Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 110


__ADS_3

'Atau... orang di masa lalu Anisa?' batin Panji masih menerka.


"Bos, kami pergi dulu," pamit Bowo dan diangguki oleh Panji.


Panji memejamkan matanya tangannya bergerak memijit dua pelipis, dan otaknya menelisik setiap kejadian yang menimpa Anisa.


"Apa ini karena sakit hati?" gumam Panji sendiri.


"Aku akan tanyakan lebih lanjut ke Anisa," lanjut Panji langsung mengambil kunci mobil dan segera pergi dari markas rahasianya.


Sebelum masuk ke mobil Panji sempat membuka ponsel karena ada pesan masuk.


Jangan lupa nanti malam jadwal kajian Islam di ustadz Mirza.


"Astaghfirullah haladhim, aku sampai lupa. Sudah hampir satu bulan aku absen," ucap Panji sendiri setelah membaca pesan dari Arlan.


Malam hari pun tiba.


Panji sudah bersiap dengan pakaian Koko dan celana panjang, tidak lupa peci hitam yang telah melekat di kepalanya.


Anisa sesekali melirik ke arah Panji.


"Kenapa Nis?" tanya Panji melihat Anisa bertingkah aneh.


Anisa menggeleng cepat.


'Kamu terlihat tampan Mas,' batin Anisa.


"Bener Kak tidak ada jamaah perempuan?" Anisa memastikan.


"Iya, kalau malam Minggu khusus jamaah laki-laki," jawab Panji.


Anisa terlihat mengerucutkan bibirnya, "pengen temu ustadz Mirza," lirih Anisa sambil menundukkan kepalanya.


Panji menatap heran ke arah Anisa.


"Oh... kamu kan ngefans dia ya," simpul Panji.


Anisa menengadahkan kepalanya lalu mengangguk dengan cepat.


"Setelah kajian selesai, aku izin sama beliau besok mau bertandang ke rumahnya," sahut Panji.


"Bener Kak?" antusias Anisa.


Panji mengangguk pelan.


"Ah! Terima kasih Kak!" seru Anisa dengan senyum bahagia.


Cup.


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Panji.


Panji tersenyum mendapat hadiah dadakan dari sang istri lalu Panji menyodorkan pipi kirinya.


Cup


cup


cup.


Tidak hanya pipi kiri yang mendapat kecupan tapi dahi dan terakhir bibirnya mendapat sentuhan benda kenyal milik Anisa.


Panji semakin melebarkan senyum.


"Kamu membuatku ingin membatalkan ke tempat kajian," bisik Panji.


Anisa tersipu malu.


"Sudah ah Kakak cepat berangkat," ucap Anisa sambil mendorong pelan tubuh Panji agar berjalan keluar kamar.


"Nanti kita lanjut sepulang kajian," ucap Panji mengedipkan mata kanannya.


'Itu yang aku inginkan,' batin Anisa sambil menampakkan sebuah senyum.

__ADS_1


'Issst! Aku kenapa sih! Ngebet banget jadi wanita! Please deh! Walaupun aku sudah sah menjadi istrinya! Jual mahal dikit dong Nis!' seru batin Anisa menggerutui dirinya sendiri.


Anisa mengantar Panji hingga pintu luar.


Waktu terus berjalan. Anisa yang sedari tadi bolak balik gelisah karena menanti kepulangan suami, kini sengaja tidur di sofa.


"Kalau aku ketiduran kan dibangunkan sama Kak Panji," gumam Anisa dengan senyum merekah di bibirnya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sudah beberapa kali Anisa menguap dan menahan agar matanya tidak terpejam. Namun, karena kantuk yang berat, mata Anisa lamat-lamat terpejam sempurna.


Bahkan karena pulasnya, sampai tubuhnya berpindah dari sofa ke ranjang tidur pun tidak dapat dia rasa.


Sampai subuh menyapa, Anisa masih terlihat pulas. Bahkan semalam Panji mencoba menjahilinya pun Anisa tidak bergeming.


"Sayang, kamu tidur apa sih? Ngebo sekali," gumam Panji.


"Tidak biasanya kamu seperti ini pulasnya tidur tidur sampai aku tidak tega membangunkan kamu untuk tahajud," gumam Panji.


"Nisa..., Nis...," panggil Panji menepuk pelan bahu sang istri.


"Hmmm," dengung Anisa dan hanya menggeliatkan tubuhnya tanpa membuka mata.


"Sudah subuh Nis, kamu tidak bangun? Waktu subuhnya nanti keburu habis," ujar Panji.


"Hah! Subuh?!" Anisa terperanjat.


Menatap Panji dan segera berlari ke toilet kamar.


"Jangan lari Nis!" seru Panji.


"Kebiasaan, sukanya lari," keluh Panji.


"Langsung terperanjat sampai lupa baca doa, kamu mimpiin apa sih?" gumam Panji sambil tersenyum.


Lima menit Anisa keluar dari toilet kamar.


Matanya menatap ke arah Panji yang berjalan ke nakas meletakkan kitab Al Qur'an.


"Sudah salat Kak?" retoris Anisa setelah memakai mukena dan menggelar sajadahnya.


Anisa akhirnya salat sendiri.


Selesai salat Anisa membuka Al Qur'an dan membaca beberapa ayat.


Mata Anisa kini tertuju pada Panji yang sudah memakai kaos dan celana olah raga.


"Kita joging," ajak Panji melihat Anisa menatap ke arahnya dengan tajam.


Anisa diam.


