
"Kamu mencuri start dariku, aku juga bisa berbalik arah seperti kamu. Jaga Panji jangan sampai lepas!" bisik wanita cantik, bahenol nan sexy, bibirnya merekah tersenyum palsu menatap Anisa kemudian melangkah pergi.
"Apaan sih gag jelas!" gumam Anisa.
"Kak Sella," Anisa girang melihat wanita yang sudah dia anggap Kakak.
"Selamat ya Nis," ucap Sella diiringi senyum. Mata Sella berpindah tatap ke arah Panji.
"Padahal dulu Tiwi ingin sekali aku jadi Bridesmaid ketika menikah tapi Tuhan berkehendak lain," seloroh Sella dan dibalas sebuah senyuman dari Panji.
Anisa hanya menundukkan pandangan mendengar ucapan Sella.
"So, semoga kalian bahagia," ucap Sella memandang Panji dan Anisa bergantian.
"Mommy Daddy tidak datang Kak?"
"Mereka sibuk," jawab Sella, wajahnya menampakkan senyum dan tangan menepuk pelan bahu Anisa kemudian turun dari panggung dan bercengkrama dengan Tika dan Nadia.
Panji menatap wajah Anisa yang tiba-tiba berubah masam, "Kamu akrab sekali dengan keluarga Sella?" bisik Panji di telinga Anisa.
Anisa hanya diam tidak menyahuti tanya Panji, dia langsung menyambut hangat tamu-tamu lain yang mengucap selamat naik ke panggung.
Sesi foto keluarga, sahabat, tamu-tamu, sudah berakhir. Anisa dan Panji ikut membaur ke tamu yang sedang menikmati hidangan.
"Kamu tidak makan?" tanya Panji mendekat ke arah Anisa karena sedari tadi Panji dan Anisa sibuk menyapa sahabat-sahabat mereka masing-masing secara terpisah.
Anisa menggeleng.
"Apa kamu terlalu bahagia sampai lupa makan?" tanya Panji.
Anisa mencibirkan bibirnya, "Ini mau makan," sahut Anisa.
"Aku ke stand makanan dulu ya, sudah lapar," pamit Anisa.
"Makan yang banyak Non butuh tenaga yang extra loh nanti, lihat Tuan Panji kan begitu gagah," ledek Marina salah satu pegawai butik.
Tawa renyah terdengar dari sahabat-sahabat yang masih bersama Anisa.
Anisa langsung pergi dengan mengerucutkan bibirnya, Panji jalan sejajar dengan Anisa.
"Kakak mengapa ikut makan sate ayam?" protes Anisa ketika mengambil sate ayam lontong yang ada di stand paling pojok.
"Sengaja biar bareng dengan kamu," celetuk Panji.
"Duduk di sini saja," cekat Panji menarik tangan Anisa agar duduk di kursi yang ada di depan stand sate ayam itu. Anisa hanya bisa pasrah duduk di samping lelaki yang sah dimata hukum, agama, dan mata sahabat-sahabat sebagai suaminya.
"Makanlah," Panji menyodorkan satu tusuk sate ke mulut Anisa.
__ADS_1
"Kak Panji apa-apaan sih!" gerutu Anisa, matanya memutar memandang sekeliling, banyak mata menatapnya dan Panji.
Anisa terpaksa menerima suapan itu karena tidak ingin ada perbincangan tidak enak karena dirinya menolak suapan sang suami.
Panji tersenyum, walaupun dia tahu Anisa terpaksa melakukannya, setidaknya Anisa berusaha bersikap tidak mempermalukan dirinya di khalayak umum.
"Cantiknya hilang, kalau belepotan seperti ini," lirih Panji tangannya bergerak menyentuh sudut bibir Anisa yang menyisakan sambal sate.
Anisa terdiam, ada getaran yang berbeda ketika jemari itu berhasil menyentuh sudut bibirnya. Rasanya ada sengatan listrik dengan daya rendah, tidak mematikan tapi membuat gejolak di dada.
"Malam ini kamu terlihat cantik sekali Nis," ucap Panji tanpa berkedip, netra itu mengunci netra Anisa.
Anisa mengalihkan pandangan merasa gugup tidak karuan.
'Santai Nis, Santai, jangan memperlihatkan kegugupan kamu, Ingat! Misi kamu hanya mengambil Nevan,' seloroh batin Anisa.
"Aku, aku dipanggil Tika dan Nadia Kak," alasan Anisa tangannya menunjuk ke arah dua sahabatnya.
Panji tersenyum, "Kita bareng temui mereka," ucap Panji, tangannya sudah menggandeng tangan Anisa.
Sekali lagi, mau tidak mau Anisa mengiyakan permintaan Panji atas dasar tidak enak dipandang orang kalau dia sampai menolak sang suami.
"Aku takut kalau istriku jalan sendiri nanti lelaki lajang mendekati kamu," bisik Panji.
