Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 12


__ADS_3

"Klinik ibu dan anak? Apa yang dia sembunyikan? mengapa dia ke klinik ini?" monolog wanita yang semua rambutnya sudah memutih. Tatapannya hanya terhenti sampai di gerbang klinik.


"Jalan Pak," titah oma Sartika pada sang sopir.


"Ya Nyonya," jawab pak Soleh.


Tiga puluh menit sebelum sampai di klinik ini, oma Sartika melihat Anisa keluar dari dari rumah dan masuk ke mobil taksi on line. Oma yang memang sedang mengumpulkan data tentang Anisa, langsung meminta sopirnya untuk membuntuti Anisa. Benar apa tebakannya, gadis tengil yang tiba-tiba menikahi cucu satu-satunya itu berhenti di sebuah klinik Ibu dan anak.


"Aku yakin rahasia besar akan terkuak setelah ini," seringai oma.


Niatnya ingin turun sampai ke klinik dan masuk ke dalam tapi Oma takut tiba-tiba kepergok Anisa di sana. Alasan apa yang akan oma sampaikan ke Anisa kalau itu terjadi? Maka oma Sartika ambil langkah untuk meninggalkan klinik.


Bertindak hati-hati untuk mendapatkan apa yang dia harapkan. Itulah hal yang selalu Oma lakukan. Ingat ketika harus memohon-mohon pada Rosmawati agar Panji ikut dengannya. Sungguh perjuangan yang tidak dapat dia lupakan. Dia sampai mengemis-ngemis meminta pada Rosmawati. Berbagai rayuan dia keluarkan, dari menangis, berlutut, memasang wajah memelas, bentuk penyesalan sudah memperlakukan Rosmawati secara tidak baik, dan berbagai trik licik hingga akhirnya Rosmawati termakan tipuan licik itu dan melepas Panji untuk diasuh oleh oma Sartika.


Sementara di ruang tunggu, Anisa sedang memainkan jemarinya di atas layar ponsel. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara benda yang jatuh dari tasnya. Tangannya memungut dompetnya dan secara tidak sengaja dompet terbuka.


Ada sebuah foto yang terpampang di dompet itu, tangannya mengelus gambar foto dan semburat senyum nampak di bibirnya. Tidak ingin ada air mata yang menetes di kedua pipinya, Anisa langsung mengusap cairan bening yang menumpuk di pelupuk matanya.


"Kamu kuat Anisa!" batinnya bermonolog kemudian satu empasan napas keluar perlahan untuk melegakan dadanya yang begitu sesak.


Anisa memandang ke wanita sebelahnya, dia memakai kursi roda dan tangannya tampak mengelus perut yang sama rata seperti perutnya.


"Dapat berapa minggu Kak?" tanya Anisa sekedar bersapa dengan pasien lainnya.


"Ini pertama kali periksa dokter belum tahu pasti berapa minggu," jawab wanita cantik berjilbab itu.


"Kamu?" tanya wanita itu kemudian.


"Kira-kira 10 minggu," jawab Anisa. "Mbak datang ke sini sendiri?" tanya Anisa merasa iba melihat wanita berkursi roda datang ke dokter sendiri.


"Diantar suami, dia sedang ke toilet," jawabnya.


"O... ." Anisa lagi mengangguk mendengar jawaban itu merasa lega.


"Belum di panggil Fem?" tanya lelaki yang sepertinya suami dari wanita itu. Dia duduk di kursi sebelah kursi roda wanita yang dipanggil 'Fem', tangannya mengelus pucuk kepala yang dibalut hijab sang wanita. Wanita itu tersenyum membalas perlakuan sang lelaki yang sudah dipastikan suaminya. Tatapan lelaki itu penuh dengan cinta pada sang wanita, juga sebaliknya.


Anisa hanya tersenyum kecut. Padahal mereka tidak melakukan hal romantis yang melebihi batas wajar. Namun, dalam hatinya sungguh iri melihat mereka.


"Andai mas Faisal masih hidup, dia pasti akan memperlakukanku selembut itu," keluh batin Anisa.

__ADS_1


"Aku angkat telepon dulu," izin lelaki itu sambil menunjukkan ponselnya pada wanita yang di panggil 'Fem'. Dia mengangguk mengiyakan izin sang suami.


"Suami Mbak?" retoris Anisa sebagai basa-basi setelah lelaki itu pergi.


"Ya," jawab wanita itu kemudian menatap suaminya yang menjauh untuk menerima telepon.


"Kenapa menerima teleponnya menjauh Mbak? Maaf, mbak tidak takut kalau itu..."


"Kalau itu selingkuhannya?" cekat wanita itu.


Anisa mengangguk cepat karena tidak menyangka prasangkanya bisa ditebak oleh wanita itu.


Wanita itu tersenyum, "Dia memang selingkuhannya," jawab wanita itu masih menampakkan barisan gigi putihnya.


"Beneran Mbak?" terkejut Anisa karena wanita itu berkata sambil senyum.


