Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 84


__ADS_3

Anisa menyibak selimut, tubuhnya dia rebahkan ke ranjang setelah wajahnya dia pakaikan bumbu-bumbu racik agar terlihat sehat dan glow.


Anisa meraih ponselnya, menatap layar ponsel dan tertera angka 23.00.


"Ternyata sudah jam 11 malam, tapi mengapa mata belum juga mau merem?"


Kaki Anisa turun menuju lemari es kecil, tangannya mengambil satu buah pir. Dimakanlah buah itu.


"Besok apa sebaiknya aku ikut? Aku sebenarnya juga kangen sekali dengan ibu," gumam Anisa dengan segera tangannya mengetik pesan,


Besok aku ikut ke rumah ibu.


Anisa masih bingung antara mengirim dan tidak.


"Bodoh amat! Aku hanya kirim pesan ini! Mau dia berpikiran bagaimana terserah!" Anisa bimbang tapi tangannya kini menyentuh tombol kirim.


Ok.


"Apa! Issst! Menyebalkan sekali! Dia...dia hanya menjawab satu kata 'ok'!" kesal Anisa setelah membaca pesan dari Panji sambil jarinya menunjuk-nunjuk ke layar ponsel.


Ponsel yang sedari tadi dia pegang sampai dia banting ke kasur tapi diambil kembali.


"Aku mau memastikan, dulu setelah kamu menceraikan aku pasti setelah itu tidak laku!" gumam Anisa walaupun itu hanya perkataan di mulut tapi nyatanya hatinya mengelak sendiri pernyataannya sendiri. Tangannya bergerak mengetik 'Panji Alam Darmawan pengusaha pom bensin pernah dekat dengan'...di sebuah google dan memencet simbol pencarian.


Data kedekatan Panji dengan berbagai wanita tertulis. Dasar akun 'bibir tebal' berita apapun di buat postingan!" umpat Anisa. Namun, rasa penasaran membuat Anisa akhirnya membuka satu persatu.


"Pernah dekat dengan Aleta anak pengusaha, dekat gadis cantik pengusaha asal Surabaya, dekat dengan seorang janda kembang dari aktor XX, dekat dengan aktris cantik yang berjilbab," Kali ini Anisa memelankan bacanya, matanya lebih intensif membaca artikel tersebut.


"Seorang artis muda berbakat cantik dan berhijab dikabarkan dekat dengan seorang pengusaha SPBU berinisial PAD, selain memiliki usaha SPBU dia juga mengelola departemen store di berbagai wilayah, Dia juga mengelola beberapa butik. Artis cantik itu bahkan menjadi salah satu ambasador di butik miliknya," Anisa berhenti membaca artikel tersebut.


" Issst! Butik punya Oma juga dibangga-banggakan!" geram Anisa setelah mengeja artikel tersebut lalu mengempaskan ponselnya ke kasur kembali.


"Buat apa baca artikel seperti itu! Tidak ada gunanya!" cibir Anisa, tangannya meraih bantal dan mendekap erat bantal tersebut tapi mulut Anisa masih dia monyongkan.


...****************...


Anisa masuk ke rumah mewah yang dulu pernah dia singgahi. Empat tahun berlalu tidak ada yang berubah dari rumah itu. Mata Anisa masih memutar memandang pajangan yang ada di ruang tamu.


Kali ini matanya tertuju pada sebuah pajangan foto bayi, dia sangat imut dan menggemaskan. Foto yang menampakkan Nevan dari bayi hingga terakhir foto kemarin dia ulang tahun ke-4. Foto-foto kecil yang ditata sedemikian apik membentuk circle yang estetik.


"Sudah lama?" sapa Panji hingga Anisa mengalihkan pandangannya.


"Belum lama," jawab Anisa kembali mengarahkan pandangan pada foto-foto lucu anaknya.


"Boleh aku minta satu?" pinta Anisa sambil menunjuk salah satu foto yang ada.


"Semua juga bisa," jawab Panji.


"Issst," kesal Anisa mendapat tanggapan dari Panji seperti tidak serius.


Panji terlihat tersenyum karena itu.


"Nevan belum keluar?"

__ADS_1


"Kamu tengok ke dalam," pinta Panji.


"Boleh?" Anisa memastikan.


"Kamu bundanya, kenapa tidak boleh."


Anisa tersenyum dan dengan antusias segera masuk, melewati ruang tengah masuk dan berhenti di depan kamar Nevan yang ada di lantai bawah. Anisa terdiam sejenak menatap Nevan yang masih dibujuk suster Tia untuk dipakaikan baju.


"Masuklah," ujar Panji yang ikut menghentikan langkahnya di ambang pintu.


Suster Tia langsung menolehkan pandangannya ke sumber suara.


"Non Anisa!" seru suster Tia langsung berlari dan memeluk Anisa.


