
Panji mengusap wajahnya dengan kasar kemudian duduk di tepi ranjang. Namun, masih menatap punggung Anisa.
"Apa yang membuatmu memilih Faisal?" tanya Panji.
"Dibanding siapa? Kak Panji atau Vano?
"Terserah kamu mau membandingkan dengan siapa!"
"Mau tahu apa mau tahu banget?" celetuk Anisa tubuhnya bangkit dan menyandar di kepala ranjang.
"Banget!" ucap Panji dengan mendekatkan wajahnya ke telinga Anisa.
Jantung Anisa memacu tidak normal ketika wajah lelaki yang kini duduk di sampingnya begitu dekat. Memerah karena terlalu gugup. Anisa melirik ke arah Panji dan panji yang masih menatap Anisa makin melototkan tatapannya. Anisa langsung menundukkan pandangan. Panji tersenyum menang.
"Aku sudah siap jadi pendengar." ujar Panji.
Anisa mulai berucap walau ragu, "Vano...Vano itu selalu ada saat aku sedih maupun bahagia. Dia partner di kegiatan OSIS, karate, belajar, pokoknya dia selalu ada kapan aku butuhkan. Sayangnya dia menyatakan cinta di waktu yang tidak tepat karena sebelumnya sahabat karibku sudah dahulu bicara denganku kalau sahabatku itu cinta dengan Vano. Aku tidak ingin merusak persahabatan yang kita bina selama 2 tahun lebih. Aku pun memutuskan untuk menolak cinta Vano walaupun tidak dipungkiri saat itu pula ada getaran cinta ketika kuberasamanya. Kita berusaha menjalin persahabatan tanpa ada cinta... ."
Anisa terdiam menerawang menatap ke depan kemudian melanjutkan curahan hatinya.
"Di kelas 12 aku dan Vano semakin disibukkan dengan persiapan ujian kelulusan. Saat itu di desa sedang heboh-hebohnya lelaki tampan anak pak kyai Syamsuddin. Aku merasa penasaran juga dengan sosoknya. Benar saja apa kata remaja desa, anak pak kyai Syamsuddin tampan rupawan, sopan, ramah, dan Soleh. Aku pertama melihatnya saat dia ikut kegiatan sosial 'Santunan Anak Yatim dan Kaum Dhuafa' di bulan Muharram. Dia langsung yang memberi santunan itu ke aku. Kak Panji tahu, dia benar-benar seperti bidadara. Ya Allah...tampan sekali dan yang membuatnya semakin mempesona dia dermawan, peduli sesama, tidak sombong, dan ramah," ujar Anisa dengan gemas sampai bantal yang ada di pelukannya dia rem*t terlalu gemasnya.
Anisa menatap ke Panji dan tatapan itu di balas dengan dua alis yang dinaikkan ke atas.
"Lanjut?" tanya Anisa mencoba mengartikan bahasa isyarat dari lelaki yang duduk di sampingnya.
Panji mengangguk.
"Aku sebenarnya sudah melupakan rasa kagum yang berlebihan, terselipnya sebuah angan untuk kenal lebih dekat dengan mas Faisal dan angan tak tahu diri, 'ingin menjadi istrinya'. Semua kukubur dalam" Anisa tersenyum mengingat itu.
"Namun, takdir berkata lain, sepulang aku kegiatan sekolah, sore itu aku bertemu dengan dia di SPBU dan itu menjadi jalan untuk aku lebih dekat dengannya hingga pada titik aku menerima lamaran dia. Waktunya begitu singkat bahkan terlalu singkat. Belum aku merasakan manis pahit cinta, Allah sudah memanggil mas Faisal." Anisa menyeka air matanya agar tidak jatuh ke pipi.
"Bahkan kami mencetak kenangan pahit penuh dosa menjelang satu hari meninggalnya mas Faisal," ucap Anisa dengan suara parau.
__ADS_1
Tangan Panji dia angkat akan mengelus pundak gadis di sampingnya. Namun, tangan itu begitu berat dia jatuhkan ke pundak gadis itu.
"Sudah?" tanya Anisa dengan menoleh ke Panji hingga Panji buru-buru menarik tangannya dan mengangguk kecil.
"Lanjut lagi!" seru Anisa dan tiba-tiba ada senyum kecil tercetak di wajahnya. Dia baru menangis dan langsung bisa senyum.
"Perbandingan Kak Panji dan mas Faisal...,"
"Tidka usah kamu lanjutkan, cepat tidur!" titah Panji dan tubuhnya segera dia rebahkan di kasur dengan posisi membelakangi Anisa.