Anisa memutar tangannya yang digenggam Panji, dengan jurus sederhana dia mencubit keras tangan Panji hingga Panji nyeringis merasa sakit.
Anisa tersenyum mendengar pekikan itu.
"Jangan macam-macam denganku!" balas Anisa.
"Ya Allah, jalan ke sini saja romantis sekali, pakai gendeng tangan dan bisik-bisik manjah," ledek Nadia begitu Anisa dan Panji sampai di depan Tika dan Nadia.
Anisa mencibirkan bibirnya sedangkan Panji tersenyum mendengar ledekan Nadia.
"Jaga Anisa Nad, aku temui kolega kerjaku dulu," pamit Panji tanpa mendengar jawaban Nadia, Panji akan beranjak pergi.
"Eh eh...kita bukan tempat penitipan istri, bawa saja sekalian kenalkan dengan koleganya," protes Nadia sambil mendorong tubuh Anisa agar dekat ke Panji.
Panji tersenyum melirik ke arah Anisa yang menampakkan wajah kesal.
'Nisa, kenapa melihatmu cemberut seperti ini membuatku semakin cinta kamu,' batin Panji, matanya kemudian mengarah ke depan, tangannya meraih tangan wanitanya tanpa meminta persetujuan dari Anisa.
Acara yang begitu melelahkan sekaligus membahagiakan itu akhirnya berakhir.
...****************...
Satu minggu telah berlalu dari pesta pernikahan itu. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Anisa melangkah masuk ke rumah setelah uluk salam. Sudah menjadi rutinitas Anisa, dia pulang kemudian langsung mandi baru menemui Nevan.
__ADS_1
Kaki Anisa berhenti melangkah. Niatnya akan ke arah Nevan dan Panji yang sedang bermain di taman rumah. Taman rumah memang diubah desain. Ada permainan, prosotan, ayunan, dan kursi panjang yang di pajang di dekat permainan itu.
"Sus, boleh bicara dengan Suster?" tanya Anisa memutar kakinya dan duduk di ruang tengah.
"Kak Panji kalau pulang kerja jam berapa?" penasaran Anisa karena setiap dia pulang dari butik, Panji pasti sudah mengganti bajunya dengan baju rumahan dan duduk bersama Nevan di taman, terkadang sedang menyuapi Nevan atau hanya menemani Nevan bermain.
"Boleh duduk Non," pinta suster Tia.
"Ya ya duduk Sus," sahut Anisa menepuk sofa agar suster Tia duduk di depan sofanya.
Suster Tia mengembangkan senyum sebelum mulutnya membuka suara.
"Tuan Panji dari dulu, sejak ada Nevan selalu pulang lebih awal. Dia tidak akan melewati untuk menemani Nevan makan sore, kadang menyuapi kadang sekedar menemaninya main di taman.
"Setiap hari Sus?"
"Kalau tidak ada keperluan yang sangat penting, setiap hari."
"Tuan Panji sangat sayang dengan Nevan Non," sambung suster Tia.
Ada yang begitu menyesakkan dada Anisa ketika mendengar ucapan suster Tia.
"Aku juga sangat sayang Nevan Sus," sahut Anisa merasa ucapan suster Tia sebagai sindiran padanya kalau Anisa tidak peduli Nevan.
"Maaf Non, aku tidak bermaksud membandingkan atau bagaimana. Aku sangat yakin, Non juga sangat, sangat menyayangi Nevan," ujar suster Tia merasa bersalah dengan apa yang tadi dia ucapkan.
Anisa beranjak mengangkat pantatnya menuju taman rumah, mendekat ke arah Nevan.
"Hai Nevan,"
"Assalamualaikum Bunda," sahut Nevan kemudian mencium punggung tangan Anisa.
"Waalaikum salam," lirih Anisa dan kali ini Anisa merasa tersindir dengan sapa salam dari Nevan.
"Main sama Bunda yuk, kasihan ayah capek," bujuk Anisa.
"Ayah tidak bilang capek, Nevan seneng kok main dengan ayah," ujar Nevan.
Anisa menelan salivanya dengan susah mendengar penolakan Nevan.
"Ayah, masuk dulu ya, kamu main sama bunda. Bener kata bunda, Ayah sedikit capek. Badan Ayah pegel-pegel," ucap Panji dengan menggeliatkan tubuhnya dan menepuk-nepuk bahunya sendiri agar terlihat natural capeknya. Padahal itu hanya alasan Panji. Dia tahu maksud permintaan Anisa. Anisa ingin lebih dekat dengan Nevan tanpa ada dirinya.
"Aku pijitin badan Ayah yuk," seru Nevan menarik tangan Panji agar masuk ke dalam.
Wajah Panji terlihat pasi, menatap Anisa menahan cairan bening yang menumpuk di pelupuk mata.
malam menyapa 🤗 like Komen vote hadiah 🙏
__ADS_1