
Anisa langsung menampakkan ekspresi kecewa ketika Tika menanyakan itu.
"Dia tidak datang." jawab Anisa.
"Pasti Vano semakin kecewa dengan aku," lirih Anisa melanjutkan kalimatnya.
"Hidup kamu, ya kamu yang berhak menentukan arahnya. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Vano juga tahu konsekuensinya mencintai ya bisa terbalas cintanya atau tak terbalaskan. Calon pengantin harus berwajah ceria, jangan murung nanti pas di pelaminan kelihatan jelek," ujar Tika mencoba menenangkan hati Anisa.
"Tik, apa aku terlalu egois? Vano sudah terlalu baik padaku."
"Dia memang baik pada kamu, terus kamu harus membalas seperti apa agar kamu sendiri tidak beranggapan kalau kamu itu egois?"
Anisa tersenyum kecut. Apa yang dikatakan Tika ada benarnya. Dia hanya bisa membalas sebatas baiknya seorang sahabat, tidak lebih dari itu, kalaupun dipaksakan tidak akan berlabuh hatinya nanti.
"Non, ada tamu," ucap salah satu pegawai butik.
Tepatnya 10 hari yang lalu, setelah Anisa meminta izin untuk mendesain baju pengantinnya sendiri, Panji menyerahkan butik itu agar diurus Anisa kembali. Kebetulan Anisa memang butuh tempat untuk nya nanti bekerja, tawaran dari Panji pun akhirnya Anisa terima.
"Assalamualaikum cantik," sapa seorang wanita berjilbab seumuran Anisa.
Anisa langsung menjerit histeris dan memeluk wanita yang baru menyapanya.
"Ya Allah Nadia, aku seneng sekali, kamu datang ke sini!" seru Anisa.
Tika keluar karena penasaran mendengar jeritan Anisa.
"Hai...ya Allah Nadia," tak kalah histeris Tika dan langsung memeluk Nadia.
"Ayo masuk," ajak Anisa.
Mereka akhirnya terlibat perbincangan yang barang sedetikpun tidak dapat disela orang lain.
"Baru nyampe disuguhi yang enak-enak kek, eh ini malah dikasih suguhan memasang manik-manik," gerutu Nadia.
"Ya Allah sahabatku yang cantik, kece, baik hati dan berbudi. Bantu aku dengan ikhlas," Anisa menangkupkan dua tangannya sejajar dada dan mata dikerlingkan pada Nadia.
"Harus ada imbalannya," sahut Nadia.
"Ya deh, nanti aku kasih imbalan, dah cek saja belanja on line, mau ambil apa, tapi jangan yang mahal-mahal ya, saldo tabunganku nanti habis," ujar Anisa.
"Issst! Istri Bos kok bilangnya saldo habis tidak mungkin itu," celetuk Tika.
"Betul itu Tik," sahut Nadia.
"Ngomong-ngomong istri bos dikasih berapa M untuk jajan?" ledek Nadia sambil mencubit gemas lengan Anisa.
"Apaan sih Nad, makanya kalian cepet nikah biar ada yang kasih jatah bulanan," ujar Anisa.
"Sombongnya... mentang-mentang sudah nikah,"
Anisa terkekeh karena ledekan 2 sahabatnya.
__ADS_1
"Serius aku nanya Nis, berapa?" lirih Tika.
"Mau tahu?" tanya Anisa tangannya digerakkan agar dua sahabatnya mendekat ke arahnya.
Nadia dan Tika mendekatkan kepalanya ke arah Anisa.
"Mau tahu?" tanya Anisa sekali lagi dan dua sahabatnya mengangguk kembali.
"Ada deh...," jawab Anisa dengan mengembalikan posisi duduknya yang tegak.
Tika dan Nadia langsung menimpuk lengan Anisa karena merasa dikerjai.
Anisa terkekeh sambil menutup 2 bahunya dengan tangan agar tidak terkena tabokan langsung 2 sahabatnya.
'Akhirnya Nis, aku melihat tawa kamu yang sesungguhnya. Bukan wanita yang tanpa ekspresi seperti yang sering kamu tunjukkan sewaktu di KL,' batin Nadia dan mulutnya tetap menggariskan sebuah senyuman.
"Kamu bahagia Nis?" lontar Nadia.
Suasana yang tadinya penuh tawa kini tiba-tiba sunyi ketika Nadia melontarkan tanya tersebut.
Anisa sontak mengatupkan tawanya.
"Mengapa bertanya seperti itu?" lirih Anisa.
"Ya jelas bahagialah Nad, orang dia menikah dengan sang pujaan hati," ledek Tika.
"Pujaan hati, makan tu hati!" sahut Anisa.
"Apa hanya dengan Nevan?"
"Ya iyalah dengan siapa lagi?" elak Anisa.
