
"Sudah satu jam kita menunggunya! Kenyataan dia tidak datang juga! Dia juga tidak membalas chat kamu!" sanggah Tika.
"Yuk jalan," ajak Tika.
Anisa terlihat pasrah karena dia juga merasa lelah, menunggu untuk masuk perawatan ditambah pulangnya juga harus menunggu jemputan padahal waktu sudah semakin sore.
"Aku ke toilet dulu," pamit Anisa kemudian segera melangkah ke toilet yang ada di klinik itu.
"Anisa mau kemana?" tanya Vano. Dia merasa baru sampai tapi malah ditinggal Anisa.
"Tapi dia tidak marah karena aku yang datang jemput kesini kan?" cecar Vano.
Tika mengangkat dua bahunya.
"Sejak kapan kamu jadi membisu seperti ini?" heran Vano mendapati tingkah sahabatnya.
Tika terkekeh mendengar ucapan Vano.
"Sepertinya sih tidak. Cuma tadi ketika dia melihat yang datang ternyata kamu sepertinya dia kecewa," ucap Tika.
Vano mengempaskan napasnya kasar. "Artinya dia mengharapkan yang datang si lelaki kupret itu!" kesal Vano.
"Dia saingan terberat kamu!" ledek Tika.
"Sebulan ini hubungan aku dengan Anisa ada kemajuan, jadi aku semakin yakin untuk mendapatkan Anisa."
"Kemajuan apaan! Kamu bertemu dengan Anisa kan juga ada aku di situ! Mana bisa itu dibilang kemajuan!" protes Tika.
"Setidaknya kita kan ada komunikasi, itu aku masukkan dalam list kemajuan hubungan."
"Terserah kamu Van! Jelas-jelas ada yang bisa kasih cinta kamu lebih tapi kamu lebih memilih yang tidak pasti," gumam Tika namun masih samar didengar Vano.
"Maksudnya itu kamu?"
Lagi Tika mengangkat dua bahunya.
"Kalau kamu lain hal, sampai kapanpun aku tetap menganggap mu the best friend!" seru Vano.
"Berarti sama, sampai kapanpun Anisa tetap menganggap mu the best friend," ledek Tika.
"Apa kita dua manusia yang tidak tahu malu ya?" retoris Tika pada Vano.
Vano hanya tersenyum menanggapinya.
"Aku akan merelakan Anisa kalau si kupret panci itu benar-benar bisa mencintai Anisa tapi kamu dapat lihat sendiri kupret itu punya kekasih!"
"Panji pakai J bukan C pakai ganti nama orang! Yang punya nama denger bisa ngamuk dia!" ujar Tika diikuti tawa.
Vano hanya mencibirkan bibirnya. "Untung tidak aku tambahi jadi 'pantat panci'," sahut Vano
"Kalian membicarakan apa?" penasaran Anisa dan sontak mengagetkan Tika hingga dia langsung membekap mulutnya agar tidak tertawa lepas sedangkan Vano merasa biasa saja.
"Bukan siapa-siapa," jawab Tika dengan mengulas senyum.
__ADS_1
"Buruan jalan," ajak Anisa namun tiba-tiba kakinya tersandung batu hingga nyaris tubuhnya terjatuh kalau tidak ada tangan cekatan yang menangkap tubuhnya.
"Dari jaman SMA sampai sekarang kamu selalu saja bertindak ceroboh!" greget Vano dengan menatap tajam ke Anisa.
Anisa hanya nyengir mendengar protes sahabatnya.
Tiba-tiba ada tangan kekar mengambil alih memapah tubuh Anisa.
"Terima kasih sudah menolong istri ku!" ucap lelaki itu.
Anisa nampak terkejut dan belum percaya lelaki dihadapannya kini memapahnya berdiri tegak, otaknya sampai tidak berfungsi untuk menolak apa yang dilakukan laki-laki itu. Tangan lelaki itu tetap bergelayut di bahu Anisa bahkan terkesan merangkulb
"Bocah tengil! Sekali lagi kamu mencuri kesempatan dekati Anisa awas!" ancam Panji.
Vano tersenyum menanggapi ancaman Panji, "Makanya Om harus jaga istri Om dengan hati-hati. Banyak yang mengharapkannya!" balas Vano tidak kalah sengit.
Panji menarik satu sudut bibirnya kemudian membalikkan tubuhnya dan tubuh Anisa agar berjalan meninggalkan Vano dan Tika.
"Tunggu sebentar Kak, aku belum pamit dan terima kasih sama mereka!" pinta Anisa.
"Tidak usah!"
"Issst!" kesal Anisa dengan melepas paksa rangkulan Panji. Anisa kemudian menoleh ke belakang.
"Aku pulang duluan ya, assalamualaikum, terima kasih!" teriak Anisa.
