
"Panji!" teriak oma meminta penjelasan lebih, dengan kilat mata yang menatap tajam dan napas yang naik turun tidak beraturan menahan amarah.
Anisa terpaku ketika masuk kamar Panji. Kamar yang begitu mewah. Mungkin seluas setengah rumahnya. Matanya langsung tertuju pada kasur king size.
"Seperti kamar Nadia," gumam Anisa dengan memandang kamar itu dan meraba kasur kasur king size itu.
Panji melangkah ke toilet kamar, bebersih tubuh yang terasa lengket. Selang 10 menit dia keluar dengan wangi tubuh green tea, soft namun aromanya langsung menyebar ke seluruh ruang.
Anisa sempat menyesap wangi itu, "Allahu Robbi kenapa wangi tubuhnya membuat aku ketagihan," ucap batinnya. Seketika Anisa sadar saat suara langkah kaki berpindah tempat.
"Bersihkan tubuh kamu," titah Panji.
Anisa mengangguk, langsung mengambil peralatan mandi dan segera memasuki toilet kamar.
Lima belas menit Anisa sudah keluar dengan baju tidur lengan panjang bergambar kartun spongebob.
Panji melirik ke arah Anisa yang berdiri mematung di samping ranjang dengan tangan meremas ujung bajunya.
"Apa perlu aku bopong ke ranjang tidur?!" Panji mendengus kesal.
Anisa menggeleng dan langsung naik ke atas ranjang. Merebahkan diri di kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Besok Oma pasti mencecar beribu pertanyaan pada kamu. Kamu boleh jawab jujur apapun tentang kamu. Satu hal yang tidak boleh jujur."
Anisa menoleh ke Panji karena dia menghentikan ucapannya.
"Tentang kehamilan kamu," sambung Panji.
"Kamu paham?!"
Anisa mengangguk.
"Bukan anggukan tapi jawaban!" protes Panji.
"Ya paham Kak."
"Satu hal lagi, jangan pernah menganggap pernikahan ini sebagaimana mestinya. Kita jalani hidup masing-masing. Kamu bebas melakukan apapun asal tidak melanggar norma."
Anisa diam mencerna ucapan Panji.
"Paham?!"
Anisa mengangguk. Namun ketika menatap Panji tengah melototkan matanya, mulutnya langsung bersuara.
"Ya aku paham," ucap Anisa.
"Coba ulang semua yang kamu pahami," tekan Panji.
"Aku boleh jawab jujur pertanyaan apapun yang oma lontarkan tapi satu hal yang tidak boleh jujur yaitu kehamilanku. Jangan mengharap pernikahan jalan sebagaimana mestinya, berjalan sendiri-sendiri, tidak ikut campur masalah masing-masing dan bebas mau melakukan apapun asal tidak melanggar norma."
"Bagus. Cerdas kamu."
"Aku memang cerdas Kak, nilaiku selalu masuk peringkat 3 besar paralel." Anisa mantap menjawab.
__ADS_1
"Aku tidak tanya," celetuk Panji.
"Issst dasar robot," gumam Anisa dan langsung nyengir karena mendapat tatapan tajam dari Panji, selimut yang menutup sampai dada dia tarik hingga kepala.
...****************...
Subuh menyapa, Anisa sudah bangun dari tidur dan tengah menjalankan kewajiban dua rakaat sebelumnya menunaikan 2 rakaat sunah qabliyah.
"Ya Allah... Hamba yang penuh dosa ini tidak tahu apa hamba masih diterima segala amalan yang hamba lakukan? Ampunilah segala dosa-dosa hamba ya Allah."
Anisa bersimpuh memohon pada sang Illahi Robbi. Air mata sudah membasahi kedua pipinya. Tangannya kemudian meraba perut yang masih rata.
"Semoga kamu tumbuh dengan sehat dan kelak jadi anak yang soleh ataupun solekha. Amin."
Mata Anisa menatap ke lelaki yang dari semalam masih tidur dengan posisi semula, miring membelakanginya. Anisa bangkit hendak membangunkannya. Namun, segera mengurungkan niat teringat akan perjanjian tadi malam untuk tidak mengurusi urusan masing-masing.
"Setidaknya sesama muslim bolehkan saling mengingatkan," gumam Anisa membenarkan apa yang akan dia lakukan.
"Kak..., Kak Panji... . Dia tidur apa mati ya? Ups!" Anisa langsung membungkam mulut sendiri merasa ucapannya keceplosan.
"Kak...," panggil Anisa dengan menepuk lengan Panji karena hanya panggilan tidak dapat membangunkannya.
Refleks tanpa sadar Panji memilinting tangan Anisa dengan keras.
"Auw auw! Kak...!" jerit Anisa.
Begitu terbangun Panji langsung melepas tangan Anisa.
"Astaghfirullah haladhim...sakit tahu Kak," keluh Anisa dengan memegang tangannya.
"Minta maaf kek, malah ketus seperti itu," gumam Anisa.
