Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 120


__ADS_3

Vano duduk menemui Anisa, Panji, dan Nevan.


Mereka mengobrol, Anisa mulai mengutarakan maksud kedatangannya.


"Aku panggilkan mbak Sella dulu," balas Vano setelah mendengar apa yang disampaikan Anisa.


"Tapi... kalau tidak sesuai apa yang diharapkan, mohon jangan dipaksakan. Pelan-pelan saja, mbak Sella bukan orang yang mudah dipaksa," ujar Vano sebelum melangkah kaki masuk ke dalam.


Anisa mengangguk.


Vano melangkah ke dalam.


Panji menggenggam tangan istrinya, melihat raut wajah sang istri terlihat tidak tenang. Anisa tersenyum menatap Panji sebagai balasan.


Akhirnya yang Anisa tunggu kedatangannya, muncul.


"Berani juga kamu datang ke sini!" ketus Sella.


Anisa bangkit dan mengulurkan tangan tapi Sella tetap diam tidak membalas uluran itu.


Anisa duduk kembali, dengan perasaan kecewa.


"Maksud kedatangan aku_"


"Akan minta maaf kan!" potong Sella.


Anisa mengangguk pelan.


"Salahku banyak Mbak dan mungkin tidak termaafkan," ujar Anisa.


"Kalau kamu sudah tahu tidak akan kumaafkan kenapa datang kemari!"


"Karena aku masih ada keyakinan, Mbak Sella adalah orang baik dan pemaaf walaupun tadi apa yang aku katakan, salahku tak termaafkan," sahut Anisa.


"Kamu senang, sudah bahagia dengan suami kamu! Lihat Vano! Dia menderita gara-gara kamu!" seru Sella, "dan kedatangan kalian berdua! Apa sengaja ingin memamerkan keharmonisan keluarga kalian!" cicit Sella.


"Jangan memperlebar pembicaraan, Anisa datang ke sini untuk meminta maaf tidak ada niatan buruk!" sela Panji dengan emosi.


"Kak," lirih Anisa menatap Panji sebagai isyarat agar suaminya tidak meluapkan emosi.


"Dia sudah keterlaluan Nis! Mengapa menyalahkan kamu atas musibah yang menimpa adiknya!" geram Panji padahal pertemuan sebelumnya Panji lebih bisa mengontrol emosi tapi kali ini karena wanita yang dicintainya disalahkan, dia merasa tidak terima.


"Kak," ulang Anisa tapi kali ini langsung menggenggam tangan Panji agar lebih tenang.


Vano sempat menatap interaksi Panji dan Anisa. Ada rasa elu namun lebih dominan rasa lega.


'Aku semakin yakin Nis, kamu akan bahagia dengan orang yang mencintai kamu dan orang yang kamu cintai,' batin Vano.


"Mbak, Mbak pernah jatuh cinta?" tanya Vano tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari Anisa maupun Panji.


"Kenapa kamu tanya seperti itu?"


"Cinta itu mengalahkan logika. Dia akan berkorban apapun demi cinta, bahkan dia akan berkorban walaupun tidak dapat untuk dicinta."


"Itu karena cinta kamu bertepuk sebelah tangan," sanggah Sella.


"Justru karena itu Mbak, aku mendapat pembelajaran yang begitu banyak dari hal itu," sahut Vano.


"Jangan kamu selalu bela Anisa!" ujar Sella.


"Jujur Mbak, aku juga ingin marah dengan Anisa karena dia menolak cintaku! Jujur juga Mbak, saat itu aku sangat sangat marah tapi sisi hatiku lirih berucap agar merelakan semua karena rasa cinta tidak dapat dipaksakan," terang Vano.

__ADS_1


Sella terdiam, menatap menerawang ke depan tanpa arah pandangan. Pelupuk matanya kini penuh dengan cairan bening. Dari hatinya terdalam juga mengiyakan ucapan Vano tapi entah kenapa, hati kecilnya terus bergemuruh agar semakin dalam untuk membenci Anisa.


Nevan menatap sang bunda dan sesekali bergelayut manja di pangkuan Anisa. Bocah itu melihat ada titik air mata pada pipi bundanya dan dengan cekatan sang bocah menyekanya.


"Bunda jangan nangis," ucap Nevan.


"Oh... tadi mata Bunda kelilipan," dalih Anisa.


Tante itu nakal ya sama Bunda?" ucap Nevan sambil menunjuk ke arah Sella.


"Tidak kok. Dia namanya tante Sella. Baik sekali dengan Bunda hanya Bunda belum bisa membalas kebaikan Tante Sella," terang Anisa.


"Kamu tadi belum salim dengan tante loh, yuk salim," tuntun Anisa, menurunkan Nevan dari pangkuannya dan diarahkan agar jalan mendekat ke arah Sella.


Nevan yang lucu dan polos itu tanpa malu atau pun takut mengulurkan tangannya. Namun, Sella tidak langsung membalas uluran tangan itu.


"Tangan Nevan bersih kok, tadi kan sebelum masuk cuci tangan dulu," ujar Nevan membuat yang mendengarkan semakin salut dengan bocah kecil itu.


Sella tersenyum lalu membalas uluran tangan Nevan. "Hai jagoan," sapa Sella.


"Hai juga Tante cantik," balas Nevan sukses membuat tawa mereka.


"Masih se kecil sudah pinter sih sama yang bening-bening," ujar Sella.


Anisa merasa lega mendengar celetuk dari Sella. Begitu juga dengan Panji dan Vano.


"Ada apa nih kok rame sekali," sapa seseorang wanita 60 tahun-an yang berjalan dengan pelan.


"Masya Allah... Anisa...," panggil wanita itu.


"Mommy," sahut Anisa dan langsung memeluk tubuh wanita itu.


