Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 85


__ADS_3

'Salah penafsiran deh Bunda!' gerutu batin Anisa. 'Tapi dia tidak akan salah tafsir juga kan?!' mata Anisa melirik ke arah Panji yang juga sedang tersenyum.


"Bukan seperti itu Bun...e...aku hanya kasian dengan Nevan," jawab asal Anisa.


Rosmawati tersenyum mendengar alasan Anisa dan dipeluk lagi tubuh Anisa.


"Kamu dan Panji segeralah pulang ke rumah ibu. Minta restu sama beliau," ujar Rosmawati setelah melepas pelukannya.


"Jangan lupa Panji, kamu di sini yang paling banyak bersalah, minta maaf sama beliau dan serius untuk berubah," lanjut Rosmawati.


"Ya Bun tapi kita salat dulu, tadi tidak sempat mampir karena ingin segera sampai.


"Sana salat, keburu habis waktu Zuhurnya."


Panji melangkah masuk diikuti Arlan dan Anisa. Mereka berjamaah salat Zuhur, Nevan juga ikut di barisan makmum walaupun tidak mengikuti gerakan dengan pas malah lebih suka tengok ke belakang melihat ke Anisa maupun nengok ke samping kanan kiri. Dua salam mengakhiri salat mereka.


Namun, sebelum pergi ke ibu Maesaroh, bunda Rosmawati sudah menghidangkan makan siang sederhana. Tempe penyet, sayur asam, dan ikan asin.


'Aku semakin rindu dengan ibu, ini adalah makanan kesukaan ibu,' batin Anisa sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Kenapa Nak? Apa kamu tidak suka menu masakannya?" tanya Rosmawati.


Anisa segera menggeleng cepat.


"Justru aku suka sekali Bun, ini salah satu masakan yang aku kangeni," jawab Anisa.


Selesai makan, Anisa membawa piring itu ke belakang dibantu Panji. Sengaja yang lain tidak ikut membersihkan bekakas makanan membiarkan Panji dan Anisa melakukan itu.


"Biar di situ saja Nis, kalian cepatlah temui ibu Maesaroh," ucap Rosmawati.


Anisa yang sudah memegang spon cuci piring langsung dia letakkan kembali karena memang dia sudah sangat rindu dengan ibunya dan semakin ingin bertemu mana kala sudah dekat di desa asalnya.


"Nevan, kita ke rumah eyang," ajak Panji berjalan masuk ke ruang tengah.


"Eyang? Ayo Ayah!" antusias Nevan lari keluar.


"Ayo Bunda," ajak Nevan menarik tangan Anisa.


Anisa jalan mengikuti arah tarikan Nevan hingga masuk ke mobil.


"Assalamualaikum Oma, opa," ucap Nevan dengan melambaikan tangan.


Bip.


Mobil itu melaju menuju rumah ibu Maesaroh.


Anisa merasa jantungnya berdetak tidak normal. Antara rindu, dan merasa banyak salah dengan wanita yang telah melahirkannya.


Mobil mencari tempat parkir tepat di sebuah rumah yang berubah drastis dari bangunan awal.


"I-ini rumah ibu?" tanya Anisa terbata.


"Tuan Panji yang merenovasinya," jawab Arlan sambil mematikan mesin mobil setelah terparkir dengan sempurna.

__ADS_1


Semua turun dari mobil. Anisa agak ragu melangkah masuk ke rumah itu. Ada rasa bersalah yang besar pada sosok ibu. Namun, di sisi lain dia juga sangat rindu pada ibunya.


Panji memencet bel rumah.


Seorang ibu paruh baya segera keluar membukakan pintu rumah, alangkah terkejutnya ketika pintu itu terbuka.


"Ibu...," panggil Anisa dengan lirih.


"Anisa..., Masya Allah!" seru Maesaroh.


Dua orang saling peluk melepas rindu yang dalam. Lama mereka berpelukan, saling panggil nama dan tumpahan air mata bahagia menyertai mereka.


"Ya Allah Anisa, kamu sudah dewasa Nak, cantik sekali," ucap Maesaroh sambil meraba pipi anaknya dan dipandang lekat wajah Anisa.


"Eyang...," lirih Nevan memanggil sosok nenek paruh baya yang belum juga menyapanya.


"Astaghfirullah haladhim, Nevan cucu eyang, maaf eyang dari tadi belum menyapa Nevan," ujar Maesaroh mendekat ke arah Nevan, menciumi ubun-ubun.


Setelah puas mencium ubun-ubun hingga pipi bocah menggemaskan itu, Maesaroh mempersilahkan semuanya masuk.


"Anisa kapan sampai di Indonesia? Ibu kok tidak dikabari?"


"Maaf Bu, Anisa sengaja memberi surprise buat Ibu," alasan Anisa.


Maesaroh tersenyum mendengar alasan yang dilontarkan Anisa.


Anisa mengedarkan pandangannya ke ruang tamu yang jelas sangat berbeda dari sebelumnya.


"Nak Panji yang renovasi rumah. Kalau hujan rumahnya bocor. Saat itu Nak Panji main ke sini dengan Nevan, eh di dalam rumah berasa sedang main hujan di luar rumah. Akhirnya dengan terpaksa ibu terima tawaran Nak Panji untuk merenovasi rumah," singkat cerita Maesaroh, mengerti dengan melihat arah mata Anisa menatap.