Mata Panji menatap tajam ke arah Anisa hingga Anisa tertunduk karena merasa takut dengan tatapan itu.
"Salat subuh Kak," lirih Anisa masih dengan posisi sama, menunduk.
"Ingat apa yang kita bahas tadi malam?!"
Anisa mengangkat kepalanya sesaat dan langsung dia tundukkan kembali dengan menganggukkan kepala.
"Robot," gumam Anisa berlalu dari tempatnya menuju toilet kamar untuk mandi pagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Anisa terpaksa hanya duduk di sofa kamar dengan memainkan ponsel yang dia pegang.
Mengingat ultimatum dari Panji semalam, Anisa dapat membayangkan betapa mengerikannya sang oma. Oleh karena itu, betah tidak betah kurang lebih 3 jam dia setia duduk di sofa itu.
Panji nampak menggeliatkan tubuhnya, Anisa melirik pergerakan Panji. Ditatap sejenak lelaki yang hampir sama secara fisik dengan almarhum Faisal. Tiba-tiba ada rasa rindu yang mengisi ruang hatinya.
"Semoga Allah menempatkan kamu di surga mas," batin Anisa bermonolog dengan mata yang tiba-tiba penuh dengan cairan bening. Satu kali kedip saja air mata itu pasti jatuh. Tidak ingin jatuh membasahi pipi, Anisa langsung mengusap cairan itu dengan tangan.
Tangan Panji meraba ke atas nakas mencari ponselnya. Dia sontak bangkit dari tidur begitu melihat ponsel sudah menunjukkan pukul 08.00.
"Anisa! Kenapa tidak bangunkan aku!" kesal Panji yang sudah menyibakkan selimut dan bergegas ke toilet kamar.
__ADS_1
"Salah lagi! Tadi subuh dibangunkan salat, aku yang salah. Sekarang tidak dibangunkan salah lagi," gerutu Anisa.
Tidak butuh waktu lama, Panji keluar dari toilet kamar.
Anisa nampak menundukkan kepala melihat Panji hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. Jiwanya tidak sanggup melihat pemandangan tubuh sixpack nan atletis terpampang jelas di depan mata.
Panji melangkah ke lemari, memilah pakaian yang akan dia kenakan.
"Perlu bantuan Kak?" tawar Anisa merasa durhaka saja sebagai istri tidak menyiapkan keperluan sang suami di saat dirinya senggang.
"Sudah lupa apa yang kita bahas tadi malam!?" pungkas Panji.
"Ya," jawab Anisa mengingat peraturan tidak mencampuri urusan masing-masing.
"Kita turun," ajak Panji setelah rapi mengenakan pakaian kerja.
Anisa mengangguk dan langsung berdiri dari tempat duduk, berjalan mengekor Panji menuruni anak tangga hingga ke meja makan.
"Pagi Panji," sapa oma Sartika yang sebenarnya sudah lama menunggu kedatangan mereka.
"Pagi Oma," balas Panji.
Sedangkan Anisa tersenyum dengan menganggukkan kepala memberi salam hormat. Tanpa balasan oma Sartika langsung menolehkan pandangannya.
Diam hening. Seharusnya sarapan itu menjadi menu terlezat bagi Anisa tapi entah makanan yang lezat itu setelah menempel di lidahnya menjadi hambar karena menyaksikan kebekuan dua orang yang ada di depan dan sampingnya.
"Aku berangkat Oma," pamit Panji.
"Hati-hati Ji," jawab oma.
Anisa bergegas mengekor Panji keluar dari ruang makan dan berhenti di tempat parkir.
"Pagi Tuan," sapa Arlan sang asisten dengan membukakan pintu mobil. Namun matanya kini tercengang melihat ada sosok gadis yang mengantar Panji hingga parkir mobil.
"Sudah masuk," pungkas Panji melihat ekspresi asisten sekaligus sahabat setianya.
Arlan hanya mengangguk dengan ribuan pertanyaan yang menggelayut di otaknya.
Anisa meraih tangan Panji dan mengecup punggung tangan itu. "Assalamualaikum," ucapnya kemudian.
Ada rasa tak rela Anisa bertindak senekat itu tapi Panji sadar, ada sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya.
"Hmmm," dengung Panji.
"Maksudnya Kak Panji yang ucap salam," terang Anisa.
Panji menatap tajam ke arah Anisa sebagai bentuk protes.
"Assalamualaikum," pamit Panji dengan terpaksa karena percuma berdebat dengan wanita yang ternyata juga keras kepala.
Anisa tersenyum menang, melambaikan tangan dan menjawab salam itu.
Mobil itupun bergulir memasuki jalanan.
__ADS_1
"Aku tahu Kak Panji, ini yang kamu maksud. Berakting selayaknya suami istri di depan oma kamu karena aku juga tahu, oma kamu masih mengintai kita," ucap batin Anisa.
Dukung terus karya aku dengan like, komen, hadiah, hari Senin mau dong dikasih vote, mau banget.🤗😍🥰.