
'Tapi bagaimana caranya ya?' batin Nesya bertanya.
Nesya mengacak-acak rambutnya, setelah berpikir keras dan hanya kebuntuan yang dia temui.
"Apa aku ajak berlibur saja?" lirih Nesya.
"Yes! Yes!" seru Nesya hingga mata Tika menatap Nesya karena seperti orang gila yang jingkrak-jingkrak tidak karuan.
"Kenapa Nes?" tanya Tika.
"Ada deh," ucap Nesya sambil melempar sebuah senyum.
...****************...
'Sebaiknya aku tanyakan ke Anisa mengenai Vano. Anak tengil itu memang tidak ada tampang menjadi orang yang picik tapi manusia bisa dibutakan oleh hal dunia bahkan masalah cinta,' batin Panji berucap.
"Nis, apa aku boleh tanya sesuatu?" ujar Panji.
Nisa menolehkan pandangan dari ponsel yang dia pegang.
"Apa sayang," sahut Anisa sambil mengelus rahang Panji.
Entah kenapa rahang sang suami itu menjadi spot favorit untuk Anisa raba.
Panji tersenyum menarik telapak yang menempel di rahangnya lalu menciumnya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" ulang Panji.
"Ya sayang, tanyalah," jawab Anisa.
Panji tersenyum, sebenarnya dia sengaja mengulang pertanyaan agar dipanggil dengan sapaan 'sayang'.
"Kok malah tersenyum dan tidak bersuara?"
"Aku jadi lupa mau tanya apa karena kamu menyapaku dengan kata sayang," sahut Panji.
"Kakak suka aku panggil sayang?"
Panji melingkarkan tangannya di bahu Anisa lalu membisikkan kata, "suka sayang."
Anisa tersenyum. "Kalau begitu, aku panggil sayang, sayang, sayang, sayang," ucap Anisa dengan mengecup tiap inci wajah sang suami.
Panji terkekeh dengan perlakuan sang istri.
"Masya Allah, semoga rasa cinta kita selalu berkembang seiring napas yang Allah berikan pada kita," ucap Panji.
"Amin," sahut Anisa.
"Semoga juga Nevan cepat punya adek," bisik Panji.
Anisa tersenyum, dia teringat kalau bulan ini tamu bulanannya belum datang. 'Sudah satu minggu ini terlambat datang bulan tapi aku tidak mau berasumsi dulu, takut salah tebak. Toh biasanya aku memang telat datang bulanannya,' monolog batin Anisa.
__ADS_1
"Kalau dikasih lama Kak?" lirih Anisa.
"Kita sudah punya Nevan sayang, dia juga anak kita yang perlu kita syukuri kehadirannya," sahut Panji.
Mata Anisa terlihat berkaca mendengar ucapan Panji.
"Terim kasih sayang," ucap Anisa lalu mengecup pipi sang suami. Entah kenapa selain suka meraba rahang milik suaminya dia juga suka sembarang mengecup inci wajah suaminya.
"Sepertinya aku harus cemburu, kamu lebih cinta dan sayang dengan Nevan," ujar Anisa.
Panji terkekeh, "kamu cemburu dengan Nevan?"
"Mungkin," lirih Anisa.
"Emmm...perlu pembuktian apa agar kamu yakin kalau cintaku padamu juga tak kalah besar?"
"Misalnya... lompat dari gedung, lompat dari jembatan, atau_"
"Aku tidak bisa bersikap senekat itu Nis tapi ketahuilah, aku... mencintai kamu," cekat Panji memotong ucapan Anisa.
"Hanya kata cinta itu mah biasa aja Kak," seloroh Anisa diiringi tawa.
"Oya, sebelumnya Kakak tadi mau tanya apa sama aku?"
"Sampai lupa kan. Sentuhanmu sungguh mengalihkan duniaku," canda Panji membuat Anisa terkekeh.
"Kakak mau tanya apa?" ulang Anisa juga disertai rasa penasaran.
Anisa langsung menengadahkan kepalanya menatap Panji.
"Jadi Kakak curiga aku masih kontak dengan Vano?!" ucap Anisa dengan emosi.
"Nisa, aku hanya tanya kamu masih kontak dengan Vano tidak? Aku tidak sedikitpun punya perasaan curiga kalau kamu masih kontak dengan dia. Kalau pun kamu kontak dengan dia, aku percaya itu hanya sebatas sahabat," terang Panji.
"Tidak! Kakak pasti mencurigaiku! Kakak menanyakan itu karena Kakak tidak percaya dengan cintaku! Aku memang dekat dengan Vano tapi setelah aku memutuskan pulang ke Indonesia aku sudah sama sekali tidak kontak dengan dia. Hanya sesekali dengan Nadira!" Anisa menjelaskan panjang lebar dan dengan derai air mata yang mengalir di pipinya.
