Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 79


__ADS_3

"Yang memberi kado dan memeluk Nevan, itu bunda Nevan."


"Lihat baik-baik, sama kan dengan orang yang ngasih kado mobil-mobilan ke Nevan?" sambung Panji, memperlihatkan kembali foto yang ada di ponselnya.


Nevan diam. Netranya tajam menatap foto itu.


"Ini kan bunda 4 tahun lalu dan kemarin bunda yang sekarang, pasti jauh beda karena sekarang lebih cantik," terang Panji.


"Terus, kenapa bunda tidak ke rumah menemui Nevan ? Bunda pulang kemana?" tanya Nevan dengan kepolosannya.


Sontak Panji terkejut dengan pertanyaan Nevan.


"Bunda... bunda takut Nevan teriak-teriak ketakutan lagi seperti kemarin," jawab Panji agak terbata.


Nevan diam.


"Kalau semisalnya bunda mau bertemu, Nevan nanti teriak-teriak ketakutan lagi tidak?" pancing Panji.


Nevan masih diam.


"Nevan," rayu Panji, memegang bahu Nevan dan diarahkan menghadap padanya.


"Nevan kan anak pintar dan baik, Nevan katanya rindu dengan bunda, giliran bunda datang Nevan malah takut dengan bunda," sambung Panji.


"Nevan mau kan bertemu bunda?" Panji memastikan.


Nevan membalas dengan anggukan pelan.


"Anak pintar," puji Panji, mengacak rambut Nevan lalu mengepal tangan untuk adu tos dengannya. Nevan membalas tos itu.


"Maaf Tuan, waktunya Nevan makan," sela suster Tia.


Panji mengangguk.


Suster Tia meraih tangan Nevan dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Panji menatap punggung bocah kecil itu, ada senyum mengembang di wajahnya, kemudian menghela napas dalam dan menghempaskan perlahan.


"Sudah waktunya kamu kembali Nevan," lirih Panji, pelupuk matanya penuh dengan cairan bening.


Sementara di salah satu hotel, ada wanita yang seharian penuh di dalam kamar. Tisu berserakan di mana-mana. Dia tidak ingin sedikit pun bergerak dari ranjang tidur kecuali hanya untuk mengerjakan kewajiban 5 waktunya.


Anisa turun dari ranjang melangkah ke pintu kamar karena mendengar bel berkali-kali.


"Ya Allah Anisa," seru Tika, memeluk Anisa dengan erat.


"Tika...!" Anisa membalas pelukan sahabatnya.


"Hei, baru datang ke Indonesia ada apa dengan kamu?" telisik Tika setelah melepas pelukannya dan melihat Anisa dalam keadaan berantakan.


Anisa diam, menutup pintu dan jalan ke ranjang tidurnya.


"Astaghfirullah haladhim...ini kamar kamu kenapa?" tanya Tika melihat kamar Anisa yang berantakan dan tisu menyebar di sana-sini.


"Katakanlah kenapa?" Tika menatap ke arah Anisa.

__ADS_1


"Aku sudah menemui Nevan," ucap Anisa, air matanya langsung meleleh di pipi.


Tika mengusap air mata itu, kemudian memeluk tubuh temannya kembali.


"Kenapa dengan Nevan?" tanya Tika, masih memeluk Anisa.


Anisa tidak langsung menjawab, dia menangis sejadi-jadinya. Tika pun membiarkan hal itu agar hati Anisa plong. Setelah dirasa puas meluapkan tangisnya, Anisa melepas pelukan.


"Nevan takut melihatku," ucap Anisa dengan suara parau.


"Kamu tahu Tik, sakit sekali di sini!" lanjut Anisa, menunjuk dadanya.


"Aku akui, ini juga kesalahanku. Kenapa dulu aku meninggalkan Nevan, seharusnya aku bawa dia pergi, seharusnya aku tidak menerima tawaran kak Panji! Semua ini pasti tidak akan terjadi!" sesal Anisa.


"Semuanya sudah terjadi. Kalaupun disesali ya hanya tinggal penyesalan yang tersisa," sahut Tika, mengelus bahu Anisa.


"Aku hadir di ulang tahunnya, tapi karena aku sangat merindukannya aku langsung peluk dia dengan erat, dia akhirnya ketakutan."


"Jelas Nevan takut, bagi Nevan kamu orang asing," ujar Tika.


"Orang asing?" Anisa mengulang kalimat itu.


Tika mengangguk.


"Itu artinya, aku harus dekat dengan Nevan dan jadi orang yang tidak asing baginya?" tanya Anisa.


