Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 90


__ADS_3

"Hai Nad," Panji membalas uluran tangan itu.


"Sepertinya kita akan menggangu keluarga pengantin baru, apa lebih baik kita pergi Tik?" ujar Nadia.


"Tidak ada yang merasa terganggu, Anisa pasti sangat senang kalian di sini," cekat Panji sebelum Tika mengiyakan ucapan Nadia.


Nadia tersenyum, "Ok, kalau itu mau kalian," jawab Nadia.


"Nevan, main dengan tante yuk," ajak Tika mendekat ke arah Nevan yang sedang bermain maniken dan gulungan benang.


"Sudah jadi semua bajunya?" tanya Panji mengurai raut tegang Anisa.


Anisa mengangguk.


"Punyaku juga sudah jadi?" retoris Panji dengan memegang bajunya yang dipasang di maniken.


Lagi, Anisa mengangguk, "Kakak coba saja," Anisa berjalan mendekat ke maniken yang menampakkan baju milik Panji.


"Ini," ucap Anisa menyerahkan baju yang sudah dilepas dari maniken.


Panji menerima baju itu kemudian masuk ke ruang ganti yang ada di luar ruang kerja Anisa.


"Nis, Kak Panji mu makin cakep aja," seloroh Nadia dengan mengedip-ngedipkan mata.


"Ambil saja kalau mau,"


"Beneran tidak nyesel kalau aku ambil?" ledek Nadia.


"Ya beneran sana ambil."


"Stok yang kaya dia jarang ada loh," tekan Nadia.


"Bahkan sudah musnah, dia tinggal satu-satunya," sungut Anisa membuat Nadia dan Tika terkekeh.


"Siap-siap Nad, mungkin tidak lama lagi," sahut Tika.


Anisa melempar baju bridesmaids yang dia pegang ke arah Nadia.


Tika dan Nadia semakin terkekeh melihat ekspresi wajah Anisa.


"Sepertinya ada yang berebut sesuatu?" sela Panji, masuk tiba-tiba dengan baju pengantin yang dibuat Anisa.


"Tidak berebut hanya menunggu barangkali si dia nantinya mau," jawab Nadia diikuti senyum yang ditujukan ke Anisa.


Anisa mengerucutkan bibirnya sebagai balasan ucapan Nadia.


"Bagaimana?" tanya Panji merentangkan 2 tangannya.


Anisa mengalihkan pandangan ke Panji, kini dia terdiam terpaku, menatap lelaki yang berdiri di depannya.


Nadia tersenyum kecil melihat ekspresi Anisa, 'Dari tatapan kamu saja sudah ketahuan Nis kalau kamu punya rasa dengan Kak Panji,' batin Nadia.


"Nis, bagaimana ?" ulang Panji memastikan.


"Ba-bagus," jawab Nisa terbata dan gugup.


"Bagus orangnya atau bajunya?" ledek Nadia.


"Ya jelas bajunya," sahut Anisa.


"Jadi orangnya...,"


Anisa mencubit lengan Nadia.

__ADS_1


"Auw!" pekik Nadia.


"Sudah tuh, cek barang kali ada yang kurang dari jahitan kamu atau aku saja yang ngecek?" goda Nadia.


Anisa tidak menjawab ucap Nadia, dia langsung berjalan menghampiri Panji. Dilihatlah secara detail baju yang melekat pada tubuh Panji. Dari mulai belakang hingga depan.


"Semuanya Ok," ucap Anisa dan tangannya kini meraih kerah baju yang dikenakan Panji, karena tinggi Anisa yang hanya sebahu Panji, untuk melihat kerah yang dipakai Panji kaki Anisa harus berjinjit.


Panji menahan napas ketika Anisa berada di posisi sedekat ini, menelan saliva saja begitu susah. Sedangkan Anisa, dia belum menyadari tindakannya membuat senam jantung lelaki yang ada di depannya.


