
"Aku sengaja menunggu Kak Panji untuk menyelesaikan semua ini!" pekik Anisa dengan tatapan tajam ke arah Panji.
"Tidurlah, aku juga lelah. Besok kita lanjutkan pembicaraan ini," sambung Panji kemudian melangkah ke ranjang tidur, merebahkan diri.
Anisa masih menatap tajam lelaki yang kini sudah membaringkan tubuhnya di kasur. Amarah Anisa sebenarnya sudah sangat memuncak. Namun, dia tahan dan Anisa pun ikut merebahkan tubuhnya membelakangi posisi Panji.
Setelah dirasa Anisa sudah tertidur, Panji membalikkan posisi tidurnya, menatap punggung gadis yang ada di depannya. Bahunya terlihat bergetar dan Panji tahu karena sang pemilik bahu itu sedang menangis tergugu. Panji tetap memantau gadis di depannya tidak sekejap pun matanya dia pejamkan. Hingga tak terasa jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi.
Ada desiran napas teratur dari gadis yang ada di depannya. Panji turun dari ranjang karena ada hasrat ingin buang air kecil. Setelah lega karena sudah dibuang, Panji melangkah keluar dari toilet dan terus melangkah hingga kini dia di depan ranjang. Tepatnya tepi ranjang dimana ada gadis yang telah tertidur. Sesekali gadis itu sesenggukan karena tangis yang terlalu lama.
Panji menghapus jejak air mata yang menempel di kedua pipi Anisa. Tangannya seperti enggan untuk dia tarik dari pipi itu. Matanya kini menatap tajam ke arah Anisa. Hal yang sering Panji lakukan secara diam-diam. Ya, bahkan satu minggu terakhir ini ketika dia menggendong Anisa untuk pindah dari sofa ke ranjang tidur, dia tidak akan meninggalkan kesempatan untuk mencuri tatap secara lekat wajah Anisa.
"Apakah kamu menangis semalam gara-gara aku? Apa_apa kamu punya perasaan yang berbeda padaku? gumam Panji diikuti senyum dari wajahnya.
"Apa aku terlalu jauh mengartikan semuanya?" lanjut Panji dan masih menampilkan sebuah senyum.
"Maafkan aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sebenarnya aku juga sangat lelah tapi bagaimana lagi. Aku harus mengurus pembukaan SPBU baru, mengurus 2 butik Oma dan beberapa Anchor Tenant yang ada di mall milik oma. Semua hal baru untukku Nisa, aku harus belajar dari awal. Itu sebabnya aku pulang selalu larut malam," gumam Panji dan entah kenapa dia tadi tidak dapat langsung mengatakan itu semua.
Panji menguap dan merasa kantuk menggelayutinya, dia segera melangkah ke ranjang tidur lalu merebahkan diri dan tidak butuh lama matanya kini terpejam.
Panji terbangun dari tidurnya yang dia rasa begitu singkat. Jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
"Apa kamu akan menempel seperti ini terus?" tanya Panji dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.
Anisa yang belum terjaga dari tidurnya, menjawab tanya Panji dengan sebuah anggukan dan tangannya yang sedang memeluk tubuh Panji kini semakin dia eratkan. Bahkan Anisa terlihat mendengus, mengisap aroma tubuh lelaki yang dia peluk.
"Anisa...kamu sengaja menggodaku?" ucap Panji meremang karena yang di bawah sana benar-benar merasa terdesak dan meronta dengan perlakuan Anisa.
Desiran suara itu sontak membulatkan mata Anisa. Dia langsung melepas pelukannya dan refleks menendang tubuh Panji hingga terjatuh dari ranjang tidur.
"Maaf Kak," lirih Anisa dengan menangkupkan kedua tangannya dan wajah yang nyengir.
Panji menatap kesal ke arah Anisa bangkit dari jatuhnya dan tangannya memegang pinggang yang terasa sakit.
"Astaghfirullah haladhim...aku kesiangan, sudah jam 5 lebih 10 menit," seru Anisa begitu matanya menatap jam dinding. Dia langsung beranjak dari ranjang menuju toilet kamar untuk mengambil air wudu.
Dua puluh menit, setelah salat, mengaji, dan mandi. Anisa turun ke lantai bawah melakukan aktifitas seperti biasanya, dia akan menyiram tanaman yang ada di taman.
Anisa bergegas ke meja makan setelah dipanggil mbak Asih.
"Jangan capek-capek Non," saran mbak Asih melihat Anisa penuh peluh.
"Nggak capek kok Mbak. Oya Kak Panji belum turun Mbak?" tanya Anisa.
"Apa sepagi ini kamu sudah rindu aku?" sela Panji yang tiba-tiba sudah ada di belakang Anisa.
__ADS_1
Anisa diam, mencoba bersikap biasa walau sebenarnya dia sangat terkejut. "Siapa juga yang rindu!" gerutu Anisa.
Panji hanya menyunggingkan senyum mendengar ucapan Anisa.
Mereka kemudian sarapan pagi bersama tanpa ada suara dari mulut mereka. Setelah makan Anisa beranjak ke ruang atas. Entah kenapa sejak pernah Panji menolak untuk diantar hingga ke parkir mobil sekarang Anisa merasa risih kalau harus ngeyel untuk mengantar Panji hingga parkir mobil.
Anisa mendudukkan diri di sofa kamar. Namun, yang membuat dia kaget, ternyata ada sosok Panji yang ikut mengekor dan mendudukan pantat di sampingnya.
Anisa menoleh ke arah Panji dengan tatapan heran. "Kakak tidak langsung ke kantor?" tanya Anisa.
"Hmmmm," dengung Panji mengiyakan tanya Anisa.
