
Anisa menatap ada lelaki yang berdiri mematung di ambang pintu lalu lelaki itu segera keluar terlebih dahulu sebelum Anisa melangkahkan kaki.
"Aneh sekali itu orang!" gumam batin Anisa melihat tingkah Panji.
...****************...
Tiwi menuntun bapaknya berjalan ke teras depan. Katanya bosan seharian ini hanya rebahan di kamar.
Seperti biasa sambil kipas-kipas mencari angin segar dan menyusun pion catur di atas papannya.
"Bapak, masih sempat-sempatnya main catur begini?" keluh Tiwi.
"Lagian aku kan tidak suka main catur Pak," protes Tiwi.
Bapak Rozak diam tidak menyahuti ucapan anaknya. Dia tetap menyusun semua pion di atas papan catur.
"Lawan tertangguh Bapak sudah kamu larang main ke sini jadi selama itu pula kamu harus menggantikannya," ucap bapak Rozak.
Tiwi hanya memanyunkan bibirnya mendengar kalimat yang terlontar dari bapanya, dia tahu maksud orang yang dibicarakan bapaknya, siapa lagi kalau bukan Panji.
"Kalau kamu sangat membenci dia dan tidak bisa memaafkan dia, mengapa kamu masih bekerja di tempatnya? Bukankah itu semakin menambah luka di hatimu?" tanya bapak Rozak dengan nada melemah.
"Kenapa hanya diam saja?" bapak Rozak ingin memastikan.
"Aku butuh uang Pak," jawab Tiwi dan spontan jawaban itu membuat bapaknya tercengang.
"Mencari pekerjaan itu tidak mudah dan belum tentu aku mendapat jabatan yang bagus dan dengan gaji yang bagus pula sedangkan kita sedang butuh-butuhnya uang Pak. Aku tidak bisa mengabaikan itu karena realitanya memang seperti itu." terang Tiwi.
Bapak Rozak kini yang diam mendengar jawaban Tiwi. Merasa bersalah karena dia tidak bisa berbuat apa-apa malah membuat susah anaknya.
"Maaf, Bapak selalu membuatmu susah," lirih bapak Rozak.
"Bapak," tangan Tiwi langsung menggenggam tangan lelaki paruh baya itu.
"Selama ini Bapak sudah berjuang untuk Tiwi, membesarkan Tiwi, menyekolahkan Tiwi, mau direpotkan Tiwi kalau sekarang Tiwi ingin membalas kebaikan Bapak sebagai sedikit tanda bakti Tiwi ke Bapak wajar dong Pak," ujar Tiwi.
Bapak Rozak tersenyum, "Terima kasih Nak," ucap bapak Rozak dengan menepuk-nepuk punggung tangan Tiwi.
Tiwi langsung menghambur memeluk bapaknya.
"Doa Bapak semoga kamu bahagia dengan apa yang kamu jalani. Bapak yakin kamu bisa melewati semua ujian ini."
Tiwi mengangguk, "Amin," jawab Tiwi dengan menyeka air mata yang sudah menetes di pipi.
"Bapak yakin sayang, kamu wanita yang kuat," ujar bapak Rozak menyemangati anaknya.
Tiwi mengangguk kemudian melepas pelukannya.
"Panji masih mencintaimu Nak."
Tiwi terkejut mendengar ucapan sang bapak. Dia langsung menetap wajah bapaknya kemudian seketika itu pula langsung dia tundukkan.
"Rebut Panji kembali!" tegas bapak Rozak.
"Bapak...," nada protes dari Tiwi tapi bapak Rozak langsung menyekat kalimat Tiwi.
"Dia laki-laki yang bisa membahagiakan mu," lanjut bapak Rozak."
__ADS_1
"Dia...dia bukan membahagiakan ku Pak tapi membuatku begitu luka," lirih Tiwi.
"Dia melakukan semua karena terpaksa dan atas nama bakti pada orang tua. Hatinya masih ada kamu Tiwi," ucap bapak Rozak meyakinkan Tiwi.
"Percayalah pada Bapak," lanjut bapak Rozak.
"Tunggu dia menyelesaikan semuanya, pasti dia akan kembali ke kamu."
Tiwi diam.
"Kamu masih mencintainya?"
Tiwi masih terdiam.
"Ikuti kata hati kamu, wanita itu yang tiba-tiba hadir dalam cinta kalian! Kamu harus memperjuangkan cinta kamu! Rebut kembali Panji!" simpul bapak Rozak.
"Skakmat Pak!" ujar Tiwi melangkahkan kudanya hingga posisinya sekarang menang pertama kali melawan bapaknya bermain catur. Namun, yang paling jelas Tiwi tidak ingin membahas masalah hubungannya dengan Panji.
...****************...
Anisa bergegas turun ke lantai bawah.
Satu pesan masuk dari sahabat membuatnya harus melangkahkan kaki keluar ruang dan berjalan ke gerbang pintu.
