
Vano mendengus kesal dan meraup mukanya dengan kasar. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya dan benar-benar sakit dibanding saat cintanya ditolak Anisa.
"Anisa menikah dengan kakak nya Faisal karena Anisa tengah mengandung anak Faisal," terang Tika.
Seperti ada petir yang tiba-tiba menyambar Vano. Dia diam mematung serasa mati rasa.
"Anisa hamil?" Vano mengulang pernyataan Tika tidak percaya apa yang dikatakannya.
"Aku juga sangat terkejut mendengar kehamilan Anisa. Kita tahu bagaimana karakter Anisa, keseharian Anisa dan sampai sekarang aku masih belum yakin Anisa bisa terjerembab dalam lembah kekhilafan oleh setan terkutuk."
"Tidak mungkin! Mana mungkin Anisa berbuat seperti itu!" kekeh Vano.
"Tapi bagaimana lagi Van, kamu tahu kan setan itu selalu menggoda manusia. Bahkan manusia yang dikatakan soleh atau solekha pun tidak ada jaminan untuk tidak digoda setan, malah setan yang menggoda levelnya lebih tinggi, menyesuaikan keimanan orang yang digodanya."
Vano diam. Masih saja belum percaya mendengar penuturan dari Tika.
"Artinya, keterpaksaan menikah itu yang menyebabkan Anisa masa bodoh telah diselingkuhi lelaki brengsek itu?!"
"Anisa malah merasa yang menjadi wanita perusak hubungan orang."
"Anisa beranggapan seperti itu?"
Tika mengangguk.
"Dia...Dia benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh! Mau apapun keadaannya dia kan istri sah di mata hukum maupun agama."
"Aku sudah peringatkan itu." ucap Tika.
"Aku selalu berusaha mengubur perasaanku padanya. Bahkan setelah kita lulus aku sudah sama sekali tidak kontak dengan dia tapi kenapa dia tiba-tiba hadir dalam hidupku?" batin Vano.
Tika menatap lekat Vano yang sedang memejamkan matanya dan menekan pangkal tulang hidung. Terlihat ada hal berat yang membebani pikirannya.
"Kamu masih peduli dengan Anisa. Kamu masih mencintainya Vano?" batin Tika dan hati Tika bisa ditebak bagaimana sakitnya walaupun mulutnya pernah berucap untuk merelakan Vano dengan Anisa ataupun wanita lainnya asal Vano bahagia dan mencoba membuka lembar baru untuk menerima kenyataan.
...****************...
Anisa menatap pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 15.50. Dia sudah terlihat rapi. Sesekali mata Anisa menatap keluar teras berharap orang yang ditunggu segera tampak.
Bip.
Klakson mobil yang baru masuk ke garasi rumah membuat Anisa bangkit dari duduknya.
Wajahnya menampilkan senyum mana kala lelaki yang ditunggunya keluar dari balik pintu mobil.
"Arlan tidak ikut Kak?" tanya Anisa karena hanya mendapat Panji yang keluar dari mobil.
Panji mengangguk.
"Aku mandi dan ganti baju dulu," ucap Panji dan kakinya melangkah masuk.
Lima belas menit Panji sudah keluar dengan kemeja pendek dipadu celana panjang, penampilannya lebih fresh dengan rambut yang diberi gel rambut.
Anisa diam menatap pria yang muncul dari arah dalam.
"Kalau kamu hanya diam di situ kapan perginya?!" ketus Panji tanpa menunggu reaksi Anisa.
__ADS_1
Anisa merasa ucapan Panji menyindirnya karena mulutnya memang tanpa sadar hanya menganga menatap Panji.
"Tunggu Kak," seru Anisa berlari kecil mengejar Panji.
"Sudah ku peringatkan jangan lari," geram Panji kakinya berhenti melangkah dan tubuhnya memutar.
Bugh.
Tubuh Anisa menabrak Panji. Kalau saja tangan Panji tidak cekatan meraih tubuh Anisa sudah dipastikan dia terjatuh.