Setelah mengatakan itu semua, Anisa lebih memilih melepas pelukan Panji dan tidur membelakanginya.
"Astaghfirullah haladhim, Nisa, a_"
Panji menghentikan ucapannya, dia merasa tidak yakin akan melanjutkan kalimatnya di karenakan yang akan dia ucapkan adalah, 'aku mencurigai Vano di balik teror yang kamu terima' dan Panji yakin ucapannya itu akan menambah emosi Anisa.
"Sudahlah, kamu tidur saja, mungkin kamu sedang capek makanya terlalu sensitif," gumam Panji.
"Aku minta maaf, sekali lagi aku tidak mencurigai kamu sayang. Aku percaya dengan cinta kamu," ujar Panji kemudian kakinya turun dari ranjang menuju toilet kamar.
Dia bebersih dan mengambil air wudu agar lebih tenang suasana hatinya.
Begitu keluar dari toilet, Panji dikejutkan dengan Anisa yang sedang duduk sambil menangis.
Panji mendekat pada sosok istri yang sedang duduk menyandarkan tubuh di kepala ranjang.
__ADS_1
"Kamu masih marah?" tanya Panji dengan hati-hati.
Anisa menggeleng lalu memeluk tubuh atletis Panji, menelusup dalam dada bidangnya dan kembali menangis.
Panji membiarkan wanitanya menangis kembali agar merasa tidak ada yang mengganjal di hatinya. Tangan Panji bergerak mengelus pucuk kepala Anisa.
"Aku minta maaf Kak," lirih Anisa dengan suara parau dan tangis air mata yang masih membasahi pipinya.
Panji tersenyum mendengar maaf dari Anisa ada perasaan lega, wanitanya tidak seemosi sebelumnya.
"Aku yang minta maaf sayang," sahut Panji.
"Aku cinta Kak Panji. Kakak jangan marah denganku," ujar Anisa.
Panji semakin melebarkan senyum, "siapa yang marah dengan kamu?" tanya Panji mengangkat kepala Anisa menangkup rahang wanitanya.
"Kamu tahu, kamu jelek kalau nangis seperti ini." Panji menyeka air mata di pipi Anisa.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bib*r Anisa.
"Sebelum aku pulang ke Indonesia, Vano sempat melamarku," ujar Anisa. Panji menampakkan wajah serius mendengarkan cerita Anisa.
"Terus," ucap Panji.
"Namun, aku menolaknya," lanjut Anisa sambil menghempaskan napas dengan kasar.
"Dia sangat baik Kak. Hanya..., hatiku tidak bisa menerima cintanya."
"Aku lebih memilih pulang ke Indonesia untuk mengambil Nevan dari tangan kamu Kak. Aku kuat menjalani hidup di KL hanya untuk meraih kesuksesan dan ternyata itu terkabul. Aku sukses menjadi desainer walaupun tidak begitu populer tapi setidaknya ada hal yang kubanggakan ketika menghadap Kakak." Anisa menengadahkan kepalanya menahan cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
'Saat itu pasti saat yang begitu menyakitkan buat kamu Nis,' batin Panji.
"Aku... juga merindukan orang yang aku benci, sangat aku benci!" lanjut Anisa.
"Apakah itu aku?"
Anisa mengangguk pelan. Panji membalas dengan sebuah senyum kecil.
"Mengenai kabar Vano sekarang, aku sama sekali tidak tahu karena aku takut, kalau aku kontak lagi dengan dia, kedepannya akan menambah luka di hatinya," ujar Anisa.
"Kakak percayakan apa yang aku ucapkan?" tanya Anisa menatap Panji.
"Ya, aku percaya." jawab Panji dan menarik tubuh Anisa masuk dalam pelukannya kembali.
"Sekarang tidurlah, sudah begitu malam!" titah Panji.
Anisa mulai memejamkan matanya. Namun, hatinya masih bertanya-tanya mengenai dirinya yang tidak dapat mengontrol emosi.
'Ada apa denganku? Bukankah Kak Panji hanya menanyakan aku masih kontak dengan Vano atau tidak. Kenapa aku begitu emosi. Lagian Kak Panji juga menanyakan dengan baik-baik? Ah! Dasar kamu Nis! Untung saja Kak Panji tidak ikut terbawa emosi,' monolog batin Anisa.
__ADS_1
malam menyapa 🤗 jangan lupa beri like vote hadiah komen komen komen loh rate juga ya...🙏 kira-kira kenapa dengan Anisa?🤔