"Kamu percaya Tik, bahagia bertemu dengan Nevan? Hanya dengan Nevan?" Nadia melontarkan tanya pada Tika dan menekankan kalimat 'hanya dengan Nevan'
"Kalau aku percaya, berarti mata aku buta," jawab Tika diikuti tawanya dan Nadia.
"Nggak asik kalian bahas apa!" sungut Anisa.
"Justru ini sangat asik bagi kita, karena kita penasaran ingin dengar langsung dari sang Anisa," ujar Nadia.
"Issst! Kalian kan tahu aku menikahinya hanya untuk mengambil Nevan!" ketus Anisa.
"Dosa Anisa, dan kamu juga pasti sudah tahu itu dosa. Menikah itu hal yang sangat sakral, dan disaksikan langsung oleh Sang Pencipta Alam," ucap Nadia dengan pelan.
"Maaf Nis, bukan maksud menggurui tapi hanya mengingatkan," lanjut Nadia.
Anisa terdiam. Matanya kini berselimut embun, sekali kedip saja embun itu akan menetes membasahi kedua pipinya.
"Aku memang wanita pendosa," lirih Anisa. Tangan kanannya segera menyeka dua matanya.
"Membuat Nevan dengan jalan dosa dan sekarang mengambil Nevan juga dengan jalan dosa," lanjut Anisa dengan suara parau karena air mata yang sedari dia tahan di pelupuk mata mengalir deras ke pipi.
__ADS_1
"Semua belum terlambat Nis, selagi manusia masih diberi napas, Allah akan membuka pintu taubat selebar-lebarnya. Al Ghofur...Dia Maha Pemaaf," Nadia menepuk bahu Anisa pelan.
Anisa menggelengkan kepalanya, "Aku tetap akan mengambil Nevan," lirih Anisa.
Nadia tersenyum menanggapi jawaban Anisa.
"Hari ini, mungkin kamu masih bersikekeh seperti itu, semoga esok kamu rubah niat kamu," sahut Nadia.
Anisa terdiam. Tika mencoba menenangkan sahabatnya meraih tubuh Anisa dari samping.
"Aku melihat wajah kamu lebih fresh, lebih bersinar, lebih ceria dibanding di KL, aku yakin. Kak Panji juga ikut andil membuatmu seperti ini dan aku yakin dia orang yang baik," simpul Nadia.
"Udah nih, mana lagi yang akan dipasang manik-manik?" tanya Nadia mengalihkan pembicaraan setelah melontarkan sederet saran untuk Anisa.
"Nangisnya sudah," ujar Tika mengambil tisu yang ada di hadapan Anisa.
"Di kerah baju Bridesmaids Nad, biar terlihat semakin mewah," sahut Anisa menetralkan rasa .
"Ok Bu bos!" celetuk Nadia dengan mengacungkan jempol.
"Warnanya tidak ini saja Nis?" saran Nadia.
"Jangan, warna baju kan sudah kalem, jadi pilih manik yang agak terang," jawab Anisa sambil menyodorkan manik yang dia maksud.
"Sudah jam 4 lebih 15 menit nih, salat dulu yuk," ajak Tika.
"Yuk, salat, salat...," ujar Nadia beranjak dari duduk dan menaruh manik jarum jahit ke tempatnya.
Mereka langsung pergi ke tempat wudu dan menunaikan salat di musala butik.
Sekitar dua puluh menit mereka kembali ke ruang kerja Anisa. Di ruang itu sudah ada bocah kecil lucu sedang bermain manekin dan gulungan benang.
"Bunda....!" seru Nevan berlari memeluk Anisa.
"Hai sayang, kok kesini?" tanya Anisa duduk jongkok menyejajarkan tubuh dengan Nevan.
"Dia nanyain kamu terus," jawab laki-laki yang dipastikan datang bersama Nevan.
Anisa tersenyum mendengar ucapan Panji. Tangan Anisa langsung mengelus pucuk kepala Nevan dan mencium gemas dua pipi anaknya.
"Ayah yang ngajak Nevan ke sini," jawab Nevan dengan polos.
Panji menjadi salah tingkah dengan ucapan Nevan. Sedangkan Tika dan Nadia malah tersenyum-senyum karenanya.
'Kenapa harus jujur begitu Nevan,' monolog batin Panji.
"Kalaupun Ayahnya yang ngajak ke sini tidak apa juga kan? Kenapa wajah kamu langsung memerah Nis?" ledek Nadia.
"Hai Kak, aku Nadia sahabat Anisa di Indo juga saat di KL," lanjut Nadia mencoba mengakrabkan diri dengan suami sahabatnya, Nadia menyodorkan tangan.
"Hai Nad," Panji membalas uluran tangan itu.
__ADS_1
malam menyapa 🤗 like Komen vote hadiah, siapa yang sudah kangen Panji dan Anisa?ðŸ¤