Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 39


__ADS_3

"Ih! Pengen nonjok tuh muka!" sambung Anisa masih dengan umpatan yang belum sempat dia lontarkan pada orang yang harus mendengar umpatan itu.


Waktu terus berjalan, detik menit, jam hingga malam menyapa.


Panji masih di dalam kamar Omanya. Oma Sartika lebih memilih diam di dalam kamar dari pada bertatap muka dengan tamu yang tak diundang.


"Ayo makan Oma," bujuk Panji.


"Kapan mereka pulang?" tanya oma.


"Mungkin besok," jawab Panji.


"Aku sangat muak melihat orang-orang kampung itu!" ketus oma.


"Mereka juga orang tua ku Oma. Kalau Oma ingin dihormati aku, seharusnya Oma juga menghormati mereka, menyayangi mereka selayaknya anak."


"Tidak semudah itu!"


"Terserah Oma kalau begitu, makanlah. Aku harus menemui mereka," pasrah Panji dan kakinya kini melangkah pergi dari kamar itu.


Anisa ada di ambang pintu, tangannya yang akan mengetuk pintu kamar Oma Sartika dikagetkan karena bukannya pintu yang dia ketuk tapi muka Panji yang dia ketuk.


Panji menatap kesal atas kecerobohan Anisa.


"Ada apa!" tanya Panji dengan muka kesalnya.


Anisa nyeringis menyaksikan lelaki di depannya begitu kesal.


"Maaf Kak," ucap Anisa atas kecerobohannya.


Panji diam tanpa menjawab ucapan Anisa.


"Dipanggil Ibu sama bunda," lanjut Anisa.


"Mereka dimana?"


"Di saung taman rumah."


Panji memutar langkah menuju taman rumah. Anisa mengekor di belakangnya.


"Ke sini Nak," Pinta Bunda Rosmawati.


Panji dan Anisa segera duduk. Ada rasa penuh tanya di benak dua kepala yang baru mendudukan diri.


"Oma sudah mau makan?" tanya bunda Rosmawati.


Panji menggeleng.


Bunda Rosmawati terlihat diam kemudian menampakkan senyum kecut. "Benar-benar tidak mau?"


"Biarlah Bun, nanti juga mau. Bunda tidak usah terlalu memikirkan itu."


Bunda Rosmawati mengangguk.

__ADS_1


"Emmm, ada hal yang ingin disampaikan ibu Maesaroh pada kalian," ujar bunda Rosmawati dengan agak ragu.


Deg.


Ritme jantung Anisa dan Panji langsung berdetak kencang.


"Ibu sudah pertimbangkan ini, bahkan sebelumnya sudah sempat Ibu tanyakan ke Anisa hanya Anisa belum menjawab dengan pasti," ucap ibu Maesaroh dia menjeda ucapannya dan menatap wajah anak dan menantunya.


Panji langsung mengerti arah pembicaraan ibu Maesaroh karena saat itu secara sengaja dia mendengar langsung pembicaraan Anisa dengan ibunya.


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Anisa diperlakukan oleh nenek mertuanya, aku sangat miris Mbak Rosmawati. Bagaimana dia menjalani hari-hari di sini? Setiap hari bertemu dengan nenek semacam dia, aku benar-benar tidak bisa membayangkan," sambung ibu Maesaroh terlihat cairan bening yang mengambang memenuhi pelupuk matanya.


Anisa shock mendengar ucapan ibunya, dia menoleh ke arah wajah lelaki yang di sampingnya terlihat diam dan sesekali menelan salivanya.


"Oma, memang belum bisa menerima aku Bu tapi Kak Panji begitu peduli denganku," ucap Anisa dengan pelan wajahnya tetap memandang lelaki yang di sampingnya dan entah kenapa hati Anisa begitu terenyuh dengan ucapannya sendiri karena ini seperti apa yang ada di dalam hatinya.


"Kak Panji selalu peduli dengan makanan yang kumakan, peduli apa yang aku butuhkan, peduli dengan kesehatanku bahkan dia juga peduli ketika aku sedih dirundung rindu dengan ibu. Ibu ke sini bukankah itu atas permintaan Kak Panji?"


Maesaroh mengangguk pelan, terlihat dia menyeka air matanya.


"Maaf Ibu, aku menolak permintaan Ibu untuk pergi dengan Ibu, aku sekarang adalah istri dari Kak Panji. Dia imanku dan aku yakin Kak Panji akan menjadi imam yang baik untuk aku dan anak-anakku kelak," terang Anisa yang sudah menggenggam tangan ibunya.


Panji terdiam dia menatap lekat wajah gadis yang sedang menoleh ke ibunya. Ada perasaan lega ketika Anisa mengucapkan itu semua. Panji kemudian menatap bunda dan bapaknya, mereka menampakkan senyum.


"Terima kasih Nak, kamu menjaga Anisa dan calon bayinya dengan baik, Bunda juga sependapat dengan Anisa. Bunda yakin kamu bisa jadi imam yang baik untuk keluarga kalian nantinya," sela bunda Rosmawati.


Panji mengangguk. Dalam lubuk hatinya begitu bahagia melihat bundanya terlihat tersenyum bahagia.


