
Anisa masih betah di ranjang tidur. Tidak seperti biasanya subuh hingga pagi hari dia sudah beraktifitas. Panji juga membiarkan wanitanya tidur pulas di ranjang tidur setelah beberapa hari ranjang itu ditinggal karena si pemilik berada di negeri Jiran.
Panji membenarkan anakan rambut yang menutup sebagian wajah Anisa. Dikecuplah kening sang istri dengan dalam tapi Anisa tidak juga bergeming.
"Nyenyak sekali sayang," lirih Panji lalu menarik selimut hingga menutup dada Anisa.
Panji membuka nakas, mengambil polpen dan secarik kertas lalu menuliskan pesan untuk sang istri.
Aku ke kantor sayang, kamu tidurnya terlalu nyenyak, aku tidak tega bangunin kamu. Jangan lupa obatnya diminum. I love you.
Suami kamu yang ganteng, Panji Alam Darmawan.
Panji meletakkan kertas itu di atas nakas lalu menindihnya dengan ponsel.
Tidak lama setelah kepergian Panji, Anisa terbangun karena suara rengekan Nevan.
Sementara itu, Panji yang gegas menunju tempat rahasia yang biasa dijadikan markas untuk pertemuan rahasia dengan orang kepercayaannya.
Sesampai di lokasi, Panji melihat ada Arlan, Bowo, dan beberapa orang kepercayaan yang lain.
"Bukti belum terlalu mengarah pada orang tersebut Tuan. Namun, ada cara untuk menguatkan bukti itu," lapor Bowo menjeda kalimatnya.
"Katakan dengan cara apa?" tanya Panji.
"Memancing dia keluar," jawab Bowo.
"Dengan?"
"Memasang Non Anisa agar peneror itu keluar."
Panji terdiam.
"Cara lain?" tanya Panji karena khawatir keselamatan sang istri.
"Bisa juga anaknya non Anisa."
Panji mengusap kasar wajahnya. Baik Anisa maupun Nevan adalah dua orang yang sangat penting untuk hidup Panji. Menempatkan Anisa maupun Nevan sebagai pakan mangsa bukankah hal yang sangat beresiko besar?
"Memang resikonya sangat besar Tuan tapi resiko tersebut langsung kita minimalisir karena kita tahu setidaknya jalan keluarnya. Daripada kejadian mendadak yang tanpa kita duga bukankah resikonya pasti lebih besar untuk keselamatan non Anisa?"
Lagi Panji terdiam, mencerna, mempertimbangkan apa yang dilontarkan anak buahnya.
"Kapan kita menjalankan aksi tersebut?"
"Secepatnya," jawab Bowo.
Panji mengangguk pelan.
"Aku jelaskan taktiknya," ucap Bowo segera membahas taktik yang akan mereka tempuh.
Selesai dengan urusan itu Panji gegas menuju kantor SPBU pusat sedangkan Arlan dititahkan menuju kantor departemen store.
__ADS_1
Seperti biasanya seusai Panji sampai di SPBU dia akan mengecek langsung kebersihan lingkungan SPBU dan pelayanan di bagian operator BBM.
"Tuan sudah sampai dari tadi? Nona Anisa dari tadi ada di ruangan Bapak," sapa manajer SPBU pusat ketika Panji memasuki kantor.
Panji tersenyum mengangguk sebagai jawaban dan kakinya melangkah cepat masuk ke ruang kerjanya, tangannya merogoh ponsel yang ada di dalam saku jas. Terlihat pesan masuk dari orang kepercayaannya.
'Aku tidak sempat membuka ponsel ternyata dia sudah mengabarkan Anisa datang ke SPBU,' batin Panji setelah membaca pesan masuk itu.
Panji mengedarkan pandangan dan berhenti pada titik dimana wanitanya sedang berdiri menatap sederet foto yang terpampang di dinding.
"Kak Panji," panggil Anisa ketika dirinya sadar ada gerak kaki yang mendekat ke arahnya.
Panji mendekap tubuh Anisa dari belakang lalu mencium dalam tengkuk wanitanya dengan diam tanpa menyahut sapa dari Anisa.
Anisa tersenyum mendapat perlakuan dari sang suami.
"Kenapa datang ke sini?" tanya Panji dengan lirih tanpa melepas pelukannya malah menyandarkan dagunya di pucuk kepala Anisa.
"Rindu Kakak," jawab Anisa sambil melepaskan pelukan dari sang suami dan memposisikan tubuhnya menghadap lawan bicara.
Panji tersenyum mendengar jawaban Anisa, "Istriku sekarang pandai berkata manis," sahut Panji.
Anisa menangkup rahang Panji, kakinya berjinjit lalu mengecup sekilas bib*r sang suami.
"Dan pandai menggodaku," sambung Panji langsung membalas kecupan yang lebih dalam pada sang istri. Panji melepas pungutan itu merasa yang di bawah sana terusik.