"Mommy kangen sekali dengan kamu. Bagaimana kabar kamu?" tanya mommy Vano setelah melepas pelukannya.


"Alhamdulillah baik Mom. Maaf kan Anisa yang tidak pernah berkunjung ke rumah Mommy. Anisa terlalu sibuk dengan apa yang Anisa kerjakan. Sampai Anisa lupa untuk menyambung tali silaturahmi dengan orang selama ini baik sekali dengan Anisa," ujar Anisa panjang lebar.


Mommy mengembangkan senyum, "Mommy paham, kamu kan sedang sibuk merintis usaha baru," sahut Mommy Vano.


"Ini_"


"Anak aku Mom," cekat Anisa, saat mommy Vano menunjuk Nevan.


"Assalamualaikum ganteng," sapa mommy Vano sambil mengelus pucuk kepala Nevan.


"Waalaikum salam eyang," jawab Nevan.


"Itu pasti suami kamu," ujar mommy Vano menunjuk ke arah Panji.


Kaki Panji melangkah ke arah mommy Vano lalu mencium punggung tangan wanita itu.


"Kalian terlihat serasi. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah."


"Amin... terima kasih Mom," sahut Anisa.


"Begitu kalau Mommy temu dengan Anisa, anak kandung jadi ditirikan," celetuk Vano dan berhasil mengalihkan semua pandangan pada dirinya.


Anisa, Panji, dan Vano duduk kembali ke kursi mereka. Mommy Vano juga mendudukkan pantatnya di single sofa.


"Sella, Mommy sudah sering katakan sama kamu. Jangan pernah mengharap balasan dari kebaikan yang kita tanam karena nanti ada yang Mahakuasa yang akan membalas," ucap mommy Vano.


"Mommy juga sering ingatkan kamu untuk membuang sebuh dendam karena dendam hanya akan mematikan hati kita. Dendam itu ibarat penyakit, kalau tidak kita obati ya akan menggerogoti tubuh kita. Kita akan jauh dari segala nikmat yang Allah berikan, hawanya ingin selalu marah tapi tak terlampiaskan," sambung mommy Vano yang tahu maksud kedatangan Anisa karena sebenarnya dia mendengarkan semua apa yang sebelumnya dibicarakan mereka di ruang tamu hanya mommy Vano menunggu waktu yang tepat untuk keluar.

__ADS_1


"Sekarang tinggal kamu Sell, apakah akan terus menyimpan dendam padahal orang yang kata kamu menjadi korban dari keegoisan Anisa, telah memaafkan Anisa. Perlu digarisbawahi pula, Anisa tidak egois tapi Anisa punya hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Dia berhak mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya," sambung mommy Vano.


"Keadaan Vano seperti ini, itu garis takdir dari Allah. Allah memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hambanya, Mommy yakin Vano anak terganteng Mommy mampu melewati ini semua. Bukan seperti itu Van?"


Vano tersenyum mengangguk membalas ucapan sang mommy.


"Aku minta maaf Mbak," ucap Anisa berdiri lalu mengulurkan tangan.


Sella diam. Anisa duduk kembali dan terlihat raut kekecewaan pada wajahnya.


"Hanya uluran tangan? Kamu tidak kangen untuk memeluk aku?" ujar Sella setelah diam merenungi segalanya.


Anisa langsung berdiri melangkah ke Sella lalu memeluk wanita itu.


Suasana haru terlihat di antara mereka. Akhirnya kesalahan pahaman dan dendam itu berakhir dengan saling memaafkan.


"Biasanya, Nadira datang Van?" tanya mommy Vano di sela-sela pembicaraan.


"Oh, dia katanya ada perlu jadi mungkin nanti malam baru bisa ke sini," jawab Vano.


"Nadira tiap hari datang ke sini Mom?" penasaran Anisa.


Mommy mengangguk.


"Ayo ... cie... kayaknya ada sesuatu nih," ledek Anisa pada Vano.


"Sepemikiran dengan Mommy Nis," sambung mommy Vano.


"Mereka tahap pendekatan Nis" sela Sella.


"Bener Van?!" seru Anisa.


"Itu gosip," jawab Vano dengan santai.


"Lihat tampangnya, dia malu-malu untuk mengatakannya," ledek Sella menunjuk ke arah Vano.


"Semoga beneran, Nadira sangat baik pada Vano. Tidak apalah berawalan teman berakhir di pelaminan," seloroh mommy Vano.


"Terserah kalian mau ngomong apa," sahut Vano pasrah membuat mereka tertawa kembali menatap ekspresi Vano.


Namun, di sela tawa, Vano menatap wajah saudaranya. 'Terima kasih Mbak, aku tahu kamu orang baik tapi karena terlalu mengkhawatirkan keadaan aku, kamu menemui jalan sesat telah menyalahkan Anisa. Aku lega, semuanya berakhir dengan manis,' batin Vano.


Drttt


drttt


drttt.


Panji merasakan ponselnya bergetar, dia merogoh saku celana, menatap layar ponsel tertera nama si pemanggil.


"Aku permisi dulu," pamit Panji pada yang lain.


Panji segera mengusap layar ponsel, panggilan dari Bowo terhubung.


"Kamu lanjutkan. Aku segera pulang ke Indonesia," sahut Panji setelah mendengar laporan dari Bowo.


Maaf aku ada urusan RL jadi novel terbengkalai ๐Ÿ™


tapi insyaallah aku tulis sampai tamat kok. menemani sahur kalian๐Ÿค—. jangan lupa tetap like like favorit rate komen komen hadiah. ๐Ÿ’ช


yang belum mampir Janda Daster Bolong Mampir yuk ๐Ÿ™ klik profilku ya๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ jangan lupa masukkan rak favorit.

__ADS_1


__ADS_2