Mata Panji melotot menatap lekat ke arah Anisa dan Anisa hanya nyeringis dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Ma...,"
"Jangan bilang maaf kalau kamu selalu mengulang kesalahan yang sama," potong Panji lalu melepas tangannya dari tubuh Anisa setelah Anisa berdiri secara sempurna.
Panji sudah duduk di jok kemudi Anisa juga mendudukkan pantatnya di samping kemudi.
Setelah mereka memasang seat-belt mobil itu melaju menuju klinik 'Keluarga Sehat Ibu dan Anak'.
"Sudah aku daftarkan via online. Kita langsung duduk di kursi tunggu." ujar Panji setelah mereka sampai di klinik dan memasuki ruang tunggu.
Anisa mengiyakan ucapan Panji.
Tidak selang berapa lama nama Anisa terdengar dari suara soundspace di klinik ruang tunggu. Anisa segera masuk ke ruang perawatan, Panji juga ikut masuk tapi agak ragu karena ini yang pertama kalinya dia mengantar Anisa periksa hingga masuk ke ruang perawatan.
"Nyonya Anisa?" Dokter memastikan dan Anisa mengangguk dengan melayangkan sebuah senyuman.
"Silahkan ukur berat badan," ucap dokter dengan menunjuk alat penimbangan."
"Langsung berbaring di ranjang ibu," sambung dokter.
Anisa menurut, lengannya kini dipasang tensimeter. "Bagus juga 110/80. Biasa tekanan darahnya kisaran angka 100 ya Bu?"
"Ya Dok," jawab Anisa.
"Atasannya tolong disibak ya," pinta bu dokter.
Anisa merasa ragu karena ada Panji di depannya. Artinya kalau bajunya disibak Panji dapat melihat perutnya.
"Maaf ya," ujar Bu dokter dan tangan kanannya yang menyibak baju itu hingga perut Anisa yang mulus dan mulai berisi terpampang jelas di mata Panji.
Dokter memberi gel pada permukaan perut Anisa kemudian meratakan gel itu dan mulai menggerakkan transducer di perut Anisa agar objek semakin jelas.
Anisa dan Panji menatap layar monitor yang menampilkan makhluk hidup di perut Anisa.
"Semuanya terlihat bagus Bu, Ini kepala bayi, kaki, tangannya," ucap Bu dokter dengan memberi tanda silang di bagian yang dia tunjukkan.
Anisa tersenyum menatap bayinya yang terlihat di layar monitor. Ada rasa haru dalam diri melihat makhluk kecil itu.
"Insya Allah normal semua," lanjut bu dokter kemudian membersihkan gel yang ada di perut Anisa dan menutup kembali bajunya.
Anisa nampak merapikan pakaiannya lalu turun dari ranjang dan duduk di kursi depan meja kerja dokter, Panji juga ikut duduk di sebelahnya.
"Usia kehamilan Ibu Anisa sudah masuk 16 minggu. Artinya kehamilan ibu memasuki trimester kedua. Keluhan selama satu bulan terakhir apa Bu?"
__ADS_1
"Anisa menggeleng, aku tidak merasakan keluhan apapun Dok," jawab Anisa.
"Oh ada Dok, indera penciuman jadi sensitif Dok. Normal tidak kalau mencium aroma wangi sampai berasa tidak sadar diri?" tanya Anisa.
"Tidak sadar diri maksudnya pingsan?"
"Mengejar orang yang menurut dia itu wanginya enak. Setelah terkejar dia nempel dan mendengus membaui wangi itu," sela Panji yang akhirnya bersuara.
Dokter tersenyum melihat ekspresi raut wajah pasangan suami-istri di depannya.
"Kalau yang dikejar itu suami sendiri tidak apa-apa tapi kalau yang dikejar suami orang bisa ditipuk sama istrinya," jawab Bu dokter masih melayangkan senyum.