Anisa membalas pelukan suster Tia, dia juga merasa kangen padanya. Walau hanya satu bulan kenal tapi dia merasa dekat dengan suster Tia.


"Bagaimana kabar Non?"


"Alhamdulillah baik, Suster bagaimana?"


"Alhamdulillah baik juga."


"Nevan tidak mau pakai baju Sus?"


"Ya Non, dia paling susah kalau disuruh pakai baju."


"Coba, aku pakaikan," pinta Anisa, suster Tia memberikan baju yang dia pegang.


Anisa melangkah ke arah Nevan, "Assalamualaikum Nevan," sapa Anisa.


"Nevan masih marah dengan Bunda ya?" lirih Anisa.


Nevan masih terdiam.


"Kita ke rumah eyang yuk, kalau sudah ke sana nanti bunda tinggal dengan Nevan," bujuk Anisa.


"Benar Bun?" tanya Nevan dengan wajah yang sumringah.


Anisa mengangguk cepat.


"Ayuk kita ke rumah eyang dan oma!" ajak Nevan sambil menarik tangan Anisa.


"Pakai dulu bajunya," cekat Anisa dan Nevan langsung menurut pinta Anisa.


"Anak pintar," puji Anisa setelah Nevan memakai bajunya.


"Kita langsung pergi," ajak Anisa menggandeng Nevan keluar menuju mobil yang ada di tempat parkir.


"Non," sapa Arlan yang akan masuk ke dalam.


"Hai Arlan," balas Anisa.


Setelah semuanya siap mobil itu melaju memasuki jalanan kota. Arlan sebagai pengemudi. Anisa, Panji, dan Nevan duduk di kursi penumpang.

__ADS_1


Lima jam mereka dalam perjalanan, baru pukul 13.30 mereka sampai di rumah Bunda Rosmawati.


"Assalamualaikum Oma," seru Nevan langsung lari memeluk Rosmawati.


"Waalaikum salam," jawab Rosmawati ciuman gemas mendarat di 2 pipi Nevan.


"Oma! Pipi Nevan basah!" protes Nevan membuat semuanya tertawa.


Rosmawati bangkit. Dia terkejut karena selain Nevan, Panji, dan Arlan ternyata ada Anisa.


"Nak Anisa," panggil Rosmawati dan langsung melangkah, meraih tubuh Anisa, mendekapnya dengan erat.


"Bagaimana kabarmu Nak?"


"Baik Bunda," jawab Anisa namun punggungnya merasa basah karena tangisan mantan mertuanya.


"Masya Allah... kamu datang dengan Panji dan Nevan, semoga ini pertanda baik," ucap Rosmawati.


Anisa nampak terkejut mendengar ucapan mantan mertua karena secara tidak langsung Rosmawati tahu suatu hal.


"Maksud Bunda? Apa...apa Bunda sudah tahu tentang perceraian aku dengan Kak Panji?" tanya Anisa tanpa basa-basi.


Rosmawati mengangguk pelan.


"Duduk dulu Nak," tawar bapak Syamsuddin.


"Bapak," sapa Anisa kemudian mencium punggung bapak Syamsuddin.


Anisa menurut duduk di kursi teras rumah sedangkan Nevan dibawa sang kakek untuk masuk dan bermain mobil-mobilan di dalam.


"Panji langsung memberi tahu Bunda soal perceraian kalian."


"Dia...juga memberitahu soal pernikahannya dengan Tiwi," lanjut Rosmawati.


"Kita ke sini meminta restu untuk rujuk Bun," ucap Anisa tanpa basa-basi karena ingin cepat rencananya berjalan lancar.


"Benar itu Panji?" antusias Rosmawati.


"Ya Bun," jawab Panji.


"Itu bagus Nak, ya Allah semoga keluarga kalian nantinya jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah."


"Amin," jawab Panji tapi Anisa hanya diam.


"Kalian akan menikah lagi kapan?" tanya Rosmawati.


"Kalau bisa besok Bun," cekat Anisa dan jawabannya sontak membuat dua pasang mata yang ada di sampingnya memandang Anisa dengan senyum.


'Ada yang salah? Kenapa mereka menatapku seperti itu?' batin Anisa, matanya menatap baju yang dipakai, melihat tangan dan meraba jilbab yang dikenakan barangkali ada yang aneh.


"Kamu sudah tidak sabar untuk menikah lagi Nis," ledek Rosmawati dengan senyum di bibirnya dan tangan menoel lengan Anisa.


Anisa baru menyadari apa yang tadi dia ucapkan mungkin bernada antusias tinggi.

__ADS_1


'Salah penafsiran deh Bunda!' gerutu batin Anisa. 'Tapi dia tidak akan salah tafsir juga kan?!' mata Anisa melirik ke arah Panji yang juga sedang tersenyum.


Besok insyaallah menyapa lagi. like Komen vote hadiah ya🤗


__ADS_2