Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 73


__ADS_3

Namun, diantara komentar yang banyak itu, ada seseorang yang terlihat tersenyum kecut menatap foto Anisa dan Vano.


Aku tunggu undangan dari kalian.


Tika membalas postingan itu, dan tanpa terasa air matanya menetes. Antara haru dan sadar diri, cintanya tidak pernah terbalas.


"Mulai besok aku tidak ada diperedaran kampus ini! Beruntung ada Vano dan aku yakin Vano akan selalu ada untukmu," ujar Nadia memberi nasehat Anisa.


Diantara berempat yang paling dewasa memang Nadia. Kalau ada perselisihan Nadia lah orang yang masuk garda depan sebagai penengah. Bahkan perselisihan hati antara Tika, Anisa, dan Vano. Walau tidak dengan umpatan ataupun genjatan senjata tapi Nadia tahu dari bahasa tubuh mereka, Nadia lah yang membuat keadaan jadi nyaman kembali. Hubungan yang rumit itu berakhir dengan saling mengikhlaskan dan membiarkan Tuhan yang turun tangan kalau sudah mengenai takdir. Mengedepankan rasa saling menghargai, menyayangi, satu rasa dengan teman yang lain.


Anisa tersenyum mendengar ucapan Nadia.


"Kita lanjut ke rumah aku, kita makan-makan!" seru Nadia.


"Itu momen yang kutunggu," sahut Vano.


"Kamu mau naik mobil siapa Nis?" retoris Nadia, walaupun sebenarnya dia ingin jawaban 'Vano' terucap dari mulut Anisa.


"Aku ikut Vano," sambung Nadia menyekat mulut Anisa yang sudah terbuka untuk menjawab pertanyaan Nadia sebelumnya. Tadi pagi waktu ke kampus Nadia menjemput Anisa terlebih dahulu untuk naik mobil bersama dirinya dan kedua orangtuanya.


"Ya udah kita bareng," ucap Anisa.


Nadia tersenyum, merangkul bahu Nisa untuk berjalan bersama masuk ke dalam mobil Vano.


"Ma, aku naik mobilnya Vano," pamit Nadia.


"Ya, hati-hati di jalan," jawab mama Nadia.


Di tengah perjalanan, Nadia membuka sosmednya banyak komentar masuk. Namun mata Nadia fokus tertuju pada sosmed atas nama 'Tika 4SO1'. Nadia tersenyum membaca komentar Tika.


'Aku harap persahabatan kita baik-baik saja karena cinta tidak dapat dipaksakan dimana dia akan berlabuh.' batin Nadia.


'Dan kamu Nis, bukalah hati kamu, lupakan masa lalu mu, aku ingin lihat Anisa yang dulu, yang ceria penuh tawa,' sambung batin Nadia bermonolog, menatap Anisa sedang mematung mengedarkan pandangannya keluar jendela tanpa kata-kata.


"Padahal di dalam mobil, tapi kenapa perasaanku seperti di kuburan, sepi gitu!" sindir Vano, tangannya tetap mengemudi dan tatapannya tetap ke depan walau terkadang melirik ke kaca dalam mobil untuk melihat pujaan hatinya.


"Ini mode lapar Van, makanya kita diam-diam aja," sahut Nadia.


"Tuh yang di sampingnya mode apa?" tanya Vano merasa Anisa hanya diam saja tanpa menyahuti ucapannya.


"Dia lagi mode sariawan makanya nahan omongan," ucap Nadia.


Vano dan Nadia terkekeh, lain dengan Anisa yang hanya menanggapi dengan senyuman.


"Aku ingin cepat wisuda," ucap Anisa tiba-tiba, mulut Nadia dan Vano langsung terbungkam mendengar ucapan Anisa.

__ADS_1


Sungguh kalimat yang tidak terbesit oleh Nadia dan Vano dapat terlontar dari mulut Anisa.


"Nikmati dulu waktu kuliahnya Nis, tar kalau sudah lulus malah pusing pas nyari kerjaan" saran Nadia.


"Aku tidak perlu pusing cari kerja, aku sudah punya kerjaan," jawab Anisa.


"Maksud kamu jahit?"


Anisa mengangguk. "Aku hanya yakin, jalan rezeki ku ada di situ," ucap Anisa dengan yakin.


"Semoga amin, kamu ingin jadi desainer terkenal gitu. Macam Ivan Gunawan, Mario Lawalata, Mrs. Vivi, atau desainer kondang lainnya.


Anisa mengangguk tersenyum.


"Anisa bisa kok langsung jadi nyonya bos," sela Vano.


"Maksudnya kalau menikah dengan kamu?!" celetuk Nadia.


Vano terkekeh karena Nadia bisa menebak arah pembicaraannya.


"Ya, barangkali Anisa mau, formulir nya masih terbuka untuk kamu Nis," canda Vano atau tepatnya ini sebuah pernyataan cinta yang ke sekian kali sampai tidak bisa menghitungnya.


Anisa hanya tersenyum.


Nadia melirik ke Anisa, "Nanti aku isikan formulir nya Nis!" ledek Nadia.


'Ini yang aku inginkan dari kamu Nis, jangan irit bicara, kenapa lebih memilih senyum dari pada mengeluarkan kalimat?' batin Nadia.


...****************...


"Hai!" seru Tika merangkul 2 sahabatnya.


