Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 116


__ADS_3

"Dia bohong, aku tahu siapa Arlan. Kapan berkata bohong dan bagaiman ekspresi ketika dia berbohong," sahut Panji diiringi sebuah senyum.


"Wah... Mas Arlan bohong ya...," ledek Anisa.


Arlan hanya mendengus dengan ledekan Anisa sedangkan Tika hanya tersenyum tapi entah kenapa elu hatinya sakit ketika mendengar Arlan menyatakan tidak ada yang istimewa dari hubungannya.


Selesai makan mereka gegas ke rumah Nadira dan Vano.


Tika sempat shock melihat keadaan Vano bahkan air matanya menetes kala itu karena itu untuk pertama kali Tika melihat langsung keadaan Vano.


"Maaf aku baru sempat jenguk secara langsung," ucap Tika sambil menyeka air matanya.


Vano tersenyum, "ya santai saja Tik, sudah jangan nangis terus lihat dua teman kalian jadi ikut-ikutan nangis," ucap Vano.


"Tika yang memulai, aku kan kemarin sudah nangis, jadi ikut nangis lagi kan," ucap Anisa sesekali menyeka air matanya.


Nadira hanya diam tapi tangannya bergerak menyeka air mata. 'Bahkan hingga hari ini aku masih menangisi keadaan kamu Van, berapa banyak air mata yang tumpah setiap melihat keadaan kamu dan masalah yang menimpa kamu,' batin Nadira, menarik napas dalam-dalam dan perlahan dikeluarkan.


"Kita jalan yuk, keburu siang," ucap Vano berdiri dari duduknya. Ketika tangan Tika akan membantu Vano berdiri, Nadira mencegahnya.


"Dia tidak suka dibantu untuk berdiri," bisik Nadira di telinga Tika.


"Oh," sahut Tika dan Nadira membalas dengan anggukan pelan dan sebuah senyuman.


Mobil dengan 7 penumpang itu melaju dan berhenti di sebuah tempat wisata Kebun Binatang Nasional Malaysia.


Taman yang di bangun di atas tanah seluas kurang lebih 45 hektare ini menyuguhkan ribuan spesies hewan. Konsep yang ditawarkan sangat sesuai untuk orang dewasa maupun anak-anak. Beberapa fasilitas juga sangat friendly dengan penyandang disabilitas. Oleh karena itu, Panji memilih tempat ini agar Vano lebih nyaman.


Dari tempat satu ke tempat lain mereka tandangi. Banyak pengetahuan yang mereka baru tahu setelah melihat beberapa spesies hewan yang ada dalam kandang.


Mereka berjalan dengan santai agar tidak capek juga mengimbangi Vano jalan.


"Kamu capek? tanya Nadira.


"Tidak, nanti kalau aku merasa capek aku bilang kamu," ucap Vano.


"Ayah, ayah! Lihat itu, lehernya panjang sekali?" seru Nevan melihat jerapah yang sedang menikmati makan.


"Hewan apa itu Nev?"


"Jerapah," jawab Nevan dengan cepat.


"Issst! Pintar sekali ponakan Tante, gemes deh tante," ucap Tika sambil mencubit pipi Nevan.


Anisa nampak tersenyum melihat itu.


"Makanya Tik, cepat punya anak. Gemes kan kalau ada anak kecil," ucap Anisa.


"Issst! Nikah aja belum masa disuruh cepat punya anak," kilah Tika. Diikuti tawa dari yang lainnya.


"Calon kan sudah ada, tinggal resmikan saja," ledek Panji.


"Sudah ada mana Kak?" sanggah Tika.


"Ini, samping aku, mas Arlan," jawab Panji menekan kata mas Arlan.


"Jadi kalian beneran pacaran ya?" Nadira memastikan.

__ADS_1


"Gosip itu Nad," sanggah Tika.


"Fakta juga tidak apa-apa kok," sela Anisa.


"Aduh, nasib jomblo selalu dijodoh-jodohkan," ujar Arlan.


"Aku juga dijodohkan, nyatanya Allah berkehendak kita bersama kembali bahkan setelah berpisah," sahut Panji.


"Aduh... so sweet bikin para jomblo iri," sambung Nadira sambil mencubit siku Anisa.


Anisa tersenyum sipu.


Vano menatap senyum keromantisan Anisa dan Panji.


'Semoga rumah tangga kalian sakinah mawadah warahmah, aku ikut bahagia Nis kalau kamu bahagia,' batin Vano berucap.


"Sini aku foto buat kenang-kenangan," pinta Nadira.


"Kalian bertiga saja. Kamu, Mas Panji sama Nevan," ralat Nadira ketika Anisa meminta Tika berdiri di dekatnya.


"Oh, tidak bareng?"


