Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 68


__ADS_3

Satu bulan ini Panji sibuk membagi waktu antara di rumah, tempat kerja, dan rumah sakit.


Di rumah dia tetap sisihkan waktu untuk melihat perkembangan Nevan. Dia juga sudah bisa menggendong si bayi. Terkadang ikut bergadang untuk menjaga Nevan, membuatkan susu formula bahkan ikut menyusui Nevan dengan sufor itu.


Asi Anisa hanya keluar dua Minggu, setelah itu ASI tiba-tiba berhenti sama sekali. Sudah berbagai cara, dari jamu hingga obat kemasan modern dia minum tapi tidak membuahkan hasil tetap saja ASI tidak keluar.


Anisa merasa sangat bersalah dan merasa menjadi ibu yang kurang sempurna karena tidak dapat memberi ASI secara penuh hingga 2 tahun.


"Ada jalan lain selain memberi ASI hingga kamu disebut ibu yang sempurna Nak, yaitu mendidik anak kamu tumbuh jadi anak soleh. Jangan bersedih seperti itu," hibur ibu Maesaroh dari sambungan telepon kala itu dan Anisa mencoba berdamai dengan keadaan diri agar tidak semakin stres.


"Kak Panji pulang malam lagi?" tanya Anisa berjalan mengekor di belakang Panji sambil membawa Nevan.


"Ya," jawab Panji kemudian mencium pipi bayi yang digendong Anisa.


"Ayah berangkat dulu Nev, nurut sama bunda ya, assalamualaikum," ucap Panji pada Nevan.


Anisa tersenyum mendengar ucapan Panji.


"Ayah hati-hati di jalan, waalaikum salam," jawab Anisa meniru suara anak.


Setelah berpamitan dan memberi salam, mobil itu pun melaju membelah jalanan kota.


'Terima kasih Kak, sesibuk apapun, kakak sudah menjadi ayah siaga untuk Nevan. Walaupun aku tidak tahu, sampai berapa lama kita bertahan seperti ini. Aku harus merelakan Kakak demi kebahagian Kakak,' batin Anisa, dia segera menyeka air mata yang terbendung di pelupuk mata.


Kaki Anisa melangkah masuk, menidurkan Nevan yang telah tertidur. Anisa menidurkan di kamar almarhum oma Sartika yang telah disulap menjadi kamar bayi kedua selain yang ada di lantai 2 karena kamar atas biasanya Anisa pakai kalau malam hari, kalau siang hari seringnya di lantai bawah.


"Sus, aku mau lari-lari kecil di taman, kalau Nevan bangun panggil aku," ujar Anisa pada suster Tia.


"Ya Non," jawabnya.


Sementara, di tempat yang satu bulan ini rutin dikunjungi Tiwi, dia duduk memandang keluar jendela. Matanya menerawang keluar dan pantatnya tetap setia duduk di kursi roda.


"Hai,"


Suara itu mengalihkan pandangan Tiwi dan senyum manis Tiwi tampakkan sebagai balasan dari sapaan itu.


"Kamu sudah datang?" ucap Tiwi berusaha terlihat seceria mungkin.


Tiwi sebenarnya sudah sangat bosan di rumah sakit itu. Walaupun ruangan yang dipilih Panji untuk Tiwi adalah ruangan VVIP tetap saja yang namanya rumah sakit ya membosankan. Tiwi terpaksa menurut Panji untuk tetap di rumah sakit karena satu alasan yang paling mendasar, dia tidak ingin bapaknya khawatir melihat kondisinya sekarang.


"Aku pingin cepat pulang Kak," keluh Tiwi.


"Makanya kamu harus rutin minum obat, turuti apa yang diminta dokter, satu lagi, kamu jangan banyak pikiran."


"Ya cerewet!" jawab Tiwi dengan senyum di bibirnya.


"Teruslah semangat Tiwi, aku akan lakukan apapun untuk kesembuhan kamu," ucap Panji.

__ADS_1


Mata Tiwi langsung berkaca, "Terima kasih Mas," jawabTiwi.


Panji terdiam.


"Aku ke toilet dulu," pamit Panji kemudian.


Di toilet kamar. Tangan Panji segera menyeka air mata yang menggenang di pelupuk mata. Mengempaskan napas dengan pelan. Hal yang jarang Panji lakukan, menangis. Seberat apapun kesedihan yang menimpanya, dia tidak dapat menitihkan air mata. Air matanya seakan sudah terkuras habis sewaktu berpisah dengan bundanya karena waktu itu Oma Sartika meminta agar Panji diasuh dan disekolahkan di tempat oma.


Pikirannya benar-benar buntu. Dadanya begitu sesak membayangkan keadaan Tiwi. Wanita yang sudah lama menjadi kekasihnya.


'Aku belum membuatmu bahagia Wi, malah selalu memberi kamu kesedihan dan sekarang keadaan kamu seperti ini, aku tidak bisa mencurahkan waktu seutuhnya untukmu,' batin Panji.


Panji keluar dari toilet dan mendapati Tiwi sudah bersama dokter dan perawat khusus yang dipekerjakan Panji untuk menjaga Tiwi.


"Sudah membaik dari sebelumnya," ucap dokter.


"Saya tunggu Pak Panji di ruang saya," lanjut dokter, kakinya memutar melangkah keluar.


Panji mengekor dokter untuk ke ruangannya.


"Silahkan duduk Pak."


Panji menurut dan mendudukkan diri di kursi.


