
Anisa menyodorkan pesan masuk dari pegawai butik.
"Dia masih berkeliaran dan sampai saat ini aku belum bisa menangkapnya!" geram Panji.
"Apa kita lapor polisi saja Kak?"
Panji terdiam mendengar usul dari Anisa.
"Sementara biar Bowo yang menyelesaikan. Takutnya kalau sampai berita ini bocor, orang tersebut akan lebih nekat," terang Panji.
Anisa menatap kembali gambar yang dikirim pegawainya, jendela butik retak akibat laporan batu.
"Kamu telepon pegawai kamu, jangan ada yang menyebar foto tersebut!" titah Panji.
Anisa mengangguk.
Panji membagi foto itu ke nomor ponsel Bowo.
'Aku tidak akan biarkan kamu berkeliaran?' batin Panji.
Mereka segera salat dan makan siang lalu menuju butik.
...****************...
Anisa masuk menghampiri Tika. Untuk pertama kali Anisa menginjakkan kakinya di departemen store milik suaminya.
Tika terlihat terkejut bercampur bahagia dengan kedatangan Anisa.
"Kamu cantik sekali Nis," puji Tika.
Anisa tersenyum, "kamu juga cantik," balas Anisa sambil mencubit 2 pipi Tika.
"Astaghfirullah haladhim... Nisa! Sakit!" gerutu Tika, mengelus dua pipinya yang menjadi korban kejailan sahabatnya.
"Tumben ke sini, pasti... karena nanti ada Alyra," tebak Tika.
"Kamu tahu aja," bisik Anisa diikuti tawa.
"Namun, yang tak kalah penting, aku ingin lihat pasangan baru," ledek Anisa sambil menaik turunkan alisnya.
"Maksud kamu?" tanya Tika tahu maksud Anisa meledak dirinya.
"Ya Allah... pakai pura-pura segala," ujar Anisa.
"Aku ingin lihat sahabatku ini kerja dengan kekasihnya," lanjut Anisa setengah berbisik.
"Issst!" sahut Tika mencibirkan bibirnya.
"Ini ya Mbak Anisa," tanya seorang wanita yang baru masuk ke ruang kerja Tika.
Anisa mengangguk.
"Kamu_"
"Aku Nesya, adiknya Mas Arlan," cekat Nesya sambil mengulurkan tangannya.
"Anisa," jawab Anisa, membalas uluran itu.
"Jadi, kamu makcomblangnya Tika dengan... mas Arlan?"
"Kakak kok tahu?!" antusias Nesya.
"Apa yang aku tidak tahu tentang sahabat satuku ini," ujar Anisa dengan melirik ke arah Tika.
"Bagaimana? Sudah berhasil?" tanya Anisa kemudian.
Nesya menggeleng pelan, "dua-duanya punya gensi tinggi," jawab Nesya datar.
Anisa mengalihkan pandangan ke arah Tika, "benar itu Tik?"
"Kamu jangan dengarkan omongan Nesya, antara aku dan mas Arlan tidak ada hubungan apapun," sungut Tika.
"Jangan ngegosip saja, sebentar lagi Alyra datang," ucap Arlan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Siapa juga yang gosip!" sanggah Tika lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Ayo Nis, kita ke lantai dasar," ajak Tika yang sudah di ambang pintu.
"Ya tunggu...," seru Anisa setengah berlari.
"Kenapa kalian tidak ajak aku!" sungut Nesya yang sudah berjalan sejajar dengan Tika dan Anisa.
"Baru juga datang, kenapa ditinggalkan!" gerutu Arlan yang juga ikut keluar ruangan.
Anisa menatap tajam ke arah selebgram yang kemana pun dia pergi pasti ada kamera yang menyala.
Di sana sudah ada suaminya dan pegawai departemen store
yang menyambut Alyra.
"Selamat siang Nyonya Panji," sapa Alyra begitu melihat Anisa datang, langsung mencium pipi kanan kiri Anisa.
Anisa tersenyum membalas.
"Maaf kalau akhir-akhir ini kamu membaca berita yang tidak penting tentang isu hubunganku dengan Pak Panji. Mereka suka mengada-ada. Padahal kita sebatas partner kerja," terang Alyra, sesekali sambil tersenyum menyapa penggemar.
"Kamu santai saja, suamiku sudah aku ikat biar tidak pindah ke lain hati," ucap Anisa diikuti sebuah senyum dari wajah cantiknya.
Alyra membalas dengan senyum sinis merasa ucapan Anisa sebagai bentuk sindiran.
Siang ini Alyra sebagai ambassador departemen store milik Panji, menghadiri acara amal untuk kaum dhuafa. Alyra yang memiliki wajah cantik rupa juga memiliki suara yang merdu.
Acara begitu meriah apalagi banyak pemburu berita yang ikut juga datang dalam acara tersebut.
Anisa juga menjadi salah satu incaran pemburu berita.
Panji tetap duduk mengikuti acara tersebut. Namun, matanya tetap waspada melirik kiri kanan. Pandangan Panji juga terarah pada ponsel yang dia pegang. Beberapa kali dia mengintruksikan orang kepercayaannya untuk lebih waspada.
"Aku ke belakang dulu Kak," bisik Anisa di telinga Panji.
Panji mengangguk. Namun sekali lagi, matanya melirik orang kepercayaannya untuk waspada dan kali agar mengikuti Anisa.
Setelah lega membuang air seni, Anisa melangkah keluar dari toilet.
"Auw!" jerit Anisa.