"Assalamualaikum kalian," lanjut Tika dengan haru dapat bertemu dengan sahabat-sahabatnya


"Waalaikum salam sahabat ku," jawab Nadia.


"Curang sekali! Kalian kumpul di sini aku ditinggal sendiri di Jakarta," seloroh Tika, mengerucutkan bibirnya sambil menyeka air matanya karena masih tidak percaya bisa ke Malaysia menemui sahabat-sahabatnya.


"Tambah jelek bibir dimanyun-manyunin gitu," sahut Nadia ikut menyeka air mata Tika.


"Kamu juga Nis, minta maaf kek, sama aku! Main pergi tanpa pamit!" cemberut Tika, menatap ke arah Anisa. Sahabat yang 3,5 tahun ini baru dia temui.


Anisa tersenyum bahkan nyaris tertawa, gigi putih nan rapi nampak terlihat, "Ya maaf," jawab Anisa dan ikut menyeka air mata sahabatnya yang memang paling sering mengeluarkan air mata diantara yang lainnya.


"Cuma maaf tanpa menyertakan alasan?" sungut Tika.

__ADS_1


"Maafin aku sahabatku yang cantik, dulu tidak pamit dengan kamu karena_" tiba-tiba Anisa menghentikan ucapannya, ada rasa sesak di dada ketika dia akan melanjutkan kalimatnya.


"Kamu tidak menyapa mahluk astral satu itu," sela Nadia mengalihkan pembicaraan, menunjuk ke arah Vano. Nadia tahu ada kesedihan di wajah Anisa hingga dia tidak melanjutkan ucapannya.


Bugh.


Satu tinjuan melesat ke lengan Vano.


"Allahuakbar! Kenapa aku ditakdirkan bersahabat dengan para algojo," ledek Vano, merasa sering mendapat pukulan di bahu dari Nadia, Tika, maupun dulu sewaktu SMA dari Anisa.


Anisa tersenyum melihat Vano mengerang kesakitan.


"Salah kamu laki-laki sendiri di antara kita," ucap Tika.


"Tapi terima kasih deh sudah bayarin tiket pulang pergi dan kasih biaya untuk ngurus dokumen biar bisa terbang ke Malaysia," sambung Tika sambil menyodorkan tangan ke Vano.


Vano tersenyum dan meraih tangan itu kemudian mengusap kepala Tika.


"Jilbabku berantakan Vano!" greget Tika walaupun dia merasa senang mendapat perlakukan seperti itu.


"Jadi naik ke menara kembar Petronas atau hanya ngobrol saja nih?!" retoris Vano.


"Jadilah!" jawab serentak Anisa, Nadia, dan Tika lalu berlari lebih dahulu menuju ke menara kembar Petronas, salah satu ikon Malaysia. Vanopun berlari mengejar mereka.


Bangunan sepasang menara kembar ini memang luar biasa. Ikon Malaysia yang tidak boleh terlewatkan kalau berkunjung ke Kuala Lumpur. Bangunan dengan ketinggian 452 meter pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia pada tahun 1998- 2004, sebelum dilampaui oleh Burj Khalifa dan Taipei 101. Namun, kedua menara ini masih menjadi pencakar langit kembar tertinggi di dunia pada abad ke -20.


Kaki Anisa, Nadia, Tika, dan Vano sudah mencapai di lantai 41. Tempat dimana ada jembatan penghubung antara kedua menara itu. Di sini mereka dapat melihat pemandangan secara langsung kota Kuala Lumpur.


"Subhanallah...indah sekali," gumam Tika yang baru pertama kali bertandang ke menara kembar Petronas.


"Setinggi ini bangunan yang diciptakan manusia, bagaimana dengan bangunan Allah dengan rancangan yang luar biasa, Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan dia juga meletakkan gunung-gunung di permukaan bumi sebagi pasak agar ia tidak menggoyangkan kamu sehingga kamu dapat tinggal di bumi dengan tenang. Maha besar Allah dengan segala kebesaran-Nya," ucap Nadia.


"Masya Allah," sahut lainnya.


"Nis, kapan-kapan kita jalan berdua ke sini," ucap Vano dengan menaik turunkan dua alisnya.


"Tidak ajak kita?" protes Nadia.


"Sekali-kali beri privasi kami, dimana ada Anisa pasti di situ ada kamu," gerutu Vano tapi diikuti tawa yang lainnya.


Anisa hanya tersenyum dan matanya kini menatap tajam bocah kecil digandeng seorang lelaki melenggang di sampingnya. Benak pikirnya langsung terlintas anaknya, Nevan.


'Suatu saat aku ingin mengajak kamu jalan-jalan dengan bunda ke kota ini,' batin Anisa dan tiba-tiba pelupuk matanya sudah berembun.


'Bohong kalau bunda tidak kangen kamu, bohong kalau bunda melupakanmu, bahkan setiap waktu bunda selalu menyisipkan doa untuk kebaikan kamu, maafkan bunda sayang.' lanjut batin Anisa bermonolog.

__ADS_1


malam menyapa 🤗 like komen hadiah vote. aku ucapkan terima kasih pada kalian yang setia pencet like, ngetik komentar dan ngasih hadiah. Ya Allah lope lope buat kalian ❤️❤️


Aduh Napa mata ikut berembun ya🥺


__ADS_2