
Anisa tersenyum melihat foto yang ada di wallpaper ponselnya. Namun, senyum itu dia tarik dengan cepat. Berganti dengan wajah sendu dan lelehan air mata yang langsung Anisa seka.
'Maafkan bunda sayang, bunda sudah meninggalkanmu,' batin Anisa.
Mata Anisa masih menatap wallpaper ponsel bergambar bocah 3 tahun dengan pose menggemaskan, dia adalah Nevan. Bocah yang hampir 3 tahun lamanya dia tinggalkan dan karena rindu yang teramat dalam Anisa memberanikan diri meminta pada Arlan untuk mengirim foto Nevan padanya, tentunya sudah dengan perjanjian kalau Arlan tidak akan memberitahukan pada Panji. Isi pesan itu juga sebatas menanyakan kabar Nevan dan meminta foto Nevan.
"Hai! Aku bisa tebak kamu pasti ada di sini!" sergap seseorang yang kemudian duduk di depan Anisa.
Anisa hanya tersenyum mendapati lelaki itu berada di depannya.
"Kamu sudah selesai kelas?" tanya Anisa.
Lelaki itu mengangkat bahunya sebagai jawaban.
"Selesai belum?" ulang Anisa merasa jawaban lelaki di depannya ambigu.
"Sudah selesai! Langsung nyari induknya yang hilang entah kemana!" sela seorang gadis cantik berjilbab lalu ikut duduk di sebelah Anisa.
Anisa tersenyum mendengar celoteh sahabatnya.
"Dia panik! telepon kamu 50 kali tapi tidak kamu angkat!" lanjutnya.
"Terus saja Nad! Bongkar semuanya!" sahut lelaki itu.
Nadia terkekeh melihat ekspresi lelaki di depannya.
Hust....!
Seorang mahasiswa mengisyaratkan agar mereka diam karena sedang berada di perpustakaan.
Nadia segera menarik tangan Anisa agar keluar dari perpustakaan.
"Kamu pasti belum makan siang? Benerkan?" tebak Nadia.
Anisa hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya.
"Lihat! Sudah jam berapa? Satu siang belum juga makan!" celoteh Nadia, menunjukkan jam di pergelangan tangan kemudian Nadia merangkul bahu Anisa agar berjalan ke kantin kampus.
"Van, masih ada uangkan buat tlaktir kita?" ledek Nadia.
"Sekalian kantinnya aku beli juga aku mampu!" sahut Vano.
__ADS_1
"Ckck! Sombongnya!" ujar Nadia, menggelengkan kepala.
Vano tersenyum bangga.
Anisa memesan makanan Indonesia. Entah kenapa lidahnya belum juga beradaptasi dengan makanan di Malaysia walaupun cita rasa makanannya hampir mirip dengan masakan Indonesia. Padahal hampir 3 tahun dia bermukim di sana.
Setelah makanan di atas meja, mereka segera menyantap makanannya.
"Vano!" kesal Anisa karena ditengah dia menyendok makanan, mulut Vano nylonong memakan makanan yang akan dimasukkan ke mulut Anisa.
"Salah siapa pakai slow motion, tinggal masuk mulut saja nggak masuk-masuk," sanggah Vano.
Nadia hanya tersenyum melihat keintiman mereka berdua.
'Semoga kalian berjodoh. Begitu besar pengorbanan Vano ke kamu Nis dan kamu berhak bahagia,' batin Nadia.
Nadia Meisah Natasha, sahabat sejoli Anisa, Tika, dan Vano, yang lebih memilih melanjutkan study di Malaysia karena orang tuanya mengelola bisnis di negeri Jiran tersebut. Maka mau tidak mau Nadia harus rela berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Namun, hari esok tiada yang tahu. Kurang lebih setahun di negeri orang, ternyata Anisa menyusulnya. Walaupun Anisa harus melewati hal pahit hingga sampai ke negeri Jiran.
Mengapa saat itu Anisa lebih memilih ke Malaysia juga karena di sana ada Nadia. Maka ketika Panji menawarkan sekolah luar negeri tujuan pertama Anisa ke Malaysia.
Sedangkan Vano, setelah tahu Anisa pindah ke Malaysia, dia langsung memilih pindah kuliah ke sana. Niat awalnya mata kuliah yang sudah dia tempuh di Indonesia akan dia transfer ke universitas yang dia ambil di Malaysia tapi karena prosesnya lumayan ribet dan butuh waktu lama, Vano lebih memilih memulai dari semester awal.
