Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 82


__ADS_3

"Nikahi aku agar aku tinggal bersama Nevan!" ucap Anisa, menatap lekat ke arah Panji.


Panji sangat terkejut, diam membisu mendengar permintaan Anisa.


"Permisi... ." Dua pelayan datang membawa pesanan menaruh makanan itu di atas meja.


"Terima kasih Mbak," ucap Panji.


"Sama-sama, silahkan dinikmati."


Panji tersenyum mengangguk.


"Makanlah," tawar Panji.


Anisa mengaduk minumannya, sekarang dia yang merasa canggung baru menyadari apa yang dia ucapkan.


Lama mereka dalam mode diam. Satu terlihat canggung, satu lagi terlihat santai dan seperti menikmati makanan dan minumannya.


'Kenapa aku malah dalam posisi yang seperti ini? Canggung karena ucapanku tadi!' umpat batin Anisa, matanya sesekali melirik ke arah Panji.


'Beri jawaban kek! Jangan pura-pura jual mahal gitu! Kalau bukan karena demi mengambil Nevan dari kamu aku tidak akan melakukan ini!' sambung batin Anisa.


'Ah! Apa aku terlihat seperti wanita murahan! Pasti iya, kak Panji pasti jadi ilfeel! Ah bodoh amat! Mau dia ilfeel atau mau ngupil! Terserah! Aku harus jalankan misiku! Mengambil Nevan dan pergi sejauh mungkin dari kehidupannya!' Anisa menatap lekat ke arah Panji dan tanpa dia sadari cake yang ada di piring telah habis. Namun tangannya tetap menyendok ke piring.


"Makanlah," ujar Panji meletakkan sebagian cake miliknya ke piring Anisa.


Anisa semakin mati kutu dengan apa yang dia lakukan.


"Aku sudah kenyang," elak Anisa.


Panji tersenyum mendengar ucapan Anisa. "Selalu, dari dulu seperti itu." gumam Panji


Anisa mencibirkan bibirnya dengan gumaman Panji.


"Aku beri waktu kamu 3 hari untuk memikirkan ulang apa yang kamu ucapkan tadi," ujar Panji.


"Maksud Kakak? Ucapanku yang menawarkan Kakak untuk menikahiku?!" kesal Anisa.


Panji mengangguk.


"Aku yang menawarkan Kakak untuk menikahiku mengapa jadi Kak Panji yang menawarkan aku untuk memikirkan apa yang aku tawarkan tadi!" geram Anisa.


Panji tersenyum seketika.


"Aku hanya ingin merebut Nevan dari tangan Kak Panji!" Jujur Anisa dengan kekesalan yang nampak pada wajahnya.

__ADS_1


Lagi, Panji tersenyum dengar ucapan Anisa.


"Oh!" Anisa membungkam mulutnya.


'Itu semua pasti karena kak Panji sudah menikah dengan mbak Tiwi! Mengapa aku tidak berpikir jauh ke sana?!' batin Anisa menerka.


"Kenapa?" penasaran Panji melihat Anisa tiba-tiba terkejut sendiri. Satu sendok cake Panji masukkan ke mulutnya.


"Aku tahu sekarang, kenapa kakak memintaku waktu 3 hari untuk memikirkan apa yang aku tawarkan! Pasti karena kakak takut dengan istri Kakak!" ujar Anisa dengan lantang.


Panji masih mengunyah cake yang ada di mulutnya walaupun tadi sempat melambatkan kunyahannya mendengar ucapan dari Anisa lalu dengan pelan dia telan cake itu.


Anisa menunggu reaksi Panji yang terlihat dengan tenangnya mengunyah, menelan makanan, dan terakhir menyesap lemon tea-nya.


"Kamu tahu aku sudah menikah?"


"Jelas aku tahu! Kakak memang menunggu momen aku melahirkan! Setelah itu menceraikanku dan dengan bebas melenggang menikahi mbak Tiwi. Namun, bodohnya aku yang malah meninggalkan Nevan bersama Kakak dan membiarkan wanita lain merawat Nevan sehingga dia tumbuh tanpa cinta dari bundanya. Itulah penyesalan terbesarku! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk sukses dan menagih janji kakak, kalau aku sukses boleh mengambil Nevan dari tangan Kakak!" Anisa menjeda kalimatnya tangannya bergerak menyapu embun yang hampir menetes ke pipi.


"Tapi, kenyataannya Nevan malah takut dan sekarang tidak mau bertemu denganku!" Anisa mengempaskan napasnya kasar.


Panji terdiam mendengar isi hati wanita yang ada di depannya. Ingin sekali tangannya bergerak ikut menyeka air mata yang sengaja wanita itu tahan di pelupuk mata. Namun, sekali lagi, dia sadar diri.


"Aku memang menikah dengan Tiwi," ucap Panji.


Deg.


Anisa mengangguk tersenyum kecut.


"Nevan memanggil Tiwi ibu? atau bunda? atau mommy? atau..."