"Hati-hati Nisa! Waalaikum salam," jawab Tika dengan teriak pula karena Anisa yang semakin jauh dari posisi dia berdiri.
"Mengapa wajahnya begitu menyeramkan?" gumam batin Anisa melihat Panji hanya terdiam tanpa sepatah katapun. Bahkan hingga mobil terparkir di parkiran rumah mulut itu masih terkunci tanpa suara.
"Auw!" teriak Anisa ketika kakinya akan dia langkahkan ke anak tangga.
Panji langsung turun dari anak tangga yang sudah dia naiki.
"Kaki kamu sakit?" cemas Anisa.
Anisa mengangguk, nyengir menahan sedikit rasa nyeri.
Panji langsung menggendong Anisa ala bridal style. Masuk ke kamar Anisa dudukkan di sofa kamar.
"Kamu jangan gerak! Aku ambilkan air hangat dan salep," seru Panji melangkah keluar kamar.
Anisa membekam mulutnya menahan tawa. "Syukurin aku kerjain!" ujar Anisa.
"Aku salat Magrib dulu ah," lanjutnya setelah melihat jam dinding di kamar.
Panji tergopoh masuk ke kamar membawa kain kompresan, air hangat, dan salep. Panji memelankan langkah ketika melihat gadis ingusan yang dia khawatirkan sedang salat.
Setelah dua salam mengakhiri salat, Anisa kemudian melanjutkan dengan membaca doa dan membaca Al Qur'an.
Panji masih terdiam menyaksikan Anisa dengan seksama. Ada getar yang semakin membuatnya terdiam. Wajah bersihnya ketika memakai mukena, suara ademnya ketika melantunkan ayat suci Al Quran. Sungguh sedikit menyentuh kalbu yang selama ini haus akan siraman rohani.
Anisa melepas mukena dan mengganti dengan kerudung. Kemudian menatap lelaki yang masih duduk mematung di sofa kamar.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Kak. Yuk kita makan. Sudah lapar nih," ajak Anisa dengan mengelus perutnya.
Panji menatap tajam gadis yang berjalan dengan normal melangkah akan ke pintu kamar.
"Anisa!" panggil Panji.
Anisa menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Panji yang sedang menggerakkan matanya dari memandang ke dirinya kemudian menggerakkan ke samping tempat duduknya. Isyarat agar Anisa duduk di sampingnya.
Anisa tersenyum nyengir. Ada rasa ngeri melihat sikap lelaki itu.
"Bakal kena tampol tuh orang nih," batin Anisa merasa seram membayangkan apa yang akan menimpanya.
Anisa duduk perlahan dengan menundukkan kepalanya.
"Angkat kepala kamu!" titah Panji.
Anisa menggelengkan kepalanya.
"Aku bilang angkat!" titahnya sekali lagi dengan menekan kalimat.
Dengan ragu Anisa mengangkat kepala.
Pletak.
Satu sentilan mendarat di dahi Anisa.
"Auw!" teriak Anisa dengan mengelus dahinya.
"Sakit Kak!" gerutu Anisa.
"Itu akibat sudah bohongi aku! Ingat hukuman karena bertemu dengan lelaki itu juga akan kuberikan!"
"Maksud Kakak! Bertemu dengan Vano?! Tadinya aku cuma dengan Tika tapi karena Kakak telat jemput akhirnya tanpa sepengetahuan aku Tika meminta Vano menjemput!" ucap Anisa membela diri.
Panji menahan senyum mendengar penjelasan Anisa walaupun senyum itu sangat singkat bahkan nyaris tak terlihat oleh lawan bicaranya.
"Aku tidak peduli alasan itu!" ujar Panji kemudian.
"Issst! Aku tahu! Ini hanya pengalihan isu agar Kakak tidak disalahkan aku atas keterlambatan Kakak!" sewot Anisa.
"Jangan bilang karena Kakak sibuk! Aku sudah ingatkan tidak usah jemput aku. Pakai janji segala padahal tidak tepat janji!" lanjut Anisa.
"Dan perlu Kak Panji ingat! Vano itu urusan pribadiku. Jadi sesuai ucapan Kakak untuk tidak saling mencampuri urusan pribadi maka..." Anisa sengaja menjeda ucapannya.
"Jangan pernah ikut campur urusan pribadiku!" lanjut Anisa dengan cepat lugas dan jelas.
Panji hanya diam berwajah datar kemudian melangkahkan kaki keluar kamar.
Anisa tersenyum menang dan mengikuti langkah kaki Panji.
Lagi, Panji tersenyum mengingat penjelas singkat dari Anisa. "Berarti si tengil Vano itu tidak ikut masuk di ruang perawatan. Awas saja kalau dia berani sampai sedekat itu!" monolog batin Panji.
malam menyapa 🤗. like, komen, komen vote hadiah rate juga mau🙏😍😘🥰
__ADS_1