"Terima kasih Pak," ucap Anisa pada pengantar paket.
"Saya ambil fotonya ya Mbak," izin jasa pengantar.
Anisa mengangguk.
Anisa membalikkan tubuh, memundurkan langkah menatap ke parkiran rumah.
Apa yang dia lihat ternyata benar. Suaminya sudah pulang.
"Kak...," sapa Anisa.
Panji berjalan lurus ke depan masuk ke rumah tanpa membalas sapaan dari Anisa.
Anisa nampak cuek dengan sikap Panji yang beberapa hari ini memang terlihat dingin.
Kaki Panji melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya, Anisa masih mengekor di belakangnya. Panji menaruh tas, melepas jas, sepatu, jam tangan kemudian kakinya masuk ke toilet kamar.
"Issst! Dasar robot!" gerutu Anisa melihat sikap Panji.
Anisa kemudian duduk di sofa, segera membuka paketan yang dia terima. Senyum kemudian mengembang dari wajahnya setelah membuka bungkusan paket itu.
Dia mengambil beberapa sudut untuk memoto makanan yang terpampang di meja.
Terima kasih.
Satu pesan dia kirim ke nomor sahabatnya beserta foto makanan itu.
Kembali kasih.
Anisa membaca balasan pesannya dengan senyum kemudian membalas pesannya lagi.
Ucapan terima kasihnya ini untuk mommy ya, bukan untuk kamuðŸ¤.
__ADS_1
Ya. Terserah kamu. Semoga suka brownies coklat buatan mommy.
Balas sahabat Anisa.
Mulut Anisa terus mengunyah brownies itu hingga dia tidak sadar sudah seperempat porsi dia habiskan.
Panji muncul dari balik pintu toilet kamar. Seperti biasa, dia tampil hanya dengan handuk yang melilit di pinggang. Anisa yang menatap itu sampai susah menelan brownies yang sudah dia kunyah.
"Mau Kak?" tawar Anisa begitu Panji sudah memakai pakaian rumahan.
"Jangan terlalu banyak makan manis seperti itu!" ucap Panji tanpa menyahuti tawaran Anisa sebelumnya.
Anisa memonyongkan bibirnya. "Apa-apa serba dilarang, tidak seneng apa ya kalau melihat aku seneng," gumam batin Anisa.
"Jangan khawatirkan berat badanku Kak, aku tetap **** kok mesti memakan brownies satu pack." ucap Anisa sengaja berbicara agak berani.
"Nih, enak loh," Anisa berjalan mendekat ke arah Panji dan menawarkan brownies tepat ke mulut Panji.
Panji membuka mulutnya menerima suapan dari Anisa dengan sedikit ragu dan akhirnya pertahanannya untuk bersikap cuek ke Anisa sedikit goyah mendapati perlakuan dari Anisa.
"Enakan?" Anisa memastikan karena Panji menerima suapannya dan menelan brownies itu.
Panji hanya diam tidak menjawab tanya Anisa. Namun, Anisa meraih tangan Panji agar duduk di sofa.
"Kita habiskan bersama Kak," pinta Anisa.
Panji yang memang suka dengan kue brownies akhirnya harus luluh ikut memakan brownies itu.
Sedikit obrolan ringan menambah nikmat rasa browniesnya, ya...walaupun yang ngobrol dari awal sampai akhir tentunya Anisa. Si Panji mah hanya pendengar saja dan penikmat brownies itu.
"Tinggal satu suap aku habisin ya Kak,"
"Hmmm," dengung Panji, kali ini dia mengambil ponsel dan memainkan jemarinya di ponsel. Dia membuka aplikasi hijau, melihat beberapa status yang ada. Namun, tangan berdasarkan perintah otaknya lebih tertarik menyentuh status dengan nama kontak cabe-cabean.
pengen makan brownies 🤤
Status itu di buat tadi pagi, Panji yang sedang sibuk dengan urusan pekerjaan tidak sempat membuka ponselnya dan baru membaca status itu.
"Maafkan aku, kamu sampai pesan brownies itu sendiri, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan," batin Panji yang tentunya tidak akan dia lontarkan ke Anisa.
"Kalau kamu mau brownies lagi tinggal bilang aku, nanti aku pesankan," ucap Panji.
Anisa tersenyum mendengar tawaran dari Panji. Jujur dari lubuk hatinya terdalam ada rasa terenyuh mendengar itu tapi Anisa tidak ingin terlalu larut pada kebaikan lelaki yang ada di depannya, dia takut harapan itu nantinya akan berkahir dengan kekecewaan.
"Tidak usah repot-repot Kak, lagian brownies ini gratis kok, ini dari mommy nya Vano,"
Panji langsung lari ke toilet kamar.
Uek
uek
uek.
terdengar suara muntahan dari toilet kamar.
Malam Menyapa 🤗, like, komen, komen, komen, ya...
__ADS_1