"Nanti barengnya, kali ini spesial kalian bertiga," sahut Nadira.


"Ok!"


Tiga, empat pose diambil.


"Giliran kamu Tik," titah Nadira.


"Aku?"


"Bukan kamu sendiri, tuh dengan calon suami kamu," ujar Nadira menunjuk ke arah Arlan.


"Nad, jangan mulai deh," sungut Tika membuat lainnya tertawa.


"Kenapa harus malu-malu, cepat sana!" Panji mendorong Arlan berdiri di samping Tika.


"Jangan kaku-kaku amat!" protes Nadira.


Arlan sedikit menggeser tubuhnya ke Tika. Tiga, empat pose diambil.


Giliran Nadira, Vano yang langsung meminta foto bersama, dan tanpa pamit Nadira menggandeng lengan Vano untuk bersandar. Satu, empat pose pun diambil.


Terakhir mereka foto bersama difotokan oleh pengunjung yang kebetulan berada di lokasi.


"Ayo jalan lagi, lihat hewan yang lain," ajak Arlan.


Sesekali mereka berhenti untuk istirahat dan pukul 12.00 mereka mengakhiri petualangan di kebun binatang itu untuk makan siang dan menunggu waktu Zuhur lalu menunaikan salat.


Tepat pukul 13.30 mereka sudah masuk dalam mobil.


Tunggu Kak, aku ke toilet dulu, tiba-tiba kebelet," pamit Anisa.


"Perlu aku antar," tawar Panji.


"Tidak perlu Kak," ucap Anisa lalu segera turun dari mobil.

__ADS_1


Toilet lumayan jauh dari parkir mobil jadi Anisa berjalan cepat agar yang ada di dalam mobil tidak menunggu terlalu lama.


Ketika Anisa keluar dari kamar toilet, tiba-tiba ada seorang wanita yang menodongkan pisau di pinggang Anisa.


Anisa berbalik menyerang dan berhasil menjatuhkan pisau yang dipegang seseorang yang memakai topi dan masker itu.


Toilet yang sepi membuat orang tersebut berbuat seenaknya hingga pertarungan tidak terelak.


Beberapa kali dari keduanya jatuh bangun. Namun, kali ini pukulan keras tidak dapat ditepis Anisa hingga tendangan keras tepat mengenai perutnya. Anisa terlihat nyeringis menahan perutnya yang sakit.


"Baru permulaan!" serunya lalu orang misterius itu lari dari ruang toilet.


Sementara di mobil. Nevan selalu bertingkah lucu dan menggemaskan membuat seisi mobil tertawa karenanya.


Tring


tring


tring.


Satu panggilan masuk.


Vano mengusap gambar ponsel warna hijau dan tersambung panggilan itu.


"Assalamualaikum, ada apa Mbak?"


"Ya, ini dalam perjalanan pulang," jawab Vano mendapatkan tanya kapan dirinya pulang.


"Waalaikum salam," Vano mengakhiri sambungan telepon itu.


"Mbak Sella Van?" tanya Tika yang duduk di sampingnya.


"Ya, dia datang ke Kuala Lumpur tepat satu jam setelah kita pergi," jawab Vano.


Panji terkejut mendengar jawaban Vano. Dia langsung mengingat Anisa yang belum juga datang ke mobil.


"Aku cari Anisa dulu, dia sudah lama ke toilet. Titip Nevan," pamit Panji dan gegas mencari keberadaan Anisa, hatinya tiba-tiba merasa khawatir.


Dia menelusuri tanda panah yang mengarah ke toilet. Panji menunggu keadaan sepi karena tidak mungkin tiba-tiba masuk ke toilet wanita.


"Nis! Anisa!" panggil Panji tiap kamar diketok tapi tidak ada sahutan.


Panji semakin cemas dan gegas melangkahkan kaki keluar.


Matanya melihat ada arah toilet lainnya, Panji menelusuri mengikuti arah panah. Toilet wanita terlihat sepi.


"Tolong..."


Panji gegas masuk ke ruang toilet mendengar suara rintihan meminta tolong dan jelas suara itu tidak asing untuknya.


"Anisa!" seru Panji, tubuh Panji gemetar melihat Anisa yang tersungkur lemas sembari memegang perutnya.


"Darah?" lirih Panji mengelap darah yang mengalir ke kaki Anisa.


Anisa meringis, "Sakit Kak," keluh Anisa, wajahnya terlihat pucat pasi dan keringat dingin mengucur.


Panji segera membopong Anisa menuju mobil.

__ADS_1


Malam menyapa🤗 selamat menunaikan ibadah tarawih. jangan lupa like komen hadiah vote hadiah rate. apa yang menimpa Anisa? siapa pelaku sesungguhnya? pantengin terus ya 🥰😍


__ADS_2