"Nevan tidak mengenal Tiwi!" cekat Panji tidak ingin melihat wanita di depannya terlihat semakin kesal karena kesalahpahaman tentang Nevan.


'Karena dari awal aku sudah berniatan mengenalkanmu sebagai bunda Nevan bukan wanita lain. Kalau tidak, mengapa aku memintamu untuk mengambil Nevan setelah kamu sukses! Itu hanya untuk menyemangati kamu untuk bersungguh-sungguh mencapai kesuksesan,' monolog batin Panji.


"Mengapa? Mengapa tidak dikenalkan?!" tanya Anisa atau tepatnya sebuah intimidasi yang Anisa layangkan pada Panji karena rasa penasarannya yang tinggi.


"Bukankah bundanya Nevan itu kamu!"


Anisa tersenyum mendengus mendengar jawaban Panji yang dirasa ambigu.


"Itu bukan jawaban tapi melempar retoris," cibir Anisa.


"Kamu minta jawaban seperti apa?" tanya Panji sambil mengaduk minuman kemudian menyesapnya.


"Sejelasnya!" singkat Anisa.

__ADS_1


'Aku rasa tidak akan habis aku ceritakan satu hari ini' batin Panji, menghela napas panjang lalu perlahan diempaskan.


"Tiwi meninggal setelah kami 5 bulan menikah," ucap Panji.


"Mbak...mbak Tiwi meninggal?" Anisa memastikan karena terlalu terkejut dengan berita yang dia dengar.


"Kenapa?" sambung Anisa.


"Kanker usus," singkat Panji.


Anisa terdiam. Tiba-tiba ada penyesalan diri sebab kepulangannya dari Malaysia salah satu niatnya selain merebut Nevan dari tangan Panji juga membuat Panji menyesal karena lebih memilih Tiwi. Walaupun Anisa sendiri sadar begitu besar cintanya Panji ke Tiwi.


"Aku turut berduka cita," ucap Anisa.


"Aku memberi waktu 3 hari karena aku juga harus berkunjung ke rumah ibu kamu untuk mengatakan hal yang sebenarnya tentang perceraian kita," ucap Panji.


Anisa terdiam. Selama ini dia juga ikut menyembunyikan perceraiannya dari ibunya. Dulu sewaktu di Malaysia ketika ditanya tentang hubungannya dengan Panji, Anisa selalu mengatakan pada ibunya, baik-baik saja. Ditambah lagi, ketika ibunya menelpon selalu cerita Panji dan Nevan sering main ke rumah. Anisa tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya dan saat itu Anisa langsung berpikir kalau Panji pun sama belum mengatakan masalah perceraiannya.


'Ya Tuhan! Aku belum sanggup untuk bertemu dengan ibu dalam keadaan seperti ini,' batin Anisa.


"Aku akan secara baik-baik menjelaskan semuanya pada ibu. Jadi, dalam waktu 3 hari itu juga kamu pikirkan sekali lagi niatan kamu menawarkan aku untuk menikahi kamu," ungkap Panji.


"Apa yang akan kamu katakan pada ibu?" penasaran Anisa.


"Kamu santai saja, aku bukan tipe orang yang ingin terlihat sempurna di mata orang lain. Kalau memang semua kesalahanku akan aku akui pada ibu dan akan aku usahakan dalam 3 hari itu kamu mendapat kabar sesuai apa yang kamu inginkan," terang Panji.


"Belagu! Tinggal salah sama aku tidak mau mengakui!" lirih Anisa.


Walaupun itu sangat lirih terucap dari mulut Anisa tapi dapat Panji dengar dengan jelas.


"Satu hari!" tantang Anisa.


Panji membulatkan matanya.


"Kenapa terburu-buru sekali?" Apa kamu_"


Sengaja Panji menjeda kalimatnya untuk menggoda wanita yang dulu selalu dia juluki gadis ingusan, setelah lama tidak bertemu dengannya ada rasa kangen untuk melihat wajah cemberutnya ketika dia kesal.


"Jangan berpikiran macam-macam! Aku hanya ingin secepatnya mengambil Nevan dan pergi jauh dari kehidupan Kakak!" sahut Anisa.


Panji tersenyum, berhasil membuat wajah itu terlihat cemberut kesal.


'Inikah suratan Allah yang harus harus kutempuh?' monolog batin Panji dengan wajah yang masih menampakkan senyum dan tatapan mata yang masih terarah pada wanita yang ada di depannya.


malam menyapa šŸ¤— like komen komen vote hadiah šŸ™terima kasih masih setia pantengin ceritanya, kalian pokokna the best lah. lope lope buat kalianā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


curhatan author nih: Author sebenarnya lagi main jauh ke rumah adik di Magetan, nasib sekali satu hari di sini malah sakitšŸ¤• tapi tambah sakit lagi kalau tidak menyapa kalian🤭🤣🤣(sinyal xxx susah sekali di sinišŸ¤•)


__ADS_2