"Pertama aku melihat Kak Panji, seperti reinkarnasi dari mas Faisal. Wajah kalian mirip dan hampir sama. Aku seperti menemukan sosok mas Faisal. Walaupun jelas kepribadian mas Faisal dan Kak Panji bagai langit dan bumi. Jutek! Tidak ada sopan santunnya! Tidak pernah ucapkan terima kasih! Garang! Tidak ada pengertian! Pelit! Dingin! Irit bicara walaupun sekarang sudah mulai banyak bicara! Satu lagi, ternyata si tampan ini juga bisa kentut kencang," ujar Anisa disusul tawa renyah dan Anisa melihat ada kilatan api di mata lelaki yang kini mendekat ke wajahnya.
Anisa langsung menurunkan tubuh dari sandaran kepala ranjang. Dia rebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga kepala.
Panji menarik akan membuka selimut yang menutupi wajah Anisa. Namun, Anisa memegang selimut itu dengan kencang. Hingga adu tarik menarik di menangkan Panji. Wajah mereka begitu dekat satu dengan yang lain ketika selimut itu tersibak. Tubuh Panji mengukung tubuh gadis di bawahnya. Kedua tangan Anisa ditahan kedua tangan Panji, napas Anisa dan Panji saling bertukar karena begitu dekatnya mereka dan entah magnet apa hingga Panji semakin mendekatkan wajahnya. Mata Panji terpejam begitu juga mata Anisa. Namun, dering ponsel membuyarkan semuanya.
Panji segera bangkit dan merebahkan tubuhnya, tangannya mengusap kasar wajah merasa bertindak jauh dari kesadarannya.
Anisa langsung mengambil ponselnya yang berdering. Dia mengusap gambar telepon berwarna hijau untuk bisa tersambung dengan si penelepon.
Anisa terdiam mendengarkan si penelepon bicara.
"Kamu berikan?" tanya Anisa.
"Issst! Kenapa kamu kasih?!" kesal Anisa.
"Ya sudah kalau sudah terlanjur."
"Ya, aku maafkan, Ya...tidak apa-apa mau bagaimana lagi sudah kamu kasih. Waalaikum salam." Anisa menaruh ponselnya dia atas nakas. Matanya melirik ke arah Panji yang sudah tidur dengan posisi membelakanginya.
Dia meraba dadanya, ritme jantungnya sudah mulai normal.
Huft
__ADS_1
Kemudian mengempaskan napasnya agar lebih normal lagi lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi laki-laki yang ada di sampingnya.
"Apa yang tadi aku lakukan!" seru batin Anisa tangannya mengacak rambutnya yang tertutup hijab.
...****************...
Tiwi melirik ke ruang Panji, sedari pagi dia tidak keluar dari ruangan hingga sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11.00.
Ucapan bapaknya kemarin pagi benar-benar menganggu pikirannya. Mau tidak mau dia harus bicara dengan Panji untuk membicarakan masalahnya. Namun, lelaki itu tadi pagi menampakkan wajah yang terlihat kusut dan hanya senyum kecil ketika menyapanya.
"Apa aku yang harus memulai pembicaraan? Ah! Tidak! Dia yang salah kenapa aku harus buka mulut dulu!" batin Tiwi bermonolog.
Tiwi menatap pintu ruang itu, tiba-tiba pintu terbuka dan keluarlah Panji dan sang asisten.
Panji berjalan ke meja Tiwi. "Kita batalkan untuk pergi check SPBU cabang, aku ada urusan mendesak," ucap Panji tanpa mendengar balasan dari Tiwi dia sudah melangkahkan kaki meninggalkan Tiwi mematung.
"Ada yang akan aku bicarakan ke kamu Mas, apa urusanmu sangat penting hingga tanpa mendengar jawabanku kamu langsung pergi?" monolog batin Tiwi, menatap nanar kepergian Panji.
Arlan melajukan mobilnya sesuai alamat yang di sampaikan orang kepercayaan tuannya. Mereka kemudian turun dari mobil, berjalan ke tempat yang dimaksud orang kepercayaan nya.
Panji menatap sinis lelaki yang tengah diikat kaki dan tangannya.
"Selamat siang saudara!" sapa Panji dengan mendekat ke lelaki tersebut.
Lelaki itu menatap intens ke arah Panji dengan tatapan tajam.
"Ada urusan apa aku dengan kamu!" tanya lelaki itu dengan suara meninggi.
"Ada urusan masa lalu yang perlu diluruskan! memang bukan dengan aku tapi almarhum adikku!" ucap Panji tak kalah lantang.
siang Menyapa 🤗😍, like, komen, komen, komen loh...vote, hadiah juga ya.
Bau-bauannya sudah mulai ada ehem ehem...antara Panji dan...
__ADS_1
wah pasti sudah tau siapa lelaki yang ditawan Panji 🧐 ayo siapa?🤭