"Sayangnya, aku harus berpuasa, kalau tidak langsung berbuka di sini," lirih Panji membuat Anisa tersenyum.
"Sabar, sabar," canda Anisa sambil mengarahkan pandang yang di bawah sana.
"Tunggu pembalasan aku kalau sudah waktunya buka puasa," canda Panji sambil melangkah ke kursi kerjanya.
Anisa tertawa lalu mengekor sang suami.
"Kakak dari mana? Kok tidak langsung ke kantor?" tanya Anisa.
"Oh, ada urusan penting dengan orang," jawab Panji dan diangguki Anisa.
Tok
tok
tok.
"Masuk!" titah Panji.
Sang manajer SPBU muncul di balik pintu, berjalan melangkah ke arah meja kerja Panji dan memberikan laporan mingguan.
Panji membaca lalu membubuhi tanda tangan, "Nanti aku akan pergi, kamu yang handle barangkali ada permasalahan," pinta Panji.
"Baik Tuan," jawab sang manajer SPBU lalu keluar ruangan setelah menerima berkas yang telah ditandatangani.
__ADS_1
"Mau pergi kemana Kak?"
"SPBU cabang," jawab Panji.
"Ye ... jalan-jalan!" seru Anisa.
"Kamu tidak ke butik?"
Senyum bahagia langsung Anisa tarik mendengar ucapan suaminya, "kakak tidak suka aku temani?"
Panji tersenyum, "bukannya aku tidak suka tapi_"
"Ya sudah aku ke butik saja!" potong Anisa.
Panji bangkit dari duduknya mendekat ke arah wanita yang sudah berdiri sambil melipat tangan dengan wajah yang tertekuk kesal.
Panji langsung mendekap wanitanya dari arah belakang, "Istriku kalau ngambek seperti ini kenapa menggemaskan sekali?" rayu Panji sambil mencubit gemas dua pipi Anisa.
Anisa tetap diam.
Panji membalikkan tubuh Anisa agar menghadap ke arahnya, "aku sangat senang bahkan sangat sangat senang hari-hariku ditemani kamu sayang. Aku sadar suatu saat kita akan bertemu fase, dimana hari tanpa pasangan. Mungkin aku atau kamu dan itu hal yang pasti karena kita akan dipanggil menghadap Sang illahi Robbi."
"Kenapa Kakak malah membicarakan kematian," lirih Anisa dan matanya tiba-tiba berembun.
Tanpa menjawab, Panji menarik tubuh Anisa dan mendekapnya dalam.
"Sesekali kita saling mengingat kematian karena itu hal yang pasti. Ingat, kalau aku lebih dulu meninggalkan kamu, jangan terlalu lama menangisi kematianku," lirih Panji.
Anisa tidak menyahuti apa yang dikatakan suaminya. Namun, membenarkannya karena semua mahluk hidup akan mati dan kembali pada Sang illahi Robbi tapi kenapa hati Anisa seperti tidak rela membayangkan itu semua terjadi. Tanpa terasa air mata Anisa mengalir padahal sedari tadi dia coba membendungnya.
"Kenapa malah menangis?" ujar Panji merasakan getaran bahu Anisa.
"Siapa juga yang menangis," kilah Anisa cepat menyeka air matanya.
"Kita jalan," ajak Panji tapi tubuhnya semakin erat memeluk Anisa.
Anisa mengangguk, "lepaskan pelukannya, apa Kakak akan berjalan sambil tetap memeluk aku?" celoteh Anisa membuat barisan gigi rapi Panji terlihat dan Panji pun melepas pelukan itu, lalu dahi Anisa dinaikkan dan tangan satunya Panji bergerak menyeka sisa-sisa air mata.
"Bilangnya tidak menangis," gumam Panji, Anisa hanya tersenyum kecil.
Empat puluh menit dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di SPBU cabang. Sesampai di sana seperti biasanya Panji langsung cek kebersihan dan pelayanan operator BBM.
Anisa terlihat berdiri di samping mobil yang terparkir sambil memainkan ponsel.
Panji sesekali mencuri pandang ke arah Anisa. Entah kenapa matanya tidak bisa jauh pandang dari wanitanya itu, setelah melihat pelayanan operator BBM Panji melangkah ke arah Anisa dimana dia berdiri. Sebenarnya Panji sudah menyuruh Anisa untuk menunggu di ruang kantor tapi dia menolaknya.
Saat Panji melangkah, tiba-tiba ada orang yang mendekat ke arah Anisa. Panji merasa curiga dengan orang yang berjalan cepat dengan gerak mencurigakan. Sampai orang tersebut lebih dekat dan menunjukkan benda berkilatan yang akan dihunuskan ke Anisa.
"Anisa....!" teriak Panji berlari tubuhnya menjadi tameng wanitanya.
Darah segar mengucur.
__ADS_1
Orang kepercayaannya baru respect atas kejadian yang menimpa Tuan dan Nonanya. Mereka bergerak menangkap sang pelaku.
subuh menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate komen komen loh 🙏