"Itu Kak dengerin, tidak apa-apa. Jadi wajar ya Dok?" Anisa merasa menang mendengar jawaban dokter.
Dokter mengangguk, "Selama masa kehamilan itu memang banyak perubahan pada ibu hamil, ini faktor hormon. Salah satunya ya ini, indera penciuman menjadi sensitif. Selain itu juga perasaan ibu juga sering sensitif, bapak harus perhatikan itu ya," ujar bu dokter dan pandangannya mengarah ke Panji.
Panji membalas dengan senyum.
"Asupan gizi selalu diperhatikan. Selain itu, tolong psikis bayi dan ibu bayi juga perlu diperhatikan. Usia kehamilan 16 minggu itu indera pendengaran bayi sudah mulai bisa berfungsi. Bapak bisa memberi rangsangan dengan mengelus perut ibu, mengajak ngobrol si bayi. Itu semua sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi."
Panji lagi membalas dengan senyum.
"Saya rasa cukup, ada hal yang akan ibu atau bapak tanyakan?"
"Tidak Bu," jawab Anisa.
"Resepnya silahkan diambil di ruang farmasi. Semoga bayi dan ibunya selalu sehat. Silahkan periksakan kembali di bulan depan dan terima kasih."
"Terima kasih juga Bu Dokter, assalamualaikum," pamit Anisa dan Panji mengekor di belakang.
Pukul setengah 8 mereka baru sampai di rumah. Setelah mereka mampir untuk makan malam dan Anisa menyempatkan diri untuk menunaikan salat fardhu.
Anisa melangkah ambil air wudu kemudian mempersiapkan diri untuk salat isya. Rakaat demi rakaat dia tunaikan, ditutup dengan dua salam. Anisa menengadah berdoa memohon banyak hal pada Sang Mahakuasa. Selesai berdoa Anisa merapikan mukena dan mengenakan kembali jilbabnya.
Tubuh Anisa langsung dia baringkan di ranjang tidur karena merasa begitu lelah. Terlihat Panji yang baru keluar dari toilet kamar dia juga langsung menuju ranjang.
"Auw...," jerit Anisa tiba-tiba.
"Ada apa Nis?" khawatir Panji hingga bangkit dari rebahan.
Anisa nyeringis "Tidak apa-apa Kak, hanya kaget dan geli tiba-tiba perutnya berdenyut, mungkin si adek lagi gerak," ucap Anisa.
Panji mengempas napas pelan nampak lega tidak ada hal yang dikhawatirkan.
"Ini...ini, ini Kak gerak lagi," seru Anisa dan reflek tangan Panji dia tarik untuk meraba perutnya yang berdenyut.
"Ya kan Kak?" antusias Anisa tanpa sadar membuat laki-laki yang masih dipegang tangannnya dan meraba perutnya menjadi berdebar dan sulit mengartikan semua rasa.
Panji menampilkan senyum. Benar ada gerakan di perut Anisa walaupun gerakan itu tidak terlalu kuat. Gerakan dari makhluk kecil yang ada di perut gadis yang ada di hadapannya.
Panji menatap intens gadis yang dikatakan ingusan olehnya. Senyum yang tercetak di wajah Anisa, sesekali menampakkan barisan gigi yang putih dan rapi sungguh pemandangan yang membuat Panji bahagia.
"Bagiamana bisa kamu melakukan ini semua Anisa? Membuat ku tersenyum ketika ku merasa penat, membuat ku merasa tidak sepi ketika ku butuh teman bicara, membuat aku merasa marah, benci, kesal dalam waktu bersamaan. Semua rasa bercampur menjadi satu. Mengapa kamu hadir dalam hidupku Anisa?" Monolog batin Panji dan matanya tetap terpaku menatap raut wajah Anisa yang masih tersenyum kegirangan.
malam menyapa🤗. Siapkan like, komen, vote dan hadiah ya...segera kirim ke author 🤭🙏.
__ADS_1
Dukungan kalian adalah penyemangat ku🥰😍