Anisa mendongakkan wajahnya dan dia sangat kaget karena Panji masih menatapnya dengan lekat.


Hampir Anisa terjatuh kalau tangan Panji tidak segera meraih punggung Anisa.


"Ehem, ehem, mengapa tenggorokan mendadak kering? Keluar beli es krim dulu ah," ucap Nadia kemudian melangkah keluar.


"Tante ikut," rengek Nevan lari mengekor Nadia mendengar es krim disebut.


"Eh, aku juga ikut!" seru Tika yang ikut mengekor Nevan.


Anisa dan Panji menatap mereka bertiga yang keluar beruntun. Namun, posisi masih sama, Anisa agak merebahkan tubuh karena hampir terjatuh dan Panji masih melekatkan tangannya di punggung Anisa karena menangkap tubuh Anisa yang hampir terjatuh.


"Lepas Kak!" teriak Anisa setelah menyadari masih dalam mode ditangkap Panji.


Panji refleks melepas tangannya dan...


Bugh.


Tubuh Anisa terjatuh ke lantai.


"Maaf," ucap Panji langsung mengulurkan tangannya.


Anisa nyeringis dan menyibak tangan Panji.


"Bajunya sudah ok, lepas saja!" titah Anisa mengurai kegugupannya.


"Lepas di sini?" goda Panji.


"Kakak!" teriak Anisa lalu mengerucutkan bibirnya.


Panji tersenyum melihat ekspresi Anisa.


"Ukuran pas sekali, padahal kamu tidak mau mengukur badan aku?" tanya Panji tanpa mengalihkan pandangan, lekat ke Anisa.


"Di bukuku masih ada catatan ukuran punya kakak," jawab Anisa tanpa memandang wajah Panji.


"Apa ukurannya masih sama?"


"Bedalah Kak Panji kan agak tirusan, tinggal aku kurangi berapa senti meter menggunakan insting perkiraan," jawab Anisa.


"Aku banyak kerjaan makanya berat badan turun, kamu juga terlihat kurusan Nis."


Anisa terdiam mulutnya seakan membisu sepasang matanya terkunci oleh tatapan Panji.


"Aku... aku juga sama banyak kerjaan," ujar Anisa.


"Kamu juga selalu mengusik pikiranku. Ingin aku lupakan tapi wajah kamu selalu mendatangiku dengan senyum manismu," jujur Panji tetap mengunci netra Anisa.


Anisa menundukkan pandangannya, "Aku susul Nevan dulu, dia lama sekali," ucap Anisa tanpa menyahuti ucapan Panji.


Panji tersenyum menatap punggung wanita yang keluar dari ruang tempat dia berdiri.


'Aku sudah berusaha mengikhlaskan kamu untuk jauh dari hidupku tapi kamu yang secara tidak langsung memintaku untuk mengikat kamu dalam hidupku. Jangan salahkan aku Nis, kalau aku nantinya tidak melepaskanmu karena aku akan berusaha agar kamu membalas cintaku,' monolog batin Panji.

__ADS_1


...****************...


Pesta pernikahan yang terbilang mewah sedang berlangsung. Mengusung konsep out door dilaksanakan malam hari dan hanya bisa berdoa agar hujan tidak turun menyertai pesta itu, walaupun hujan adalah rahmat Allah tapi semua berharap kalaupun hujan, ya turun setelah pesta berakhir.


Pesta berjalan sesuai rencana Anisa. Orang yang dikabarkan dekat dengan Panji satu persatu datang. Namun yang paling heboh saat artis Naura datang dengan tim pemburu konten. Dengan cepat konten live yang ditayangkan channel milik Naura dibanjiri komentar penonton.


Ada yang komentar agar Naura sabar, ada yang komentar Panji patut diperebutkan karena kegantengannya, ada yang komentar Anisa perebut pacar orang, ada yang komentar selamat atas pernikahan, dan komentar yang nantinya bakal disukai Anisa, mereka yang memuji baju yang dikenakan pasangan pengantin dan itu tidak hanya satu komentar tapi banyak komentar yang memuji desain baju pengantin.