Tika mengangguk lagi mendengar tanya Anisa.


"Makanlah, aku bawa makan malam untukmu. Pasti seharian ini kamu tidak makan!" titah Tika, mengalihkan pembicaraan, membuka masakan Padang yang dia beli sebelum ke hotel. Dia tahu kalau Anisa sedih dia tidak akan makan biar sehari penuh.


"Kamu tidak makan berapa hari Nis, makan kaya orang kesurupan!" ledek Tika melihat Anisa dengan cepat memakan nasi padang yang baru dibuka.


Anisa tetap mengunyah makanan itu tidak peduli apa kata Tika.


"Kamu hebat Nis 3,5 tahun bisa menyelesaikan study kamu," puji Tika mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin cepat-cepat pulang ke Indonesia," jawab Anisa.


"Untuk menemui...?" sengaja Tika menjeda ucapannya.


"Nevanlah!" sergah Anisa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku kira ayahnya Nevan," canda Tika sambil terkekeh.


"Nggak lucu!" cibir Anisa.


"Vano apa kabar?" tanya Tika.


Anisa langsung berhenti mengunyah makan, dengan pelan dia menelan makanan yang sudah setengah kunyahan.


"Vano tidak ikut ke Indonesia?" cecar Tika. Namun, suara Tika agak melemah.


"Vano..., katanya akan menetap di sana," jawab Anisa dengan lemah pula.


"Dia kecewa dengan kamu?" selidik Tika.

__ADS_1


"Kamu tahu sendiri Tik, dari dulu aku hanya menganggapnya sebagai sahabat."


Tika mengempas napasnya kasar.


"Aku..., aku hanya fokus untuk mengambil Nevan. Aku tidak ingin memikirkan hal lain," gumam Anisa.


"Kamu berhak bahagia Nis dan Vano bisa memberikan itu semua," ujar Tika.


"Kebahagiaanku sekarang terlatak pada Nevan," sanggah Anisa.


"Kamu bisa berjuang dengan Vano untuk mengambil Nevan," saran Tika.


Anisa menggeleng.


"Ini masalahku, aku tidak ingin melibatkan orang lain, apalagi menyangkut perasaan. Lebih baik Vano kecewa sekarang daripada terlalu dalam kecewanya," ucap Anisa.


"Kamu tidak mencintai siapapun?" lontar Tika.


Anisa hanya tersenyum, "Rasa lain telah terkubur dalam, satu rasa hanya untuk Nevan," mantap Anisa menjawab lontaran tanya Tika.


"Kak Panji?"


Anisa kembali tersenyum, "Apa aku pernah punya rasa dengannya?" lontar balik Anisa.


"Kalaupun kamu tidak katakan tapi setidaknya aku sedikit tahu dari hasil pengamatanku," jawab Tika.


"Seperti detektif saja," sanggah Anisa.


"Kamu jadi menginap di sini kan?" tanya Anisa mengalihkan pembicaraan.


"Itu aku sudah bawa baju ganti," tunjuk Tika ke tas besar yang dia bawa.


Anisa tersenyum senang.


"Sekarang kamu hebat, jadi orang kantoran," puji Anisa, dari kemarin meminta Tika datang ke hotel baru sempat hari ini karena sibuk kerja menjelang akhir pekan.


"Kamu juga hebat jadi desainer terkenal di negeri orang lagi. Aku kira kamu tidak akan balik ke Indonesia, eh ternyata nongol lagi," ledek Tika.


"Kenapa? Tidak suka bertemu lagi denganku?" sahut Anisa dengan terkekeh.


Tika hanya membalas dengan senyum.


"Tertawa kamu lepas sekali, kamu terlihat bahagia balik ke Indonesia?" tanya Tika karena kabar dari Nadia, Anisa menjadi pendiam selama di Malaysia.


Anisa sontak menghentikan tawanya.


Dia menundukkan kelapa, "Setidaknya aku sudah bertemu Nevan," sahut Anisa.


"Langkah kamu bagaimana kalau Nevan tetap bersikeras tidak mau dengan kamu?"


"Aku akan lakukan apapun untuk mendapatkannya," seringai Anisa, kakinya melangkah ke toilet kamar.


"Hei! Jangan lakukan hal nekat!" teriak Tika karena Anisa sudah berada di balik pintu toilet yang tertutup.


siang menyapa 🤗.like, komen, komen, hadiah, vote juga mau😍🥰

__ADS_1


__ADS_2