"Dia selalu membagi waktuku dengannya, bahkan bisa lebih banyak untuknya, bahkan di tempat kerja dia yang menemaninya," terang wanita itu.


"Mbak tidak apa-apa gitu? Rela diduakan?" telisik Anisa yang semakin penasaran dengan cerita wanita itu dan dengan muka yang tegang.


"Mau tidak mau harus merelakan diduakan oleh suami dengan sang asisten," wanita itu menutup mulutnya menahan tawa.


"Gara-gara sering nonton drama jadi seperti ini, pikiranku parno soal perselingkuhan," ucap Anisa diikuti tawa dari Anisa dan wanita itu.


"Semuanya tergantung pasangan masing-masing, kita hanya ikhtiar dan berdoa semoga hati kita dan pasangan kita ditetapkan cintanya," ucap wanita itu.


"Mbak hebat sekali sih," puji Anisa.


Wanita itu tersenyum, "Aku sama seperti kamu dan yang lainnya. Ada banyak kurang dan sedikit kelebihannya."


Femila Amore Ibrahim, masuk poli kandungan.


Suara dari soundscape menyebut nama itu dan wanita yang di sebelah Anisa tangannya bergerak akan mengayuh kursi rodanya.


"Aku antar ke dalam," tawar Anisa.


"Tidak usah repot-repot, aku bisa sendiri," jawabnya kemudian tangannya mengayuh kursi roda itu.


"Maaf Fem," ucap suami wanita itu begitu menghampiri sang istri mengayuh kursi rodanya sendiri.

__ADS_1


"Pasangan yang serasi. Wanitanya cantik, laki-lakinya ganteng dan kelihatanya mereka penuh rasa cinta," gumam batin Anisa setelah pasangan itu tidak nampak dari pandangannya karena sudah masuk ruang pemeriksaan.


"Suami mbak Femila...kenapa wajahnya seperti familiar ya?" monolog batin Anisa dan otaknya memutar memori yang tertampung di hardisk tercanggih dari Sang Illahi.


"Ustadz Mirza Zayn Ahmad, Masyaallah...," gumam Anisa dengan menutup mulutnya karena hampir berteriak setelah bisa menebak rasa penasarannya.


"Idolaku, ya Allah nggak nyangka banget bisa bertemu dengannya. Nanti minta foto ah," girang Anisa tidak peduli kanan-kiri memperhatikan tingkahnya.


Tangan Anisa bergerak mengelus perut, "Semoga kalau kamu lahir ke dunia ini tumbuh jadi anak yang soleh. Mirip seperti ustadz Mirza, amin," batin Anisa dengan senyum yang tercetak di wajahnya.


...****************...


"Bapak sudah mending?" tanya Panji begitu masuk ke ruang tamu dan disambut seorang lelaki yang usianya kisaran 50 tahun setelah itu dia mencium punggung tangan Bapak tersebut.


"Alhamdulillah mending, duduklah," titah bapak Rozak.


"Tiwi, calon suamimu baik dan perhatian, kenapa belum juga kamu mau dinikahinya?" ucap bapak Rozak.


"Bapak, kenapa langsung bahas itu," protes


Tiwi.


Sudah lama Panji menawarkan untuk menikah walau tanpa restu Oma Sartika, bapak Rozak juga tidak mempermasalahkan itu karena yang terpenting restu dari kedua orang tua Panji. Namun, Tiwi tetap kekeh untuk menunda pernikahannya hingga oma Sartika mau merestui dia sebagai calon cucu menantu.


"Kamu itu sudah waktunya membina keluarga Wi, bapak belum tentu bisa lama dengan kamu, kamu tahu sendiri bapak mengidap penyakit seperti ini," tutur bapak Rozak dengan lembut.


"Bapak...," keluh Tiwi langsung memeluk bapaknya.


"Jangan bilang yang aneh-aneh, Tiwi yakin bapak akan selalu menemani Tiwi," sambung Tiwi kemudian melepas pelukannya.


"Begini nih nak Panji, Tiwi itu masih manja pada bapaknya," lapor bapak Rozak yang diiringi tawa dan Panji membalas dengan senyumnya.


"Sudah lama kalian menjalin hubungan, tidak baik kalau didiamkan saja. Bapak juga biar lega anak perawan bapak ini akhirnya laku," sambung bapak Rozak masih membicarakan pernikahan.


"Bapak tenang saja, sebentar lagi pasti keinginan bapak ini akan terkabul. Bukan seperti itu mas?" Tiwi mengalihkan pandangan ke arah Panji mengharap Panji menjawab tanya itu dengan jawaban 'Ya'.


Yuk...like komen, vote, hadiah, rating.


Komen, komen, komen.

__ADS_1


Btw yang pernah baca novelku 'KARENA USTADZ AKU CACAT' pasti tahu Femila dan Ustadz Mirza. yang belum baca kepoin yuk..🥰😍🙏


__ADS_2