
"Rumah sakit?! Kenapa Mang? Siapa yang sakit?" cecar Anisa karena begitu shock mendengar seruan mang Udin.
"Oma Non, kita ngubungi Nona dan Tuan tapi tidak diangkat-angkat teleponnya dan ternyata ponselnya Non ketinggalan di meja makan."
"Ya sudah kita langsung pergi!" ajak Anisa.
"Bentar Non, aku ambil dulu ponselnya. Nanti Non coba hubungi lagi Tuan Panji," ucap Mang Udin kemudian masuk untuk mengambilkan ponsel Anisa.
"Ini Non." Mang Udin menyerahkan ponsel milik Anisa.
"Terima kasih Mang," ujar Anisa lalu ponsel itu dia masukkan ke dalam tas.
"Yuk Mang cepat antar ke rumah sakit!"
"Duh Non, Mang Udin mah tidak bisa nyetir mobil. Nanti Pak Faruk saja yang nyetir."
"Pak Faruk dimana?"
"Itu di garasi mobil, memang sengaja nunggu Non," tunjuk mang Udin.
"Pak Faruk... ." panggil Anisa.
"Eh Non, mau langsung ke rumah sakit?"
"Ya, buruan Pak antar ke sana."
"Ya Non, Bapak memang di suruh mbak Asih buat nunggu kedatangan Non, lah nantinya suruh nganter ke sana."
Anisa masuk ke dalam mobil dan mobil itu segera melaju.
"Pak tidak bisa ditambah kecepatannya?" pinta Anisa karena mobil yang dilajukan pak Faruk begitu lambat menurut Anisa.
"Ini sudah cepat Non," alasan pak Faruk karena dia sendiri tahu sedang membawa ibu hamil jadi melajukan mobilnya dengan sangat
"Apa Oma drop Pak?" tanya Anisa penasaran karena pagi tadi ketika ditinggal keadaan oma terlihat membaik.
"Nyonya terpeleset di toilet Non."
"Terpelesat? Kok bisa?"
"Mbak Asih sedang mengambil buah untuk oma, dia ke dapur dan ternyata oma berjalan sendiri ke toilet kamar," terang pak Faruk.
"Astaghfirullah haladhim, terus keadaannya sekarang bagaimana?"
"Nyonya masih belum sadar," jawab pak Faruk dengan nada suara melemah.
"Ya Allah...semoga oma baik-baik saja," ujar Anisa dengan wajah yang terlihat panik.
"Kak Panji sudah diberitahu?"
"Sudah coba hubungi Tuan tapi tidak nyambung Non."
Anisa mengempaskan napasnya kasar terlihat pasrah mendengar jawaban pak Faruk.
"Coba ku hubungi," seru Anisa dengan membuka ponsel dan menghubungi kontak suaminya. Namun, apa yang dikatakan pak Faruk benar. Panji tidak dapat dihubungi. Sudah 3 kali Anisa hubungi tapi tetap saja tidak dapat menyambung.
"Sudah sampai Non. Nyonya sekarang di ruang ICU."
"Ya Pak, terima kasih," ucap Anisa kemudian berjalan cepat menuju ruang ICU. Sesampai di ruang ICU, Anisa melihat ada mbak Asih yang sedang duduk di samping ranjang pasien.
Anisa menatap nanar wajah yang terlihat pasi di ranjang pasien, diam tanpa gerak. Alat medis memenuhi tubuh oma yang terlihat mengurus.
__ADS_1
"Oma," lirih Anisa dengan menyentuh tangan oma Sartika.
Mbak Asih langsung mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara Anisa. Nampak wajah mbak Asih lega karena nonanya sudah datang.
"Alhamdulillah Non sudah datang," ucap mbak Asih.
Anisa membalas dengan senyum kecil kemudian duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Sesekali tangannya bergerak memijit kaki maupun tangan sang oma. Lama Anisa melakukan itu. Ada rasa sedih teramat melihat Oma Sartika tergeletak tidak berdaya seperti itu. Bahkan panggilan Anisa tidak mampu Oma sahuti.
"Aku salat Zuhur dulu Mbak," ucap Anisa pada Mbak Asih karena tanpa dirasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
"Ya Non," jawab Mbak Asih.
Anisa melangkah keluar, ke masjid yang ada di dalam rumah sakit.
Empat rakaat telah dia tunaikan. Sepenggal doa dia panjatkan pada Yang Maha Pencipta tidak lupa meminta untuk kesembuhan sang oma.
Syafakallahu saqamaka wa ghafara dzanbaka wa afaka fi dinika wa jismika ila muddati ajalika.
Wahai Oma Sartika Dewi Robert semoga Allah menyembuhkan mu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia. Amin.
Anisa segera meraih tas nya karena baru teringat belum menghubungi Panji untuk memberitahukan kabar tentang oma.
"Alhamdulillah nyambung," seru Anisa melihat layar ponsel dengan kontak yang dia hubungi bertulis dering.
"Assalamualaikum Kak," sapa Anisa begitu panggilan itu terhubung.