Tamu heboh selanjutnya. Ustadz Mirza family. Datang bersama istri dan 2 bocah yang sangat lucu. Bocah pertama seumuran dengan Nevan satu lagi lebih muda 2 tahun.


"Kak, dia ustadz Mirza?" bisik Anisa dengan senyum girang karena sang idola datang ke pesta pernikahannya.


"Ya," jawab singkat Panji.


"Ya Allah dengan mbak Femila dan anaknya juga!?" seru Anisa.


Ustadz Mirza cs semakin mendekat ke panggung pengantin. Anisa berusaha bersikap setenang mungkin.


"Terima kasih Ustadz sudah menyempatkan datang ke sini," ucap Panji begitu ustadz Mirza mengulurkan tangannya, Panji membalas uluran itu dan merangkul tubuh sang ustadz.


"Kalau aku sampai tidak datang, sahabat macam apa aku ini," sahut ustadz Mirza.


"Mbak Femila," panggil Anisa.


"Hei Anisa, ya Allah selamat ya akhirnya menikah lagi dengan pujaan hati, semoga keluarga kalian dijadikan keluarga sakinah mawadah."


"Amin Kak. Ya Allah anaknya lucu sekali, dua-duanya anak mbak?"


"Ya lah, yang pertama ini yang seumuran dengan Nevan, namanya Uwais, yang kedua ini dua tahun usianya, namanya Mihshan," terang Femila dan menyuruh 2 anaknya untuk bersalaman dengan Anisa.


"Ya Allah lucu-lucu sekali," seloroh Anisa membalas salam dari dua bocah menggemaskan itu.


"Cepet kamu nyusul buat adek untuk Nevan. Uwais saja mau punya adek lagi," ucap Femila sambil mengelus perutnya yang sudah besar.


"Masya Allah..., selamat Mbak semoga sehat sampai lahiran nanti," ucap Anisa dengan mengelus perut Anisa.


"Om Panji," sapa Uwais kemudian tos ala mereka.


"Duh Nevan tadi minta kebelakang, nanti di cari ya biar main bareng," ucap Panji.


"Nggak Om, Uwais mau nyanyi dengan Abah," kilah Uwais.


"Wah hebat dong, mau nyanyi apa? biar om kasih hadiah nanti.


"Asmaul Husna," jawab Uwais.


"Sekalian izin nih Ji, kolaborasi ini aku aku jadikan konten," pamit ustadz Mirza.


"Ya silahkan," jawab Panji.


Ustadz Mirza cs pun akhirnya turun dari panggung pengantin dan pindah ke panggung hiburan.


Ya Allah ya Rohman ya Allah ya Rohim ya Malik ya Kudus ya Salam....


Uwais bersenandung dengan suara yang tidak kalah bagus dari ustadz Mirza.


Tamu selanjutnya yang tak kalah heboh, anak artis kondang yang dikabarkan dekat dengan Panji. Dilihat dari tatapan dan sikapnya, wanita itu lebih agresif, dia bahkan dengan berani ketika salaman dengan Anisa membisikkan kalimat.


"Kamu mencuri start dariku, aku juga bisa berbalik arah seperti kamu. Jaga Panji jangan sampai lepas!" bisik wanita cantik, bahenol nan sexy, bibirnya merekah tersenyum palsu menatap Anisa kemudian melangkah pergi.


"Apaan sih gag jelas!" gumam Anisa.


malam menyapa 🤗 like komen vote hadiah. Kalian pada datang nggak sih? Kak Mel kok nggak lihat kalian? Kak Mel lagi di bawah panggung nih, siap nyumbang lagu habis ustadz Mirza🥰😍. bales chat aku di kolom komentar 🤭🙏😍

__ADS_1


__ADS_2