Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 117


__ADS_3

Panji segera membopong Anisa menuju mobil.


Arlan langsung turun dari mobil begitu melihat Panji tergopoh membawa Anisa, lalu membuka pintu mobil untuk Anisa dan Panji masuk.


"Cepat ke rumah sakit Ar!" seru Panji.


"Ya Tuan," jawab Arlan dan mobil itu segera melaju membelah jalanan.


"Ya Allah kok bisa begini Pak," tanya Tika dengan rasa khawatir.


Vano dan Nadira juga menanyakan hal sama. Namun mulut Panji keluh untuk menjawab pertanyaan mereka. Dia hanya terus memeluk tubuh Anisa sesekali mengecup pucuk kepala atau pun tangan yang dia pegang.


"Bunda...," panggil Nevan diiringi tangisan.


"Bunda tidak apa-apa sayang, Nevan jangan nangis, sini sama tante Nadira," bujuk Nadira menyodorkan dua tangannya agar dia pindah jok dan duduk bersamanya. Namun Nevan tetap menangis dan menolaknya.


Mobil itu akhirnya sampai di rumah sakit.


"Tolong titip Nevan," ucap Panji segera berjalan cepat menuju IGD.


Dokter jaga langsung melakukan tindakan.


Panji di luar ruangan, Arlan mengurus administrasi. Sedangkan Vano dan Nadira, dan Tika menjaga Nevan.


Setelah hampir satu jam dalam ruang tindakan akhirnya dokter keluar ruangan.


"Anda suami dari nyonya Anisa?"


"Ya Dok," jawab Panji.


"Tolong ikut ke ruang kerja saya."


"Baik Dok." Panji melangkah mengekor sang dokter.


Dokter memberikan laporan medis pada Panji setelah Panji duduk di kursi.


"Maaf, nyonya Anisa mengalami pendarahan hebat dan janinnya tidak dapat diselamatkan."


Panji terdiam. Elu hatinya terasa teramat sakit.


"Istri saya hamil Dok?" tanya Panji kemudian.


"Ya, dia hamil 5 Minggu, kondisi pasien sudah tertangani dengan baik. Saya nanti akan memberikan obat agar rahimnya bersih kembali."


"Kondisi istri saya baik kan Dok?"


"Ya baik. Namun, biasanya psikologis pasien yang perlu Tuan jaga agar stabil dan ingat jangan berhubungan suami-istri terlebih dahulu."


Panji mengiyakan titah dokter setelah itu dia masuk ke ruang perawatan dimana di sana ada Anisa yang tengah berbaring.


Panji melangkah pelan, telinganya mendengar isak dari wanita yang tengah berbaring posisi membelakanginya.


Tangan Panji mengelus pelan bahu Anisa.


Anisa langsung menyeka air matanya, membalikkan dan tubuhnya.


"Maaf," lirih Anisa.

__ADS_1


Panji tersenyum, membelai pucuk kepala sang istri.


"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu sayang," balas Panji.


Posisi ranjang yang setengah naik hingga tubuh Anisa seakan duduk bukan berbaring memudahkan wanita itu menghambur memeluk tubuh suaminya.


"Kalau aku dari awal chek kehamilan, ini tidak akan terjadi Kak," ucap Anisa dengan parau.


"Husssst, kamu jangan bilang seperti itu, ini sudah kehendak Allah. Kalau sudah kehendak-Nya, yakinlah itu yang terbaik," terang Panji.


Anisa melepas pelukannya.


"Coba aku tahu sejak awal kehamilan ini, aku pasti akan lebih hati-hati. Tapi saat itu aku malah cuek dan mengira terlambat datang bulan bisa," ujar Anisa masih menyalahkan diri.


"Sayang, semua yang ada pada kita milik Allah. Itu hanya titipan, kalau pun dipanggil Allah sebelum kita sempat melihatnya di dunia ya harus kita ikhlaskan," ujar Panji menyeka air mata Anisa yang masih saja mengalir.


"Itu salahku Kak," balas Anisa.


"Aku juga salah, tidak menjagamu dengan baik," sambung Panji.


"Salahku Kak! Salahku!" seru Anisa sambil memukul-mukul dadanya.


"Nis! Anisa!" seru Panji karena Anisa seperti tidak sadar diri. Psikologisnya benar-benar terganggu.


Panji memeluk erat tubuh mungil sang istri agar jiwanya lebih tenang. Setelah dirasa tidak ada pergerakan ataupun suara tangisan, Panji baru melepaskannya.


"Minumlah sayang agar kamu lebih tenang," titah Panji menyodorkan botol berisi air mineral.


Dua, tiga tegukan masuk ke dalam perut.