"Waalaikum salam." jawab suara di sana dengan datar.
"Kakak sudah sampai di rumah Bunda?"
"Hmmm," dengung Panji mengiyakan tanya Anisa.
"Aku..., a-ku mau kasih kabar Kak," ucap Anisa dengan terbata dan suara parau.
"Aku baik-baik saja Kak tapi_"
"Tapi apa?!"
"Oma yang tidak sedang baik," lirih Anisa.
"Oma kenapa?" tanya Panji dengan suara yang bergetar.
"Dia terpeleset di toilet, sekarang ada di ICU. Kakak segera pulang."
"Hallo," ujar Anisa karena tidak ada sahutan dari seberang sana.
Anisa melihat panggilan sudah terputus. Dia memasukkan ponselnya ke tas kembali. Kemudian berjalan menuju ruang ICU.
"Mbak Asih, belum ada tanda-tanda oma sadar?"
Mbak Asih menggeleng.
"Hai Anisa," sapa dokter Maya begitu masuk ke ruang ICU
"Dokter Maya," ujar Anisa membalas sapa wanita yang tengah berdiri di depannya.
"Yang sabar ya," ucap dokter Maya menenangkan Anisa.
Anisa mengangguk.
"Beliau mengalami pendarahan otak. Lebih jelasnya nanti bisa kamu tanyakan ke dokter yang menanganinya."
__ADS_1
"Astaghfirullah haladhim," lirih Anisa.
"Aku tinggal dulu Anisa, aku ada urusan lain," pamit dokter Maya.
Anisa mengangguk.
Anisa mendekat ke arah oma meraih tangan kurus itu.
"Oma, ayo bangun, sehari ini Anisa belum mendengar omelan oma. Akhir-akhir ini Oma kan belum ngomong ketus ke Anisa. Katakan saja apa yang ingin Oma katakan. Oma ingin marah ke Anisa? Luapkan saja Oma, jangan malah diam seperti ini," gumam Anisa dan tangannya bergerak mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Ayo Oma," Anisa menggerakkan tangan Oma Sartika. Namun tubuh itu tetap diam tak bergeming.
"Masya Allah.... Oma!" terkejut Anisa karena Oma menggerakkan tangan dan perlahan membuka matanya.
Oma tersenyum.
"Nisa," gumam oma Sartika nyaris tanpa suara hanya bibirnya yang bergerak.
"Ya Oma, ini aku," jawab Anisa.
"Ma_af,"
Anisa mengangguk tangan Anisa bergerak menyeka air mata.
"Ja_ga Pan_ji," sambung Oma dengan suara lirih tapi Anisa paham apa yang dikatakan oma dengan melihat gerak bibir sang oma.
Anisa mengangguk dengan derai air mata yang masih mengalir di pipi. "Tapi Oma harus sembuh," sahut Anisa dan dijawab dengan senyum kecil dari oma Sartika. Namun, mata oma kembali terpejam dan tangan itu terkulai.
Layar monitor menunjukkan menurunnya tekanan darah secara drastis dan pompa jantung yang melemah.
Perawat dan dokter segera masuk, memeriksa keadaan pasien.
Anisa masih menangis tanpa henti dalam pelukan mbak Asih.
"Keluarga pasien, tetap tegar, hidup seseorang itu Allah yang mengatur. Iringi beliau dengan lafal Al Qur'an," ucap dokter kemudian pergi dari ruangan.
Anisa mencoba menenangkan diri, melangkah ke toilet kamar, mengambil air wudu kemudian duduk kembali di samping ranjang membuka ponsel mencari aplikasi baca Al Qur'an.
Surah Yasin mulai Anisa lantunkan. Ayat demi ayat Anisa baca. Namun belum sampai ayat terakhir, Anisa melihat napas Oma sudah tercekat di leher. Anisa mendekat ke arah oma, menuntun untuk melafalkan nama Allah.
"Allah, Allah, Allah," ucap Anisa di telinga Oma Sartika.
Tut Tut tuuttt.
Suara dari monitor warning panjang tanpa jeda.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun," lirih Anisa badannya luruh ke bawah menjauh dari oma.
Mbak Asih mencoba membantu memapah Anisa.
Dokter dan perawat menghambur masuk ke ruangan memeriksa tubuh Oma Sartika yang sudah lepas tanpa jiwa.
Mbak Asih masih memapah Anisa untuk keluar ruangan.
"Ya Allah oma, cepat sekali oma tiada. Rasanya baru kemarin kita bertemu, sekarang kita berpisah."
"Non, yang tabah, setiap makhluk hidup pasti akan meninggal. Hari ini oma, suatu saat kita juga akan menyusulnya, yang sabar, ikhlaskan," ucap mbak Asih menenangkan Anisa.
Anisa mengangguk.
"Aku harus hubungi Kak Panji," lirih Anisa.
__ADS_1
malam menyapa🥺 mari takziah dulu. Semoga Allah masih memberikan nikmat iman Islam pada kita.
like, komen, vote, hadiah juga ya🙏