Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Extra Bab 1


__ADS_3

"Ayo dong Nesya please bantu Mas," bujuk Arlan.


"Kalau yang itu aku tidak bisa bantu Mas, harus mas sendiri yang berjuang," sahut Nesya.


"Tega banget sama Mas sendiri. Dulu aja bela-belain jadi comblang. Eh sekarang malah ogah bantu Masnya buang dalam kesulitan."


"Lagian itu salah Mas juga, kenapa aku yang dilibatkan dalam permasalahan kalian?" sanggah Nesya.


Arlan mengusap rambutnya merasa frustasi.


"Kamu tahu sendiri, bocah tengil itu sangat licik. Dia sengaja main sosor di depan Tika."


"Maka dari itu tugas Mas sekarang jelasin ke mbak Tika kalau itu bukan keinginan Mas."


"Sudah aku jelaskan ke Tika tapi dia masih saja ngambek, marah, bahkan mendiamkan aku."


"Tugas Mas sekarang bukan hanya menjelaskan tapi juga memikirkan bagaimana penjelasan itu agar diterima."


"Itu sejak awal aku pikirkan," sahut Arlan.


"Maksud aku, kasih penjelasan tapi dengan cara yang tidak biasa!" greget Nesya.


"Bagiamana caranya?" bingung Arlan.


"Pikir sendiri!" seru Nesya lalu melangkah keluar dari ruang kerja Arlan.


Arlan memijat pelipisnya, otaknya berputar memikirkan apa yang harus dilakukan agar dapat maaf dari kekasihnya.


Tok

__ADS_1


tok


tok.


"Masuk!" seru Arlan, matanya masih terpejam sambil memijat pelipisnya.


Dua jari tiba-tiba mendarat di dua pelipis Arlan.


"Enak Nes, tumben sekali kamu mau mijitin Mas," ujar Arlan masih enggan membuka matanya.


"Oh... tidak bisa pilih tempat lain untuk pacaran?! Hah!"


Arlan langsung membelalakkan matanya mendengar suara yang sangat tidak asing baginya.


"Tika," lirih Arlan.


"Gea," sebut Arlan dengan tatapan tidak percaya.


Gea tersenyum manis mendengar namanya disebut.


"Kamu ngapain di sini?!" bentak Arlan.


"Suruh ibu antar kue buat Om," jawab Gea sambil menunjuk paper bag yang ditaruh di atas meja.


Tika langsung melangkah pergi karena hatinya semakin sakit menyaksikan itu semua.


"Tika!" panggil Arlan, berjalan setengah berlari mengejar Tika.


Tangan Tika dapat diraih Arlan tapi dengan kuat Tika mengempaskan genggaman itu. Dengan cepat pula Arlan menarik tangan satu dalam genggamannya.

__ADS_1


"Dengarkan aku_"


"Apa yang perlu aku dengarkan dari kamu?! Tentang kemesraan kalian yang jelas aku lihat dengan mata kepalaku sendiri?!" geram Tika memotong ucapan Arlan.


"Aku... aku hanya ingin kamu menyisahkan sedikit rasa percaya padaku," ujar Arlan lalu perlahan melepas genggamannya.


"Aku tidak mungkin menjelaskan semuanya sekarang karena kamu masih emosi," lanjut Arlan.


Tika terdiam lalu kakinya kembali melangkah meninggalkan Arlan.


Arlan kembali masuk ke ruang kerja. Matanya kini menatap gadis yang duduk santai di kursi depan meja kerjanya.


"Sekarang kamu pulanglah! Sebelum masalahku dengan kekasihku semakin runyam," pinta Arlan.


"Kenapa malah menyalahkan aku, bukannya berterima kasih karena sudah aku pijit," sanggah Gea dengan santai.


"Aku tahunya kamu itu Nesya," sahut Arlan.


"Terserah Om deh, yang penting aku sudah menjalankan perintah dari ibu."Oya, jangan lupa, makannya sambil divideo," lanjut Gea lalu pantatnya dia angkat dan segera melangkah pergi dari ruangan.


"Apa-apaan!" kesal Arlan melempar paper bag yang ada di atas meja.


"Om, aku tadi lupa tidak bawa dompet," seru Gea masuk kembali ke ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kenapa paper bagnya dibawah," ucap Gea mengambil paper bag isi kue dan ditaruh di atas meja.


"Jangan sampai dibuang ya, dosa mubazirin makanan. Kalau tidak mau mending kasihkan ke orang," lanjut Gea dengan wajah cemberut.


"Mana uangnya!" seru Gea tangannya menengadah.

__ADS_1


__ADS_2