
"Nanti bunda bobok dengan Nevan dan ayah," lanjut nevan dengan wajah polos.
Anisa terkejut karena pemikirannya hanya pulang naik mobil bersama.
Air minum yang baru dia teguk langsung tersembur.
Uhuk uhuk.
Panji menyodorkan tisu, Anisa menerima tisu itu kemudian mengelap mulutnya.
"E...Bunda_"
"Bunda masih sibuk, nanti kalau bunda sudah menyelesaikan pekerjaannya pasti bunda bareng Nevan," cekat Panji memotong ucap Anisa.
Nevan langsung menampakkan wajah cemberut. Selama ini dia jauh dari bundanya tapi setelah bertemu dia malah menolak untuk tidur bersamanya.
Anisa menyuapkan makanan ke mulut Nevan. Namun, Nevan tetap diam tidak membuka mulutnya.
Panji mengisyaratkan agar Anisa berhenti menyuapi Nevan. Anisa meletakkan kembali makannya ke piring.
"Maafkan Bunda sayang," lirih Anisa.
Nevan tetap diam.
"Kita pulang Yah," ajak Nevan.
Anisa menghela napas, mengejar Nevan yang sudah lari dari tempat mereka duduk. Panji juga
langsung menyusul.
"Nevan!" seru Panji menyekat langkah Nevan.
Nevan sudah menangis tersedu-sedu.
Anisa mendekat ke arah mereka tapi dengan wajah yang bingung.
"Kita pulang Yah!" teriak Nevan.
"Ya, iya kita pulang, tidak boleh seperti itu, kasihan itu bunda," rayu Panji menunjuk ke arah Anisa yang matanya sudah berembun.
Nevan dibopong Panji melangkah ke parkir mobil. Anisa mengekor di belakangnya.
"Aku antar kamu dulu," tawar Panji pada Anisa.
Anisa menggeleng, "Terima kasih, aku pulang sendiri. Kakak langsung antar Nevan saja," ujar Anisa melihat Nevan semakin mengencangkan tangisannya.
Panji diam. "Aku..., pulang dulu, assalamualaikum," pamit Panji kemudian.
"Waalaikum salam," jawab Anisa dengan lirih.
Mobil itu bergulir pergi meninggalkan Anisa yang berdiri mematung sendiri.
'Kenapa seperti ini jadinya?' batin Anisa, embun yang sudah menyelimuti pelupuk matanya kini menetes di kedua pipi.
...****************...
Tika duduk mematung di kursi kerjanya. Entah mengapa hari ini dia terlihat tidak ada semangat.
'Kira-kira Anisa marah nggak ya kalau dia tahu aku kerja di sini?' batin Tika.
'Tapi aku kan memang butuh kerjaan dan hanya tempat ini yang menerimaku sebagai pegawai. Aku sadar, aku tidak punya pengalaman kerja jadi melamar diberbagai perusahaan sangat sulit,' monolog batin Tika.
'Walaupun kemungkinan besar aku diterima di perusahaan ini karena aku teman Anisa,' lanjut monolog batin Tika.
Satu tangan Tika menyangga dagu, tangan kanannya yang memegang polpen dia gerakkan di kertas, menyorat-nyoret sembarang.
"Ehem! Tidak ada pekerjaan?" ledek Arlan menghentikan langkahnya di depan meja kerja Tika.
Sontak Tika yang merasa kaget langsung mengalihkan pandangannya ke depan laptop dan jari-jarinya dia gerakkan di atas keyboard.
Arlan tersenyum menyungging, menarik kursi untuk dia duduki tepat di depan meja kerja Tika.
"Apa perlu aku awasi seperti ini?" singgung Arlan yang sudah duduk di depan meja kerja Tika.
Tika melemparkan senyum geram.
"Kalau aku lihat kamu bermalas-malasan lagi. Sekalian nanti pindah tugas saja!" ujar Arlan.
__ADS_1
"Pindah tugas di rumah!" tekan Arlan kemudian melangkah pergi dari Tika.
"Issst! Belagu banget sih!" umpat Tika, polpen yang dia pegang seakan dilemparkan ke Arlan.
"Kenapa?" telisik Arlan membalikkan tubuhnya.
"Itu..., aku...aku mau ke belakang," alasan Tika, tangannya menggaruk tengkuk yang tidak gatal dan segera lari ke toilet.
Arlan hanya bisa mengembangkan senyum misteri.
"Aku laporkan ke pak Panji baru tahu rasa!" gerutu Tika karena sudah kepalang tanggung ke toilet, dia masuk ke toilet untuk buang air kecil.
Setelah selesai, Tika melangkah ke dapur meminta salah satu OB untuk membuatkan kopi.
"Yang manis Bang," pinta Tika.
"Biasanya gula cuma sedikit?"
"Ada orang yang bikin pahit mood aku Bang!" gumam Tika.
OB itu tersenyum, "Pasti pak Arlan ya?" ledek OB.
"Ih kok tahu!?" terkejut Tika.
"Bukan rahasia umum lagi, ada sesuatu antara mbak Tika dan pak Arlan." jawab OB.
"Apaan sih Bang Safar!" elak Tika.
"Nanti bawa ke meja aku ya," pinta Tika lalu melangkah pergi.
"Pergi ke belakang apa main ke Menteng?!" sungut Arlan menyambut kedatangan Tika.
"Astaghfirullah haladhim," ucap Tika, mengelus dadanya karena mahluk itu masih duduk di depan meja kerjanya.
"Apalagi Pak?" keluh Tika.
"Nanti sore ada rapat mendadak dengan pak Panji?"
Wajah Tika terlihat terkejut, "Perasaan baru minggu kemarin rapat?"
Arlan mengangkat dua bahunya, "Mungkin tentang kinerja pegawai mall yang semakin menurun," ucap Arlan sambil memicingkan dua alisnya.