Wanita itu berusaha mengusap bekas tumpahan dengan tangannya.
"Sudah Mbak, tidak apa-apa," ujar Anisa kemudian melangkah pergi.
"Maaf Mbak!" seru wanita itu melihat Anisa melangkah pergi.
Wanita itu tersenyum lalu mengambil ponselnya
Berhasil.
Satu pesan wanita itu kirim ke seseorang.
Saat wanita itu diambang pintu, dia diapit dua lelaki. Wanita itu dipaksa masuk kembali dan pintu toilet utama di kunci.
Wanita itu nampak ketakutan tapi tidak bisa berteriak karena ada pisau di pinggangnya. Salah satu lelaki mendorongnya paksa wanita tersebut hingga bersandar di dinding, lelaki itu sudah memberikan ancaman agar si wanita tidak berteriak.
"Aku tidak akan melukai kamu asal jawab tanyaku dengan jujur."
"Atas perintah siapa kamu menumpahkan minuman itu!" lanjut lelaki itu.
"Apa maksud anda!" elak wanita itu.
"Aku bisa laporkan kamu ke pihak berwajib atas tindakan yang membuat tidak nyaman seseorang!" ancam lelaki satunya.
"Aku bukan wanita bodoh! Kalau kalian lakukan itu, bukankah kamu yang akan ditangkap terlebih dahulu!" gertak wanita itu.
Salah satu lelaki sudah meraih ponsel wanita tersebut. Menarik tangan kanannya lalu menekankan jempol pada latar ponsel hingga ponsel itu terbuka.
Lelaki itu langsung membuka pesan yang masuk.
"Bodoh!" Maunya dikerjain wanita lebay itu!" celetuk salah satu lelaki lalu melepas cengkraman.
"Ini yang bisa menjerat kamu pada jeruji besi!" ancam Dua lelaki itu, lalu melangkah pergi.
Acara amal untuk kaum dhuafa sudah selesai.
__ADS_1
Alyra diminta masuk ke ruang kerja Panji. Tentu di dalam ada juga Anisa.
Alyra duduk di depan meja kerja, menatap tajam ke arah Panji.
'Andai aku jadi istri kamu, pasti aku sangat bahagia. Kamu tampan, kaya, royal, soleh, setia, dan kelihatannya kamu begitu sayang dengan istri,' batin Alyra, matanya tanpa sedikitpun berkedip menatap Panji.
"Ehem! Ehem!," sindir Anisa merasa wanita di depan Panji menatap sang suami dengan tatapan tajam dan menggoda.
Alyra tersenyum, menatap ke arah Anisa yang duduk di sampingnya lalu memandang kembali ke arah Panji.
Panji menyodorkan ponselnya ke depan Alyra.
Alyra tampak bingung lalu matanya kini menatap ke layar ponsel.
"Sudah sangat jelas. Aku hanya ingin pengakuan kamu dan minta maaf ke istriku!" ucap Panji tegas dan tanpa basa-basi.
Wajah Alyra langsung pucat, "i... ini pasti salah paham. Aku_"
"Apa perlu kuperjalas di media sosial?" cekat Panji.
"Jangan!" seru Alyra refleks dirinya langsung ketakutan.
Panji mendengus, "apa motif kamu melakukan itu?"
Alyra menundukkan pandangan.
"Katakan!" ucap Panji dengan suara tinggi dan tangan menggebrak meja kerja.
Tidak hanya Alyra, Anisa juga sangat kaget mendengar gebrakan meja itu.
"Aku... aku hanya ingin tampil lebih gemerlap dari istri kamu! Sosial media nanti pasti akan membandingkan aku dengan istri kamu! Kalau istri kamu bajunya kotor kan dia bisa langsung pergi dari acara!" terang Alyra, napasnya turun naik menahan amarah.
"Hanya itu?" selidik Panji.
"Bapak kira aku punya motif lain!?" geram Alyra.
"Nasib karir kamu ada di tanganku! Jadi kamu jangan bersikap kurang ajar! Cepat katakan!" ancam Panji.
"Aku bersumpah! Aku tidak ada motif lain," lirih Alyra dengan wajah memelas.
"Patut penggemar kamu banyak! Kamu sangat pintar berakting!" ucap Panji dengan tatapan tajam.
"Sumpah Pak," sahut Alyra.
"Minta maaf ke istriku!" titah Panji.
Alyra mendekat kearah Anisa.
"A..ku minta maaf Mbak," ujar Alyra.
Anisa menatap wajah memelas Alyra lalu Anisa menganggukkan wajahnya.
"Terima kasih Mbak," sahut Alyra.
"Kamu keluarlah!" titah Panji dan Alyra segera keluar ruangan.
"Arlan, segera kirim pemutusan kontrak ke manajemen Alyra."
"Baik Tuan," jawab Arlan lalu keluar ruangan.
"Kak, aku kan sudah memaafkan Alyra, kenapa harus mengambil tindakan seperti itu?" protes Anisa.
"Itu masih air minum, aku takut nekadnya dia bukan hanya air minum tapi air keras," terang Panji.
"Kak_"
"Aku melakukan demi kebaikan kamu," cekat Panji.
Anisa mendengus pasrah.
"Oya Kak, apa Kakak percaya apa yang diucapkan Alyra, dia tidak ada motif lain?"
malam menyapa 🤗 maaf sekali baru menyapa kalian🙏 jangan lupa like komen komen vote hadiah.
Semudah itukah Panji melepas Alyra?
__ADS_1