"Perkembangan kesehatan ibu Tiwi lumayan bagus. Kenapa kemarin ibu Tiwi sempat tidak sadarkan diri, mungkin obat yang dikonsumsi oleh ibu Tiwi, salah satu efek sampingnya memang membuat si penderita mudah kelelahan dan satu lagi, ibu Tiwi tolong jangan sampai banyak pikiran. Terus dukung dia, semangati dia agar sembuh karena faktor yang paling dominan untuk kesembuhan seorang pasien kanker ya positif thinking untuk bisa sembuh," terang dokter.


"Apa Tiwi sudah boleh pulang Dok? Aku lihat Dia sudah tidak betah berlama-lama di rumah sakit."


"Terima kasih Dok, aku rasa cukup," ujar Panji lalu pergi dari ruang itu.


Panji duduk di kursi yang ada di depan ruangan. Wajahnya dia tutup dengan 2 tangannya. Dia merasa begitu berat beban yang kini dirinya pikul.


Satu bulan lalu atau tepatnya satu bulan lebih satu minggu ketika Tiwi pingsan di kantor, Panji membawa ke ruang sakit. Sejak hari itu, mulailah Tiwi rutin mengunjungi rumah sakit karena diagnosa dari sempel darah menyatakan ada kanker yang tumbuh di tubuhnya. Setelah ditindak lanjuti dan di cek secara mendetail dari cek fisik, riwayat kesehatan, tes feses, tes darah, kolonoskopi, proktoskopi, biopsi, hingga tes pencitraan dijalani oleh Tiwi. Rangkain tes itu menyimpulkan ada kanker usus besar stadium 3 dan harus segera ditindaklanjuti dengan operasi pengangkatan usus yang terkena kanker.


Tiwi pun menjalani operasi itu. Sempat drop waktu operasi tapi Allah masih berkehendak menyelamatkan Tiwi dari ancaman maut.


"Tuan, pukul 10.00 ini kita ada rapat dengan pegawai anchor tenant." ujar Arlan mengingatkan jadwal yang ada.


Panji membuka tangannya menatap Arlan yang berdiri di depannya.


"Tidak bisa di-cancel?!"


"Tuan sudah membatalkan dua kali," jawab Arlan.


"Aku pamit Tiwi dulu," ujar Panji, mengangkat pantatnya kemudian masuk ke ruang kamar Tiwi.


"Hai, aku harus menyelesaikan pekerjaan kantor," ujar Panji pada wanita yang masih diam di atas ranjang perawatan.

__ADS_1


Tiwi mengangguk, "Pulangnya tidak usah mampir ke sini, aku sudah baikan kok," sahut Tiwi.


Panji diam menatap Tiwi, mengangguk lalu pergi dari hadapan Tiwi.


Panji menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda karena harus mengurus segala keperluan Tiwi selama di rumah sakit. Tepat pukul 9 malam Panji sudah pulang ke rumah. Lebih awal dari kebiasaan pulang terakhir-akhir ini.


Panji langsung bebersih diri, setelah bersih dia keluar kamar menuju kamar bayi yang ada di samping kamarnya.


"Nevan belum tidur?" retoris Panji melihat Anisa masih menggendong Nevan sambil bersenandung.


"Sudah pulang Kak?" retoris balik Anisa.


"Nggak tahu ini Kak, tumben sekali jam segini Nevan bangun tapi tidak apalah dari pada bangun tengah malam nanti malah melek sampai pagi."


"Anak Ayah kenapa tidak tidur? Nunggu Ayah pulang ya?" sapa Panji pada Nevan mendekat dan mencium bertubi-tubi pipi Nevan.


Nevan hanya menggeliatkan tubuhnya yang masih kecil.


Anisa tersenyum menatap interaksi Panji dengan Nevan. 'Apa aku boleh egois Kak? Aku ingin hidup bahagia dengan Kakak? Kak Panji terlihat tulus menyayangi Nevan, adakah ketulusan juga untukku? Hah! Maafkan aku yang tiba-tiba serakah ingin kamu lebih' monolog batin Anisa.


"Kamu tidur saja Nis, biar aku yang jaga," titah Panji.


Anisa tersadar dari lamunannya mendengar titah dari Panji.


"Kakak yang istirakhat, aku lihat Kakak juga sangat letih," tawar balik Anisa melihat wajah Panji yang memang letih.


"Nevan titipkan ke suster saja, kita istirakhat bersama," ajak Panji melihat Anisa juga terlihat letih dan entah kenapa Anisa mengiyakan ajakan itu.


"Sus, titip Nevan, kalau dia rewel tidak mau tidur kamu bangunkan aku saja."


"Ya Non," jawab suster Tia.


Anisa mengekor langkah Panji menatap punggung itu dengan intens hingga tidak fokus jalan.


Bugh.


Anisa menabrak tubuh Panji karena dia berhenti mendadak.


"Ceroboh!" gumam Panji tanpa menoleh ke arah Anisa.


Anisa tersenyum mendengar umpatan itu. Walaupun dia berharap tidak hanya umpatan tapi ada balasan halus dari Panji.


'Otakku perlu ke bengkel nih!' batin Anisa mengumpat diri setelah otaknya liar memikirkan ingin diperlakuan romantis dari lelaki di depannya. Tangan Anisa mengepal dan mengetok-ketok dahinya sendiri sambil memejamkan mata.


"Dahi kamu nanti bisa berlubang kalau terus kamu ketok seperti itu!" sindir Panji dan kakinya dia naikkan ke atas ranjang.


"What!" Anisa langsung membelalakkan matanya. Bingung harus berkata dan bertindak apa, kakinya langsung memutar ke arah tepi ranjang yang akan dia tiduri.

__ADS_1


'Pakai nggak nyadar ngekor sampai tepi ranjang Kak Panji lagi!' sesal batin Anisa mengutuki kebodohan diri.


malam menyapa🤗like, komen, hadiah, vote juga mau 😍🙏


__ADS_2