
Panji membopong Anisa ke ranjang tidur, menatap lekat wajah gadis itu kemudian tatapannya turun ke perut yang mulai terlihat berisi.
"Maaf," ucap Panji dan tangan yang akan mengelus perut itu tiba-tiba dia urungkan.
Panji kemudian naik ke ranjang tidur setelah bebersih diri dan mengganti pakaiannya. Dia memiringkan tubuhnya, menatap lekat wajah gadis yang ada di sampingnya. Ada polemik yang tertimbun di otaknya dan hanya senyum sekilas yang mampu menjabarkan kalau dia masih sanggup melangkah ke depan.
Panji menelantangkan tubuhnya menatap langit-langit kamar yang nampak redup karena temaram lampu kamar tidur dalam mode on. Mencoba memejamkan matanya walau kenyataan di tidak bisa masuk ke alam tidur. Panji memiringkan kembali tubuhnya, menatap lagi gadis di sampingnya yang sedang terlelap tidur.
Bugh.
Tangan dan kaki Anisa mendekap lelaki di sampingnya. Panji terlihat nyeringis merasa mendapat serangan mendadak dari gadis yang selalu dia katakan ingusan. Tangan Panji mencoba mengurai pelukan Anisa. Bukan terlepas malah erat pelukan itu.
"Kamu malah membuatku tak bisa memejamkan mata Nisa!" gerutu Panji.
Namun, sekali lagi tatapan itu jatuh ke wajah yang terlihat ayu alami tanpa make up. Panji menelisik lebih dalam setiap inci garis wajah gadis di depannya. Tanpa Panji sadari dua sudut bibirnya dia tarik membentuk sebuah senyum. Ya, sebuah senyum sekejap tapi sebuah senyum yang tulus.
Panji mencoba berdamai dengan diri dan keadaan. Membiarkan diri menyandarkan kepalanya ke dalam dad* sang gadis. Ada rasa nyaman, entah kenyamanan yang seperti apa, yang jelas sulit dijabarkan oleh hati Panji sendiri. Rasa nyaman itu akhirnya membuat matanya Lamat terpejam penuh hingga dirinya masuk ke alam mimpi.
...****************...
Azan subuh berkumandang, Anisa nampak menggeliatkan tubuh. Al Qur'an yang belum sempat dia taruh dalam nakas, dia masukkan ke nakas. Di melepas mukenanya kemudian masuk ke toilet kamar. Wudu ketika salat tahajjud nya telah batal karena tadi sempat tertidur setelah membaca Al-Qur'an.
Setelah mengambil air wudu dia mengenakan kembali mukenanya, salat dua rakaat sebelum salat subuh dan dua rakaat salat subuh.
Dua salam mengakhiri salatnya, Anisa menatap wajah lelaki yang masih terbaring di ranjang tidur. Dia jadi teringat kejadian sebelum dia bangun untuk salat malam. Tubuhnya dalam posisi memeluk erat Panji dan Panji begitu nyenyak nya menelusup dalam dad*nya.
"Aset berharga ku ternoda lagi!" gerutu Anisa sambil memandang dad*nya napas kasar dia empaskan.
"Dia hanya modus! Pasti dia yang sengaja mendekati aku!" sambung Anisa dan matanya masih lekat memandang lelaki itu.
"Ahhhh tapi nyatanya aku sendiri yang melewati garis pembatas!" Keluh sesal Anisa dan tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Sudah ah lupakan! Gara-gara dia sampai lupa doa," gumam Anisa kemudian menengadahkan kedua tangannya memuji asma Allah dan memanjatkan doa.
Diakhir doa, Anisa selipkan doa untuk lelaki yang masih terlelap tidur. "Semoga Allah memberikan hidayah padamu Kak," Anisa meraup wajah dengan dua tangannya.
"Aku yakin doa itu selalu didengungkan juga oleh bunda dan bapak kamu Kak."
Anisa melepas mukena dan memakai jilbabnya kemudian memasukkan ke dalam nakas. Matanya kini tertuju pada bungkusan plastik hitam yang ada di atas nakas. Anisa membukanya.
__ADS_1
"Martabak telur," gumam Anisa diikuti senyum dari wajahnya.
"Terima kasih Kak," lirih Anisa.
"Bismillahi rahmanirrahim," Anisa memasukkan satu persatu martabak itu ke mulutnya hingga habis.
Setelah habis Anisa turun untuk ke dapur.
Dia melihat ada mbak Asih yang sudah sibuk bebersih.
"Assalamualaikum Mbak," sapa Anisa.
"Waalaikum salam Non," jawab mbak Asih.
Anisa melangkah ke kulkas, "Buah pir nya habis Mbak?" retoris Anisa setelah mengaduk-aduk isi kulkas dan tidak mendapatkan buah yang dia maksud.
"Ya Non, kemarin Mbak Asih beli, kebetulan stok di sana nya habis. Itu Mbak Asih ganti dengan apel.
Anisa mengambil apel yang mbak Asih maksud, dia tutup kulkasnya, duduk di kursi dapur, mengupas apel itu kemudian melahapnya.
