah.


"Bunda ...," panggil Nevan yang sedang bermain prosotan dengan suster Tia.


"Biar kita yang menemani Nevan Sus," ujar Anisa.


"Ya Non, saya permisi dulu."


Anisa mengangguk.

__ADS_1


"Bunda, katanya mau kasih adek buat teman Nevan?" ucap Nevan dengan polos membuat sepasang suami istri itu saling pandang.


Panji tersenyum dan dengan antusias mendekat ke arah Nevan, "minta berapa adek?"


"Dua," jawab Nevan, "teman Nevan, Aliando sudah punya adek 2," lanjutnya.


"Satu saja," cekat Anisa.


"Kurang ramai rumah ini kalau cuma satu," sahut Panji.


"Kan sudah ada Nevan Kak," sanggah Anisa.


"Nanti adek Nevan ada di sini ya Bun?" tanya Nevan mengelus perut Anisa.


Anisa tersenyum, tiba-tiba membayangkan perutnya diberi amanah Tuhan sesosok mahluk kecil.


Panji pun menatap tersenyum memandang Anisa.


"Semoga Allah menitipkan amanah seorang anak pada kita," ujar Panji tangannya ikut mengelus perut Anisa.


"Amin ya Allah," sahut Anisa.


...****************...


Proyek baru dan pesanan banyak membuat Anisa dan Panji dalam dua Minggu ini bekerja ekstra. Ada beberapa pekerjaan yang tidak dapat dilembur di rumah membuat Anisa mau tidak mau lembur di butik. Sebaliknya, Panji juga sama.


Sampai satu malam, Anisa yang merasa akhir-akhir ini tidak intens bertemu dengan Panji, berinisiatif menemaninya lembur pekerjaan.


Anisa melangkah ke kamar yang sudah di desain menjadi ruang kerja dirinya dan Panji.


"Hmmmm," sahut Panji tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan berkas.


"Tidak ada terima kasih?" lirih Anisa.


Panji tersenyum mengalihkan pandangannya ke Anisa, "terima kasih sayang," ucap Panji.


"Terlambat!" sahut Anisa bibirnya mengerucut lalu kakinya mendekat ke arah Panji. Tangan Anisa menyandar di bahu Panji, pantatnya dia dudukkan di tepian kursi dan mata Anisa ikut memandang ke arah laptop.


"Mau bantu?" tanya Panji.


Anisa menggeleng, "Aku bantu lewat doa saja," canda Anisa membuat dua bibir Panji membentuk sebuah senyuman.


'Kenapa Kak Panji tidak bereaksi? Di novel yang aku baca, kalau sedang bucin pasti wanitanya ditarik dalam pangkuan si lelaki, dan lelaki tetap melanjutkan pekerjaan dengan memangku sang istri,' monolog batin Panji.


"Kenapa Nis?" tanya Panji karena istrinya terdiam.


Panji mengangkat pantat lalu menarik kursi yang ada di depan meja kerja.


"Duduk di sini biar kamu tidak capek duduk ditepian kursi," ujar Panji menepuk kursi tersebut.


'Bener lempeng nih orang! Malah dikasih kursi sendiri!' geram batin Anisa.


Anisa bangkit dari kursi milik sang empunya dan menatap jengah ke arah Panji, pantatnya pun didudukkan di kursi itu.


"Tolong, kamu cek yang di sini nominalnya sama tidak dengan laporan yang ada di berkas satunya," pinta Panji.

__ADS_1


Anisa mengempaskan napasnya kasar.


'Apa kamu sekaku ini Kak? Aku hanya pura-pura menemani kamu kerja, mengapa beneran dikasih kerjaan?!' gerutu batin Anisa.


Panji menatap wajah Anisa yang berubah ekspresi, "Mau bantu tidak?" tanya Panji dengan lirih.


"Hmmmm," dengung Anisa sebagia jawaban atas kedongkolannya.


"Yang ikhlas," seloroh Panji, menampakkan senyum.


"Ikhlas sekali sayang," sahut Anisa dengan senyum yang dibuat-buat.


Panji tersenyum mendengar jawaban Anisa.


Lama mereka berkutat dengan kerjaan itu.


Setelah Panji menyelesaikan pekerjaannya dia baru menoleh ke arah samping dimana sang istri telah tertidur pulas dengan tangan sebagai bantalan.


Panji mengelus kepala Anisa yang terbalut jilbab lalu mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala itu.


Anisa menggeliat.


"Sudah selesai Kak?" tanya Anisa dengan suara khas orang bangun tidur


Panji mengangguk, "terima kasih sudah menemaniku dan membantuku lembur kerja," ujar Panji dengan sigap tangan Panji mengulur ke tubuh Anisa lalu membopongnya ala bridal style.


"Kakak!" seru Anisa lalu tertegun dengan perlakuan Panji.


'Dia romantis juga,' batin Anisa, tangannya melingkar di leher Panji dan kepalanya dia sandarkan di bahu Panji.


"Kalau capek bilang Kak," lirih Anisa walaupun sebenarnya dia sangat nyaman dengan posisinya sekarang.


"Dua puluh kali naik turun tangga dengan menggendong kamu seperti ini aku masih sanggup kok," sanggah Panji membuat Anisa melebarkan senyum.


...****************...


Dari awal teror, tersangka hanya mengarah pada Alyra. Namun, hingga detik ini belum ada bukti yang menguatkan kalau Alyra pelakunya.


Panji mengeratkan jari jemarinya. Matanya sengaja dia pejamkan tapi telinganya dia tajamkan mendengar laporan yang disampaikan Bowo.


"Kemungkinan besar bukan Alyra pelakunya tapi saya tetap waspada dengan menaruh orang kepercayaan untuk menguntit kemanapun Alyra pergi," simpul Bowo.


"Kamu lanjutkan tugas kamu! Ingat! Tetap waspada! Nevan juga harus tetap ada yang mengawasi!" titah Panji.


"Baik Pak," jawab Bowo.


"Kamu boleh keluar."


"Terima kasih Pak," sahut Bowo lalu pergi dari sebuah tempat rahasia.


'Sulit dipercaya, kalau bukan Alyra, siapa? Pelaku hanya mengincar Anisa. Kalau seperti itu bukankah kesimpulannya dia ingin mencelakai Anisa? Lalu siapa? Apakah persaingan dalam dunia kerja?' monolog batin Panji.


'Atau... orang di masa lalu Anisa?' batin Panji masih menerka.


malam menyapa 🤗 yuk kasih dukungan author biar tambah semangat, like Komen vote hadiah, komen komen komen loh 🙏😘🥰😍

__ADS_1


__ADS_2