"Eyang...Nevan mau main ya," pamit bocah itu dan tanpa mendengar persetujuan dari eyangnya dia langsung lari menuju ruang tengah yang biasa dipakai untuk meletakkan mainan Nevan ketika berkunjung ke rumah eyangnya.


Arlan segera menyusul Nevan.


Maesaroh hanya tersenyum melihat tingkah cucu satu-satunya.


"Nevan, astaghfirullah haladhim jangan main lari Nak," seru Panji mengingatkan anaknya agar hati-hati.


"Ibu tunjukkan kamar baru kamu Nis," antusias Maesaroh sambil menggandeng tangan Anisa.


"Tentunya kamar Panji juga, ayo!" lanjut Maesaroh.


Anisa terpaksa menurut melangkah mengikuti langkah kaki ibunya, Panji juga mengekor mereka berdua.


"Lihat, bagus ya," tunjuk Maesaroh membuka kamar yang terbilang luas dibanding kamar lainnya.


Maesaroh melangkah masuk ke dalam kamar. Anisa dan Panji masih mengekor ibu Maesaroh.


"Ibu minta sama Nak Panji membuat 3 kamar. Satu untuk ibu, untuk Nevan, dan satunya untuk kalian berdua. Ibu juga minta sama Nak Panji rumahnya jangan terlalu besar karena ibu kan sudah tua jadi bersih-bersihnya capek," ujar Maesaroh diikuti senyum dirinya.


"Suka dengan kamarnya?" tanya Maesaroh memastikan.


Anisa ikut duduk di ranjang tidur samping ibunya yang juga duduk di situ. Sedangkan Panji duduk di kursi yang dekat dengan ranjang.

__ADS_1


Anisa mengangguk tangannya kini menggenggam tangan ibunya, mata Anisa lekat menatap mata ibunya.


"Ibu, ada hal penting yang akan kami sampaikan pada Ibu," ucap Anisa.


Maesaroh menatap ada rona keseriusan pada wajah anak dan menantunya.


Maesaroh mengangguk, "Hal apa Nis?" tanya Maesaroh agak berat.


"Sebelumnya, Anisa minta maaf, Anisa_"


Anisa tidak sanggup melanjutkan ucapannya malah air matanya yang meneruskan kalimatnya. Maesaroh menepuk pelan punggung anaknya.


"Aku yang seharusnya menyampaikan ini Bu," sela Panji.


Maesaroh mengalihkan pandangannya ke Panji.


"Aku...aku dan Anisa sebenarnya sudah berpisah?" lirih Panji.


Seperti tersambar petir siang hari, Mulut Maesaroh menganga lebar dan tangan yang sedari tadi menepuk punggung Anisa terkulai lemas.


"Kamu...kamu pisah, maksudnya?" tanya Maesaroh dengan terbata.


"Kami sudah bercerai Bu," terang Panji.


Air mata Maesaroh langsung jatuh mengaliri kedua pipinya.


"Sejak kapan?" tanya Maesaroh dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Awal Anisa pergi ke Malaysia," jawab Panji.


"Astaghfirullah haladhim," keluh Maesaroh dengan mengelus dadanya karena di situ ada rasa sakit yang teramat.


"Jadi selama ini kamu menutupi semua dari Ibu?" ucap Maesaroh dengan parau.


"Maafkan aku Bu," lirih Panji.


"Semua kesalahanku, aku yang menceraikan Anisa. Padahal Anisa wanita solekha yang seharusnya aku pertahankan. Aku yang menawarkan Anisa agar ke Malaysia, agar dia pergi jauh dari hidupku dan juga Nevan."


Maesaroh mendongakkan wajahnya mendengar Nevan, cucunya disebut Panji.


"Dia anaknya Anisa kenapa kamu tega memisahkan dengan Anisa!" suara Maesaroh meninggi.


"Kak Panji hanya tidak ingin study ku terganggu Bu. Jadi, untuk sementara Kak Panji memisahkan Nevan denganku. Selama ini Nevan dikenalkan pada Ibu kan? Kak Panji juga selama ini mengenalkanku pada Nevan walau hanya lewat foto," sela Anisa sedikit menyibak kebenaran.


Bukan niat Anisa membela Panji hanya dia tidak ingin niatnya terhalangi oleh sang ibu. Ya, niat untuk dekat dengan Nevan dan satu-satunya jalan adalah menikah dengan Panji.


Maesaroh sedikit menurunkan emosinya mendengar penjelasan Anisa.


"Ibu ingat, akulah yang tiba-tiba hadir di kehidupan Kak Panji. Dia terpaksa menikahi ku karena aku sedang hamil anak dari almarhum adiknya. Akulah yang mengakibatkan semua ini terjadi pada hidupnya Kak Panji. Aku yang merusak masa depan Kak Panji yang sduah dia susun rapi," lanjut Anisa tulus dari hatinya hingga lelehan air mata juga membasahi pipi.


Panji menatap lekat wanita yang ada di hadapannya.


"Apa yang Anisa katakan benar Bu, aku terpaksa menikahinya, aku terpaksa menjalani hidup dengannya. Sampai suatu waktu, hanya ratapan penyesalan yang aku dapat karena Anisa sudah jauh dari hidupku dan aku baru menyadari kalau aku sangat mencintainya," ucap Panji dengan menekankan kata mencintainya.

__ADS_1


malam menyapa 🤗 like komen komen hadiah vote ya.


Baper nggak ya Anisa ditembak di depan ibunya?🤭


__ADS_2