"Mbak, Oma belum bangun?" tanya Anisa karena biasanya jam setengah 6 Oma Sartika sudah bangun dan tadi ketika Anisa melewati kamarnya terdengar suara batuk dari dalam kamar.
"Belum Non, sepertinya Oma kurang sehat,"
Setelah habis memakan apel itu, Anisa ke taman rumah, membantu mang Udin menyirami tanaman karena mbak Asih selalu menolak kalau di bantu untuk masak dengan dalih takut dimarahi tuannya jika melihat dia ikut membantu memasak di dapur.
"Non, tidak usah dibantu, nanti juga selesai, biar mang Udin atuh yang ngerjain ini semua." protes mang Udin.
"Ih kenapa sih Mang, bantu ini nggak bolehin, bantu itu nggak dibolehin! Anisa jenuh kalau hanya duduk saja! Lagian ini bisa kehitung olah raga juga loh Mang!" sanggah Anisa.
"Maaf Non, nanti kalau tuan Panji lihat, mang Udin pasti yang dimarahin."
"Aku yang tanggung jawab Mang," ujar Anisa meyakinkan mang Udin hingga mang Udin nampak pasrah membiarkan Anisa membantu menyiram tanaman yang ada di taman.
Anisa juga melakukan aktifitas lain, memotong tanaman yang perlu dipotong, merapikan, dan merapikan pot hingga dia tidak sadar matahari sudah menyapa sempurna dari Timur.
"Non, sudah Non, lihat matahari sudah bersinar terang mungkin tuan Panji sudah bangun dan mau sarapan." ucap mang Udin mengingatkan Anisa.
Anisa menengok ke Timur, dia membenarkan ucapan mang Udin, Anisa segera mencuci tangan dan berjalan ke arah ruang makan. Benar saja lelaki itu sudah duduk dan sedang mengambil nasi dan lauk di piring.
__ADS_1
"Kak Panji kenapa tidak memanggil aku," protes Anisa kemudian duduk di sebelah Panji dan ikut mengambil makan.
"Oya Kak, terima kasih martabak telurnya, tadi subuh baru ku makan dan langsung ku lahap habis," seru Anisa dengan senyum di wajahnya.
Namun yang diajak bicara tanpa merespon ucapannya. Dia tetap makan dan bersikap seolah-olah tidak ada manusia di sampingnya.
Anisa mencibirkan bibirnya mendapati sikap Panji.
"Kak, oma sepertinya sedang sakit," lirih Anisa. Namun, Panji juga tidak langsung merespon ucapannya.
"Tadi pagi aku lewat kamarnya, oma sedang batuk padahal biasanya dia sudah bangun untuk lari pagi di taman," lanjut Anisa.
"Nanti aku cek," jawab Panji singkat dan langsung mengangkat pantatnya melangkah pergi dari tempat makan.
Anisa menatap punggung laki-laki yang pagi ini berwajah seperti beruang kutub, 'beku dan dingin' hingga lelaki itu masuk ke kamar sang oma.
"Apa Kak Panji marah dengan aku? Kenapa dengan dia? Ada yang beda dengan Kak Panji? Ah! Mungkin perasaanku saja!" tepis Anisa kemudian melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan Anisa mencuci tangannya dan pantatnya dia dudukkan kembali di kursi makan. Sebenarnya dia ingin ikut masuk ke kamar itu tapi dia urungkan, Anisa membiarkan sang cucu dan nenek saling berbicara.
Panji keluar kamar oma Sartika kemudian memanggil mbak Asih.
"Suruh mang Udin belikan bubur untuk Oma, dan nanti suapin oma, dia sedang kurang sehat," titah Panji.
"Ya Tuan," jawab mbak Asih.
Anisa segera mendekat ke Panji. Namun, Panji malah berjalan keluar hingga Anisa harus ikut melangkah panjang mengekor lelaki yang ada di depannya.
"Kak, Kak Panji...," panggil Anisa tapi Panji tidak juga menyahuti panggilannya dia tetap berjalan.
"Kak!" seru Anisa dengan menghentikan langkahnya.
Panji ikut menghentikan langkah dan menoleh ke Anisa.
Napas Anisa terlihat tersengal-sengal karena jalan terlalu cepat. Bibirnya dia manyunkan dan menampakkan wajah kesal pada lelaki yang baru menoleh setelah dipanggil dengan nada meninggi.
"Ada apa?" tanya Panji dengan muka malasnya.
"Lupakanlah! Hati-hati dijalan! Assalamualaikum!" ketus Anisa langsung membalikkan tubuh dan berjalan masuk ke rumah tanpa menghiraukan Panji yang belum pergi dengan mobilnya ataupun belum membalas salam dan ucapannya.
__ADS_1
Hufft...apa semakin dongkol dengan sikap Panji?🤭🙏
Terus pantengin ya...nantikan bab yang semakin menguras emosi ini. Jangan lupa tetap beri dukungan dengan like, komen, vote, hadiah.🙏 dukungan kalian penyemangat ku. Terima kasih semua...lope lope untuk kalian.❤️❤️❤️❤️❤️