"Tidurlah, aku panggil Tika agar masuk ke ruangan dan gantian aku yang jaga Nevan di luar," titah Panji.


"Nevan rewel Kak?" tanya Anisa.


Ada kelegaan di hati Panji mendengar lontar tanya dari Anisa. Itu artinya psikologisnya mulai membaik.


Panji menggeleng, "aku juga sampai lupa Nevan bersama kita karena terlalu mengkhawatirkan kamu," ujar Panji.


Anisa tersenyum meraba rahang sang suami.


Panji mendaratkan cium*n sekilas di bib*r sang istri. Anisa terlihat melebarkan senyumnya.


Panji merogoh ponsel menghubungi Arlan dan menitahkan Tika untuk masuk ruangan.


Tika melangkah pelan setelah mengetok pintu ruangan.


"Hai Nis," sapa Tika.


Nisa tersenyum .


Tika langsung menghambur memeluk tubuh Anisa. Dia dan yang lainnya sudah diberitahu mengenai akeguguran yang dialami Anisa.


"Yang kuat ya Nis," ucap Tika lalu melepas pelukannya.


"Aku keluar menemui Nevan, tolong jaga Anisa."


"Ya Pak," jawab Tika.

__ADS_1


Panji segera keluar menemui Nevan.


Vano dan Nadira masuk ke ruang rawat Anisa setelah Nevan bersama Panji.


Mereka tidak lama di dalam karena Nadira paham kondisi Vano yang tidak boleh kecapean, dia juga harus istirahat setelah setengah hari penuh dengan kegiatan di kebun binatang.


Malamnya, Panji meminta dokter memberi izin untuk rawat jalan. Panji tidak mungkin meninggalkan Nevan sendiri ataupun dititipkan ke Tika dan Arlan sedangkan mendatangkan mendadak suster Tia ke Malaysia itu tidak mungkin.


Panji belum menanyakan lebih lanjut sebab Anisa sampai keguguran. Apakah benar terjatuh atau ada kemungkinan karena ulah seseorang. Dia lebih mengutamakan kondisi kesehatan Anisa.


"Kak aku bisa jalan sendiri, tidak usah di gendong seperti ini?" protes Anisa.


Panji diam tidak menyahuti ucapan Anisa. Anisa terlihat mengerucutkan bibirnya kerena seperti biasa sang suami kalau menolak sebuah permintaan ya dengan cara diam.


Arlan terlihat membopong Nevan yang tertidur pulas dan Tika membawa tas milik Nevan dan Anisa. Berjalan mengekor masuk ke kamar Anisa.


"Terima kasih Arlan, kamu bisa kembali ke kamar kamu untuk istirahat," titah Panji.


"Ya Tuan," jawab Arlan.


"Eh, kamu juga kembali ke kamar jangan duduk saja di sini," ujar Arlan, menarik kerah baju Tika.


"Ya, iya aku jalan sendiri!" teriak Tika merasa seperti kucing hanya ditarik kerahnya saja.


Anisa tersenyum melihat kekonyolan mereka.


Panji menatap lekat ke arah Anisa.


Setelah pintu tertutup, Panji mendekat ke arah Anisa duduk di tepi ranjang sambil memegang tangan Anisa.


"Kamu tidak ingin istirahat?" tanya Panji.


"Aku sudah tidur dari siang, belum ngantuk," jawab Anisa.


"Kenapa menatapku seperti itu Kak," protes Anisa karena Panji tanpa kedip menatapnya.


Panji membalas dengan sebuah senyum.


"Kamu selalu terlihat cantik sayang," ucap Panji menarik pelan tubuh Anisa dalam pelukannya. Setalah puas memeluk sang istri. Panji kembali menatap lekat Anisa.


Anisa membalas tatapan itu, menangkup rahang sang suami tanpa persetujuan dia langsung mengecup kilas bibir sang suami.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"


"Tentang?" penasaran Anisa.


"Kejadian tadi siang di toilet," jawab Panji dia melihat seksama reaksi Anisa yang nampak terdiam, "tapi kalau kamu belum siap menceritakan semuanya, besok juga tidak apa-apa," sambung Panji.


Anisa kemudian menceritakan kronologis kejadian siang itu di toilet.


Panji gegas mengambil ponsel dan menitahkan anak buah Bowo agar mengawasi orang yang dia curigai.


'Salahnya aku juga! Kenapa malah memberi izin cuti pada anak buah Bowo yang ada di Kuala Lumpur!' batin Panji menyesali keteledoran dirinya.


"Besok aku harus menemuinya langsung," gumam Panji.


"Menemui siapa Kak?" tanya Anisa.

__ADS_1


malam menyapa 🤗 Liek komen hadiah vote rate komen komen loh🙏😘😍


__ADS_2