Panji tersenyum kemudian mengangguk.


"Sudah semakin malam, biarlah mereka istirakhat. Lagian Anisa juga pasti capek. Yang penting Mbak Maesaroh itu tenang, yakin dengan keputusan yang Anisa ucapkan dan selalu doakan yang terbaik untuk Anisa. Doakan untuk keluarga mereka agar jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ujar bunda Rosmawati panjang lebar.


"Ya Mbak, kalau itu selalu aku doa kan di setiap sujud ku pada Allah," jawab ibu Maesaroh dengan senyum dan tangannya mengelus perut anaknya.


"Jaga baik-baik Ibu ya dek," ucap Maesaroh berinteraksi dengan si jabang bayi.


"Bunda juga ingin mengelus cucu Bunda," pinta Rosmawati yang langsung mengelus perut Anisa yang mulai terlihat isinya.


"Wah...cucu nenek kayaknya cewek nih," seru bunda Rosmawati yang diikuti senyum tawa dari semua.


"Itu maunya kamu Mbak," sanggah ibu Maesaroh. "Kalau aku sih merasa dia cowok Mbak," ujar Maesaroh.


"Itu juga maunya Mbak Maesaroh," jawab Rosmawati juga diikuti tawa dari lainnya.


"Sudah ah katanya mereka biar istirakhat kenapa malah kita tawan di sini? Sana Nak ajak Anisa masuk kamar."


"Ya Bun," jawab Panji.


"Kita permisi dulu," pamit Panji kemudian berdiri dari duduknya.


"Bantu Anisa untuk bangun Panji, orang hamil itu dari duduk mau berdiri agak susah." Rosmawati menasehati Panji.


"Ya Bun," pasrah Panji dan tangannya kini diulurkan, Anisa meraih uluran itu.

__ADS_1


"Dituntun ketika menuruni tangga, lumayan curam loh tangga saung ini," lanjut bunda Rosmawati.


"Ya Bun," lagi-lagi Panji harus pasrah apa yang diperintahkan bundanya.


"Gandeng Nak, sampai kamar," seru bunda Rosmawati.


"Hmmmm," dengung Panji mengiyakan permintaan ibunya.


Tidak tanggung-tanggung, bukan lagi gandeng tangan tapi bahu Anisa yang dirangkul. Anisa sedikit risih ketika lelaki di sampingnya begitu dekat dengannya, bahkan tanpa jarak.


"Menurut saja," bisik Panji di telinga Anisa karena Anisa sudah mengangkat bahu kirinya yang didekap erat oleh Panji sebagai bentuk penolakan.


Anisa kemudian menurut, setidaknya sampai masuk ruang dan tidak terlihat oleh mata mereka.


"Mereka sudah tidak melihat kita Kak!" seru Anisa begitu masuk ke ruang tengah.


"Tapi Tuhan masih melihat kita, dan aku tidak bisa membohongi bunda untuk tidak menggandeng kamu sampai ke kamar tidur kita.


Anisa mencibirkan bibirnya mendengar ucapan Panji.


"Alasan!" gerutu Anisa.


Panji hanya tersenyum mendengar ucapan Anisa.


"Silahkan masuk Nyonya Panji Darmawan," canda Panji setelah membuka pintu kamar.


"Terima kasih Tuan Panji," jawab Anisa dengan melempar senyum kecut.


"Lepas Kak, aku mau masuk ke toilet kamar," seru Anisa.


Panji belum melepas tangannya dari bahu Anisa.


"Aku antar masuk," ucap Panji dengan menatap intens wajah gadis di sampingnya.


Anisa membalas tatapan itu dengan mencibirkan bibirnya.


Bugh.


Satu sikuan berhasil mendarat di perut Panji, hingga dia langsung melepas rangkulannya dan meringis kesakitan.


"Eh, ini namanya kekerasan dalam rumah tangga!" seru Panji.


"Itu baru siku tanganku, belum kepalan tangan ini!" Anisa menunjukkan kepalan tangannya dengan tersenyum menang.


Panji tidak sedikit pun gentar dia langsung membusungkan dada dan mendekat ke arah Anisa. Merasa Panji akan memberikan perlawanan, Anisa segera berlari masuk ke toilet kamar dan menguncinya walaupun tadi Anisa sempat mendengar seruan dari Panji agar tidak berlari.


Napas Anisa memburu, dia kemudian menarik perlahan dan mengeluarkan nya.


"Dasar gladiator anak!" umpat Anisa.


"Dasar bocah! Berulang kali aku peringatkan untuk tidak lari tapi tetap dia ulangi!" umpat Panji dengan menatap lekat pintu toilet kamar. Namum kemudian, senyum di wajah Panji mengakhiri umpatannya. Hanya Panji lah yang tahu maksud dari senyum yang menambah garis ketampanan di wajahnya.


Menyapa kalian lagi🤗 waduh...sudah beberapa bab tentang Anisa dan Panji. Jangan bosen ya rival mereka segera hadir di bab selanjutnya 🥰 ikuti terus dan pantengin terus ❤️❤️jangan lupa like komennya 🙏 vote hadiah juga ya😍🥰

__ADS_1


__ADS_2