Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 106


__ADS_3

Mata Anisa menengadah menatap wajah lelaki yang berdiri di depannya. Tangannya bergerak melingkar di perut Panji dan kepalanya dia dibenamkan di perut itu. Anisa menangis sejadi-jadinya.


Panji membiarkan wanitanya meneruskan tangisnya, tangannya bergerak mengelus kepala Anisa yang tertutup jilbab.


Anisa melepas pelukannya. Panji menaikkan dagu Anisa kemudian mengusap air mata yang ada di kedua pipi.


"Kalau nangis terus, cantiknya nanti hilang," ucap Panji.


"Kita pulang, aku sudah tidak sabar bertemu Nevan," sambung Panji.


Deg.


'Apakah di hati kamu yang terlintas hanya Nevan? Tidak sedikit pun kangen denganku?' batin Anisa. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasakan iri kala Panji mengucapkan kalimat itu.


Anisa menurunkan pantatnya dari ranjang kemudian berjalan keluar.


"Jangan cepat-cepat, biar aku papah. Kamu habis pingsan lama tapi tenagamu luar biasa," gumam Panji melangkah cepat mengekor langkah Anisa.


"Kita naik apa?" tanya Anisa setelah berada di parkir rumah sakit.


Panji merogoh saku celana kemudian mengusap layar ponselnya.


Baru saja dia akan menghubungi Bowo, lelaki itu sudah muncul di hadapannya.


"Maaf Bos, kata Moris mobilnya terjebak macet karena ada pohon besar tumbang."


"Kamu berikan kunci motormu," pinta Panji.


"Anisa mana kunci motor kamu?"


Anisa membuka tas, mengambil kunci motornya dan menyerahkan pada Panji.


"Kamu bawa motor istriku," titah Panji.


"Ok Bos!" jawab Bowo.


"Kakak bisa naik motor?"


"Jangan remehkan kemampuanku mengemudikan motor!" sergah Panji.

__ADS_1


Anisa membonceng motor sport itu.


"Pakai helm nya yang benar," seru Panji sambil mengunci helm milik Anisa.


"Terima kasih," ucap Anisa.


"Pegangan yang erat," titah Panji.


Anisa masih duduk tegak hanya kedua tangannya memegang kemeja Panji.


Motor itu mulai melaju.


"Kak! Jangan kencang-kencang!" teriak Anisa.


"Aku sudah bilang, pegangan yang erat,"


"Issst! Seperti anak ABG saja!" gerutu Anisa.


Masuk tikungan dan hampir saja menabrak mobil depan yang mendadak rem membuat tangan Anisa melingkar di pinggang Panji dan tubuhnya dia lekatkan pada punggung pengemudi.


Panji tersenyum karena Anisa semakin mengeratkan pelukan bahkan tidak ada jarak yang memisahkan.


Jarak yang seharusnya ditempuh dalam waktu 30 menit hanya ditempuh dua puluh menit karena motor melaju dengan kecepatan tinggi dan kebetulan jalan sepi hingga Panji tan


Di ruang tengah, Nevan antusias menghambur ke tubuh Anisa. Namun, ketika Nevan melihat di belakang bundanya ada sesosok orang yang lebih dirindukan, Nevan melepas pelukan Anisa dan segera menghambur memeluk Panji dengan antusias yang lebih tinggi.


"Ayah mau jemput Nevan?" tanya Nevan setelah lama memeluk tubuh Panji lalu melepas pelukannya.


Panji tersenyum mengangguk.


"Dan jemput bunda," lirih Panji sambil menunjuk ke arah Anisa.


Anisa yang merasa dirinya ditunjuk kini menundukkan kepalanya.


"Assalamualaikum Bu, sehat?" sapa Panji pada Maesaroh dengan salim takdhim mengecup punggung tangan mertuanya.


"Waalaikum salam alhamdulilah baik. Nevan pasti senang. Dia setiap hari menanyakan kamu," ucap Maesaroh dan Panji hanya membalas dengan senyum.


Anisa terlihat melangkah ke dalam kamar.

__ADS_1


"Sudah kamu istirahat dulu," ujar Maesaroh dagunya menunjuk ke kamar Anisa dan memerintahkan agar Panji ikut menyusul ke kamar.


"Nevan, main lagi yuk. Ayah biar mandi dulu. Biar kumannya hilang," rayu Maesaroh dan diangguki Nevan hingga tubuh bocah itu minta diturunkan dari gendongan Panji.


Panji memutar gagang pintu, lalu kakinya melangkah masuk.


Anisa menatap sekilas ketika Panji masih berada di balik ambang pintu kemudian menutupnya.


"Ada kaos besar yang bisa aku pakai?" tanya Panji.


Anisa diam tapi dia bangkit dari tepi ranjang ke lemari baju miliknya. Satu kaos oblong Anisa temukan dan diserahkan ke Panji.


Panji menatap lekat Anisa yang berjalan ke arahnya. "kamu tidak memelukku lagi?" canda Panji walaupun sebenarnya dia sangat ingin memeluk wanitanya tapi takut kalau tidak berkenan di hati Anisa dan semakin membuat Anisa menjaga jarak dengannya.


"Jangan lupa aku masih membenci Kakak," ucap Anisa dengan menengadahkan wajahnya ke atas menatap wajah Panji.


"Maaf, memang aku pantas kamu benci," lirih Panji, menatap sembarang arah lalu melangkahakan ke toilet kamar melewati Anisa . Namun, tiba-tiba langkahnya harus terhenti. Ada tangan yang melingkar di pinggangnya.


Anisa menangis kembali, "tapi yang kurasakan sekarang, aku takut kehilangan Kakak."


Panji memutar tubuhnya lalu memeluk erat tubuh Anisa.


Panji tidak membalas ucapan Anisa namun semakin mengeratkan pelukannya, "Jangan takut aku masih ada di sini, aku takkan meninggalkan kamu," sahut Panji.


Anisa melepas pelukannya, menengadah menatap wajah Panji, meraba dua rahangnya dan tanpa persetujuan dari empunya Anisa meraup bib*r lelaki yang berdiri tepat di depannya.


Panji membalas pungutan itu dengan pelan dan halus. Keduanya semakin bergai*rah, lebih, lebih, dan lebih. Tidak lupa spot yang lain pun tak luput untuk didatangi hingga sebuah doa pengantar berbuka puasa panjang dalam menjalankan kewajiban suami istri, Panji lafalkan dan diikuti Anisa.


'Alhamdulillahil ladzi khalaqa minal Mai basyaran fa ja'alahu nasaban wa shihran, wa kana rabbuka qadiran.' batin Panji berucap setelah sang istri mencapai puncak berbuka puasa.


Anisa tersenyum meraba rahang Panji yang bersimpuh peluh.


"Terima kasih Sayang," lirih Panji.


Mulut Anisa tidak menyahuti untuk membalas ucapan Panji tapi tubuhnyalah yang bergerak mengeratkan pelukan.


Mereka pun tertidur di kala waktu mendekati sore.


pagi menyapa 🤗, mereka berdua sudah buka puasa duluan padahal belum masuk bulan puasa😁😁 yuk mojok saja.

__ADS_1


Jangan lupa like komen hadiah vote komen komen komen komen loh.


Yang belum singgah ke 'Janda Daster Bolong' segera klik profilku, masuk dan tekan favorit 🙏 dukungan kalian sangat berarti buatku 😍🥰


__ADS_2