"Lihat saja nanti!" tekan Arlan, kemudian pergi dari hadapan Tika.
Tungkling.
Satu pesan masuk.
"Kenapa nih anak kirim pesan dengan emot nangis?" gumam Tika.
Kenapa? Balas Tika.
Nevan tidak mau bertemu akuπ.
Kok bisa? Sahut Tika.
Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan. Sore sepulang kerja bisa kita ketemuan? Ajak Anisa
Maaf ya Nis, barangkali aku telat pulang, soalnya ada rapat.
Ya... perusahaan kamu nguras tenaga pegawai sekali sih! Jam pulang molor, giliran jam berangkat harus tepat waktu!
Tika tersenyum membaca balasan dari Anisa. Lalu dia memasukkan ponselnya di dalam laci, mendengar ada suara pintu ruang Presdir dibuka.
Sementara itu.
Anisa yang masih di dalam kamar hotel menangis sejadi-jadinya. Semua bagai mimpi, baru kemarin Nevan mau bermain dengannya, sekarang malah menolak untuk bertemu dengannya.
"Apa yang harus kulakukan?" gumam Anisa tanpa menghentikan tangisnya dan membiarkan air mata itu mengalir di kedua pipi.
Anisa terus memandang foto sewaktu dia bermain dengan Nevan.
"Sayang, kamu tidak tahu kondisi yang sebenarnya, bunda ingin sekali bobok dengan kamu tapi...bunda dan ayah sekarang orang lain, kita tidak boleh satu atap lagi," keluh Anisa dengan mengelus foto Nevan.
"Tadi pagi, bunda telepon igin bicara dengan kamu saja, kamu tidak mau bicara," lanjut Anisa menumpahkan segala isi hatinya.
Anisa langsung menyeka air matanya. "Aku harus lakukan apapun, asal kamu berhasil ibu ambil Nak!" seru Anisa pada diri sendiri.
__ADS_1
"Bahkan kalau bunda harus melakukan hal nekat itu, akan bunda lakukan!" lanjut Anisa kemudian mengirim pesan ke Panji untuk bertemu dengannya sore ini.
Sepulang ngantor boleh aku bertemu dengan kamu?
Anisa menghapus pesan itu sebelum dikirim.
"Dia kan pemilik perusahaan, jadi bebas kalau mau keluar kantor jam berapapun," gumam Anisa kemudian mengganti isi pesannya.
Jam 4 sore ini, boleh aku menemui kamu?
Dimana? jawab Panji.
Cafe 81, nanti aku serlok tempatnya. Balas Anisa.
Ok.
Anisa tersenyum membaca balasan dari Panji.
"Semoga langkah ku tepat," ujar Anisa dan baru dia akan meletakkan ponselnya di sofa ada pesan masuk dari Tika.
"Jadi ketemuan? Aku batal ada rapat nih?" Anisa mengeja pesan kalimat dari Tika.
Anisa menggigit jari telunjuknya, kemudian membalas pesan dari Tika.
Maaf ternyata aku ada acara.
Ya sudah, lain waktu kita jumpa, kamu harus ceritakan semuanya ke aku. balas Tika.
Anisa mengetik balasan. Sip dechπ.
Anisa buru-buru ambil baju untuk persiapan nanti sore.
Sinar matahari masih memancarkan pancaran panasnya. Matahari itu mulai bergeser ke arah Barat. Anisa melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Dia buru-buru keluar hotel dan masuk ke mobil taksi online yang dia pesan.
Anisa menatap laki-laki yang duduk di kursi pengunjung nomor 18.
"Kakak sudah di sini?" terkejut Anisa, padahal janjiannya Anisa nanti yang akan serlok lokasi.
Panji tersenyum singkat.
"Duduklah!" titah Panji.
Anisa menarik kursi yang ada di depan Panji kemudian mendudukan pantatnya di situ.
'Kenapa dengan aku?' batin Anisa lalu memegang dadanya karena jantungnya yang beritme tidak normal.
"Mau pesan apa?" tawar Panji.
"Sama dengan Kakak," jawab Anisa sedikit gugup.
"Mbak, lemon tea ya 2, Cake strawberry coklat dua."
"Ya Kak, Apalagi?" sahut pelayan cafe.
"Cukup Mbak," cekat Anisa.
Anisa diam begitu juga Panji. Anisa nampak memutar ponselnya untuk mengurangi rasa gugupnya. Sedangkan Panji, dia nampak begitu santai. Walaupun tanpa Anisa tahu, jantung Panji berdetak tidak normal.
"Apa kabar Nevan?" tanya Anisa mengurai kebisuan.
"Dia baik," jawab singkat Panji.
"Apa dia menanyakan aku?" lanjut Anisa dengan suara melemah.
Panji menggeleng-gelengkan kepala, Anisa terlihat kecewa mendapat jawaban dari Panji.
"Dia masih memintaku untuk tinggal bersamanya?" Anisa memberanikan tanya seperti itu.
Panji mendongakkan wajahnya mendengar pertanyaan Anisa.
"Kemarin waktu aku tawarkan untuk menemui kamu, Nevan bilang tidak mau, kalau...kalau kamu tetap tidak...tidak tinggal dengannya," jawab Panji sedikit terbata.
"Nikahi aku agar aku tinggal bersama Nevan!" ucap Anisa, menatap lekat ke arah Panji.
Panji sangat terkejut, diam membisu mendengar permintaan Anisa.
sore Menyapa π€. maaf dari kemarin aku sakit, Ini sebenarnya juga masih sakit tapi gag tahu, kalau sehari saja tidak menyapa kalian ponsel terasa sepi.
__ADS_1
Jangan lupa like komen hadiah juga ya ππ