"Berangkat siang Kak?"
"Menurut kamu?"
"Selalu! Setiap aku tanya selalu dikembalikan tanya itu!" gumam Anisa.
Lama mereka duduk terdiam. Anisa sesekali menatap heran pada laki-laki yang ada di sampingnya.
"Ada apa dia belum berangkat ngantor?" tanya batin Anisa yang tentunya tidak mampu dia lontarkan ke Panji. Anisa tidak ingin mulutnya bocor seperti tadi malam maka dia ambil diam. Bahkan mengingat kejadian tadi malam saja dia merasa merinding, mengapa senekat itu dirinya mengatakan hal itu.
"Sungguh aku sebenarnya malu, mengapa tadi malam aku nekat mengatakan itu semua? Pakai protes karena dicueki Kak Panji segala. Ah! Aku harusnya sadar diri siapa aku dan statusku. Aku memang istrinya tapi kan hanya status di buku nikah, kenyataan kita menjalani hidup tanpa status! Ah! Aku bodoh!" monolog batin Anisa dan bibirnya manyun karena memikirkan semua kebodohannya.
"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Panji tanpa menoleh ke arah Anisa.
"Seharusnya pertanyaan itu aku tanyakan ke Kak Panji kenapa dibalikkan ke aku!" protes Anisa.
"Memangnya aku harus berkata apa sama kamu," ucap Panji datar.
"Kakak lupa tentang tadi malam?! Katanya Kakak akan membahas_" Anisa membungkam mulutnya sendiri karena merasa berbicara ceroboh. Seharusnya dirinya senang karena Panji tidak membahas tadi malam. Itu artinya Panji lupa atau mungkin pura-pura lupa sikap bodohnya yang minta untuk tidak didiamkan atau dicueki Panji.
"Membahas apa?" tanya Panji dengan menatap tajam ke arah Anisa dan tubuhnya membungkuk mendekat ke arah Anisa.
Anisa segera menggelengkan kepalanya.
"Membahas kenapa aku cuek dengan kamu? Membahas kenapa aku diamkan kamu? Membahas kenapa aku ternyata masih sedikit perhatian dengan kamu karena tidak membiarkan kamu tertidur di sofa?"
Anisa menggelengkan kepalanya kembali merasa diingatkan kalimat yang dia lontarkan tadi malam.
"Apa berarti kamu merasa aku kurang perhatian dengan kamu? Kamu kehilangan bentuk perhatianku selama ini?" cecar Panji.
Lagi Anisa menggeleng. Mulutnya kini nyengir. "Lupakanlah Kak, mungkin tadi malam aku ngelantur," lirih Anisa kemudian menundukan pandangannya karena Anisa baru menyadari. Ya seharusnya tidak ada masalah mau itu Panji bersikap cuek, dingin itu terserah Panji.
"Maaf, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan baru," ucap Panji dengan menggenggam kedua tangan Anisa.
__ADS_1
Anisa mengangguk. Namun, dia merasa ngeri dengan sikap Panji hingga tangannya segera dia lepas dari genggaman Panji.
"Terima kasih sudah mengingatkan ku," lirih Panji dengan mencubit pipi Anisa.
"Aaauw! Sakit Kak!" pekik Anisa dengan menengadahkan wajahnya dan tangannya memegang pipi kanan yang dicubit Panji, bibirnya terlihat manyun karena merasa kesal.
Panji tersenyum mendapati protes Anisa.
Anisa sejenak menatap lelaki yang terlihat semakin sempurna ketampanannya ketika menampilkan sebuah senyuman. Anisa mengalihkan pandangannya dan ikut mengembangkan senyum entah ada rasa yang luar biasa bahagia hinggap di dirinya.
"Jangan bosan untuk selalu mengingatkan ku agar aku lebih baik," lanjut Panji.
"Tadi malam aku benar-benar capek, makannya aku tidak bisa membahas lebih jauh dan aku menunggu kamu lebih tenang emosinya."
"Ka_kakak jangan salah sangka dengan ucapanku tadi malam,"
"Salah sangka maksud kamu?" tekan Panji.
"Ya, ya_ itu, salah sangka, Kakak kan hanya menganggap ku sebagai adik. Aku juga akan mengartikan sama dengan seperti Kakak," ujar Anisa dengan gugup.
Panji tersenyum melihat kegugupan Anisa.
"Sepertinya aku tidak pernah mengatakan itu," gumam Panji.
Anisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya, benar Kakak tidak pernah menegaskan kata itu," batin Anisa.
"Sudahlah, aku mau bahas hal lain."
"Bahas apa Kak?" penasaran Anisa.
"Dua butik oma, maukah kamu membantu untuk menanganinya?"
Anisa mengembangkan senyum, "Butik oma?"
Panji mengangguk.
Anisa kemudian membalas dengan anggukan cepat dan refleks memeluk Panji karena suasana hatinya begitu bahagia. Bahagia karena sempat menggantungkan mimpi untuk membesarkan jasa jahitan ibunya menjadi sebuah butik yang barangnya diproduksi sendiri dan akhirnya dia bisa sedikit mewujudkan mimpinya.
Panji terdiam, tubuhnya sekarang bagai tersengat listrik mendapat pelukan dari gadis yang selalu dia katakan ingusan. Ada desiran yang tak dapat diartikan olehnya hingga tangannya kini tiba-tiba melingkar di pinggang Anisa.
"Jujur Anisa, aku senang melihat kamu tersenyum bahagia seperti ini dibanding melihat kamu menangis seperti semalam," gumam batin Panji. Mulutnya tersenyum.
siang menyapa 🤗 like komen komen vote hadiah juga mau 😍.
lope lope buat kalian ❤️😘😍
__ADS_1