Anisa dan Vano sewaktu SMA, tergolong siswa yang cerdas, maka tidak heran mereka langsung diterima di universitas yang mereka tuju.
Vano juga berusaha sekuat mungkin agar rasa canggung yang Anisa rasa dapat Anisa tepis.
"Aku ke Malaysia memang karena kamu Nis, tapi percayalah, selain karena kamu, aku ada ambisi ingin melanjutkan study juga mengembangkan bisnis daddy," terang Vano saat itu.
"Aku mohon kamu jangan rasa terbebani dengan rasa cintaku padamu. Aku tidak mengharap kamu juga membalas cintaku tapi bisa bersama dengan kamu, melindungi kamu, menghibur kamu saat kamu sedih itu sudah cukup bagiku," sambung Vano.
"Kamu mengerti apa yang aku maksud?" tanya Vano.
"Kalau kamu nyaman menganggap ku sebagai sahabat, maka lakukan itu" Vano memperjelas.
Anisa mengangguk. Mulai saat itulah Anisa berusaha bersikap seperti biasanya pada Vano. Tidak canggung dan menganggap Vano sebagai sahabat, sebagaimana dahulu.
"Nis, Vano, aku tinggal ya, 10 menit lagi aku harus temui dosen pembimbing," pamit Nadia dengan terburu-buru dan langsung beranjak pergi.
"Eh, Nad_" belum selesai Anisa bicara Nadia sudah lari.
Vano tersenyum melihat ekspresi wajah Anisa. Dia tahu Anisa merasa tidak nyaman kalau hanya berdua dengannya.
__ADS_1
"Santai saja aku tidak akan menerkam kamu," ledek Vano melihat kekalutan di wajah Anisa.
"Siapa juga yang mau diterkam kamu!" ketus Anisa terlihat salah tingkah dengan mengaduk es jeruk mamakai sedotan.
"Aku tahu, hari ini ulang tahun Nevan," ucap Vano memulai pembicaraan serius, matanya tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Anisa.
Anisa perlahan menghentikan tangannya yang sedang memainkan sedotan. Dia mengempaskan napas dengan kasar. Seakan juga mengempaskan segala sesak yang ada di dada. Sesak karena saat itu memutuskan pergi tanpa membawa Nevan, sesak karena hingga saat ini tidak dapat melihat langsung Nevan, dan sesak karena merasa menjadi ibu yang durhaka.
"Kamu rindu dia?" lirih Vano.
Anisa tersenyum, embun langsung melapisi pelupuk mata Anisa.
"Sangat," jawab Anisa, tangannya langsung menyeka sudut mata.
Vano masih menatap intens wanita yang duduk di depannya. Ingin rasanya meraih tubuh wanita itu masuk dalam pelukannya, menghapus jejak-jejak air matanya yang tak mampu dibulirkan hingga ke pipi, menggenggam tangannya dan membawanya lari dari kehidupan yang sekarang.
"Menangislah kalau bisa membuatmu lega," ujar Vano.
Anisa menegakkan wajahnya, menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan.
Vano tersenyum kecut, melihat Anisa yang tak sanggup meneteskan air mata. Keadaan seperti itulah dimana seorang wanita sudah sangat dalam luka yang dia rasa.
"Kamu tahu keadaan Nevan?"
Anisa mengangguk. "Aku minta Arlan untuk mengirim foto Nevan," sahut Anisa, tangannya bergerak mengambil ponsel di tas lalu mengusap ponsel itu dan menunjukkan wallpaper ponselnya ke Vano.
"Dia tampan sekali," ucap Anisa dengan antusias dan senyum yang mengembang di wajahnya.
Vano menatap foto yang ditunjukkan Anisa. Dia juga ikut tersenyum, "Matanya mirip sekali dengan kamu," sambung Vano.
"Benarkah?" tanya Anisa membalikkan ponselnya, menatap layar ponsel miliknya.
"Mungkin," sahut Anisa dengan cepat dan masih menyisakan sisa senyum manis di wajah.
"Kamu juga menanyakan kabar Panji?"
Deg.
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Vano membuat ritme jantung Anisa berhenti seketika. Senyum yang masih terlihat di wajah langsung Anisa tarik.
'Kabar kak Panji? Menanyakannya? Mana mungkin? Bahkan nama itu ingin aku kubur dalam-dalam dalam memoriku. Namun, mengapa hanya mendengar namanya jantungku terasa berhenti berdetak?' monolog batin Anisa.
__ADS_1
malam Menyapa 🤗 like komen komen vote hadiah 🙏,