'Semalam tidak membangunkan ku ketika pulang! dan sepagi ini malah mengajak joging! Tunggu saja aku akan buat kejutan untuk kamu!' monolog batin Anisa.


"Mau tidak temani aku?" tawar Panji sekali lagi.


"Aku bebersih dulu," sahut Anisa, tadi memang dia tidak sempat bebersih diri karena takut tertinggal waktu subuh.


Panji mengangguk, "aku tunggu," ucapnya.


Anisa gegas masuk toilet kamar. Setelah sepuluh menit, dia keluar dengan rambut basah tergerai dan masih memakai handuk kimono.


Anisa berjalan sedikit dilenggokan menuju lemari rias.


Memberi sentuhan make up tipis pada wajah lalu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


"Biar aku bantu," seloroh Panji mengambil hairdryer dari tangan Anisa.


'Yes! terperangkap dalam jebakan,' seru batin Anisa.


Setelah selesai Anisa mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Maaf, mengenai Kakak?" retoris Anisa padahal jelas itu kesengajaan darinya.


Panji tersenyum lalu menarik tubuh Anisa, "sepertinya kamu sengaja melakukan itu," bisik Panji.

__ADS_1


Anisa menelan salivanya dengan susah, Panji benar-benar masuk dalam perangkap tapi kenapa hati Anisa malah menjadi tidak karuan.


'Nis! Please! Dia suami sah kamu! Mengapa sampai sekarang kamu masih deg-degan kalau ditatap lekat olehnya? Lagian kamu sendiri kan yang sengaja melakukan ini?' batin Anisa.


Cup.


Satu kecupan mendarat di bib*r Anisa.


Anisa lagi, menelan salivanya dengan susah. Panji terlihat tersenyum menatap ekspresi Anisa dan kali ini kecupan kedua tidak hanya sekilas tapi lebih diperdalam hingga kegiatan olah raga paginya berpindah tempat.


"Issst! Kenapa lagi-lagi aku yang terkesan memintanya terlebih dahulu?" gerutu Anisa setelah melakukan olah raga yang menghasilkan peluh dan nikm*t di antara keduanya.


Panji tersenyum, mengecup pucuk kepala Anisa dan menarik tubuh Anisa ke dalam pelukannya.


"Tadi malam aku sudah ingin melakukannya tapi aku tidak tega melihat kamu begitu nyenyak kala tidur sayang," ujar Panji.


"Kalaupun kamu memintanya terlebih dahulu, apa salahnya?" lanjut Panji dengan tatapan dan senyum yang melelehkan.


Anisa tanpa basa-basi langsung menyerang bib*r yang merekah itu.


"Kita ulang kembali," bisik Panji.


(Haduh malem-malem kak Mel 🥱🥱🥱🤭 kasihan yang paksunya jauh🤣🤣)


...****************...


Arlan terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Nesya masih duduk di depan meja kerja sang kakak.


"Cepetan dong Mas, itu berkasnya dibaca," sungut Nesya.


"Bentar ini nanggung," jawab Arlan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop dan keyboard.


Nesya mencibirkan bibirnya.


"Mas! Apa Mas akan menerima perjodohan itu?" tanya Nesya mengalihkan pembicaraan dengan muka masam.


Arlan mengehentikan tangannya yang bergerak di atas keyboard.


"Mas! Kenapa pura-pura tidak mendengarku?!" protes Nesya masih dengan bibir yang mengerucut.


"Aku belum ada pasangan, jadi apa salahnya aku menerima tawaran ibu," jawab Arlan.


"Enteng sekali Mas bilang tidak ada pasangan!" gerutu Nesya.


Arlan tersenyum, "bukankah aku memang belum punya pasangan?" retoris Arlan.


"Mbak Tika! Mas anggap dia apa?!" kesal Nesya.


Arlan terdiam, pandangannya kini menuju berkas yang disodorkan adiknya, membukanya, membacanya, membubuhi tanda tangan lalu menyerahkan pada Nesya.


Pertanyaan Nesya seakan menguap begitu saja tanpa sebuah jawaban.


"Bukankah di antara kita hanya hubungan atasan dan bawahan," jawab Arlan setelah sekian lama menggantungkan jawaban.


"Aku tidak mungkin menolak wanita pilihan ibu," lanjut Arlan.


Nesya semakin mengerucut bibirnya.


"Selalu seperti itu!" gerutu Nesya. Tubuhnya mendorong kursi yang dia duduki lalu mengangkat pantatnya dan keluar dari ruangan.


Nesya masuk ke ruang kerja yang tanpa sekat dengan Tika. Dia segera duduk di kursi kerjanya. Menatap ke arah Tika dengan iba.


'Aku kan sudah klik dengan Mbak Tika, kenapa mas Arlan belum juga buka hatinya?' batin Nesya.


'Apa hatinya sudah benar-benar mati untuk mencintai seorang wanita? Hah! Lelaki semacam itu apakah sulit membuka hati setelah tragedi kelam dalam hidupnya? Bener-bener Mas Arlan menyebalkan?' lanjut monolog batin Nesya.


"Kenapa Nes? Kamu kelihatan suntuk?" tanya Tika dan sontak membuyarkan lamunan Nesya.


Nesya tersenyum kecil, menggelengkan kepala.


'Aku harus cari cara agar mbak Tika dan mas Arlan bersatu sebelum mas Arlan menemui wanita yang akan dijodohkan dengannya!' seru batin Nesya.


'Tapi bagaimana caranya ya?' batin Nesya bertanya.

__ADS_1


malam menyapa 🤗 jangan lupa like komen hadiah vote rate juga ya ingat rate😍🥰😘


__ADS_2